Istri Kembaranku

Istri Kembaranku
Sebuah Pilihan


__ADS_3

"Dok, apa saya bisa mendonorkan jantung saya pada Daffi?" Tanya Daffa polos. Sang dokter hanya tertawa kecil.


"Tidak bisa Daff, kita mencari pendonor yang sudah meninggal.


Jantungmu cuma satu. Kalau kau berikan pada Daffi, bagaimana kau akan hidup?" Jelas dokter itu panjang lebar.


Daffa sebenarnya sudah mengetahui hal tersebut.


Tapi entah kenapa sekarang malah dirinya mengajukan pertanyaan konyol seperti itu pada dokter.


Daffa berjalan menyusuri koridor rumah sakit.


Sudah sepekan Daffi dirawat tapi belum ada kemajuan berarti.


Donor jantung belum di dapat, dan selama seminggu itu, hidup Daffi hanya ditopang oleh alat alat medis.


Daffa ingat sekali pemandangan pagi ini di ruang perawatan Daffi.


Nuna menangis tersedu sedu di samping ranjang Daffi.


Terlihat wanita itu begitu lelah menunggu Daffi yang tak kunjung membuka matanya. Daffa menghela nafas panjang.


Hatinya ikut sakit melihat Nuna sesedih itu.


Daffa akan kerumah Raka sore ini. Ada beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangannya. Daffa juga butuh menyegarkan pikirannya.


Terlalu lama di rumah sakit dan menyaksikan kesedihan Nuna benar benar membuat hatinya sesak.


*****

__ADS_1


Sampai di rumah Raka,


"Kenapa kau datang kesini? Aku baru saja akan kerumah sakit" Raka heran melihat penampilan Daffa yang sedikit berantakan.


"Aku butuh udara segar" ujar Daffa singkat.


Raka mengendikkan bahu lalu mengikuti Daffa yang sudah duduk di sofa ruang tamu rumahnya.


"Bagaimana? Sudah dapat?" Tanya Raka.


Daffa hanya menggeleng lemah.


Sulit sekali mencari pendonor jantung untuk Daffi . Meskipun keluarga Daffa siap membayar mahal, tapi tetap saja mereka belum menemukan yang cocok.


"Gue gak tega liatin Nuna yang nangis terus nungguin Daffi" ujar Daffa sedih sekaligus prihatin.


"Di satu sisi gue pengen meluk dan nenangin Nuna. Tapi di sisi lain pasti akan timbul kesalahpahaman. Serba salah memang" curhat Daffa.


"Semua akan baik baik saja Daff" hanya kata itu yang bisa Raka ucapkan. Ia tak bisa membantu apapun selain dukungan moril.


Daffa terlihat sangat tertekan belakangan ini.


Ponsel Daffa berbunyi, segera Daffa mengangkatnya


"Iya kak"


"Daffi kritis lagi, cepat kesini" ucap Kak Diandra di seberang telepon. Terdengar nada kepanikan.


"Iya" jawab Daffa singkat dan langsung mematikan ponselnya.

__ADS_1


"Ra, pinjem motor loe. Gue harus buru buru ke rumah sakit." Ucap Daffa terburu buru.


"Gue antar ya" Raka sedikit khawatir. Ia menyerahkan kunci motornya pada Daffa.


"Gak usah. Loe susul aja bawa mobil gue" Daffa melemparkan kunci mobilnya pada Raka dan bergegas keluar dari rumah Raka, menstater motor milik Raka dan segera tancap gas melaju menuju rumah sakit.


Daffa terus memacu motornya dengan kecepatan tinggi.


Jalanan sedikit macet karena sudah mulai masuk jam pulang kerja.


Daffa tak peduli lagi dengan kondisi lalu lintas yang padat. Beberapa kali Daffa nekat menerobos lampu merah demi cepat sampai ke rumah sakit.


Yang ada dipikirannya sekarang adalah harus cepat sampai di rumah sakit, menenangkan maminya yang pasti menangis, kak Diandra yang panik, dan Nuna yang pasti sedang kacau sekarang.


Di lampu merah berikutnya, konsentrasi Daffa sedikit buyar karena teringat wajah sembab Nuna.


Daffa menerobos lampu merah tanpa menyadari ada truk dari arah lain.


Bruuuuk


Suara benturan yang cukup keras.


Bayangan Nuna yang menangis di samping ranjang Daffi hingga wajahnya sembab


Bayangan sang mami yang menangis histeris karena takut kehilangan Daffi


Bayangan kak Diandra yang panik luar biasa


Semua melintas dengan cepat di pikiran Daffa.

__ADS_1


Berputar berulang ulang sebelum semuanya menjadi benar benar gelap.


Daffa jatuh terkapar bersimbah darah di atas jalanan beraspal.


__ADS_2