
Daffi membantu Nuna berdiri.
"Daff?" Ucap Nuna sekali lagi. Pria di depannya hanya mengernyitkan dahi
"Kau tahu namaku? Apa kau mengenalku nona?" Tanya Daffi dengan polosnya.
Sekarang gantian Nuna yang mengernyitkan dahinya.
"Maaf aku salah orang" ucap Nuna akhirnya. Nuna pun meninggalkan pria di depannya tersebut dan segera kembali ke mejanya.
Ia tak menyangka Daff sudah melupakannya dan bahkan tak lagi mengenali dirinya. Nuna sedih, Nuna kecewa.
Nuna duduk dengan kasar. Bibirnya mencebik.
"Na, ada apa?" Tanya bu Rita karena melihat wajah murung Nuna
"Gak ada apa apa bu," jawab Nuna mencoba menormalkan ekspresi mukanya. Ia gak mau sang ibu menjadi curiga dengan sikapnya yang mendadak jadi uring uringan.
"Daff sini!" Bu Salma terlihat melambaikan tangannya pada seorang pria yang celingukan di dekat pintu masuk restorant.
Pria itu segera menghampiri meja yang di tempati bu Salma, bu Rita, dan Nuna.
"Hai mi, maaf Daffi terlambat" Daffi mencium pipi maminya
Nuna melongo melihat pemandangan di depannya.
Pria ini lagi?
Jangan bilang dia adalah anak bu Salma. Nuna berdecak tak percaya.
"Daff, kenalin ini bu Rita temennya mama, dan yang itu Nuna, anaknya bu Rita" bu Salma memperkenalkan Nuna dan ibunya pada Daffi.
Daffi langsung mencium.punggung tangan bu Rita dan berjabat tangan denga Nuna.
"Daffi"
"Nuna" jawab Nuna lirih.
Astaga, pria ini benar benar tak mengenali Nuna
"Nuna, apa kau terluka? Maaf tadi aku tak sengaja menabrak mu tadi" Daffi merasa bersalah. Nuna hanya menghela nafas frustasi.
"Menabrak? Dimana?" Bu Salma terlihat panik.
"Di dekat pintu masuk Mi, Daffi lagi nyari mami dan gak sengaja menabrak Nuna" jelas Daffi
"oh ya, kamu tadi tahu namaku ya Na, padahal kita belum kenalan. apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Daffi polos
'Yang benar saja. Dia sungguh sungguh tak mengenaliku?' Nuna berdecak kesal dalam hati.
"Kamu kenal Daffi Na?" Tanya Bu Rita ikut ikutan.
Nuna menarik nafas panjang mencoba mengendalikan emosinya
"Nuna kira Daffi adalah orang yang menyelamatkan Nuna waktu itu, karena wajah dan namanya sekilas sama. tapi sepertinya Nuna salah orang" ucap Nuna lirih.
"Kapan kejadiannya Na?" Tanya bu Salma.
"Sudah agak lama bu, beberapa bulan yang lalu" jelas Nuna.
"Sebenarnya, Daffi mengalami kecelakaan beberapa bulan yang lalu, dan setelah sadar dari komanya, Daffi kehilangan sebagian ingatannya. Lebih tepatnya ingatannya selama dua tahun terakhir" jelas Bu Salma
__ADS_1
Deg,
Nuna merasa bersalah kini karena telah berprasangka buruk pada Daffi
"Kata dokter kami gak bisa memaksa Daffi untuk mengingat semuanya karena itu bisa membahayakan otaknya. Tapi ingatan Daffi akan pulih dengan sendirinya. Kami bisa memancingnya saja dengan menceritakan kejadian kejadian yamg Daffi lupakan" tambah bu Salma
"Jadi Nuna, kalo kamu sebelumnya memang pernah bertemu atau pernah kenal sama Daffi, kamu mungkin bisa membantu Daffi menemukan kembali ingatannya dengan sedikit menceritakan apa saja yang pernah kalian lakukan dulu" lanjut bu Salma.
Nuna hanya mengangguk -angguk.
Sedikit rasa prihatin serta penyesalan menusuk relung hatinya.
'Maaf Daffi karena sudah berprasangka buruk padamu. Namamu Daffi ternyata. Kini aku sudah tahu' gumam Nuna lirih.
Daffi memandang lekat wajah Nuna.
Tapi Daffi benar benar tak ingat apa pun tentang gadis di depannya tersebut.
"Mi, apa Daffi boleh bicara berdua saja dengan Nuna?" Daffi buka suara
"Gimana bu Rita?" Mami Salma malah minta pendapat ke Bu Rita.
"Gak masalah Ma, mungkin mereka berdua merasa canggung dengan keberadaan kita" bu Rita tertawa kecil
"Pergilah" ucap bu Salma akhirnya.
Daffi memberikan kode kepada Nuna agar mengikuti langkahnya.
Nuna menurut saja dan mengekor Daffi ke meja yang lebih kecil yang berada di balkon restorant tersebut. Tempat ini lebih terbuka dan lebih sepi. Nuna bisa memandang bintang bintang di langit.
"Jadi... apa kau mau cerita apa yang sudah terjadi beberapa bulan yang lalu?" Daffi buka suara. Nuna sedikit bingung.
"Apa kau sungguh tak mengingatnya?" Nuna masih penasaran.
Nuna menghela nafas.
"Aku ingin mengakhiri hidupku, tapi kau datang dan mencegahku. Aku pingsan, kau membawaku ke rumah sakit.
Kau menyuruhku pulang, tapi aku belum punya keberanian karena sebelumnya aku minggat dan bertengkar dengan kedua orang tuaku. Jadi kau memberiku sebuah tumpangan. Kau menyuruhku tinggal di rumahmu untuk menenangkan diri. Setelah seminggu akhirnya aku berani pulang dan memperbaiki hubunganku dengan kedua orang tuaku." Cerita Nuna panjang lebar.
"Jadi hanya karena kamu minggat dari rumah dan bertengkar dengan orang tuamu, kamu memutuskan untuk mengakhiri hidupmu? Pemikiran yang aneh" Daffi berkata sinis.
Nuna merasa tersindir
"Masalahku waktu itu tidak sesimpel itu, aku mencintai seorang pria brengsek tapi ayah dan ibu tak merestui, jadi. demi pria itu kuputuskan kabur saja dari rumah. Tapi pria itu malah berselingkuh dan tidur dengan wanita lain. Aku hancur dan patah hati" ucap Nuna lirih.
Ia merasa sungguh malu menceritakan hal konyol seperti ini pada Daffi.
Semakin menyadarkan dirinya betapa bodohnya dia waktu itu. Nuna tersenyum kecut.
"Dasar gadis bodoh. Mau mati sia sia hanya karena seorang pria brengsek." Ucap Daffi lugas.
Nuna membenarkan kata kata Daffi barusan karena meskipun terdengar kasar tapi itu sungguh tepat.
"Aku sudah move on dan melupakan semuanya berkat dirimu. Terima kasih untuk semuanya" ucap Nuna tulus.
"Aku senang pada akhirnya kau memilih melanjutkan hidupmu" ucap Daffi sambil tersenyum.
"Kau dulu juga bilang begitu saat akhirnya aku memutuskan pulang ke rumah orang tuaku. Kau masih ingat rupanya" Nuna tersenyum senang.
"Ya, kadang tangan, pikiran, dan organ tubuhku yang lain masih mengingat sesuatu tapi otakku tak mengingatnya, kadang ini terasa aneh bagiku" Daffi sedikit heran.
__ADS_1
"Kau akan mengingat semuanya suatu hari nanti" hibur Nuna.
"Semoga." Jawab Daffi lirih.
Mereka berdua melanjutkan menikmati makan malam sambil bicara banyak hal.
Sepertinya mereka memang cepat sekali akrab.
Dari dalam resto, bu Salma dan bu Rita terlihat senang karena rencana keduanya berjalan mulus. Perjodohan anak anak mereka sudah di depan mata.
"Jeng kayaknya kita tinggal mikirin tanggal pertunangan mereka saja" usul Bu Salma,
"Saya ikut aja jeng, yang penting Nuna bahagia" jawab bu Rita berbunga bunga.
Tak ada yang lebih membahagiakan dari sebuah rencana yang akhirnya berjalan mulus.
Bu Salma dan Bu Rita yakin, Daffi dan Nuna tidak akan menolak rencana perjodohan ini. Akhirnya dua sahabat itu akan menjadi besan.
"Bu, udah selesai?" Nuna menghampiri meja bu Rita dan Bu Salma. Daffi menyusul di belakangnya.
"Iya udah Na, mau pulang sekarang?" Tanya Bu Rita. Nuna hanya mengangguk.
"Bareng kita aja jeng. Biar sekalian Daffi tahu rumah Nuna. Kali aja nanti mau apel" bu Salma tertawa lepas.
Bu Rita ikut tertawa.
Nuna tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang sudah merona merah.
"Mama ih" Daffi pura pura kesal
"Halah gak usah jaim. Pasti kamu ngarep juga kan. Mami lihat kamu tadi bahagia banget ngobrol bareng Nuna" bu Salma masih tak berhenti meledek.
Daffi semakin mencebik kesal.
"Sudah sudah jeng, jangan di goda terus. Mereka jadi malu" bu Rita menengahi keributan ibu dan anak itu.
"Iya ayuk jeng" bu Salma menggandeng tangan calon besannya itu dan berjalan menuju parkiran.
Nuna mengekor di belakang mereka dengan wajah yang masih menunduk.
Daffi juga mengikuti di belakang para wanita itu tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Sampai di mobil, kedua wanita paruh baya itupun langsung kompak duduk di kursi belakang.
Mau tak mau Nuna terpaksa duduk di depan bersebelahan dengan Daffi.
Hal itu benar benar membuat jantung Nuna berdegup kencang tak terkendali.
Beberapa kali Nuna harus menarik nafas panjang agar detak jantungnya normal lagi, tapi sepertinya hal itu sia sia.
'Semoga Daffi tidak mendengar detak jantungku ini. Kenapa dia begitu tampan dan baik sih' Nuna masih belum berhenti mengagumi ketampanan Daffi.
Angan angannya untuk menjadi istri dari seorang Daffi mendadak tumbuh subur kembali.
'Hahaha aku pasti sudah gila' Nuna memukul mukul keningnya sendiri untuk menghapus pikiran pikiran konyol itu
"Na, kamu sakit kepala? Apa kita perlu ke rumah sakit?" Tanya Daffi khawatir karena melihat Nuna memukul mukul keningnya sendiri
"E.. enggak Daff, aku baik baik aja. Kita langsung pulang aja" Nuna jadi salah tingkah.
Astaga, kenapa dia tak sadar kalau lagi menumpang di mobil orang sampe sampe melakukan hal konyol seperti itu.
__ADS_1
Ah dasar cinta, bikin hati menjadi gundah gulana.