Istri Kembaranku

Istri Kembaranku
Mengalah


__ADS_3

Di kantor Daffa,


"Daff, masih belum terlambat. Temui Nuna sekarang dan jelasin semuanya. Sebelum mereka berdua tunangan" Raka sungguh tak dapat menahan emosinya.


Raka merasa jengah dengan sifat Daffa yang selalu mengalah dari saudara kembarnya itu.


"Enggak Ra, kamu gak tahu bagaimana rasanya jadi aku. Bagaimana rasanya dihantui pikiran pikiran dan rasa bersalah itu" Daffa membela diri.


"Rasa bersalah? Itu kecelakaan Daff, bukan kesalahanmu" Raka membuang nafas jengkel. Sungguh perdebatan yang alot.


"Heh, kecelakaan bagi orang lain tapi tidak bagi mami. Aku ingin membunuh Daffi, itu yang selalu mami katakan" Daffa mendengus putus asa.


"Daff, kamu juga berhak bahagia. Nuna mencintaimu bukan Daffi. Kamu gak bisa terus terusan lari. Suatu saat kalian akan bertemu. Suatu saat ingatan Daffi akan kembali" Raka berkata bijak. Ada benarnya.


'Jika suatu saat ingatan Daffi benar benar kembali, maka Daffi akan langsung membantah kalo dirinya pernah bertemu dengan Nuna bahkan menyelamatkan nyawa Nuna. Lalu bagaimana Nuna akan menghadapi semua itu?' Kesimpulan itu terus berputar putar di kepala Daffa.


"Nuna dan Daffi saling mencintai, jadi aku tidak akan mengusik mereka" putus Daffa akhirnya.


"Nuna mencintai Daff, pahlawannya. Dan Daff itu adalah Daffa bukan Daffi" suara kak Diandra yang baru saja masuk ke ruangan Daffa.


Sontak Raka dan Daffa terkejut dengan kehadiran kak Diandra yang tiba tiba.


Sebenarnya tanpa mereka ketahui kak Diandra sudah sedari tadi menguping pembicaraan mereka berdua.


Kak Diandra berusaha menahan dirinya sendiri agar tidak terbawa emosi.


Tapi kata kata Daffa barusan sungguh membuat kak Diandra tak tahan lagi untuk tidak memeluk salah satu adik kembarnya tersebut.


"Kenapa kalian selalu saja mencintai satu gadis yang sama" ucap Diandra frustasi.


Daffa merangkul kakaknya yang tengah menangis itu ke dalam pelukannya.


"Daffa baik baik saja kak. Kakak gk perlu khawatir" ucap Daffa berusaha menenangkan kakaknya tersebut.


"Kau tidak harus mengalah kali ini Daff, kau juga berhak memperjuangkan cinta Nuna" ucap Diandra lirih.


Daffa hanya menggeleng sedikit tersenyum kecut.


'Nuna akan bahagia bersama Daffi. Aku akan pergi dan melupakan semua ini' tekad Daffa dalam hati.


Diandra meletakkan sepucuk undangan di atas meja kerja Daffa.


"Kamu gak harus datang Daff, aku akan bicara pada mami dan Daffi" ujar Diandra.


Seakan memahami perang batin yang kini dihadapi adiknya tersebut.


Daffa menarik nafas panjang. Meraih undangan berwarna abu abu tersebut.


Membukanya dengan perlahan, sedikit membacanya sebelum melipat dan meletakkan kembali undangan tersebut.


Diandra sudah duduk di sofa dan menunggu keputusan Daffa selanjutnya. Terlihat Daffa masih termenung sambil memandang keluar melalui jendela kantornya tersebut.


Sekelompok orang tampak berjalan di trotoar sambil bersenda gurau.


Di sisi lain sepasang muda mudi tengah asyik bercengkerama duduk di bawah pohon tak jauh dari gedung Daffa.


Daffa menarik nafas panjang. Berbagai hal berkecamuk dalam hatinya.


"Mami pasti murka kalo aku tidak datang" ujar Daffa sedikit ragu.


Diandra menarik nafas panjang. Yang diucapkan Daffa memang ada benarnya. Diandra pun belum berpikir cara untuk membujuk maminya tersebut.

__ADS_1


"Apa kakak pikir, Nuna akan langsung berpikir kalo aku adalah Daff yang menolongnya saat kami bertemu?" Daffa memandang tajam ke arah kakaknya tersebut.


"Akan langsung terlihat dari matamu dan dari cara kamu memandang Nuna" ucap Diandra singkat. Dafi mengernyitkan dahi tanda tak mengerti.


"Jangan kamu pikir kakak tidak tahu. Kamu selalu memandangi Nuna diam diam saat dia ada di rumah mami dan sedang bersama Daffi. Kakak melihatnya. Caramu memandang Nuna..." Diandra tak melanjutkan lagi kata katanya.


terlihat kesedihan di raut wajah Diandra.


'Pandangan yang aku sendiri sulit mengartikan. Seperti ketika Aldo memandangku selama ini' lanjut Diandra dalam hatinya.


"Daffa akan membuang jauh rasa ini kak,tapi bukan sekarang. Daffa butuh waktu" ujar Daffa pada akhirnya.


Ia sungguh tak dapat menyembunyikan perasaannya.


Hatinya terluka. Ia mencintai Nuna, tapi ia juga sadar Nuna tidak akan menjadi miliknya.


"Aku akan pergi ke desa" ucap Daffa lirih. Diandra hanya mengangguk tanda setuju.


Diandra tak akan mencegah kemauan Daffa kali ini, karena Diandra paham berapa terlukanya Daffa.


'Daffa butuh ruang untuk sendiri' gumam Diandra pada dirinya sendiri.


*****


Daffa berjalan lesu menyusuri lorong menuju apartementnya.


Benar benar seperti orang yang telah kehilangan semangat hidup.


Di depan pintu apartementnya seorang pria tengah berdiri menunggu kehadiran Daffa.


"Wah wah wah apa segitu membosankannya hidupmu sampai kau lesu begitu?" Tanya Daffi penasaran.


Daffa hanya berdecak kesal.


Dan bergegas membuka pintu apartemen miliknya.


"Ya ya ya. Sandi sudah diganti. Apa sekarang kau sudah punya wanita yang bisa dibawa pulang dan kau ajak bercinta?" Daffi tak berhenti menggoda saudaranya itu.


"Ada apa kesini?" Daffa bertanya balik.


Ia enggan menjawab pertanyaan pertanyaan Daffi sebelumnya yg menurutnya konyol.


"Aku ingin bicara" jawab Daffi singkat. Wajahnya yang tadi cengengesan mendadak berubah menjadi raut serius.


"Duduklah" perintah Daffa sambil mengarahkan dagunya ke sofa di depan tivi.


Daffi menurut saja dan langsung mendaratkan bokongnya ke sofa empuk itu. Berusaha mencari posisi yang nyaman.


Daffa pun berlalu masuk ke dalam kamar untuk meletakkan tas kerja dan jas nya, tak berselang lama Daffa sudah kembali dan duduk di samping saudara kembarnya tersebut.


"Ada apa?" Tanya Daffa ikut serius.


"Pulanglah!" Singkat, tapi mengandung makna yang dalam. Ada nada memohon saat Daffi mengatakannya.


"Ini rumahku. Aku harus pulang kemana?" Daffa pura pura bodoh.


Kenapa mendadak Daffi menyuruhnya pulang?


Apa ingatan Daffi sudah kembali?


Daffa masih bertanya tanya tanpa ada yg menjawabnya.

__ADS_1


"Jangan pura pura bodoh" Daffi mendengus kesal. Daffa hanya diam.


Mendadak kehilangan kata kata.


"Daf, aku merasa kau banyak berubah sekarang. Apa yang sebenarnya terjadi?" Kali ini terdengar nada kesedihan dari kata kata Daffi.


"Aku tidak berubah Daff, aku hanya lebih nyaman tinggal disini" akhirnya Daffa menemukan kalimat yang tepat.


Meskipun dirinya harus berbohong. Sejujurnya selama ini Daffa sungguh kesepian tinggal di apartemennya ini.


Daffa merindukan maminya.


Daffa merindukan Daffi.


Daffa rindu semuanya. Daffa rindu keluarganya.


"Bohong" gertak Daffi.


Daffa hanya membisu.


Salah satu hal yang ia benci dari Daffi adalah dia selalu tahu saat Daffa membohonginya.


"Lusa aku sudah bertunangan, aku akan segera menikah Daff, pulanglah. Apa kau tidak ingin melihatku bahagia?" Daffi terlihat emosi.


"Daff, aku bahagia. Aku senang akhirnya kau menemukan pendamping hidupmu dan akan segera menikahinya" Daffa menahan gejolak menyakitkan di dalam hatinya.


Bahagia apanya?


Hati Daffa sedang porak poranda sekarang. Gadis yang dia cintai akan menikah dengan saudara kembarnya sendiri.


Sungguh miris memang. Tapi Daffa bisa apa sekarang?


"Kalo begitu kau harus datang lusa. Aku tak menerima penolakan" ancam Daffi.


Seketika Daffa langsung membuang nafas frustasi.


Gagal sudah rencananya untuk lari. Kini dirinya harus menghadapi kenyataan bahwa pada akhirnya Nuna akan bersanding dengan Daffi di pelaminan.


Daffa mengusap kasar wajahnya.


"Aku hanya..." Daffa kehilangan kata kata sekarang.


Lidahnya kelu.


Tak tahu lagi apa yang akan dia jadikan alasan.


"Daff, kalo memang kau terbebani dengan pekerjaanmu sekarang, berhentilah. Aku akan mengurus semuanya. Aku sudah sehat" Ucap Daffi berapi api.


Selama ini yang dipikirkan Daffi adalah Daffa frustasi dan tertekan karena harus melakukan pekerjaan yang selama ini tidak ia sukai.


Daffa masih diam.


'Ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan bodoh itu. Kau memang tidak pernah peka dengan perasaan orang lain Daff' batin Daffa sedikit emosi.


"Baiklah aku akan datang. Aku pasti datang di pesta pertunanganmu. Kau tak perlu khawatir" ucap Daffa mantap.


Akhir ya kini ia harus mengalah.


'Nuna mencintai Daffi, kedatanganku tak akan berpengaruh apapun. Nuna tak akan mengenaliku.' Kata kata itu terus Daffa lafalkan untuk dirinya sendiri.


Daffa terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa dirinya tak akan menjadi perusak di pesta pertunangan saudara kembarnya.

__ADS_1


__ADS_2