
"Aku tahu aku salah Daf, karena tidak memperjuangkan cinta kami waktu itu. Sekarang aku ingin memperbaikinya. Jadi tolong pertemukan aku dengan Jeslin" Daffi memohon.
"Terlambat" jawab Daffa singkat
"Apa maksudmu?" Terdengar nada kekhawatiran dari Daffi
"Jeslin sudah meninggal Daf" jawab Daffa lirih.
Sesaat Daffi shock dan langsung terdiam.
"Apa kau sungguh tak mengingatnya? Kau bahkan menangis sepanjang pemakaman Jeslin" Daffa tersenyum kecut.
Hatinya sakit mengingat betapa pilunya kisah hidup Jeslin saat itu.
Andai saja saat itu dirinya tak jadi pengecut mungkin Jeslin masih hidup sampai sekarang.
Entahlah, Daffa masih saja menyalahkan dirinya sendiri meskipun semua yang terjadi bukan semata mata karena kesalahannya.
"Apa yang terjadi padanya Daf?" Tanya Daffi memburu.
Ia sungguh tak mengingat apapun tentang kematian Jeslin.
"Dia kecelakaan Daf," Daffa berbohong.
Daffa sungguh tak sampai hati untuk menceritakan kisah yang sesungguhnya.
Daffa takut hal ini akan mengguncang jiwa Daffi yang belum benar benar pulih.
Flashback 2 tahun yang lalu
Jeslin dan Daffa adalah teman semasa kuliah, hingga mereka lulus, keduanya masih berteman atau Jeslin lebih suka menyebut Daffa sahabatnya.
Meskipun dalam hati kecilnya, Daffa memiliki perasaan lebih pada Jeslin. Tapi Daffa tak berani mengungkapkannya sampe sekarang. Daffa takut perasaanya ini akan merusak hubungan persahabatannya dengan Jeslin.
Daffa juga yang mengenalkan Jeslin pada Daffi dan membantu Jeslin agar bisa bekerja di perusahaan yang di pimpin oleh Daffi.
Siapa yang menduga, kalau pada akhirnya Jeslin malah jatuh hati pada Daffi.
Cinta lokasi, seperti itulah Jeslin menyebutnya. Setelah setahun bekerja sebagai sekretaris Daffi, akhirnya Jeslin dan Daffi menjadi sepasang kekasih.
Dan Daffa memilih kabur ke luar negeri dengan dalih ingin mengejar cita citanya. Padahal hatinya begitu sakit,
'Harusnya ku ungkapkan dari dulu perasaan ini. Kenapa aku begitu bodoh' sesal Daffa dalam hati.
Saat itu, Daffa sedang cuti kuliah dan dia memutuskan untuk pulang sekedar menengok mami.
Daffa sedang akan menuju taman belakang, tak sengaja dia mendengar obrolan antara Daffi dan maminya.
"Mami gak mau tahu, kamu harus meninggalkan sekretaris miskinmu itu. Dia itu gak pantas buat kamu. Gak sepadan dengan kita" ucap mami berapi api.
Daffi hanya menunduk.
Sejak dulu Daffi adalah anak yang penurut. Tak pernah sekalipun ia membantah perkataan maminya. Itu juga alasan sang mami memperlakukan Daffi sebagai anak emas.
Berbeda dengan Daffa yang selalu berpegang pada prinsipnya sendiri dan kerap kali menentang pendapat mami.
Tapi meskipun sering membantah, Daffa juga menyayangi maminya.
__ADS_1
Terlebih setelah papi meninggalkan mereka untuk selamanya, Daffa dan Daffi selalu berusaha menjaga hati maminya agar tidak bersedih ataupun terluka.
"Kami saling mencintai Mi," ucap Daffi lirih.
Ia sungguh tak ingin membantah maminya, tapi dia juga tidak bisa melepaskan Jeslin begitu saja.
Daffi sudah terlanjur mencintainya.
"Cinta?" Mami mendengus kesal
"Gadis tak jelas asal usulnya seperti itu, tak pantas untuk kamu cintai. Kita adalah keluarga terhormat, kamu tak mungkin menikahi gadis yang tak jelas asal usulnya seperti Jeslin itu" mami semakin emosi.
Daffa yang berdiri sambil menguping di dekat pintu mengepalkan erat tangannya. Dia merasa tidak terima sang mami merendahkan Jeslin seperti itu.
"Tapi mi," Daffi tampak ragu
"Jangan menganggap mami ini mamimu kalau kamu tidak mau meninggalkan gadis itu" terdengar mami menggebrak meja dengan kasar.
Saat langkah mami mendekati pintu dan hendak keluar, Daffa buru buru pergi bersembunyi.
Daffa segera menarik tangan Daffi saat melihat saudara kembarnya itu akan keluar dari perpustakaan.
"Daf, kau tak akan menuruti kata kata mami kan?" Cecar Daffa tak sabar
"Apa kau mendengar semuanya?" Daffi malah balik bertanya.
Daffa mendengus kesal, sungguh pertanyaan yang tak perlu untuk dijawab
"Aku menyayangi Mami Daf" ucap Daffi lemah
"Jeslin mencintaimu, dia akan hancur jika kamu meninggalkannya setelah apa yang kalian lalui selama ini" Daffa memperingatkan
Daffa sungguh tak percaya kalo Daffi selembek ini ternyata.
Dia mengira cinta Daffi pada Jeslin begitu besar.
Ternyata selama ini dia sudah salah menilai.
Waktu berlalu, Daffi masih belum mengambil keputusan.
Tapi hubungannya dengan Jeslin semakin hari semakin datar saja.
Hari itu, Daffi pergi keluar kota tanpa Jeslin. Hal ini sudah diatur sebenarnya oleh mami Salma.
Mami Salma datang ke kantor Daffi dan langsung memanggil Jeslin.
Memandang remeh gadis di depannya itu
"Jadi kamu yang bernama Jeslin?" Tanya mami Salma sinis
"Iya Bu," jawab Jeslin takut takut.
"Kau dan Daffi tidak akan sepadan sampai kapanpun, jadi silahkan kau tinggalkan Daffi dan resign dari kantor ini. Aku akan memberimu uang untuk kompensasi." Kata mami Salma ketus.
Jeslin hanya terdiam, meskipun kata kata mami Salma barusan begitu menusuk relung hatinya.
Sudah tidak mungkin baginya untuk pergi dari Daffi. Lalu bagaimana nasib bayi yang kini ia kandung?
__ADS_1
Jeslin masih diam, tapi air matanya sudah jatuh bercucuran.
"Saya, saya tidak mungkin meninggalkan Daffi bu" ucap Jeslin terbata bata, ia mencoba menahan segal sesak di hatinya.
"Heh, kenapa? Daffi terlalu berharga untuk kau tinggalkan begitu?" Mami Salma menyindir
"Dengar ya, kau bisa saja memilih bertahan sekarang. Tapi Daffi anak yang penurut. Dia tak akan pernah membantahku. Jadi cepat atau lambat, Daffi yang akan meninggalkanmu" ancam mami Salma sebelum keluar dari ruangan itu.
Brak
Mami salma membanting pintu ruangan itu.
Kini Jeslin tak dapat lagi menahan tangisnya,
Jeslin menangis tersedu sedu.
Ia bingung harus bagaimana.
Baru saja Jeslin akan memberitahu Daffi tentang berita kehamilannya, tapi mami Salma malah mengancamnya seperti itu.
'Aku harus bagaimana?' Tanya Jeslin pada dirinya sendiri
*****
Jeslin baru akan masuk ke ruangan Daffi untuk mengantar berkas, tak sengaja dia mendengar Daffi tengah berbicara dengan maminya di telepon.
"Iya mi, aku akan bicara dengannya"
"..."
"Tidak bisa sekarang. Daffi harus mencari waktu yang tepat"
"..."
"Iya, iya Daffi nurut sama mami. Daffi bakal tinggalin dia"
Kaki Jeslin mendadak lemas. Hubungannya dengan Daffi akhir akhir ini memang memburuk setelah mami mengancamnya.
Jeslin bahkan belum berani memberitahu Daffi kalo dirinya tengah mengandung anak Daffi.
Kini, Jeslin mendengar sendiri kata kata itu keluar dari mulut Daffi.
Hanya tinggal menunggu waktu dan Daffi akan meninggalkan dirinya. Jeslin tak sanggup lagi untuk berdiri di tempat itu.
Jeslin segera berlari pergi meninggalkan lantai itu, meninggalkan gedung itu, Jeslin ingin lari sejauh mungkin.
Jeslin sudah kehilangan satu satunya harapan.
Hidupnya tak lagi punya arah.
Jeslin ingin mengakhiri ini semua. Jeslin tidak bisa hidup tanpa Daffi.
Jeslin menyerah. Ia memilih mengakhiri hidupnya hari itu juga.
Menyisakan penyesalan yang teramat dalam bagi Daffi.
Jeslin telah pergi untuk selamanya.
__ADS_1
Flashback off