
Nuna termenung di kamarnya.
Setumpuk undangan menunggu untuk diisi, tapi Nuna mengabaikannya.
Pikirannya buntu.
Pernikahannya dengan Daffi tinggal menghitung hari.
Tapi bukannya bahagia, Nuna justru semakin ragu untuk melangkah. Pertemuannya dengan Daffa beberapa hari lalu masih terus terngiang di pikirannya.
Mendadak Nuna merasa bersalah karena mencintai dan bertunangan dengan orang yang salah.
Nuna bingung siapa yang sesungguhnya dia cintai. Apakah Daffa atau Daffi.
Selama ini Nuna menyangka Daffi adalah Daffa sehingga ia menyerahkan begitu saja segenap cinta di hati nya untuk Daffi.
Tapi kejadian saat malam pertunangannya itu benar benar menggoyahkan hati Nuna.
'Apa ini jawaban atas kegundahan hatiku beberapa hari belakangan?
Apa ini yang waktu itu akan disampaikan oleh kak Diandra?
Kenapa aku tak pernah menyadari semua ini sebelumnya.
Kenapa Daffa tidak mencariku atau bicara padaku sebelum pertunangan bodoh itu? Kenapa Daffa menghindariku selama ini. Apakah Daffa memang tidak pernah mencintaiku? Tapi pandangan matanya malam itu... aaah' Nuna mengusap usap wajahnya dengan kasar.
Nuna sebal, Nuna bingung, Nuna tidak tahu harus bagaimana.
'Andai saja dari awal Daffa memperkenalkan nama lengkapnya kepadaku, pasti semua ini tak akan terjadi' sesal Nuna dalam hati.
Tapi andai saja waktu itu Nuna membawa ponsel pemberian Daffa mungkin sampe sekarang juga keduanya masih berhubungan.
__ADS_1
"Aaaaah" Nuna menjambak rambutnya sendiri. Dia sungguh pusing memikirkan ini semua.
Rintik hujan mulai turun membasahi bumi.
Gemericik suara hujan yang turun terdengar dari jendela kamar Nuna.
Sudah lama hujan tak turun, dan kini hujan mulai turun saat hati Nuna tengah gundah gulana.
Hujanlah yang mempertemukan Nuna dengan Daffa.
Entah mengapa tatapan dari netra coklat milik Daffa masih tak mau hilang dari ingatan Nuna.
Tatapan yang membuat Nuna merasa bersalah. Meskipun bukan semuanya salah Nuna tapi tetap saja hati Nuna masih tidak tenang.
*****
harusnya aku yang disana
Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia
Harusnya kau tahu bahwa
Cintaku lebih darinya
Harusnya yang kau pilih bukan dia
Daffa memutar lagu itu berulang kali di radio mobilnya.
Seakan mewakili seluruh perasaannya.
Hamparan sawah di kiri kanan jalan sudah mulai menguning menandakan sebentar lagi mereka siap di panen.
__ADS_1
Daffa terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia sungguh ingin menikmati kesendiriannya saat ini bersama bayang bayang Nuna yang belum mau hilang dari pikirannya.
Nuna yang sempurna berbalut gaun putih tulang dengan rambut di gelung.
Nuna yang biasanya hanya berpenampilan sederhana tiba tiba menjadi se glamour itu.
Daffa sungguh ingin memeluk Nuna malam itu, tapi apalah daya. Nuna kini milik Daffi.
Sebesar apapun cinta Daffa pada Nuna, kini ia hanya bisa memendamnya dalam hati.
Mobil Daffa berhenti di rumah persinggahan Daffa di desa.
Rumah yang pernah disinggahi Nuna untuk menenangkan diri. Kini Daffa juga akan menenangkan dirinya disini.
Mengenang semua tentang Nuna disini. Lalu mengubur semuanya di rumah ini.
Pintu gerbang terbuka lebar. Daffa segera masuk ke dalam dan akan ada disana entah sampai kapan.
Daffa hanya ingin sendiri.
Menghilangkan semua sakit hati nya disini, di tempat ini.
"Maaf Nuna, karena dulu aku tak menemuimu,
Maaf Nuna karena dulu aku mengabaikanmu,
Maaf Nuna karena dulu aku tidak peka,
Sekarang kau sudah menjadi milik orang lain. aku harus apa?" Daffa bergumam dan bertanya pada dirinya sendiri.
Ia tak berhenti memikirkan Nuna hingga langit berubah gelap dan Daffa pun tertidur bersama Nuna yang terus ada di pikirannya.
__ADS_1