
Ballroom hotel itu kini tampak megah dengan dekorasi serba putih.
Bunga bunga ada di setiap sudut ruangan. Semuanya sesuai dengan permintaan Nuna, pesta pernikahan serba putih.
Saat ini acara resepsi yang tengah di gelar.
Daffi dan Nuna sudah sah menjadi suami istri.
Tamu tamu sudah berdatangan. Kedua mempelai terlihat tengah berdiri di pelaminan menyalami tamu tamu yang hadir. Semuanya terlihat bahagia.
Tak bamyak yang diundang.
Ini juga sesuai dengan permintaan Nuna yang tidak mau pesta pernikahannya di gelar terlalu mewah.
Mereka hanya mengundang keluarga besar dan beberapa teman dekat.
Daffa berdiri di salah satu sudut ruangan berbaur dengan tamu tamu lain.
Jas putih mewah membalut tubuhnya.
Membuat Daffa terlihat semakin tampan.
Ia memandang lurus ke arah pelaminan dimana Nuna sedang tersenyum bahagia bersanding dengan Daffi yang baru beberapa jam resmi menjadi suaminya.
Daffa mencoba ikut bahagia tapi tetap saja ada nyeri di sudut hatinya
"Harusnya aku yang disana
Dampingimu dan bukan dia
Harusnya aku yang kau cinta
Dan bukan dia
Harusnya kau tahu bahwa
Cintaku lebih darinya
Harusnya yang kau pilih bukan dia"
Raka yang baru datang asyik menyanyikan sebuah lagu di dekat Daffa.
Refleks Daffa langsung menoyor kepala sahabatnya tersebut sambil tersenyum kecut
"Uh, yang lagi patah hati" goda Raka lagi. Daffa tak mau menanggapi kali ini.
__ADS_1
"Minumlah, aku yakin kau membutuhkan ini" Raka menyodorkan segelas minuman pada Daffa. Kali ini Daffa menerimanya
"Thanks bro, kamu memang pengertian" ucap Daffa senang.
"Move on Daff. Masih banyak gadis gadis di luaran sana yang butuh kasih sayang seorang Daffa" Raka memberi semangat. Daffa hanya tersenyum simpul
"Kau benar. Tapi aku akan lebih senang kalau kau yang lebih dulu move on dan tidak lagi menggoda para gadis" Daffa menyindir Raka.
"Hei aku tak menggoda mereka. Lagi pula aku pria tampan jadi wajar kalo banyak gadis yang tergila gila pedaku" ucap Raka bangga.
Daffa hanya memutar bola matanya.
"Setidaknya pilihlah salah satu lalu jadikan dia istrimu. Jangan jadi playboy yang mengencani banyak gadis" ujar Daffa membuka aib sahabatnya tersebut. Raka mendengus kesal.
"Kau hanya iri padaku.
Aku akan mencarikanmu gadis yang lebih cantik dari Nuna kalau kau mau agar kau cepat move on dan melupakan Nuna" Raka memberikan penawaran.
Daffa hanya mengendikkan bahu
"Aku bisa mencarinya sendiri" ujar Daffa lirih
"Cih, kau mengatakan hal yang sama saat Jeslin lebih memilih Daffi, dan nyatanya tak ada satupun gadis yang kau pilih" Raka mencibir
"Kata siapa? Aku menemukan Nuna" jawab Daffa santai.
Lagi lagi Daffa tersenyum kecut.
Kata kata Raka seakan membuat Daffa terlihat bodoh karena melepaskan begitu saja gadis yang sangat ia cintai.
"Aku bahagia melihat Nuna bahagia" ucap Daffa singkat. Sambil berlalu meninggalkan sahabatnya tersebut.
Daffa berjalan menuju pelaminan. Entah apa yang akan dia lakukan.
"Cih, Kata kata klise sok bijak" gerutu Raka kesal.
Dia mengekori Daffa menuju pelaminan. Dia khawatir Daffa akan melakukan hal bodoh dan memalukan karena patah hatinya.
Daffa menaiki panggung pelaminan. Antrian tamu sudah tak terlihat.
Daffa langsung menghampiri kedua pengantin itu.
Bersalaman lalu memeluk Daffi
"Hai bro, selamat ya" ucap Daffa tulus sambil tersenyum bahagia. Daffi ikut tersenyum dan membalas pelukan saudaranya tersebut.
__ADS_1
"Thanks bro. Cepatlah menyusul" ucap Daffi sambil menepuk punggung saudara nya tersebut.
Daffa hanya tersenyum lalu ganti menyalami Nuna.
"
Selamat ya kakak ipar, semoga kalian berbahagia" Daffa memeluk Nuna dengan canggung.
Sesaat Nuna merasa terkejut tapi sebuah senyuman ia paksakan untuk Daffa.
"Makasih Daff. Semoga kau juga bahagia" ucap lirih Nuna. Ada nyeri di hatinya.
Daffa bilang kalo dia tidak mencintai Nuna, lalu kenapa pelukan ini terasa begitu hsngat dan tulus?
Setelah berbasa basi seperlunya Daffa bergegas turun dan kembali berbaur dengan para tamu undangan.
Hatinya sebenarnya sesak. Tapi Daffa mencoba menyembunyikannya.
Seseorang menepuk bahu Daffa dari belakang.
"Kakak bangga sama kamu" Diandra memeluk adiknya tersebut. Dapat Diandra rasakan kepedihan macam apa yang sebenarnya tengah dirasakan oleh Daffa sekarang.
"Daffa baik baik saja kak" ucap Daffa mencoba meyakinkan kakaknya kalo dirinya memang sedang baik baik saja meskipun semua ini terasa menyakitkan.
"Iya kakak tahu. Kamu memang tegar dan kuat" Diandra tersenyum bangga.
"Apa mereka berdua akan tinggal di rumah Mami setelah ini?" Tanya Daffa mencari topik pembicaraan lain.
"Rencananya begitu. Bagaimana denganmu? Apa kamu juga tetap akan di rumah mami?" Diandra malah balik bertanya.
Daffa menggeleng
"Aku akan kembali ke apartemen ku" ucap Daffa singkat.
Diandra tampak mengernyitkan dahinya
"Aku lihat Nuna kurang nyaman jika aku ada di dekatnya. Aku tidak mau memicu konflik apapun di antara mereka berdua." Ucap Daffa diplomatis.
Padahal sebenarnya Daffa yang takut akan semakin cemburu buta jika melihat kemesraan antara Daffi dan Nuna.
Diandra hanya mengangguk angguk setuju.
Apapun itu yang penting Daffa merasa nyaman.
Diandra juga merasa kasihan jika Daffa tetap tinggal di rumah maminya.
__ADS_1
Malam semakin larut namun suasana di ballroom itu semakin meriah. Semua yang hadir disana benar benar menikmati pesta malam itu.