
Daffa sungguh tak percaya, calon tunangan Daffi adalah Nuna.
Daffa tak sanggup menghadapi ini semua.
Daffa berbalik dan ingin kabur dari rumah ini.
Diandra yang menyadari adik laki lakinya tersebut hendak melarikan diri, segera mengejar Daffa.
"Daf, mau kemana?" Teriak Diandra
"Daffa lupa,kak. Daffa harus meeting malam ini. Kapan kapan saja Daffa ketemu calon tunangannya Daffi" ucap Daffa tergesa gesa.
Ia tak bisa lagi menahan sesak di dadanya.
Daffa segera lari keluar rumah dan buru buru masuk ke dalam mobilnya.
Pak Roy yang baru saja akan membukakan pintu untuknya di cegah oleh Daffa
"Saya,nyetir sendiri malam ini pak" ucap Daffa singkat sebelum dirinya masuk ke kursi pengemudi dan segera tancap gas meninggalkan rumah masa kecilnya itu.
Diandra hanya berdiri mematung di teras. Ia sungguh tak percaya Daffa akan kabur semudah itu.
Padahal dirinya belum sempat mengenalkan Daffa pada Nuna.
"Di, ada apa?" Sang mami yang tadi mendengar keributan menyusul Diandra ke depan
"Daffa kabur Mi" ucap Diandra singkat.
Mami hanya berdecak kesal
"Anak itu, maunya apa sih?" Ucap mami jengkel.
"Udah Di, jangan terlalu di pikirkan. Gak baik buat janin kamu. Ayo masuk kita lanjutin makan malamnya" ajak mami lembut
"Baik Mi" Diandra menurut saja.
Tapi hatinya masih bertanya tanya. Kenapa mendadak Daffa kabur?
Padahal tadi dia begitu santai saat pulang dari kantor.
Ah entahlah. Diandra tidak mau terlalu memikirkannya.
*****
Daffa memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa arah yang jelas. Hatinya porak poranda sekarang.
'Bodoh bodoh bodoh' Daffa membentur benturkan kepalanya ke atas kemudi.
__ADS_1
Daffa merasa menjadi pria paling bodoh di dunia.
Kenapa dulu dia tak mau memperjuangkan Nuna?
Kenapa dia terlambat menyadari perasaannya pada Nuna?
Kenapa dia tak menuruti kata kata Raka waktu itu untuk langsung saja melamar Nuna.
Kenapa?
Kenapa?
Kenapa?
Daffa merasa hancur.
Kini harapannya untuk bisa bersanding dengan Nuna sirna sudah.
Semuanya sudah pergi, semuanya sudah hilang.
Daffa hanya bisa merutuki kebodohannya sendiri.
Daffa membelokkan mobilnya masuk ke klub langganannya. Ia tak peduli lagi sekarang. Ia ingin minum sampai mabuk.
Daffa masuk dan segera menggebrak meja di depannya.
Setelah hampir setahun terakhir Daffa memutuskan untuk menjauhi dunia malam ini
"Gue minta dobel Dev" sahut Daffa frustasi. Devano segera melayani pesanan temannya tersebut.
Daffa terus minum dan minum. Entah sudah berapa gelas minuman keras yang ia teguk.
Daffa mulai mabuk.
Devano sudah khawatir sebenarnya sedari tadi. Dia berusaha mencegah Daffa minum lagi, tapi Daffa malah marah marah tak jelas dan terus memintanya memberikan minuman.
Devano putuskan untuk menelepon Raka. Dia sungguh khawatir pada Daffa malam ini.
Tak selang berapa lama, Raka sudah datang dan masuk ke dalam klub tersebut.
Kali ini Raka yang terheran heran melihat teman sekaligus bosnya itu sudah mabuk berat.
"Dev, apa yang terjadi padanya?" Raka segera menginterogasi Devano.
"Gue gak tahu dia ada masalah apa. Pas baru dateng dia langsung minta dobel" jawab Devano sembari melayani pelanggannya yang lain.
"Raka, gue udah nemuin Nuna. Gue udah tahu dia dimana" Daffa mulai meracau tak jelas. Raka hanya mengabaikannya dan berusaha memapah Daffa untuk keluar dari klub ini.
__ADS_1
"Dev gue duluan ya" pamit Raka pada Devano.
Devano hanya mengacungkan jempolnya.
"Loe kenapa sih Daf, bisa sampe mabuk begini?" Raka mengomel sepanjang perjalanan.
Daffa sudah tak sadarkan diri di samping Raka.
Entah tertidur, entah pingsan Raka tak tahu. Yang dia tahu, sekarang dia harus fokus menyetir dan mengantar Daffa pulang ke apartemennya.
Susah payah Raka memapah Daffa yang sudah pingsan itu sampai ke lantai 30. Raka mendengus kesal.
"Aku akan minta bonus atas kejadian malam ini" ucap Raka pada dirinya sendiri.
Raka yakin Daffa tak mungkin mendengarnya.
Setelah membaringkan tubuh Daffa di tempat tidur, Raka segera merebahkan dirinya sendiri di sofa depan tivi.
Raka menarik nafas dalam dalam. Nafasnya nyaris putus hanya karena memapah tubuh raksasa Daffa sampai kesini.
Raka putuskan untuk menginap saja disini. Dirinya sudah tak mampu lagi kalo harus menyetir pulang ke rumahnya.
Raka memejamkan matanya.
'Nona Diandra akan membunuhmu Daff, kalo tahu kamu mabuk mabukan lagi seperti ini' ujar Raka lirih sebelum dirinya terlelap masuk ke alam mimpi.
*****
Nuna menatap lekat foto dihadapannya.
Dua anak lelaki dengan wajah yang nyaris sama berdiri berdampingan.
Nuna bertanya tanya apa ini Daffi kecil?
Lalu siapa anak di sebelahnya yang wajahnya begitu mirip dengan Daffi?
"Na, ayo berangkat" Daffi menggandeng tangan Nuna dan membimbingnya keluar menuju mobil yang sudah siap sedia di depan rumah.
Hari ini rencananya Nuna akan mengundurkan diri dari pekerjaanya, sesuai permintaan dari Daffi dan mami Salma.
Minggu depan Nuna akan bertunangan dengan Daffi. Lalu setelahnya mereka akan langsung menikah.
Roda kehidupan seperti berjalan cepat bagi Nuna.
Ia tak percaya akan segera memulai kehidupan baru sebagai istri dari laki laki yang ia tak sengaja ia temui.
'Takdir yang aneh, tapi entah mengapa aku sangat bahagia sekarang' gumam Nuna pada dirinya sendiri.
__ADS_1