Istri Kembaranku

Istri Kembaranku
Detak Jantung


__ADS_3

Daffi masuk ke dalam kamar yang biasa ditempati oleh Daffa jika berada dirumah ini.


Tak ada yang berubah sejak terakhir kali Daffa menginap disini.


Daffi mengambil foto yang terpajang di atas nakas di samping tempat tidur.


Foto dua anak lelaki yang saling berangkulan dan tersenyum. Wajah keduanya sangat mirip kecuali manik mata.


Daffi memandang lekat manik mata coklat milik Daffa.


"Secepat ini kau pergi Daff, kenapa tidak pamit padaku" gumam Daffi pelan.


Daffi mengusap lembut foto tersebut.


Dulu dia dan Daffa memang sedekat itu. Dalam banyak hal keduanya selalu menjadi tim yang kompak.


Namun dalam percintaan, entahlah. Daffi tidak pernah melihat Daffa menggandeng seorang gadis secara terang terangan. Daffi bahkan tidak tahu apa Daffa pernah punya pacar atau tidak.


"Apa seumur hidup kau tidak pernah jatuh cinta?" Tanya Daffi pada foto itu.


Seseorang masuk ke kamar itu dan menepuk bahu Daffi


"Hai, apa kau merindukannya?" Diandra ikut mengusap foto Daffa yang tengah tersenyum lebar.


Daffi hanya menarik nafas panjang


"Aku bahkan tidak bisa melihat wajahnya di saat terakhir" terdengar nada penyesalan dari Daffi.


"Kau tahu, Daffa menyayangimu. Sangat menyayangimu.


Dia ingin aku menyampaikan permintaan maafnya kepadamu" ujar Diandra


"Maaf? Maaf untuk apa?" Daffi tak mengerti.


"Karena dia pergi tanpa sempat pamit padamu" ucap Diandra lirih.

__ADS_1


Rasa sesak kembali membuncah di dadanya.


Tapi Diandra paham, ia tak bisa terus terusan bersedih, Diandra harus kuat.


"Kenapa Daffa mendonorkan jantungnya pada Daffi kak?" Tanya Daffi masih tak mengerti.


"Karena dia menyayangimu. Dia menyayangi keluarga ini. Daffa gak mau liat mami terus terusan bersedih" jelas Diandra


"Daffa menyayangi mami lebih dari dirinya sendiri. Tapi mami selalu memandangnya dengan sebelah mata hanya karena pendapat mereka saling berseberangan" Daffi merasa jengah sekaligus miris.


"Dan sekarang mami yang paling bersedih setelah Daffa pergi untuk selamanya" lanjut Daffi


"Arti sebuah kehadiran akan terasa saat kehilangan telah merenggutnya, jika itu terjadi, maka hanya penyesalanlah yang akan tercipta." Balas Diandra bijak.


Daffi hanya tersenyum kecut.


"Daffa sudah bahagia disana. Kau juga harus bahagia dan melanjutkan hidupmu, menjaga dengan baik apa yang sudah Daffa berikan padamu" Diandra menunjuk ke arah jantung Daffi.


"Aku akan menjaganya" ucap Daffi bersungguh sungguh


Mami dan Nuna pasti sudah nungguin kita"


Diandra membimbing adiknya tersebut untuk keluar dari kamar Daffa dan menuju ke ruang makan.


Diandra benar, mereka harus melanjutkan hidup meskipun Daffa sudah pergi untuk selamanya.


*****


Semilir angin terasa menyejukkan.


Hujan baru saja berhenti. Dua orang manusia berjalan bergandengan melewati area pemakaman.


Menyusuri setiap blok pemakaman hingga akhirnya keduanya tiba di sebuah makam yang masih terlihat baru.


Daffi dan Nuna berjongkok di depan makam tersebut. Nuna meletakkan sebuket bunga yang ia bawa, mengusap pelan batu nisan putih yang tertancap diatas makam itu.

__ADS_1


Ini adalah kunjungan kedua Nuna dan Daffi ke makam ini. Tak ada yang berubah. Semuanya tetap sama.


Hening dan sepi.


Hanya ada suara angin yang menjatuhkan daun daun kering.


"Daff, terima kasih untuk semuanya. Akan ku jaga dan kusimpan baik baik semua yang telah kamu berikan" Daffi berbicara pada makam saudara kembarnya.


Nuna hanya mengangguk mengiyakan semua perkataan suaminya


"Semoga kau tenang dan bahagia di sana, Daffa" ucap Nuna lirih.


Daffi hanya tersenyum dan segera merangkul pundak istrinya tersebut.


Keduanya berdiri bersamaan dan berjalan meninggalkan pemakaman.


'Aku mungkin tidak bisa lagi melihat wajahmu, melihat senyumanmu, melihat tatapan tajam dari mata coklatmu ataupun mendengar suaramu. Tapi aku akan tetap bisa mendengar detak jantungmu.


Aku mencintaimu Daffa, sampai kapanpun kau akan tetap ada di sudut hatiku yang terdalam' gumam Nuna pada hatinya sendiri.


Nuna menyandarkan kepalanya di dada Daffi, mendengarkan detak jantung suaminya.


Bukan...


itu adalah detak jantung Daffa, pahlawan sejatinya.


TAMAT


Jangan lupa mampir juga di karya saya "NATASYA"


lalu like dan vote


terima kasih sudah mampir


terima aksih sudah like dan vote

__ADS_1


__ADS_2