Istri Kembaranku

Istri Kembaranku
Aku Bukan Dia


__ADS_3

Nuna dan Daffi keluar dari salah satu butik di kota itu.


Keduanya baru saja menyelesaikan fitting baju pengantin.


Pernikahan tinggal menunggu hari. Sebagian undangan telah di sebar.


Keduanya bergegas masuk ke dalam mobil.


Rencananya mereka akan makan siang di luar sekalian membicarakan beberapa hal.


Baru setengah perjalanan, lalu lintas nampak tersendat. Daffi melajukan mobilnya perlahan karena sepertinya jalan di depannya sedang ditutup karena ada kecelakaan.


"Daff, ada apa?" Tanya Nuna penasaran


"Entahlah. Sepertinya ada kecelakaan di depan" Daffi menjawab sekenanya.


Ia juga tak tahu apa yang sedang terjadi.


Setelah menunggu beberapa saat, perlahan lalu lintas mulai bergerak. Daffi melajukan mobilnya perlahan berusaha menjaga jarak dengan mobil di depannya.


Tapi saat melintasi lokasi kecelakaan, Daffi tak sengaja melihat mobil yang terbalik di pinggir jalan. Kondisinya sungguh mengenaskan. Sepertinya mobil itu hilang kendali dan membatas pagar pembatas.


Daffi terus melajukan mobilnya.


Tapi tiba tiba sakit kepala hebat menyerang kepalanya. Kepala Daffi rasanya ingin pecah . Buru buru Daffi menepikan mobilnya dan memegang kepalanya. Nuna yang melihat Daffi kesakitan mendadak panik


"Daff, kamu kenapa?" Nuna benar benar panik sekarang.


Daffi masih tak menjawab. Ia terus saja memegang kepalanya yang benar benar terasa sakit. Perlahan, kepingan kepingan kejadian setahun belakangan berkelebat di benak Daffi.


Semuanya berputar cepat seperti kaset yang diputar betulang ulang.


Jeslin yang mati bunuh diri


Dia dan Daffa yang mabuk berat


Dia dan Daffa terlibat pertengkaran soal Jeslin


Dia dan Daffa yang mabuk berat dan kecelakaan itu...


Semuanya terlihat jelas sekarang.


Daffi ingat semuanya. Tapi karena menahan sakit yang teramat sangat itu Daffi tak sadarkan diri sekarang.


Teriakan Nuna yang panik masih sempat di dengar oleh Daffi samar samar sebelum semuanya benar benar menjadi gelap.


"Daff ,Daffi kamu kenapa. Daff" Nuna berteriak histeris.


Beberapa orang dan pengendara yang tadinya berhenti untuk melihat kecelakaan, bergegas menghampiri mobil Daffi karena mendengar teriakan Nuna.


Mereka segera menolong Daffi dan membawanya ke rumah sakit.


*****


Nuna meremas kedua tangannya. Saat ini dia benar benar khawatir dengan kondisi Daffi yang masih ditangani oleh dokter dan beberapa perawat di ruang UGD.


Mami Salma, Diandra, dan Aldo berjalan tergesa gesa menghampiri Nuna yang duduk di ruang tunggu.


Mereka langsung bergegas menuju rumah sakit begitu Nuna mengabari lewat telepon.


"Na, Daffi kenapa?" Tanya mami Salma panik.


"Nuna gak tahu mi, Daffi tiba tiba pingsan pas lagi nyetir" kini Nuna mulai menangis. Ia takut hal buruk akan terjadi pada Daffi.


Kak Diandra yang merasa prihatin langsung memeluk calon adik ipar nya tersebut.


"udah Na, kamu tenang ya. Daffi pasti baik baik saja kok" ucap kak Diandra.

__ADS_1


Nuna hanya mengangguk dan berusaha menghentikan tangisannya.


Tak berapa lama, dokter keluar dari ruangan dan bertanya dimana keluarga Daffi.


Mami langsung bergegas menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan kondisi anaknya.


Dokter mengajak Mami Salma dan yang lainnya ke ruangannya.


"Ada yang bisa menceritakan kronologi sebelum Daffi jatuh pingsan?" Dokter bertanya.


Semua pandangan di ruangan itu langsung tertuju pada Nuna.


"Iya dok, jadi tadi kami baru pulang dari butik, lalu kami tak sengaja melewati sebuah lokasi kecelakaan. Ada mobil yang terbalik di sisi jalan. Saya pikir Daffi melihat kondisi mobil itu saat kami melewatinya, dan setelah itu Daffi langsung merasa kesakitan sambil memegang kepalanya. Saya sempat bertanya tapi Daffi tidak menjawabnya. Hingga akhirnya Daffi jatuh tak sadarkan diri" Nuna menceritakan sedetail mungkin kejadian yang menimpa Daffi barusan.


"Apa Daffi mengalami hilang ingatan sebelumnya?" Tanya dokter lagi. Kali ini Mami Salma yang menjawab


"Iya dok, Daffi mengalami kecelakaan sekitar satu tahun yang lalu. Dia koma selama 2 bulan dan saat bangun dia kehilangan sebagian ingatannya" jelas mami Salma. Dokter itu hanya mengangguk angguk.


"Kemungkinan ini terjadi karena trauma kecelakaan di masa lalu. Kita akan lihat perkembangan selanjutnya saat Daffi sudah sadar" jeals dokter itu.


Mami Salma dan yang lain hanya mengangguk.lalu meninggalkan ruangan dokter tersebut.


Nuna dan yang lain baru akan duduk di ruang tunggu saat seorang perawat memberitahu kalo Daffi sudah sadarkan diri.


Mami Salma yang bergegas masuk kedalam ruangan.


Nuna masih duduk di ruang tunggu dan tidak ikut masuk.


Perasaan Nuna tidak enak sekarang. Ada sedikit ketakutan dalam hatinya.


Saat ingatan Daffi kembali, Nuna takut Daffi akan bersikap berbeda kepadanya.


Di dalam ruangan, Daffi masih terbaring di tempat tidur. Jarum infus menancap di lengan kirinya.


Mami Salma menghampiri putra kesayangannya itu. Diandra dan Aldo mengekor di belakangnya.


Daffi masih diam. Ia memandang satu per satu anggota keluarganya.


"Daffa mana mi?" Pertanyaan Daffi membuat Mami Salma mengernyitkan dahi tak mengerti.


Karena maminya tak menjawab, Daffi ganti bertanya pada kakaknya.


"Kak Di, mana Daffa?" Tanya Daffi. Diandra pun sama bingungnya mau menjawab apa.


Sudah beberapa hari ini dia tak mendengar kabar tentang Daffa. Lelaki itu seperti hilang ditelan bumi.


Sejak pertengkarannya dengan Mami Salma, Daffa tidak bisa di hubungi.


Apartementnya kosong.


Dan Raka selalu mengatakan tidak tahu dimana Daffa berada.


"Daffa masih ada urusan di luar negeri. Dia akan kembali akhir pekan nanti" Aldo yang tidak ditanya malah menjawab dengan tenang.


Diandra dan Mami Salma memandang heran pada Aldo sekarang.


Daffi hanya mengangguk. Karena sudah merasa puas dengan jawaban Aldo. Dia tak lagi bertanya.


"Daff apa ingatanmu sudah kembali?" Tanya Diandra agak ragu.


Daffi hanya menggeleng sambil tersenyum.


Raut kekecewaan tampak di wajah Diandra dan mami Salma.


"Apa Nuna tidak disini?" Tanya Daffi lagi.


Diandra langsung menyadari kalo sedari tadi

__ADS_1


Nuna memang tidak berada di ruangan itu. Padahal Nuna yang tadi paling mengkhawatirkan Daffi.


Diandra keluar dari ruangan itu dan melihat ke ruang tunggu. Nuna terlihat duduk melamun di salah satu kursi. Diandra segera menghampiri Nuna.


"Na, kamu baik baik saja?" Teguran dari Diandra sontak langsung membuyarkan lamunan Nuna.


"Eh iya kak" jawab Nuna gelagapan.


"Daffi nyariin kamu. Ayo" ucap Diandra singkat. Ia segera mengajak Nuna masuk ke ruang perawatan Daffi.


Mami Salma sudah duduk di sofa didalam ruang perawatan itu sambil menonton tivi.


Aldo menghampiri Diandra yang baru masuk ke ruangan


"Di, aku balik ke kantor ya. Daffi udah membaik" pamit Aldo.


Diandra hanya mengangguk. Sebenarnya Diandra masih bertanya tanya bagaimana Aldo tadi bisa menjawab kalo Daffa ada diluar negeri. Tapi Diandra memutuskan untuk membahas hal itu nanti saja.


Diandra memberi kode pada Nuna agar mendekat ke ranjang Daffi dan berbicara dengan Daffi. Sementara Diandra memutuskan untuk merebahkan dirinya di sofa bersama sang mami.


Nuna mendekati Daffi yang tengah memejamkan matanya.


"Hai Daff. Apa kau sudah baikan?" Tanya Nuna lirih.


Daffi membuka kelopak matanya setelah mendengar suara Nuna.


"Hai Na. Kau darimana?" Tanya Daffi sambil tersenyum.


"Maaf aku tadi diluar" jawab Nuna merasa bersalah. Daffi masih tersenyum.


"Apa kau merasa khawatir?" Tanya Daffi. Nuna hanya mengangguk. Nuna sangat takut dan khawatir tadinya.


Tapi kini ia sudah bernafas lega melihat Daffi yang sudah sadar.


'Dia terlihat benar benar khawatir. Bagaimana sebenarnya perasaan Nuna padaku. Aku yakin dia sudah tahu kalo yang dulu menyelamatkannya adalah Daffa bukan aku. Apa dia tetap akan mencintaiku? Atau dia hanya terpaksa mencintaiku karena perjodohan ini?' Daffi bergumam dalam hati. Ingatannya sebenarnya sudah kembali. Tapi Daffi sengaja tak mengatakannya pada mami Salma dan kak Diandra.


Yang Daffi inginkan adalah membicarakan semuanya dengan Daffa.


Tapi sekarang Daffa malah tak ada disini.


"Istirahatlah, kau pasti lelah" ucap Daffi lembut seraya mengusap tangan Nuna.


Nuna hanya mengangguk.


"Mi, apa aku sudah boleh pulang?" Tanya Daffi pada maminya yang sedang ngobrol dengan Diandra.


"Apa kau sudah merasa baikan?" Maminya malah balik bertanya.


"Ya, kepalaku sudah tidak sakit lagi. Aku tidak mau tidur disini Mi. Aku ingin istirahat di rumah saja" Daffi sedikit merengek.


Maminya hanya menghela nafas panjang.


"Baiklah mami akan bertanya dulu pada dokter." Jawab sang mami sambil beranjak dari duduknya. Diandra ikut berdiri dan mengikuti maminya keluar dari ruangan tersebut.


Kini hanya ada Nuna dan Daffi di ruangan itu.


"Na, kalo yang dulu menyelamatkanmu itu bukan aku, apakah kamu akan tetap mencintaiku?" Tanya Daffi memecah keheningan.


Nuna bingung harus menjawab apa sekarang.


Ia tak menyangka Daffi akan melontarkan pertanyaan seperti ini.


'Apa ingatan Daffi sudah kembali?' Tanya Nuna dalam hati.


"Daff, aku akan selalu mencintaimu" ucap Nuna setulus mungkin. Namun Daffi bisa menangkap kebohongan di mata Nuna. Mata gadis itu mengatakan kalo Nuna sebenarnya masih menyimpan perasaan pada pria lain.


Dan Daffi yakin pria itu adalah Daffa.

__ADS_1


Nuna mencintai Daffa.


__ADS_2