
"Aku tidak mencintai Nuna. Aku menolongnya hanya karena merasa iba. Tidak ada perasaan apapun" Daffa berkata setenang mungkin.
Ia tak mau Daffi menangkap kebohongan dalam dirinya. Hatinya sungguh sakit saat bibirnya mengatakan ini semua.
Daffa mencintai Nuna. Sangat mencintai Nuna
Pyar
Terdengar suara benda yang jatuh di depan kamar Daffi.
Kedua pria itu segera menoleh ke arah pintu yang setengah terbuka.
Terlihat Nuna tengah berjongkok memunguti pecahan gelas yang tak sengaja ia jatuhkan
"Nuna, ada apa?" Daffi buru buru menghampiri Nuna mencegahnya memungut pecahan gelas tersebut.
Daffi memanggil pelayan untuk membersihkan pecahan pecahan kaca yang berserakan.
Daffa masih diam mematung di tempatnya.
"Maaf, aku tak sengaja menjatuhkannya" Nuna menunduk merasa bersalah.
Tapi yang sebenarnya terjadi hatinya sedang sakit sekarang.
Nuna tak sengaja mendengar obrolan dua pria ini.
Dan saat Nuna tahu kalo Daffa tak pernah mencintai nya, mendadak hati Nuna terasa perih bak diiris sembilu.
"Ada apa?" Tanya Daffi sabar.
"Makan siang sudah siap. Mami menyuruhku untuk memanggilmu dan Daffa" Nuna sedikit ragu menyebut nama Daffa.
Entah sejak kapan Daffa ada dirumah ini. Tadi saat Nuna datang sepertinya Daffa belum ada.
"Ya sudah ayo turun" Daffi menggandeng tangan Nuna yang masih sedikit gemetaran.
"Ayo Daff" Daffi sedikit berteriak karena Daffa masih saja diam mematung.
Daffa segera menarik nafas dalam dalam.
Ia tahu Nuna pasti menguping dan mendengar perkataannya barusan. Makanya gelas yang dia pegang jatuh dan pecah berkeping keping.
Tapi Daffa merasa perlu melakukan ini semua. Daffa tak mau Nuna terus terusan merasa bimbang dengan perasaanya sendiri.
Daffa ingin Nuna hanya mencintai Daffi dan melupakan dirinya.
Tentang cinta Daffa ke Nuna, biarlah Daffa yang menanggungnya dan memendamnya di sudut hatinya yang paling dalam.
Daffa turun ke bawah mengikuti langkah Daffi dan Nuna. Mereka segera menuju ruang makan.
"Hai Mi," Daffa segera mencium punggung tangan Mami Salma dan memeluk maminya tersebut.
Konflik beberapa hari yang lalu dengan sang mami seperti sudah menguap dari hati Daffa.
__ADS_1
Mami Salma tersenyum menyambut Daffa.
"Kapan kembali?" Tanya Mami Salma
"Baru saja," jawab Daffa sambil duduk di kursi di samping Diandra.
Sesekali Daffa mengusili kakaknya tersebut. Alhasil Diandra beberapa kali mendengus kesal dan menahan geram gara gara tingkah laku Daffa.
Suasana makan siang yang begitu hangat. Mungkin disini hanya Nuna yang merasa agak canggung.
Sesekali Nuna mencuri pandang ke arah Daffa. Terlihat Daffa yang tertawa lepas menggoda kak Diandra.
'Apa benar Daffa tidak pernah mencintaiku' gumam Nuna dalam hati.
Entah mengapa Nuna merasa tidak bisa menerima hal itu. Tapi dirinya bisa apa sekarang?
Nuna juga tidak boleh serakah.
Dia sudah mendapatkan cinta Daffi dan sebentar lagi mereka akan menikah. Jadi Nuna harusnya tak berharap apapun lagi dari Daffa.
Daffa juga berhak bahagia.
Nuna menarik nafas panjang. Mencoba membuang semua kekecewaan yang ada di hatinya.
Fokusnya sekarang haruslah Daffi, Daffi, dan Daffi.
Daffa masih tak berhenti menggoda Diandra. Tapi sesekali ia juga memperhatikan Nuna,
'gadis itu terlihat murung sedari tadi. Apa sebesar itu rasa kecewanya?' Daffa bergumam dalam hati.
Tapi Daffa bisa apa sekarang?
Memandang Nuna dari jauh, hanya itu yang bisa Daffa harapkan.
Daffa sungguh merasa semakin tak nyaman.
"Mi, aku ke kamar duluan. Mau istirahat" pamit Daffa pada sang mami.
Mami Salma hanya mengangguk.
Tak lupa Daffa juga berpamitan pada anggota keluarga yang lain sebelum meninggalkan ruangan itu.
Daffa berlari menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
"Daff, aku harus pulang sekarang" Nuna yang sudah menyelesaikan makan siangnya beranjak dari duduknya.
Nuna juga berpamitan pada Mami Salma dan Diandra.
"Kenapa tidak nanti sore sekalian Na?" Tanya mami Salma
"Tidak mi, kata ibu Nuna harus pulang setelah makan siang. Ada beberapa hal yamg harus Nuna siapkan di rumah" Nuna mencari alasan.
Dia hanya merasa aneh berada di rumah itu sekarang.
__ADS_1
Hatinya sakit setelah mendengar pernyataan Daffa tadi. Nuna benar benar ingin menenangkan diri.
Mami Salma hanya mengangguk tanda paham.
"Aku antar ya" Daffi menawarkan, sedikit memaksa.
"Tidak. Kamu istirahat saja. Aku bisa naik taksi" Nuna menolak sehalus mungkin. Ia tak mau hal buruk kembali menimpa Daffi
"Udah aku antar gak papa. Aku udah sehat Na" Daffi memaksa
"Daff, baiknya kamu bawa supir aja kalo mo nganter Nuna. Kakak kok masih khawatir kalo kamu nyetir sendiri" usul Diandra
"Bener tu kata kakakmu" timpal sang mami.
Daffi berdecak kesal.
"Baiklah ayo!" Daffi mengantar Nuna sampe di teras depan saja.
Ia menyuruh supir pribadinya yang mengantar Nuna pulang.
Daffi membukakan pintu mobil untuk Nuna.
"Makasih ya" ujar Nuna lirih.
Daffi hanya tersenyum.
"Hati hati" pesan Daffi.
Nuna mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju perlahan meninggalkan rumah besar itu. Daffi memandang kepergian nuna hingga mobil tak nampak lagi.
Pun di balkon lantai dua Daffa melakukan hal yang sama.
Sedari tadi saat Nuna baru keluar dari rumah Daffa terus memandang ke arah Nuna yang akan pulang.
Rasa bersalah benar benar menyeruak di dadanya.
'Maafkan aku Nuna' gumam Daffa pelan.
"Daff, kau baik baik saja?" Tak tahu sejak kapan datangnya, tapi suara kak Diandra sungguh mengagetkan Daffa
"Iya kak Daffa baik" jawab Daaffa sekenanya.
Diandra ikut melongok ke halaman untuk melihat apa yang sebenarnya tengah dilihat oleh adiknya tersebut.
'Tidak ada apa apa' batin Diandra mengendikkan bahu.
"Apa kau akan datang lusa nanti?" Tanya kak Diandra lagi.
"Tentu saja aku akan datang. Aku tak mau Daffi kecewa" jawab Daffa memaksa tersenyum.
"Sungguh pria yang tegar dan kuat" Diandra bersiul dan berlalu meninggalkan Daffa yang masih termenung di balkon kamarnya.
__ADS_1
Diandra tak mau mengganggu Daffa yang tengah meratapi kesendirian dan patah hatinya.