Istri Kembaranku

Istri Kembaranku
MAAF


__ADS_3

Nuna masuk ke halaman rumahnya yang tidak terlalu luas.


Baru seminggu dirinya pergi, tapi entah mengapa semuanya seperti terasa berbeda.


Pintu depan tampak terbuka.


Sore begini biasanya ayahnya Nuna akan membaca koran atau sekedar minum kopi di teras depan.


Tapi kursi teras tampak kosong. Tak ada ayahnya disana.


Nuna menarik nafas panjang mencoba mengumpulkan kembali keberaniannya yang mendadak menguap entah kemana.


Sudah tidak mungkin berbalik dan kembali kerumah Daff, dirinya harus menyelesaikan ini semua.


Nuna tak bisa terus terusan lari dari semua masalah ini.


Nuna baru akan menaiki tangga teras rumahnya saat terdengar suara ayahnya dari dalam rumah


"bu, kopi ayah mana? Kenapa lama sekali?" Suara sang ayah sukses menghentikan langkah Nuna.


Seketika Nuna berdiri mematung di teras rumahnya.


Sang ayah keluar dari dalam rumah membawa koran yang masih terlipat.

__ADS_1


Sang ayah pun kaget sekaligus tertegun melihat putri semata wayangnya yang kini berdiri mematung di hadapannya


"Ayah, Nuna..." belum sempat Nuna menyelesaikan kalimatnya, ayahnya sudah memeluknya erat. Menumpahkan segala kerinduan.


Nuna menangis haru dalam pelukan sang ayah, ternyata setelah dirinya minggat, sang ayah masih mau memaafkannya dan masih merindukannya


"Yah, ini kopinya" giliran sang ibu yang keluar dari dalam rumah membawa nampan berisi kopi dan singkong rebus kesukaan sang ayah.


Sang ibu sama terkejutnya melihat Nuna yang kini tengah menangis sesenggukan di pelukan ayahnya.


"Nuna?" Ibu Nuna buka suara. Memastikan kalo itu benar benar putrinya yang pulang.


Nuna melepaskan pelukan ayahnya dan berganti memeluk sang ibu.


"Kamu kemana aja Na, kamu baik baik saja kan?" Bu Rita memeriksa seluruh badan putrinya, memastikan kalo putri semata wayangnya itu pulang dalam keadaan lengkap dan selamat.


"Nuna baik baik saja bu, maaf karena Nuna sudah membuat ayah dan ibu khawatir" ucap Nuna sambil menunduk. Dari nada bicaranya terdengar Nuna memendam penyesalan yang teramat dalam.


"Ayo masuk dulu ke dalam. Kita ngobrolnya di dalam aja" kata pak Hari bijak.


Nuna dan bu Rita mengangguk lalu masuk kedalam rumah dan duduk di kursi ruang tamu rumah sederhana tersebut.


"Jadi kamu kemana selama seminggu ini? Ayah mencarimu kemana mana tapi nihil." Pak Hari yang pertama menginterogasi Nuna.

__ADS_1


"Nuna menenangkan diri di luar kota yah, Nuna juga tidak tahu dimana, ada orang baik yang nolongin Nuna dan menampung Nuna di rumahnya selama seminggu ini" cerita Nuna


"Syukurlah kalo begitu, ayah senang tidak terjadi hal buruk padamu dan akhirmya kamu bisa lepas dari pria brengsek itu" ucap pak Hari lega.


"Nuna memang bodoh kemarin, gak mau dengerin ayah dan ibu, malah lebih memilih pria itu" ucap Nuna sedih


"Udah udah gak usah bahas dia lagi. Yang penting kamu lupain semuanya. Ayah dan ibu tetap sayang sama kamu Na, kamu putri kami satu satunya. Jadi jangan pernah pergi lagi dari rumah ini ya" pinta bu Rita.


"Iya bu, Nuna janji gak akan pergi lagi dari rumah ini dan gak akan membantah ayah dan ibu lagi" kata Nuna bersungguh sungguh.


Ayah dan ibunya langsung memeluk Nuna.


Akhirnya putri mereka sudah paham mana yang baik dan buruk untuk hidupnya.


"Ya sudah, Nuna istirahat dulu sana." Perintah bu Rita.


Nuna hanya mengangguk dan segera bangkit dari tempat duduknya.


Bergegas masuk ke kamar yang benar benar ia rindukan.


Setelah mandi dan membersihkan diri, Nuna segera merebahkan tubuhnya diatas kasur tua itu.


Tak seempuk kasur di rumah Daf memang, tapi Nuna merasa nyaman disini, di rumah orang tua yang selalu menyayangi nya.

__ADS_1


Tak menunggu lama Nuna sudah terlelap tidur menembus alam mimpi.


__ADS_2