Istri Kembaranku

Istri Kembaranku
Daffa Putra Wijaya


__ADS_3

Daffa POV


Aku membuka kotak berwarna gold yang baru saja diberikan oleh Tika.


Nuna menitipkannya saat ia berpamitan seminggu yang lalu.


"Hah, pantas saja" aku mendengus kesal. Terjawab sudah semuanya.


Nuna mengembalikan ponsel yang aku berikan padanya. Pantas saja aku tak bisa menghubunginya seminggu ini.


Ku lempar kotak beserta isinya ke atas kasur.


Pak Roy sudah memberi laporan kalo Nuna sudah sampai dengan selamat di rumah kedua orang tuanya.


Aku senang, pada akhirnya Nuna kembali melanjutkan hidupnya dan hidup bahagia lagi bersama kedua orang tuanya.


'Kau sudah tahu rumahnya dan alamat lengkapnya, kenapa tak langsung saja datang ke rumahnya dan melamarnya' entah mengapa kata kata Raka barusan terus berputar putar di kepalaku.


Tadinya aku memang sudah ingin melamarnya. Tapi melihat semua ini, aku jadi berpikir kalo Nuna tak ada perasaan apapun kepadaku. Aku tidak mau memaksakan kehendakku dan secara egois melamarnya tanpa persetujuan terlebih dahulu darinya.


Aku tidak mau Nuna mencintaiku dengan terpaksa.


Lagipula ku pikir pikir mungkin dia juga masih trauma untuk menjalin hubungan dengan laki laki setelah apa yang dilakukan oleh mantan kekasih brengseknya itu.


Ting


Sebuah pesan masuk ke ponselku.


Kak Diandra: [Daffi sudah bangun dari komanya, pulanglah!"]


Aku menarik nafas lega


'Terima kasih Tuhan' tak henti aku mengucapkan kata syukur itu.


Sudah hampir tengah malam.

__ADS_1


Jadi kuputuskan untuk pulang besok saja. Kasihan pak Roy kalo harus mengantarku tengah malam begini. Dia pasti juga sudah istirahat.


Aku masuk ke ruang kerjaku,


Sebenarnya badan ini lelah dan ingin beristirahat, tapi entah mengapa bayang bayang Nuna masih saja menari nari di kepalaku.


Aku memeriksa beberapa email yang masuk dan membalas seperlunya.


Gara gara pekerjaan bodoh inilah aku kehilangan kesempatan untuk mengobrol banyak dengan Nuna kemarin


Gadis polos itu, kenapa dia terlihat begitu menarik padahal penampilannya sungguh sederhana.


Baiklah, sekarang bagaimana caranya agar aku bisa mulai mendekatinya lagi.


Aku mulai berpikir keras, tapi mataku juga mulai terasa berat.


Jadi aku putuskan untuk memejamkannya saja. Aku akan menemui Nuna di alam mimpi.


Daffa POV end


*****


Sudah seminggu sejak kepulanganku ke rumah ini, entah mengapa salah satu sudut hati ini terasa hampa seperti ada yang hilang.


Aku merindukan Daf.


Sedikit penyesalan menggerogoti relung hatiku.


Kenapa harus ku kembalikan ponsel itu?


Kenapa aku tidak menyimpannya saja?


Mungkin aku akan masih bisa mengobrol dengan Daf jika ponsel itu ku bawa.


Huh penyesalan demi penyesalan seperti tak ada habisnya.

__ADS_1


Seakan Daf akan mengkhawatirkan dan merindukanku juga.


Padahal laki laki setampan Daf pastilah sudah punya kekasih yang cantik.


Mungkin saja dia kemarin menolongku semata mata hanya karena dia merasa iba. Atau hanya demi kemanusiaan?


Lalu kenapa aku berpikir lebih? Apa memang yang kuharapkan?


Ah apapun alasannya, aku hanya ingin menghilangkan perasaan perasan aneh ini dari dalam hatiku.


'Semoga Tuhan memberikan ku kesempatan untuk berjumpa lagi dengannya, agar aku bisa membalas budi baiknya' itulah doa yang akan selaku ku panjatkan.


Tok tok tok


"Na, ada surat buat kamu" suara ibu terdengar dari luar kamar.


Surat?


Aku segera melompat turun dari atas ranjang kamarku. Saat membuka pintu, Kulihat ibu berdiri di depan pintu kamarku sambil memegang sepucuk amplop surat


"Surat apa bu?" Tanyaku penasaran


"Entahlah, belum ibu buka. Panggilan wawancara sepertinya" ibu mencoba menerka nerka.


Aku segera mengambil surat itu dari tangan ibu dan bergegas membukanya.


Ku baca dengan seksama.


Benar kata ibu, ini surat panggilan untuk wawancara.


Beberapa hari yang lalu aku memang memasukkan lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan, tapi aku tak tahu kalo secepat ini aku akan dipanggil untuk test wawancara.


"Apa Na isinya?" Tanya ibu masih penasaran


"Surat panggilan untuk wawancara bu" aku menyodorkan surat itu ke tangan ibu agar ibu bisa membacanya sendiri.

__ADS_1


"Syukurlah, ibu ikut senang. Semoga diberi kelancaran dan kamu diterima bekerja di resto itu ya Na," kata ibu penuh harap


"Aamiin" jawabku singkat mengaminkan segala doa dan harapan ibu.


__ADS_2