
Hari ketiga Daffa berada di rumah mami Salma.
Hubungannya dengan sang mami perlahan membaik. Semua tak lepas dari peran serta Daffi dan Diandra.
Akhirnya rumah ini terasa hidup kembali.
Ini adalah hari Minggu.
Daffi sudah pergi sejak pagi pagi buta.
Diandra belum terlihat, mungkin masih di kamar bersama Aldo karena yang Daffa tahu Aldo, sang kakak ipar sudah pindah tugas ke kota ini dan sekarang ikut tinggal di rumah maminya.
Daffa menuruni anak tangga dengan cepat. Kaos lengan pendek, celana training, dan sepatu olahraga sudah rapi ia kenakan.
"Daff mau kemana?" Tegur mami Salma yang baru keluar dari dapur. Tampak secangkir teh di tangannya.
"Daffa mau olahraga sebentar mi" jawab Daffa tergesa
"Baiklah hati hati" pesan sang mami.
Daffa segera mencium punggung tangan maminya dan berpamitan.
Keluar dari rumah, menaiki mobil sport mewahnya dan segera memacunya menuju jalanan yang masih lengang.
*****
Nuna mengaduk aduk sarapan di depannya. Beberapa hari ini Nuna mendadak kehilangan selera makan.
Pikirannya masih berputar putar tentang Daffa dan Daffi.
Bahkan kini hubungannya dengan Daffi terasa hambar.
Cinta itu tak tahu milik siapa.
Bu Rita hanya geleng geleng melihat sikap Nuna belakangan ini.
Sejak pesta pertunangan itu bu Rita memang merasa ada yang janggal dengan Nuna.
Namun beginilah Nuna, selalu menyimpan semuanya sendiri dan tak mau menceritakannya.
Pak Hari yang sudah menyelesaikan sarapannya, memberi kode pada bu Rita agar mengajak bicara putri semata wayangnya tersebut.
Bu Rita hanya menganggu dan pak Hari pun beranjak meninggalkan dua perempuan beda generasi itu.
Suasana masih hening.
Nuna masih di posisinya semula, mengaduk aduk makanannya.
Bu Rita membereskan meja seperlunya lalu duduk di samping putrinya itu.
"Na, kamu kenapa?" Tanya bu Rita lembut.
Nuna hanya menggeleng
"Na, kalo ada masalah cerita,jangan disimpen sendiri." Bu Rita masih belum menyerah.
Namun Nuna tetap diam dan tak menjawab. Bu Rita menarik nafas panjang mencoba meredam amarahnya.
"Kamu bertengakar sama Daffi?" Tanya bu Rita lagi
"Enggak bu. Kami baik baik saja" jawab Nuna cepat
"Trus?" Tanya bu Rita lagi
Belum sempat Nuna menjawab terdengar suara klakson mobil dari halaman depan.
"Daffi udah datang. Nuna siap siap dulu bu. Mau nengokin mami Salma" Nuna beranjak pergi dan meninggalkan ibu serta sarapannya di piring yang bahkan belum dia makan sama sekali.
Bu Rita hanya menghela nafas panjang melihat kelakuan putrinya itu.
Dari teras depan terdengar Daffi yang sudah bercakap cakap dengan pak Hari.
Bu Rita memutuskan untuk bergabung dengan kedua pria itu.
"Pagi Nak Daffi. Gimana kabar mami? Udah sehat?" Tanya bu Rita berbasa basi
"Mami udah sehat bu," jawab Daffi sambil tersenyum.
__ADS_1
"Syukurlah kalo begitu" ujar bu Rita lega.
Tak berselang lama, Nuna sudah keluar dari dalam rumah. Kini penampilannya sudah segar mengenakan dress selutut dan flat shoes.
Sebuah tas kecil Nuna selempangkan di pundaknya.
"Hai, udah siap?" Tanya Daffi berbunga bunga.
Pagi ini Nuna terlihat cantik. Entah mengapa semakin hari Nuna terlihat semakin cantik di mata Daffi. Apakah ini yang disebut sedang kasmaran?
"Udah. Ayo" jawab Nuna lirih.
Keduanya pun segera berpamitan pada pak Hari dan bu Rita.
Setelah mencium punggung tangan kedua orang tua tersebut, keduanya segera menaiki mobil dan meluncur ke jalanan kota yang mulai padat. Melaju menuju ke rumah Mami Salma.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah besar itu.
Lalu lintas memang tak sepadat biasanya karena ini hari Minggu.
Nuna turun dari mobil dan bergegas mengikuti Daffi masuk ke dalam rumah. Keduanya langsung menuju ke ruang tengah. Di sana sudah ada mami Salma dan Diandra yang sedang asyik mengobrol.
"Pagi semua, lihat siapa yang datang" Daffi menyapa dua perempuan di depannya.
Mami Salma dan Diandra menghentikan sejenak obrolan mereka dan menoleh ke arah Daffi untuk melihat siapa yang dibawa Daffi pagi pagi begini.
"Hai, Nuna" kak Diandra yang terlebih dulu berteriak girang.
"
Pagi kak, pagi Mi" Nuna bercipika cipiki dengan kedua wanita itu.
"Pagi pagi udah bawa kabur anak orang. Gak diomelin nih sama jeng Rita?" Mami terkekeh. Daffi hanya nyengir.
"Ya Mami. Nuna kan calon istrinya Daffi. Terserah Daffi dong mau dibawa kapan aja" Daffi mencari alasan.
"Baru calon. Tetep belum sah" Diandra mulai usil
"Ih kakak gitu. Belain kek." Daffi terlihat manyun.
"Eh tapi kebetulan, kakak mau bicara beberapa hal sama kamu soal konsep pernikahan" Diandra baru ingat.
Ia bersyukur Daffi mengajak Nuna kerumah.
"Soal apa kak?" Tanya Nuna
"Kita bicara di taman belakang aja yuk, biar lebih enak" ajak Diandra.
Ia pun segera menarik tangan Nuna dan membawanya menuju taman belakan rumah besar itu.
Kini tinggal Daffi dan Mami Salma di ruangan tersebut.
"Daffa dan kak Aldo mana Mi? Kok gak keliatan" Tanya Daffi memecah keheningan.
"Tadi Daffa mau olahraga pagi katanya. Trus Aldo nyusul Daffa" jelas sang mami.
Daffi hanya mengangguk angguk.
Tak lama terdengar suara Daffa dan Aldo yang asyik bersenda gurau sambil masuk ke dalam rumah.
"Nah itu mereka" ucap Mami Salma.
Tak lama Daffa dan Aldo sudah menghampiri keduanya.
"Wess olahraga gak ajak ajak" ucap Daffi manyun.
Daffa dan Aldo hanya terkekeh.
"Loe pagi pagi udah kabur aja. Kemana memang?" Balas Aldo
"Ada deh" Daffi cuma nyengir.
Tak lama ponselnya berbunyi. Daffi segera berjalan agak menjauh dan mengangkat telpon yang masuk
"Aku ke atas dulu. Mau mandi" ucap Daffa berpamitan pada mami dan Aldo.
Keduanya hanya mengangguk. Daffa segera berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
__ADS_1
"Diandra mana Mi?" Tanya Aldo celingukan
"Ada di belakang. Sedang ngobrol sama Nuna" jawab mami santai.
"Oh, jadi Daffi tadi pergi pagi pagi mau nyulik Nuna" Aldo tampak manggut manggut.
Gantian Mami Salma yang terkekeh.
"Yaudah Aldo juga mau mandi dulu Mi, gerah" Mami hanya mengangguk.
Aldo segera berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Daffi sudah kembali.
"Loh pada kemana mi?" Tanya Daffi heran. Tadi masih banyak manusia disini. Kenapa sekarang tinggal maminya saja.
"Aldo dan Daffa pada mandi. Mami juga mau istirahat ke kamar" Mami beranjak berdiri dari sofa.
Daffi segera membantu maminya untuk berdiri dan menuntun menuju kamar sang mami.
"Mi, Daffi mau keluar sebentar. Ada urusan mendadak yang harus Daffi selesaikan" Daffi hendak berpamitan.
Tadi itu telepon dari assisten nya. Daffi harus ke kantor karena ada hal yang harus segera di selesaikan.
"Daff, ini hari minggu. Tak bisakah menunggu sampai besok" mami tak mengerti.
"Sebentar aja mi, nanti Daffi langsung balik kalo sudah selesai" Daffi meyakinkan sang mami.
Mami akhirnya mengangguk tanda setuju
"Yaudah hati hati. Jangan lupa pamit ke Nuna biar dia gak nyariin" pesan sang mami. Daffi hanya mengangguk dan segera berlalu keluar dari kamar maminya.
Di taman belakang, terdengar suara tawa dari Diandra dan Nuna. Sepertinya dua wanita itu tengah membahas hal yang lucu dan mengasyikkan.
Daffi menghampiri keduanya.
"Na, aku keluar sebentar ya. Ada urusan" Daffi berhasil mencuri kecupan singkat di Pipi Nuna.
Nuna sedikit kaget lalu hanya memgangguk.
"Eheem" Diandra berdehem sedikit kesal.
Karena sikap Daffi yang sok sokan romantis ke Nuna di depan matanya. Seperti di sengaja untuk membuat Diandra cemburu.
Daffi nyengir ke kakak perempuannya itu.
Alhasil Diandra langsung manyun dibuatnya.
"Kakakku yang cantik. Aku titip tunanganku sebentar ya" Daffi merayu kakaknya dengan kata kata gombalan.
Diandra masih manyun.
"Aldo udah balik belum?" Diandra ingat suaminya tadi pergi menyusul Daffa untuk ber olah raga.
Ya meskipun Aldo tadi sempat menawari Diandra untuk ikut, tapi ibu hamil yang satu ini merasa malas.
"Kak Aldo sedang mandi. Aku pergi dulu. Bye" pamit Daffi terburu buru dan segera berlaku meninggalkan dua wanita itu.
"Hati hati Daff" pesan dari Nuna seperti terbang tertiup angin.
Seperti nya Daffi juga tak mendengarnya.
"Kok aku agak lapar ya. Padahal tadi udah sarapan" ucap Diandra bingung. Belakangan ini dirinya memang sering merasa lapar.
"Gimana kalo Nuna bikinin cemilan buat kakak" usul Nuna.
"Bagus. Aku akan ke kamar sebentar melihat Aldo" ucap Diandra senang.
Dia pun segera beranjak dan berjalan menuju kamarnya.
Nuna ikut beranjak dan menuju dapur hendak membuatkan cemilan untuk calon kakak iparnya.
Nuna membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan.
Setelah dirasa cukup, Nuna menutup kembali pintu kulkas.
Namun seseorang yang berdiri tepat di belakang pintu kulkas sungguh membuat jantung Nuna hampir melompat dari tempatnya
__ADS_1