
Diandra dan Nuna baru saja selesai melakukan fitting gaun pertunangan.
Kini keduanya berjalan keluar dari butik dengan santai.
"Na, kita ke cafe bentar ya, aku lapar" ajak Diandra.
"Baik kak" Nuna mengangguk setuju.
Sedikit maklum kalo calon kakak iparnya itu mudah sekali lapar karena memang kondisinya yang tengah mengandung.
Mereka masuk ke sebuah cafe, memilih duduk di salah satu meja yang ada di sudut cafe tersebut.
Sungguh banyak hal yang ingin Diandra bicarakan dengan Nuna, dan inilah waktu yang tepat menurut Diandra.
Suasana cafe tidak terlalu ramai karena belum masuk jam makan siang.
Hanya ada beberapa pengunjung yang terlihat mengisi beberapa meja.
Nuna dan Diandra segera memesan makanan dan minuman.
Sembari menunggu, mereka mengobrol layaknya perempuan pada umumnya.
"Na, kakak boleh nanya sesuatu gak sama kamu?" Diandra memulai obrolan serius
"Boleh, kakak mau nanya apa?" Jawab Nuna santai.
"Plis jangan marah ya, kakak beneran cuma pengen tahu. Gak ada maksud lain" Diandra sedikit cemas.
Takut kalau kalau pertanyaan yang akan ia ajukan nantinya akan menyinggung perasaan Nuna.
Nuna mulai menyimak dengan serius, perasaannya sedikit was was.
Tapi Nuna mencoba menutupinya dan bersikap santai
"Iya kak, gak masalah. Kak Diandra mau tanya apa?" Nuna sedikit penasaran.
"Mmmm... kamu pernah bertemu sama Daffi ya? Maksud kakak sebelum dikenalin sama mami gitu" Diandra terlalu gugup sampe susunan kata yang keluar dari bibirnya menjadi kacau balau.
Nuna mengangguk
"Iya kak, aku udah pernah ketemu satu kali. Daffi pernah nolongin aku" jawab Nuna.
__ADS_1
"Boleh kakak tahu detail kejadiannya? Maksud kakak waktu kejadiannya itu kapan?" Diandra masih berusaha mengorek lebih dalam.
Nuna terlihat berpikir sebentar sambil menghitung sesuatu.
"Sekitar 6 bulan yang lalu kak, ada apa ya?" Gantian Nuna yang penasaran.
"Enggak kakak cuma pengen tahu aja" jawab Diandra sesantai mungkin.
Nuna hanya manggut manggut.
'Kalo benar 6 bulan yang lalu, bukankah waktu itu Daffi masih terbaring koma? Lalu siapa yang ditemui oleh Nuna? Jangan jangan...' Belum selesai Diandra menarik kesimpulan, seorang pelayan cafe datang membawakan pesanan mereka.
Kini perut Diandra sedikit berbunyi karena lapar.
Diandra putuskan untuk menyantap makanannya dulu sebelum lanjut memikirkan hal tadi.
"Ayo Na, dimakan" ucap Diandra. Nuna hanya mengangguk sambil tersenyum dan segera mulai menyantap makanan di depannya. Keduanya makan dalam diam.
Tapi Diandra masih memikirkan bebetapa kemungkinan berdasarkan cerita Nuna tadi.
"Na..." Diandra agak ragu
"Apa kamu keberatan kalo kakak memintamu menceritakan detail kejadian saat kamu pertama kali berjumpa dengan Daffi?" Tanya Diandra ragu ragu.
Ia sungguh takut Nuna akan tersinggung dengan permintaannya kali ini.
Nuna hanya tersenyum.
Ia meneguk minuman di depannya sebelum mulai bercerita.
"Tapi mungkin ini akan terdengar sedikit konyol. Apa kakak janji, gak akan menghakimi Nuna?" Nuna sedikit malu sebenarnya, tapi dia tak mau menutupi hal apapun dari keluarga Daff, toh nantinya mereka juga akan menjadi keluarga Nuna.
Lagipula Nuna percaya kalo kak Diandra bukanlah tipe orang yang suka mengumbar umbar aib orang lain.
"Iya kakak janji. Kakak hanya ingin tahu" ucap Diandra tulus.
Nuna menarik nafas panjang sebelum memulai ceritanya.
"Jadi waktu itu Nuna putus asa, Nuna ingin mengakhiri hidup Nuna, tapi tiba tiba Daffi datang dan mencegah semuanya. Nuna pingsan dan Daffi membawa Nuna ke rumah sakit" Nuna memberi jeda dan mencoba mengendalikan emosinya.
"Daffi begitu baik, dia menawarkan pada Nuna untuk tinggal di rumahnya di desa, tapi Nuna gak tahu persis tempatnya, Daffi sekarang juga tak ingat saat Nuna tanya, mungkin efek dari kecelakaan yg menimpanya" lanjut Nuna.
__ADS_1
Mata Nuna menerawang jauh mengingat kembali kejadian itu.
Mengingat kembali obrolannya dengan Daff setiap malam.
"Jadi kalian tinggal serumah?" Diandra menyelidik
"Enggak kak" jawab Nuna cepat.
"Maksud Nuna. Kami hanya bertemu sekali saat di rumah sakit. Kata Pak Roy waktu itu Daffi ada pekerjaan di luar kota jadi belum bisa menemui Nuna" jelas Nuna berikutnya.
Sungguh ia tak ingin kak Diandra salah paham dengan ceritanya.
"Kamu hanya bertemu dengannya satu kali, dan kamu langsung yakin kalo Daffi itu orang yang sudah menolongmu?" Kali ini Diandra bertanya dengan nada menginterogasi.
"Nuna ingat betul wajahnya kak, meskipun hanya satu kali bertemu" Nuna kembali meyakinkan dirinya sendiri.
Tapi pertanyaan dari kak Diandra barusan mendadak membuat Nuna merasa ada yang salah dengan keputusannya selama ini.
Diandra masih diam.
"Na, apa kamu mencintai Daffi?" Pertanyaan tiba tiba dari kak Diandra.
'Apa kak Diandra meragukan perasaanku ke Daffi?' Batin Nuna cemas
Merasa tak mendapat jawaban, Diandra mengulang pertanyaanya.
"Apa kamu benar benar mencintai Daffi? Atau kamu hanya ingin balas budi karena kamu merasa Daffi sudah menyelamatkan hidupmu?" Kali ini pertanyaan Diandra lebih mendetail.
Nuna sedikit ragu untuk menjawabnya.
"Awalnya Nuna memang hanya ingin balas budi, tapi entahlah, makin kesini cinta itu makin tumbuh di hati Nuna. Mungkin karena sikap Daffi yang selalu lemah lembut pada Nuna" jawab Nuna dengan mata berbinar binar.
Diandra menarik nafas panjang.
Ia sungguh tak sanggup melihat jika nanti Nuna bertemu Daffa dan menyadari bahwa pahlawannya yang sesungguhnya adalah Daffa bukan Daffi.
'Ya Tuhan, apa yang akan gadis ini lakukan kalo tahu yang sebenarnya?' Batin Diandra cemas.
Berbagai hal buruk berkecamuk dalam hatinya.
'Aku harus bertemu Daffa' gumam Diandra pada dirinya sendiri.
__ADS_1