Istri Kembaranku

Istri Kembaranku
Pergi Untuk Selamanya


__ADS_3

Raka berlarian di sepanjang koridor rumah sakit.


Pikirannya benar benar kacau sekarang. Raka tak tahu bagaimana dia akan memberitahu keluarga Daffa tentang semua ini.


Sampai di depan sebuah ruangan, Raka di cegat oleh beberapa perawat yang melarangnya masuk ke dalam.


Raka semakin tertunduk lesu.


Dia putuskan untuk duduk di kursi tunggu di dekat ruangan itu. Menarik nafas dalam dalam mencoba mencari cara yang tepat.


"Astaga apa yang harus ku katakan pada mami Salma" Raka memukul mukul kepalanya karena mendadak otaknya menjadi buntu.


Raka menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya sebentar berharap pikirannya akan kembali jernih.


*****


"Kita harus bagaimana Al, belum ada donor yang pas untuk Daffi" Diandra dan Aldo baru kembali dari ruangan dokter.


Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor rumah sakit hendak menuju ruang perawatan Daffi.


"Kamu tenang dulu Di, temanku masih nyari info" ucap Aldo lembut sembari mengelus punggung istrinya tersebut.


Diandra hanya diam. Pandangannya tertuju pada seorang pria yang tengah duduk sambil memejamkan mata di kursi panjang sisi koridor.


Diandra mengenal wajah itu


"Raka? Kamu ngapain disini?" Tanya Diandra sedikit keras. Raka yang tak menyadari kedatangan Diandra dan Aldo, langsung terlonjak kaget mendapati mereka berdua sudah ada di depannya.


"Nona Diandra" Raka sedikit terbata bata. Sekarang otaknya bekerja keras menyusun kata kata untuk menjawab pertanyaan dari Diandra


"Kamu ngapain disini? Bukankah tadi Daffa ke rumahmu? lalu dimana dia sekarang" berondongan pertanyaan dari Diandra sungguh membuat Raka semakin menciut. Ia bingung harus berkata apa.


"Daffa..." Raka masih ragu untuk mengatakannya.


Diandra dan Aldo mengernyitkan dahi menunggu jawaban selanjutnya dari Raka.

__ADS_1


Tapi baru akan menjawab, seorang perawat keluar dari ruangan.


"Keluarga tuan Daffa" kata perawat itu singkat.


Diandra dan Aldo sontak langsung menoleh ke arah perawat itu. Berbagai pertanyaan memenuhi pikiran keduanya.


'Kenapa perawat itu menyebut nama Daffa?'


Raka menjadi gelagapan sekarang.


"Daffa kenapa Ra?" Diandra mulai panik sekarang.


Raka kehilangan kata kata untuk menjawab


"Keluarga tuan Daffa" sekali lagi perawat itu memanggil. Raka bergegas menghampiri perawat itu dan berusaha mengabaikan Diandra.


"Saya sus." Ucap Raka.


"Silahkan masuk, tuan Daffa ingin bicara" kata perawat itu lagi.


"Adik saya kenapa sus?" Terburu buru Diandra ikut menghampiri perawat itu dan bertanya.


Sontak Diandra dan Aldo langsung ternganga tak percaya. Buru buru mereka merangsek masuk ke ruangan itu untuk melihat kondisi Daffa.


Dan...


Diandra langsung menangis histeris menyaksikan kondisi Daffa yang mengenaskan. Luka di kepala dan kedua kakinya, serta beberapa luka kecil di sekujur tubuhnya.


"Daffa kamu kenapa?" Kak Diandra menangis sesenggukan meraih tangan Daffa.


Aldo berusaha menenangkan istrinya tersebut.


"Ra, apa yang sebenarnya terjadi?" Aldo bertanya pada Raka yang masih diam mematung.


"Tadi Daffa buru buru ke rumah sakit, dia meminjam motor Raka kak, lalu Daffa kecelakaan. Raka gak tahu gimana kronologisnya. Pas Raka udah sampai di sana ternyata Daffa udah dibawa kerumah sakit ini" cerita Raka sedikit terbata.

__ADS_1


"Kak Diandra" Daffa berucap lirih.


Cepat cepat Diandra menyeka airmatanya dan melihat adiknya yang kini juga terbaring tak berdaya di ranjang perawatan.


"Iya Daff. Kakak disini. Mana yang sakit?" Diandra mengusap lembut tangan Daffa


"Kak, sampaikan permintaan maaf Daffa sama mami dan Daffi.


Daffa gak akan bisa bertahan kak, jadi Daffa mau ngasihin jantung Daffa buat Daffi" ucap Daffa terbata bata.


Daffa terlihat kepayahan menahan rasa sakit di tubuhnya. Tapi dia tetap harus menyampaikan ini pada kakaknya.


Ia merasa waktunya sudah tak lama lagi.


"Daff jangan ngomong begitu, kamu pasti sembuh, kamu harus sembuh Daff" tangis Diandra semakin pecah.


Aldo yang menyaksikan pemandangan mengharukan ini hanya bisa mengusap usap punggung Diandra mencoba memberikan kekuatan.


Di sisi lain Raka juga sudah berurai airmata.


"Enggak kak. Tolong penuhi permintaan Daffa yang terakhir ini." Terdengar nada memohon dari Daffa.


Suaranya semakin lirih nyaris tak terdengar.


"Enggak Daff jangan tinggalin kami" Diandra menangis tersedu sedu.


Aldo langsung meraih Diandra ke pelukannya berusaha menenangkan istrinya tersebut.


Alat alat yang terhubung ke tubuh Daffa berbunyi memberikan sinyal kritis.


Para perawat dan dokter masuk ke dalam ruangan untuk segera memberikan pertolongan, mereka menyuruh Diandra, Aldo dan Raka untuk keluar dari ruangan tersebut.


Tapi semuanya sia sia sekarang.


Daffa sudah pergi untuk selamanya.

__ADS_1


Membawa seluruh luka, kesedihan, dan perasaan yang selama ini ia pendam sendiri.


Daffa pergi tanpa sempat memberitahu Nuna betapa besar dirinya memcintai Nuna.


__ADS_2