Istri Kembaranku

Istri Kembaranku
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Daffa mengendurkan dasi yang melingkar di lehernya.


Sedikit menarik nafas panjang, mencoba mengendalikan emosinya.


Pekerjaan ini benar benar membuatnya merasa terpenjara.


Daffa tak lagi bisa menikmati hidupnya. Setiap hari hanya ada berkas, meeting, email, perjalanan bisnis, kunjungan proyek.


Daffa benar benar frustasi.


Daffa bersandar pada kursi kerjanya.


Memejamkan mata sebentar sepertinya bisa merileks kan pikirannya.


Tok tok tok,


Suara pintu di ketuk


"Masuk" jawab Daffa masih memejamkan matanya. Raka masuk ke dalam membawa setumpuk berkas.


"Daf, ada kabar soal Nuna" kalimat singkat, tapi mampu memberikan angin segar untuk Daffa yang tengah di landa rasa frustasi.


"Apa? Kau sudah menemukannya?" Cecar Daffa tak sabar.


"Tidak, maksudku belum. Tapi aku menemukan info kalo keluarga Nuna pindah dan menetap di kota ini" jelas Raka.


Sebuah senyuman langsung tersungging di bibir Daffa.


Kini harapan itu muncul lagi. Daffa akan segera menemukan Nuna.


Daffa berjanji akan memperjuangkan cintanya pada Nuna kali ini dan tak akan melepaskannya lagi.


"Bagus, cepat cari info dimana Nuna tinggal. Aku sudah tak sabar ingin bertemu dengannya" ucap Daffa bersemangat.


Brak


Pintu di buka dengan kasar. Diandra langsung masuk ke dalam kantor Daffa dan merebahkan dirinya di sofa.


"Siang Nona Diandra" sapa Raka sambil menunduk.


Ia sempat terkejut karena wanita itu yang tiba tiba muncul di kantor Daffa


"Bisa buatkan teh hangat untukku Ra, aku ingin duduk sebentar disini" perintah Diandra. Raka hanya mengangguk dan segera keluar dari ruangan Daffa.


Perintah ibu hamil harus segera ia turuti sebelum kena semprot hahaha.


"Kenapa harus repot repot datang kesini? Kakak bisa kan menelpon Daffa" ucap Daffa berapi api. Kakaknya itu baru hamil muda, tapi malah bepergian kesana kemari seorang diri.


"Coba cek ponselmu, kakak menelponmu ratusan kali dan tak sekalipun kau mengangkatnya" jawab Diandra sedikit emosi.


Daffa segera mengeluarkan ponsel dari sakunya.


Astaga dia lupa. Sejak meeting tadi pagi, sengaja Daffa men silent ponselnya agar dirinya fokus. Tapi sampe siang ini Daffa lupa untuk menghidupkannya lagi.


"Baiklah, Daffa minta maaf kak. Daffa hanya khawatir sama kakak dan janin kakak" ucap Daffa selanjutnya.


Suasana menjadi hening.


Raka masuk membawa secangkir teh dan sepiring potongan buah untuk Diandra


"Makasih ya Ra" ucap Diandra sambil tersenyum.


"Sama sama nona, saya permisi" pamit Raka.


Ia pun keluar lagi dari Ruangan Daffa dan menutup pintu. Memberi ruang untuk kakak beradik yang sepertinya akan membicarakan hal serius.


"Sebenarnya, kakak ingin menyeretmu pulang hari ini" Diandra mulai buka suara.

__ADS_1


Daffa tak mengerti apa maksud dari kakaknya ini.


"Daffa,masih banyak kerjaan kak" Daffa mencari alasan.


"Sudah kakak duga. Kalo kakak hanya menelponmu kau pasti menolak dengan seribu alasan. Makanya kakak jauh jauh kesini agar bisa memaksamu pulang" Diandra tersenyum puas.


Daffa mendengus kesal. Daripada kembali ke rumah yang tak lagi menginginkannya, lebih baik Daffa bersenang senang di klub bersama Raka.


"Kau tahu, Daffi akan segera bertunangan" ucap Diandra singkat.


Daffa terkejut, sangat terkejut.


Beberapa minggu yang lalu masih menanyakan soal Jeslin, tapi sekarang sudah mau bertunangan.


Apa segampang itu dia move on?


Daffa memilih menyembunyikan keterkejutan nya.


"Surprize" Daffa sedikit bersiul.


"Apa mami juga yang mencarikan jodoh untuknya?" Tanya Daffa sinis.


Diandra hanya mengangguk.


'Huh dasar anak mami, selalu mau menuruti kata kata mami. Apa hidupnya tak pernah punya prinsip?' Daffa bergumam kesal dalam hati.


"Kalau kau merasa di anak tirikan, aku akan bicara pada mami agar dia mencarikanmu jodoh juga. Agar hidupmu tak lagi kelabu" ejek Diandra.


Daffa mendengus kesal


"Aku bisa mencari calon istriku sendiri" ucap Daffa galak.


Diandra tertawa terbahak bahak.


"Jadi kalian menyuruhku pulang agar Daffi bisa memamerkan calon tunangannya itu?" Tebak Daffa.


"Akhirnya kau paham. Tapi akan lebih baik kalau kau juga membawa calon istrimu. Jadi kau tak perlu cemburu" Diandra memberikan ide.


Tapi Daffa menahan diri mengingat sang kakak yang kini tengah mengandung calon keponakan nya.


Daffa tak mau terjerat pasal penganiayaan terhadap ibu hamil.


Ya meskipun ibu hamil yang di depannya saat ini benar benar resek.


"Aku akan mengajak Raka. Apa kakak puas?" Diandra semakin tertawa terbahak bahak.


"Apa sekarang Raka yang jadi soulmate mu? Astaga, kakak tak menyangka pekerjaan ini sungguh membuatmu gila" Diandra masih terus meledek. Daffa semakin kesal saja.


Setelah puas tertawa, Diandra mulai memasang wajah serius.


"Kau tak akan percaya siapa calon tunangannya Daffi kali ini" nada bicara Diandra terdengar lebay


"Anak konglomerat, Anak pejabat, Anak milyarder, Atau anak presiden?" Daffa menebak nebak. Standar maminya pasti tak jauh jauh dari semua itu.


Ah, Daffa jadi ingat Jeslin.


"Anak sahabat lama mami. Dan mereka bukan konglomerat atau pengusaha. Keluarga sederhana. Bahkan gadis ini sekarang masih bekerja jadi waitress di sebuah restorant" jelas Diandra


Daffa bersiul lagi


"Surprize lagi" Daffa sinis


"Apa mami sudah menurunkan standar untuk menantunya sekarang?" Daffa mencibir.


Diandra hanya mengendikkan bahu


"Datanglah kerumah malam ini agar kau bisa melihatnya dan berkenalan dengannya. Dia gadis yang cantik dan baik hati" bujuk Diandra akhirnya

__ADS_1


"Iya aku akan datang, kakak bisa pulang sekarang. Aku masih banyak pekerjaan. Daffa mengusir kakaknya. Dia sungguh tak ada niat untuk datang ataupun untuk tahu siapa calon tunangan Daffi.


"Kau mengusirku? Aku akan tetap duduk disini, menunggumu hingga pekerjaanmu selesai dan kita akan pulang bersama sama ke rumah mami" jawab Diandra santai.


"Astaga kak, apa kau benar benar kurang kerjaan sekarang?" Daffi tak percaya kakaknya bisa membaca pikirannya.


Kacau sudah rencanany untuk kabur dari acara makan malam itu.


Diandra hanya bersedekap dan tersenyum puas karena berhasil membuat adiknya tersebut kesal.


Daffa tak peduli lagi.


Dia putuskan untuk melanjutkan pekerjaannya dan membiarkan ibu hamil yang satu ini.


'Paling dia akan bosan dan segera pergi dari sini' batin Daffa licik.


Tapi diluar dugaan, Diandra masih setia menunggu Daffa hingga jam kantor selesai. Bahkan Diandra sempat tertidur sebentar di kantor Daffa.


Sekarang Daffa tak bisa berkutik lagi. Ia terpaksa menuruti perintah kakaknya malam ini.


*****


Mobil yang membawa Daffa dan Diandra sudah sampai di depan rumah besar itu.


Diandra bergegas turun dan masuk ke dalam rumah. Daffa ikut masuk.


Terdengar suara senda gurau dari ruang tengah. Daffa sebenarnya masih enggan bergabung. Jadi dia putuskan untuk masuk dulu ke kamarnya.


"Kak..." panggil Daffa.


Diandra yang sudah akan menuju ruang tengah menoleh ke arah Daffa


"Kenapa lagi Daf?" Diandra bersedekap, wajahnya sedikit kesal.


"Aku akan ke atas untuk mandi. Aku akan segera menyusul" ujar Daffa sembari berlari menaiki tangga menuju kamarnya.


Diandra hanya mendengus kesal. Diapun berlalu dan segera menuju ke ruang keluarga.


Daffi, Nuna, dan sang mami tengah bercengkerama di ruangan tersebut. Daffi merangkul erat Nuna seperti tak ingin melepaskannya.


"Tempel terus" teriak Diandra yang baru masuk ke ruangan tersebut.


Nuna jadi salah tingkah dan buru buru melepaskan pelukan Daffi.


Tapi Daffi mencegahnya.


Memberi isyarat bahwa semua baik baik saja dan tak perlu menghiraukan kakak perempuannya itu.


Seorang pelayan datang dan memberitahu bahwa makan malam sudah siap.


Mereka pun beranjak dan menuju ruang makan.


Diandra masih celingukan mencari keberadaan Daffa yang tak segera turun dari kamarnya.


Diandra putuskan untuk menjemput adik lelakinya itu. Tapi baru saja ia kan menaiki tangga, terlihat Daffa sudah turun dari kamarnya memakai baju santai.


Daffa terlihat segar sekarang.


"Kamu mandi apa semedi sih. Lama bener. Ayo makan" ajak Diandra.


Daffa hanya nyengir tak mau membalas kata kata sang kakak.


Daffa baru saja akan melangkah masuk ke ruang makan, tapi langkahnya seketika terhenti saat melihat wajah itu.


Wajah yang selama ini dia rindukan.


Wajah yang selalu hadir di setiap mimpi mimpinya.

__ADS_1


Dia di sana, sedang bercengkerama mesra bersama saudara kembarnya


"Nuna..."


__ADS_2