
Daffi mengusap lembut batu nisan di hadapannya
"Maafin aku Jes," ucapnya lirih.
Satu buket bunga mawar putih Daffi letakkan diatas makam tersebut.
Daffi merindukan Jeslin.
Daffi kembali mengingat kebersamaanya bersama Jeslin beberapa tahun silam.
Senyuman Jeslin yang menawan, tutur katanya yang lembut, penampilannya yang sederhana, Daffi ingat semuanya.
Tapi Daffi masih belum ingat saat Jeslin meninggalkannya untuk selamanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya" Daffi bertanya frustasi.
Meskipun Daffi tahu makam Jeslin tak mungkin menjawabnya. Hanya hening yang Daffi rasakan.
"Jes, aku sudah menemukan seorang gadis. Kepolosannya selalu mengingatkanku padamu. Senyumannya manis, dan dia gadis sederhana sepertimu." Daffi mulai bercerita.
"Aku ingin memperjuangkannya Jes, aku akan mencoba membuka hatiku. Tapi percayalah, kau akan tetap mengisi satu ruang di sudut hatiku. Aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun" janji Daffi.
Daffi mengusap batu nisan itu sekali lagi sebelum pergi meninggalkan pemakaman tersebut.
Hari masih pagi jadi suasana di pemakaman masih sepi. Belum ada satupun orang yang berkunjung, hanya ada Daffi.
*****
Nuna merapikan seragam kerjanya dan segera menyambar tasnya sebelum keluar dari kamar.
Sekali lagi Nuna mematutkan dirinya di cermin dan memastikan tak ada yang salah dengan penampilannya hari ini.
Setelah dirasa cukup, Nuna segera keluar dari kamar dan duduk di teras, memakai sepatunya.
Ayahnya yang juga duduk di teras masih fokus dengan koran di tangannya. Secangkir kopi dan sepiring pisang goreng tersaji di meja dekat tempat duduk sang ayah.
Bim bim
Terdengar suara klakson mobil dari luar pagar.
__ADS_1
Nuna menoleh sebentar ke arah sumber suara.
Sebuah mobil mewah masuk berhenti tepat di halaman rumah Nuna yang tak begitu luas.
Daffi turun dengan gagahnya.
Memakai setelan jas lengkap khas seorang CEO.
Nuna mengernyitkan dahi. Antara kaget dan tidak percaya.
"Pagi om, pagi Nuna " sapa Daffi ramah. Segera Daffi meraih tangan pak Hari dan mencium punggung tangannya.
"Pagi Daf, masih pagi udah berjuang aja" pak Hari terkekeh. Anak muda jaman sekarang kalo lagi jatuh cinta kelakuannya kadang diluar nalar.
Daffi hanya meringis menahan malu.
"Duduk dulu Daf, udah sarapan?" Tanya pak Hari.
"Sudah om" jawab Daffi sopan. Ia pun mendaratkan bokongnya di kursi teras tak jauh dari pak Hari.
Nuna masih diam memperhatikan kelakuan dua pria di depannya.
Bu Rita keluar dari rumah, membawa kotak nasi di tangannya
"Kerja di restorant tapi dibawain bekal dari rumah. Cuma Nuna yang kayak gini" Nuna berdecak kesal. Bu Rita, Daffi, dan pak Hari menahan tawa.
"Eh ada nak Daffi. Udah lama? Mau minum apa?" Tanya bu Rita antusias
"Gak usah repot repot tant, sebenernya Daffi mau mengajak Nuna berangkat bareng. Kan tempat kerja kami sebelahan" Daffi berkata dengan malu malu.
Terlihat Nuna sedikit manyun, tapi dalam hatinya penuh bunga bunga. Bu Rita dan Pak Hari hanya tersenyum
"Yaudah Na, buruan berangkat sana." Usir pak Hari.
"Ayah ngusir Nuna ya?" Nuna mencebik.
Daffi tersenyum melihat ekspresi menggemaskan di wajah Nuna.
"Lho, ayah gak ngusir, kan udah dijemput sama nak Daffi. Ya sana berangkat. Kasian kalo nak Daffi nungguin kamu kelamaan. Pasang sepatu aja masa gak selesai selesai dari tadi" pak Hari berkata dengan santainya
__ADS_1
"Iya iya Nuna berangkat, Nuna pamit" Nuna mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
Masih ada sedikit manyun di bibirnya
Daffi segera bangkit dari tempat duduknya dan ikut mencium punggung tangan calon mertuanya tersebut, hahaha meskipun masih dalam angan angan Daffi.
Nuna dan Daffi segera masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah keluarga Nuna.
Bu Rita dan Pak Hari bisa tersenyum bahagia kini, karena akhirnya Nuna bertemu dengan pria baik dan yang terpenting Nuna tampak selalu bahagia dan berbinar binar jika berbicara tentang Daffi.
*****
Di dalam mobil
"Jadi kamu gak akan nolak perjodohan ini kan?" Tanya Daffi harap harap cemas. Nuna hanya tersenyum. Mana mungkin dia menolaknya. Tuhan telah mengabulkan doanya untuk bertemu lagi dengan pahlawannya. Bahkan Daffi akan menjadi suaminya. Kurang bahagia apa coba hati Nuna.
"Kalo kamu gak nolak, aku juga gak akan menolaknya" ucap Nuna bersungguh sungguh. Sebuah senyuman langsung tersungging di wajah Daffi.
"Tapi Na, kalo ingatanku gak pernah kembali apa kamu tetap akan mencintaiku?" Sungguh itu adalah satu hal yang selalu Daffi takutkan. Karena sampai sekarang Daffi belum mengingat apapun tentang pertemuannya denga Nuna.
"Aku akan mencintaimu apa adanya Daff, kamu adalah pahlawanku" Nuna memegang tangan Daffi.
Ucapannya terdengar tulus.
Kini Daffi bisa bernafas lega. Hatinya sungguh bahagia. Sekian lama dia tak pernah merasakan perasaan ini. Kini dia seperti anak muda yang baru kasmaran.
Mobil sudah berhenti di depan restorant tempat Nuna bekerja.
"Na..." Daffi memegang tangan Nuna yang hendak keluar dari dalam mobil
"Iya Daf?"
"Aku sayang sama kamu" kata Daffi singkat. Sebenarnya ada hal lain yang ingin Daffi bicarakan. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat
"Aku juga sayang sama kamu Daf" jawab Nuna sambil tersenyum bahagia.
Nuna melambaikan tangan pada Daffi dan masuk ke dalam restorant. Hatinya berbunga bunga.
Senyuman tak pernah hilang dari bibir mungilnya.
__ADS_1
Nuna tak pernah merasa sebahagia ini.
'Terima kasih Tuhan atas semua kebahagiaan ini' ucap Nuna dalam hati.