Istri Kembaranku

Istri Kembaranku
Saudara Kembar


__ADS_3

Daffa masih termenung di kursi belakang mobil yang mengantarkannya ke rumah mewah ini.


Matanya menatap tajam ke arah rumah itu, rumah yang sejak beberapa bulan terakhir tak lagi menjadi tempatnya berteduh.


"Tuan, kita sudah sampai" pak Roy mencoba memecah keheningan. Sudah lebih dari sepuluh menit tuan mudanya itu hanya memandangi rumah kedua orang tuanya dan tak ada tanda tanda ia akan keluar dari dalam mobilnya.


"Keluar kau, pengecut" tiba tiba seorang wanita membuka pintu mobil dengan kasar. Menarik paksa Daffa agar keluar dari mobilnya.


Entah mengapa Daffa hanya diam dan pasrah saja saat wanita itu memaksanya masuk ke dalam.


Sampai di depan pintu barulah si wanita melepaskan cengkeraman tangannya.


Daffa sedikit membenarkan jasnya yang berantakan.


"Dia di mana?" Tanya Daffa memecah keheningan diantara dia dan kakak perempuannya


"Masih di kamarnya." Jawab Diandra cepat.


Daffa baru saja akan menaiki tangga, kak Diandra kembali memanggilnya


"Daf..." Daffa menoleh sejenak


"Dia kehilangan sebagian ingatannya, dia juga tak mengingat kecelakaan itu, jadi tolong..." belum selesai Diandra bicara, Daffa sudah menyela


"Aku tahu. Aku tidak akan membahasnya" ucap Daffa singkat sebelum akhirnya dia melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga yang melingkar itu.


Daffa mengetuk pelan pintu di depannya sebelum membukanya.


Terlihat seorang laki laki duduk di sisi ranjang membelakangi pintu masuk.


Laki laki itu menatap kosong ke arah jendela di depannya

__ADS_1


"Daff" sapa Daffa lirih. Lelaki itu menoleh ke arah Daffa.


Seperti bercermin, itulah yang selalu Daffa rasakan saat melihat wajah saudara kembarnya itu.


Mereka berdua memang kembar identik, jadi wajah keduanya sekilas terlihat serupa nyaris sama. Beberapa orang yang baru bertemu pasti akan kesulitan membedakan mana Daffa dan mana Daffi.


"Daffa?" Daffi mencoba memastikan kalo yang di depannya ini adalah saudara kembarnya.


Daffa hanya mengangguk dan langsung memeluk saudaranya tersebut.


"Maafkan aku Daf," ucap Daffa lirih. Rasa bersalah itu kembali menyeruak di dalam hatinya.


Mati matian ia mencoba melupakan kejadian itu tapi tetap saja kilas kilas kejadian itu kini kembali menghantui pikirannya.


"Apa kau sibuk sekarang?" Tanya Daffi berusaha mencairkan suasana yang tegang


"Aku sibuk karena kau tidur terus selama 2 bulan ini" jawab Daffa sedikit bergurau.


"Jadi selama 2 bulan aku tertidur apa kau sudah menikah sekarang?" Pertanyaan dengan nada ejekan tentu saja.


"Jika maksudmu menikah dengan pekerjaanku, jawabannya ya, mungkin aku akan melakukannya sebentar lagi.


Aku bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak gara gara tumpukan berkas berkas sialan itu" Daffa mulai mengeluh dan mengeluh.


Sedari dulu Daffa bukanlah pria yang suka bekerja di kantor apalagi menjadi CEO.


Meskipun perusahaan mendiang papihnya tersebar di berbagai kota, Daffa tak pernah tertarik untuk mengelolanya.


Daffa memilih menjadi arsitek dan bekerja di kantor kecilnya sendiri.


Sedangkan Daffi, dialah CEO yang sesungguhnya.

__ADS_1


Daffi yang selama ini menggantikan mendiang papihnya dalam mengelola semua perusahaan keluarga.


Namun karena kecelakaan beberapa bulan yang lalu, terpaksa Daffa menggantikan posisi Daffi untuk sementara.


Tok tok tok


Suara pintu diketuk.


"Masuk" kata Daffi pelan.


Seorang pelayan masuk ke kamar Daffi dan menunduk memberi hormat kepada kedua saudara kembar itu sebelum mulai berbicara


"Maaf tuan muda, makan siang sudah siap. Anda mau makan di bawah atau disini?" Tanya pelayan itu dengan sopan


"Aku akan turun saja" jawab Daffi singkat


"Baik tuan muda, saya permisi" pamit pelayan itu, lalu ia pun pergi meninggalkan ruangan itu.


"Perlu kugendong turun?" Tanya Daffa meledek


"Kau pikir aku lumpuh?" Daffi menjawab kesal dan meninju bahu saudara kembarnya tersebut sebelum berlalu meninggalkan Daffa.


Daffa masih termenung dan sibuk dengan pikirannya. Makan siang bersama sang Mami, membuatnya harus menyiapkan mental.


Meskipun Daffa sudah terbiasa dengan sikap sinis sang mami selama dua bulan belakangan, tapi tetap saja ada sakit di sudut hatinya yang tak pernah bisa diungkapkan dengan kata kata.


Daffa menarik nafas panjang sebelum menuruni anak tangga di depannya. Sampai diujung bawah tangga, Daffa melanjutkan berjalan menuju ruang makan. Senda gurau terdengar dari ruang makan.


Terdengar tawa lepas dari Daffi dan kak Diandra.


Daffa semakin memantapkan langkahnya untuk masuk ke ruangan tesebut,

__ADS_1


Namun saat dirinya masuk, semua mata memandang kepadanya, dan mendadak senda gurau hangat yang tadi terdengar hilang menguap entah kemana.


__ADS_2