
[Mami sakit, pulanglah]
pesan singkat dari kak Diandra cukup bisa menggoyahkan hati Daffa yang sebenarnya masih ingin di tempat ini.
Sekejam apapun sikap sang mami, tetap saja Daffa masih menyayangi wanita yang melahirkannya itu.
Daffa mengemasi beberapa pakaiannya dan bergegas pulang ke rumah mami. Daffa tak mau hal buruk terjadi pada sang mami.
Tak lupa Daffa mampir ke sebuah bakery membelikan kue kesukaan mami Salma.
Menjelang sore, Daffa baru tiba di kediaman mami Salma. Kak Diandra tampak berdiri di teras depan seperti menunggu kedatangan seseorang.
'Apa kak Diandra menungguku?' Daffa agak cemas. Buru buru ia turun dari mobil dan menghampiri kakaknya tersebut.
"Kak, nungguin siapa?" Tanya Daffa cemas
"Kakak habis nganterin om Dokter tadi. Kebetulan liat kamu datang sekalian aja kakak tungguin" Diandra malah terkekeh.
Padahal Daffa sudah cemas sebelumnya.
"Mami gimana?" Tanya Daffa masih cemas
"Mami hanya kelelahan. Dokter sudah memeriksanya tadi. Hanya butuh istirahat saja" jelas Diandra santai.
"Bukankah yang mengurus pernikahan Daffi kak Diandra? Kenapa mami jadi kelelahan?" Daffa sedikit bingung.
Diandra hanya mengendikkan bahu.
"Kakak hanya mau kamu pulang ke rumah ini Daff, apa itu salah. Kakak benar benar khawatir dengan kondisimu" terlihat kekhawatiran dan keprihatinan di raut wajah Diandra.
__ADS_1
"Daffa baik baik saja kak. Daffa gak bakalan melakukan hal bodoh. Berapa kali Daffa harus menjelaskannya pada kakak" Daffa terlihat sedikit kesal.
Yang benar saja.
Kakaknya menjadikan sakitnya mami sebagai alat agar dirinya khawatir dan cepat cepat pulang ke rumah itu.
"Hal bodoh? Seperti mabuk berat saat kamu tahu kalau Nuna ternyata adalah calon tunangan Daffi?" Skakmat.
Daffa langsung diam membisu.
'Darimana kak Diandra tahu? Pasti Raka yang mengadu. Awas kamu Raka' Daffa menahan geram.
Dia ingin secepatnya membuat perhitungan dengan asistennya itu.
"Gak usah pura pura bodoh atau menuduh asistenmu. Kakak mengawasimu." Seakan bisa membaca apa yang di pikirkan adiknya tersebut, Diandra langsung bicara to the point.
Kadang Daffa berpikir kakaknya ini mungkin punya jiwa detektif atau cenayang karena tebakannya selalu saja benar.
Ia tak mau lagi kak Diandra membahas perihal dirinya yang mabuk berat karena patah hati. Sungguh memalukan.
"Mami sedang istirahat. Kau istirahatlah ke kamarmu" usir Diandra.
Daffa hanya mendengus kesal.
Baru saja ia akan naik ke lantai dua menuju kamarnya, terlihat Daffi yang menuruni tangga sambil bersiul siul bahagia.
Daffi tampak berpakaian santai dan rapi sore ini. Mengenakan kaos lengan pendek dan celana jeans.
"Hai bro, kau kemana saja" Daffi menghentikan langkah Daffa yang baru saja akan menaiki tangga.
__ADS_1
"Aku dari luar kota" jawab Daffa santai.
"Urusan pekerjaan lagi? Aku kan sudah bilang jangan bekerja terlalu keras. Kau bahkan menghilang tiba tiba saat pesta pertunanganku" sedikit nada kekecewaan dari Daffi.
Ya malam itu Daffa memang sengaja kabur sebelum acara selesai. Daffa sudah tak tahan melihat Nuna yang digandeng mesra oleh Daffi sepanjang pesta.
Daffa takut akan kehilangan kontrol dan membuat kekacauan.
"Tidak. Aku hanya menemui teman lama" jawab Daffa berbohong. Nada bicara ia buat setenang mungkin.
Kali ini Daffi percaya dan hanya mengangguk.
Daffa sudah akan melanjutkan langkahnya. Tapi lagi lagi Daffi menahannya.
"Hei bro. Aku akan nonton bareng Nuna. Kau mau ikut?" Tawar Daffi.
"Tidak. Aku lelah. Jadi aku akan istirahat" jawab Daffa cepat.
Yang benar saja. Saat ini hal yang paling Daffa hindari adalah bertemu dengan Nuna.
"Oke baiklah.aku duluan" ucap Daffi santai sambil melambaikan tangan ke arah Daffa.
Daffa memaksa tersenyum untuk membalas lambaian tangan saudara kembarnya tersebut dan segera berlalu menuju kamarnya.
Ia butuh mandi air dingin sekarang, karena mendadak hatinya terasa panas
aku cemburu mengingat kamu di peluknya
Ku yakin diriku yang lebih baik dari dirinya
__ADS_1
Sebuah lagu sindiran di nyanyikan oleh Diandra. Meskipun Diandra yakin Daffa sudah tidak mendengarnya.