
Diandra menangis histeris, bahkan kedua kakinya tak dapat lagi menopang badannya kini.
Diandra jatuh terduduk di lantai menangisi kepergian adik yang sangat disayanginya itu.
Aldo terus memeluk dan menguatkan istrinya.
Raka hanya tertunduk dan diam.
Dia memilih menangis dalam diam. Sahabat yang kerap meledek dirinya itu kini telah pergi.
Diandra menangkupkan kedua tangan di wajahnya. Ia tak tahu harus bagaimana sekarang.
"Apa yang harus aku katakan pada mami, Al?" Ucap Diandra di sela sela tangisnya.
Maminya sekarang sedang bersedih karena kondisi Daffi yang kritis, ditambah sekarang kepergian Daffa yang tiba tiba. Diandra takut maminya akan shock dan berpengaruh pada kesehatannya
"Kamu tenang dulu . Nanti kita kasih tahu mami pelan pelan. Sekarang kita harus menemui dokter dulu, oke" Aldo berkata selembut mungkin.
Hatinya ikut sesak sekarang melihat kondisi sang istri.
Tapi Aldo juga tetap harus berpikir jernih
Diandra berusaha menguasai dirinya.
Aldo benar, Diandra harus tegar dan tabah.
Kini dia harus mewujudkan permintaan Daffa yang terakhir. Diandra dan Aldo bergegas menemui dokter yang menangani Daffi. Yang mereka cari selama ini sudah mereka dapatkan, meskipun harus diselimuti kesedihan dan cucuran air mata.
Sungguh hal yang sangat menyakitkan saat disatu sisi kau bisa menyelamatkan salah satu orang yang kau sayangi, tapi disisi lain kau juga harus kehilangan orang yang kau sayangi.
Seperti itulah perasaan Diandra saat ini.
*****
Mami Salma dan Nuna masih setia duduk di depan ruang ICU.
Kondisi Daffi masih kritis dan belum ada kabar dari Diandra soal pendonor untuk Daffi.
Keduanya duduk bersebelahan tetapi tidak obrolan apa apa.
Hanya ada keheningan bersama malam yang menjelang datang.
Diandra masih sesenggukan. Ia berusaha keras menguasai dirinya dan menahan tangisnya.
Sesak dan sakit itulah yang dirasakan hatinya saat ini. Tapi Diandra harus tegar dan memberitahu maminya semua ini.
__ADS_1
Diandra berjalan pelan menuju tempat duduk dimana mami dan Nuna berada kini.
Aldo menuntun langkah istrinya tersebut agar tetap kuat dan tak terjatuh.
Mami Salma yang menyadari kehadiran Diandra dan Aldo buru buru menghampiri keduanya.
Tak sabar untuk segera mendapat kabar baik.
Tapi mami Salma sedikit terkejut melihat
Diandra yang masih sesenggukan dan wajahnya terlihat sembab seperti habis menangis.
"Di, kamu kenapa?" Tanya mami Salma khawatir
"Diandra udah dapat donor jantung buat Daffi mi. Sebentar lagi Daffi akan di operasi" ucap Diandra terbata bata menahan sesak di dadanya.
Seketika terdengar ucapan syukur dari Mami Salma dan Nuna
"Terima kasih Tuhan" gumam Nuna lirih
"Trus kamu kenapa?" Tanya mami penasaran.
Nuna ikut mendekat dan menepuk lembut bahu kakak iparnya tersebut.
Tapi melihat wajah Diandra yang sembab seperti itu Nuna berpikir kalo kakak iparnya itu tidak sedang baik baik saja.
"Mi, bisa ikut Diandra sebentar?" Diandra masih terbata bata. Ia meraih tangan maminya.
"Mau kemana? Bukankah Daffi akan segera di operasi?" Mami Salma tampak bingung.
"Sebentar aja kok mi, kamu juga Na. Ikut kakak sebentar ya" Diandra menatap Nuna dan maminya bergantian.
Ada tatapan memohon.
"Aldo akan disini jagain Daffi" ujar Aldo menengahi.
Akhirnya mami Salma dan Nuna menurut saja dan berjalan mengikuti langkah Diandra.
Ketiga wanita itu berjalan menyusuri lorong rumah sakit dalam diam.
Tidak ada obrolan, namun berbagai pertanyaan memenuhi pikiran Nuna dan Mami Salma.
'Mau kemana sebenarnya?'
Setelah berbelok di ujung lorong, mereka sampai di sebuah ruangan.
__ADS_1
Raka berdiri diam sambil tertunduk di depan ruangan tersebut.
Mami Salma semakin bertanya tanya. Ia hendak menyapa Raka, namun Raka hanya memberikan tatapan kosong.
Diandra membuka perlahan pintu di hadapannya. Menarik nafas panjang mencoba untuk tidak menangis.
"Masuk Mi" ujar Diandra pelan. Mami Salma dan Nuna yang sudah penasaran segera masuk ke ruangan serba putih itu.
Ada seseorang uang sudah terbujur kaku diatas ranjang. Beberapa perban membalut luka di sekujur tubuhnya. Alat alat medis sudah dilepaskan dari tubuh pria itu.
Menyisakan wajah pucat dengan sedikit senyuman.
"Daffa!!" Mami Salma menghambur dan segera memeluk tubuh putranya yang sudah tidak bernyawa itu.
Tangis mami Salma pecah menggema di seluruh ruangan.
"Daffa, apa yang sudah terjadi nak" mami Salma menangis meraung raung meratapi kepergian putranya.
Nuna yang ada di dalam ruangan itu ikut menangis sesenggukan.
Airmatanya jatuh bercucuran seakan tak mau berhenti.
Diandra kembali menangis. Perlahan Diandra memeluk maminya. Mencoba menenangkan maminya yang histeris
"Daffa kenapa Di? Adik kamu kenapa?" Tanya sang mami tak sabar
"Daffa kecelakan tadi sore mi. Daffa udah pergi untuk selamanya. Mami yang kuat ya" Diandra menjelaskan sambil menangis tersedu sedu.
Ia mengeratkan pelukannya pada sang mami.
"Daffa... bangun nak. Maafin mami" mami Salma masih saja menangis menjerit. Sambil memeluk tubuh kaku Daffa.
Di sudut ruangan Nuna hanya menangis dalam diam. Hatinya merasa sakit dan hancur.
Secepat ini Daffa meninggalkan mereka semua.
'Jadi, pendonor itu adalah...' Nuna bergumam dalam hati lalu memandang wajah pucat Daffa.
Kini Nuna tak bisa lagi melihat saat netra coklat milik Daffa menatapnya tajam.
Mata itu sudah terpejam rapat untuk selamanya.
'Pendonor itu pasti kamu Daff' gumam Nuna lirih.
Nuna memandang lekat wajah Daffa untuk terakhir kalinya.
__ADS_1