Istri Kembaranku

Istri Kembaranku
Daffi Putra Wijaya


__ADS_3

Aku tak mengerti dengan hidupku yang sekarang.


Aku tak bisa mengingat lagi beberapa kejadian sebelum diriku jatuh koma.


Apa yang membuatku bisa koma?


Apa yang terjadi di rumah besar ini?


Apa yang terjadi pada perusahaan?


Dan apa yang terjadi pada Daffa, saudara kembarku.


Tapi kejadian lima tahun lalu, saat papi pergi meninggalkan kami semua, aku masih mengingatnya dengan jelas.


Saat Daffa memutuskan untuk mengejar cita citanya menjadi seorang arsitek yang membuatnya bertengkar hebat dengan mami, aku pun masih mengingatnya.


Bahkan si cantik Jeslin, aku juga masih mengingatnya. Dimana gadis cantik itu sekarang?


Aku memang bodoh waktu itu, tidak mau memperjuangkan cinta kami berdua.


Hanya karena mami memintaku meninggalkan Jeslin, aku langsung menuruti mami.


Aku tak lagi memikirkan perasaan Jeslin yang mungkin terluka atas sikap burukku waktu itu.


'Aku akan mencarinya dan memperbaiki semuanya' janjiku pada diriku sendiri.


Aku yakin Daffa pasti tahu keberadaan Jeslin.


Bukankah dia sahabat Jeslin?


Aku harus menemui Daffa.


Tapi sejujurnya aku agak heran dengan Daffa yang sekarang.


Saat aku bangun dari koma, Daffa sudah tidak tinggal lagi dirumah mami. Tadinya kupikir mungkin dia sudah menikah, jadi dia pindah ke apartemen. Nyatanya, dia bahkan masih jomblo sampe sekarang, hahaha.


Lantas kenapa dia harus pindah ke apartemen?


Bukankah dulu dia yang selalu berpesan kepadaku untuk selalu menjaga mami apapun yang terjadi, untuk selalu tinggal bersama dengan mami hingga kami menikah nanti.


Dan sekarang, rumah besar bak istana ini terasa hampa. Hanya ada aku, mami, dan beberapa pelayan.


Kak Diandra sudah kembali ke Singapura beberapa hari yang lalu.


Aku sudah mulai ke kantor hari ini.


Dirumah terus menerus membuatku jenuh dan sedikit hilang kewarasan.


Badanku terasa aneh sejak aku bangun dari koma, dadaku sering terasa sesak jika aku terlalu lelah, fisikku juga tak lagi sekuat dulu.


Entah kecelakaan macam apa yang telah menimpaku. Baik mami maupun kak Diandra seperti enggan menceritakan detail kecelakaan itu padaku.


Aku menatap gedung gedung tinggi yang berjajar dengan gedung yang aku tempati dari jendela besar di ruanganku. Aku berusaha mengingat ingat beberapa kejadian sebelum diriku koma.


Tapi kepalaku terasa begitu sakit setiap aku memaksa untuk mengingatnya.


Aku hanya merasa ada sesuatu yang di tutup tutupi oleh mami dan kak Diandra.


Aku tak mengerti, kenapa mereka harus merahasiakannya dariku?


Bukanlah lebih baik kalo mereka menceritakan semuanya untuk memancing ingatanku kembali.

__ADS_1


Ah entahlah, pikiran wanita sepertinya memang rumit. Aku akan ke apartement Daffa saja.


Aku masih penasaran dengan keadaan Jeslin sekarang, jadi aku akan bertanya pada Daffa.


*****


Daffi sudah selesai memarkirkan mobil sport kesayangannya itu di basement.


Ia lanjut masuk ke lift dan naik menuju lantai 30, tempat apartemen Daffa berada.


'Tunggu, aku ingat alamat dan lantai tempat Daffa tinggal' Daffi merasa bangga kini, ternyata dia masih mengingat hal hal kecil seperti ini.


setelah sampai, Daffi memencet bel. Tidak ada jawaban.


'Mungkin Daffa belum pulang' batin Daffi.


Entah mengapa pikirannya langsung tertuju pada tombol sandi yang merupakan akses masuk kedalam apartemen kembarannya tersebut.


Daffi mengamatinya dengan teliti. Daffi merasa bisa membukanya


Jarinya bergerak gerak di atas tombol dengan lincah, seakan akan sudah hafal di luar kepala, dan...


Ting,


pintu terbuka.


Daffi bersiul bahagia, kini ia patut bangga dengan daya ingat jari jemarinya.


Daffi masuk ke apartemen yang lumayan mewah itu. Kini badannya mulai terasa lelah lagi.


Padahal dia tadi sampai ke lantai 30 ini naik lift bukan tangga darurat. Tapi nafasnya terasa ngos ngosan seperti habis lari jarak jauh.


Daffi memutuskan untuk merebahkan dirinya sejenak di sofa depan tivi. Sengaja dia tak mau menyalakan lampu di ruangan itu.


Tapi karena saking lelahnya, Daffi pun tertidur di sofa itu.


*****


Daffa baru saja keluar dari bandara. Pak Roy sudah menunggunya dan siap mengantarnya pulang.


Daffa sedikit mengendorkan dasi yang ia kenakan. Ia benar benar lelah sekarang. Sudah dua hari ini dirinya disibukkan dengan proyek proyek di luar kota.


Pak Roy membukakan pintu untuk tuan mudanya tersebut.


"Huh" Daffa membuang nafas jengah. Dari dulu dirinya tidak pernah menyukai pekerjaan seperti ini. Tapi kini, mau tidak mau dia harus melakukannya tanpa bisa menolak.


Mobil sudah melaju menembus kemacetan sore ini. Sudah masuk jam pulang kantor, jadi jalanan sedikit tersendat. Mobil mobil menenuhi setiap ruas jalan.


Daffa mencari posisi duduk paling nyaman di mobilnya saat ini sambil menikmati kemacetan yang entah kapan akan terurai.


Pikiran Daffa menerawang jauh, Daffa kembali ingat Nuna.


Orang suruhannya kehilangan jejak keluarga Nuna beberapa bulan lalu. Menurut info yang Daffa peroleh, Nuna dan keluarganya pindah rumah ke kota lain.


Tapi kemana?


Daffa masih belum mendapatkan jawaban itu. Daffa berdecak kesal


"Harusnya aku mendatanginya sebelum dia pindah, huh dasar bodoh" Daffa menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak ada waktu untuk sekedar mengunjungi Nuna.


Daffa memilih memejamkan matanya. Membiarkan pak Roy berjibaku dengan kemacetan seorang diri.

__ADS_1


Daffa benar benar lelah. Dia hanya ingin pulang ke apartemennya dan segera merebahkan dirinya di kasur empuk. Tidur terlelap hingga besok pagi.


Pak Roy bisa bernafas lega sekarang, kemacetan berhasil dia hindari, setelah hampir satu jam menghabiskan waktu di jalanan yang padat, mobil milik tuannya itu kini bisa meluncur mulus di jalan tol.


Mobil sudah sampai di depan lobi apartemen.


Tapi Daffa masih belum membuka matanya,


Pak Roy memberanikan untuk membangunkan tuan mudanya tersebut.


"Tuan, kita sudah sampai" ujar Pak Roy.


Daffa sedikit tersentak karena terkejut.


"Oh, iya pak. Terima kasih. Bapak pulang saja." Ucap Daffa dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Daffa merenggangkan badannya sebentar sebelum turun dari mobil. Setelah Daffa turun, Pak Roy pergi meninggalkan bos nya tersebut.


Daffa langsung saja naik ke lantai 30 gedung tersebut tempat apartemennya berada. Setelah memasukkan kode akses, Daffa langsung masuk dan menghidupkan lampu.


Daffa terlonjak kaget saat mendapati Daffi yang tengah tertidur meringkuk di sofa ruang tengah masih memakai kemeja kerja. Jasnya disampirkan di lengan sofa.


"Bikin jantungan saja. Ngapain dia disini?" Ujar Daffa lirih.


Namun Daffa mengabaikan keberadaan saudaranya itu, dia memilih langsung masuk kamar untuk membersihkan diri.


Tak lupa Daffa memesan makanan untuk makan malamnya, dia benar benar malas keluar malam ini.


Daffi mengucek matanya, lampu ruangan yang tadi gelap kini sudah terang.


"Apa Daffa sudah pulang?" Tanya Daffi pada dirinya sendiri. Ia segera bangun, duduk sebentar di sofa yang tadi menjadi tempatnya tidur.


Badannya sedikit sakit sekarang, mengingat ukuran sofa yang tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya


'Dasar bodoh, padahal ada kasur yang empuk di kamar Daffa, kenapa juga dirinya tadi memilih tidur disini' Daffi merutuki kebodohannya sendiri


Baru saja dia akan berdiri, Daffa sudah duduk di sebelahnya.


"Aku kira kau hilang ingatan, tapi aku tak tahu kalo kau masih mengingat sandi apartemen ini" Daffa tersenyum mengejek


"Bukan aku yang mengingatnya, tapi jari jariku" jawab Daffi bangga


"Mungkin aku harus segera mengganti sandinya agar kau tidak sembarangan masuk ke apartemen orang, bagaimana kalo aku sedang bercinta dengan pacarku dan kau tiba tiba masuk" Daffa berkata kesal.


Tawa Daffi langsung meledak.


"Hahaha, kau bahkan masih jomblo, siapa yang akan bercinta denganmu" ejek Daffi.


Daffa mendengus kesal.


"Baiklah, jadi ada masalah apa kau disini?" Tanya Daffa akhirnya.


Rasa lelah dan kantuk nya mendadak hilang saat mendapati saudara kembarnya ada di apartemennya


"Aku ingin bertemu Jeslin, kau pasti tahu dia dimana" jawab Daffi tegas.


Deg,


Lidah Daffa sesaat menjadi kelu.


Kenapa harus Jeslin yang diingat oleh Daffi?

__ADS_1


Apa yang harus Daffa katakan sekarang?


Daffi mengingat Jeslin, tapi dia benar benar tak ingat apa yang menimpa Jeslin dua tahun yang lalu.


__ADS_2