Istri Kembaranku

Istri Kembaranku
Patah Hati


__ADS_3

Daffa membuka matanya perlahan.


Sinar matahari masuk melalui sela sela tirai di kamarnya. Kepalanya terasa sangan berat.


Daffa meraba raba nakas di samping tempat tidurnya. Mencari cari arlojinya.


Setelah mendapatkan benda itu, Daffa memicingkan matanya untuk melihat jam berapa sekarang.


Sudah hampir tengah hari.


"Astaga apa yang kulakukan" lagi lagi Daffa merutuki kebodohannya.


Ponsel Daffa berdering. Tertulis Raka yang memanggilnya.


"Iya Ra, aku masih di apartemen" jawab Daffa berusaha menahan sakit kepalanya.


"Daf, pesawatmu berangkat jam 2. Aku tunggu di airport" kata Raka di seberang sana.


"Baiklah aku akan siap siap" jawab Daffa lesu


"Hei, aku meninggalkan obat di samping tempat tidurmu agar sakit kepalamu berkurang. Dan kau masih berhutang penjelasan kepadaku" Raka memperingatkan


"Iya iya, terserah kau saja" ucap Daffa kesal.


Ia segera beranjak meninggalkan kasur nan empuk itu.


Berjalan agak sempoyongan, Daffa pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Perutnya keroncongan sekarang karena tadi malam dia melewatkan makan malam, dan pagi ini dia belum makan apapun.


Daffa membuka kulkas.


Ada sup dan bubur.


Sepertinya Raka yang membelikannya untuk Daffa. Kini Daffa merasa bersyukur punya sahabat sebaik Raka.


Daffa memanaskan sup untuk sarapan.


Tak lupa Daffa meminum obat yabg ditinggalkan Raka.


Setelah merasa lebih baik, Daffa bergegas mandi dan bersiap siap pergi ke bandara.


*****


"Jadi, apa yang terjadi?" Raka mulai penasaran. Yang dia tahu Daffa tak pernah menyentuh minuman lagi sejak setahun terakhir.


Tapi tadi malam, Raka sungguh dibuat bingung.


"Aku sudah menemukan Nuna" jawab Daffa singkat


"Bagus kalo begitu. Lalu masalahmu apa sampai kau semabuk itu?" Raka masih belum mengerti.


"Nuna akan bertunangan dengan Daffi" jawab Daffa datar.


Raka langsung melompat dari kursinya, untunglah sabuk pengaman masih melingkar di pinggangnya sehingga ia tak membuat penumpang lain terkejut.


Dua sahabat itu sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negeri.


Jadwal Daffa sedikit sibuk minggu ini. Di satu sisi Daffa merasa jengah tapi disisi lain Daffa bersyukur karena dengan begini Daffa bisa sejenak melupakan Nuna.

__ADS_1


"Kau tidak salah lihat kan?" Raka masih berusaha mencari celah berharap yang dikatakan Daffa ini hanyalah khayalan nya saja.


"Aku melihatnya duduk mesra bercengkerama dengan Daffi. Mereka terlihat sangat bahagia" Daffa tersenyum kecut.


Hatinya pilu bak diiris sembilu


"Tapi aku bingung, bagaimana Daffi bisa bertemu dengan Nuna?" Raka masih menerka nerka.


"Nuna adalah anak dari sahabat mami. Jadi mami dan ibunya Nuna berniat menjodohkan mereka berdua" cerita Daffa lesu.


Raka hanya manggut manggut sampai akhirnya sebuah kesimpulan mampir di kepalanya


"Mungkin gak sih kalo Nuna berpikir Daffi itu adalah orang yang menolongnya waktu itu? Wajah kalian berdua kan sama" Raka menerka nerka.


Daffa terlihat antusias menyimak


"Maksud kamu bagaimana?" Daffa masih sedikit bingung sebenarnya. Otaknya belum terlalu fokus


"Dulu kamu kan gak pernah mau nyebutin nama lengkap kamu. Daff, Daff doang. wajarlah Nuna bingung.


Daff kan bisa Daffa atau Daffi. Eh dia ketemunya sama Daffi, mukanya sama. Ya dia mikirnya Daffi yang waktu itu nolong dia." Raka menarik kesimpulan.


Daffa hanya mengernyitkan dahi.


"Kalo memang Nuna membahas hal itu sama Daffi bukankah seharusnya Daffi membantahnya?" Daffa masih ragu.


"Ada dua kemungkinan, Daffi berbohong atau..." Raka tak melanjutkan kata katanya. Sedikit memberi jeda karena takut salah bicara


"Atau apa?" Tanya Daffa tak sabar


Daffa tak mengerti


"Mami Salma memanfaatkan hilang ingatan yang dialami Daffi. Bisa saja kan mami Salma bilang ke Nuna kalo Daffi hilang ingatan setelah bangun dari koma. Makanya Daffi gak ingat kejadian waktu itu" mendadak otak Raka seencer itu.


Insting detektifnya sepertinya bekerja baik kali ini.


Hampir semua yang Daffa ungkapkan terdengar masuk akal.


Tapi Daffa masih menimbang nimbang semua pendapat dan kesimpulan yang disampaikan Daffa.


"Tapi menurutku bukan sepenuhnya salah mami. Mungkin mami pikir memang Daffi yang dulu menolong Nuna. Dan Daffi melupakannya karena kecelakaan itu." Terdengar Daffa malah membela sang mami.


"Heh tetap saja tidak masuk akal. Waktu Kau menolong Nuna, jelas jelas Daffi masih terbaring koma" bantah Raka


"Ya, bisa saja kan Nuna tak menceritakan waktu dan detil kejadiannya" Daffa masih menerka nerka.


Sesaat keduanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing masing.


Sang pilot mengumumkan pendaratan yang sebentar lagi akan dilakukan.


Daffa membuang pandangannya ke luar jendela pesawat. Hanya ada awan putih disana.


Mungkin Raka benar, ini semua memang salahnya sendiri yang waktu itu tidak mau jujur tentang identitas dirinya pada Nuna.


Daffa sungguh suka menjahili Nuna waktu itu dan dengan sengaja tidak memberitahukan nama panjangnya.


Daffa tak menyangka akan seperti ini jadinya.

__ADS_1


Semua memang kesalahannya. Nuna jadi salah paham sekarang.


Dua pria itu meninggalkan bandara dan bergegas menuju hotel tempat mereka menginap.


Raka memutuskan mengajak Daffa mampir ke resto terdekat karena perutnya sudah keroncongan sedari tadi. Memikirkan beberapa kesimpulan tadi sepertinya benar benar menguras tenaga dan pikiran Raka.


Daffa menurut saka saat Raka membawanya masuk ke sebuah restorant. Daffa tak berselera makan kali ini. Jadi ia putuskan untuk memesan secangkir kopi pahit saja.


Jalan hidupnya sungguh pahit dan suram belakangan ini.


Secercah cahaya yang datang bersama Nuna juga telah ikut pergi bahkan sebelum Daffa sempat merasakannya


"Bro, kamu masih punya kesempatan. Jangan murung begitu" ujar Raka mencoba memberi semangat.


Dalam hati Raka benar benar merasa prihatin dengan jalan hidup sahabatnya tersebut.


"Kesempatan?" Daffa mendengus putus asa. Kesempatannya sudah menguap pergi bersama kebahagiaan Daffi dan Nuna.


"Kau bisa menemui Nuna, menjelaskan pada Nuna semuanya.


Bro, mereka baru akan bertunangan jadi masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya" ide cemerlang dari seorang Raka Aditya.


"Heh" Daffi tersenyum kecut, berdecak tak percaya dengan ide sahabatnya tersebut.


"Apa? Ideku bagus kan? Lagi pula entah Daffi atau Daffa yang menikah dengan Nuna keduanya sama sama anaknya Mami Salma. Jadi aku pikir tak akan ada masalah" Raka semakin bangga dengan ide yang dia kemukakan.


Daffa sungguh ingin tertawa sekarang.


Sahabatnya ini benar benar belum mengenal maminya ternyata.


Semua yang telah menjadi milik Daffi tak akan pernah menjadi milik Daffa sampai kapanpun.


Daffi adalah anak emas, anak kesayangan sang Mami.


Sedangkan Daffa? Anak pembangkang dan pembuat masalah. Itulah yang selalu mami katakan.


Padahal Daffa hanya ingin hidup dengan prinsip dan tidak mau menjadi boneka untuk maminya. Daffa hanya ingin memiliki hidupnya sendiri. Melakukan semuanya sesuai keinginan hatinya.


"Bagaimana kalau Nuna sungguh sungguh jatuh cinta pada Daffi dan ini semua tidak ada hubungannya dengan kejadian malam itu?" Daffa menarik kesimpulannya sendiri.


Raka mengernyitkan dahi tanda tak mengerti.


"Maksudku, saat mereka dikenalkan, Nuna langsung jatuh hati pada Daffi. Bisa saja kan seperti itu" jelas Daffa.


Raka terlihat manggut manggut dan sudah mengerti sekarang.


Kesimpulan Daffa ada benarnya juga kalau di pikir pikir.


"Lagipula kak Diandra ataupun Daffi tidak mungkin tidak memberitahu Nuna kalo Daffi punya saudara kembar." Lanjut Daffa.


"Jadi, sekarang apa yang akan kau lakukan?" Tanya Raka penasaran.


"Aku hanya akan memastikan kalo Daffi benar benar mencintai Nuna dan tidak sekedar memainkan perasaanya saja. Nuna berhak bahagia." Ucap Daffa mantap.


Kini dirinya sudah bisa mengendalikan emosinya.


Daffa hanya ingin Nuna bahagia sekalipun itu bersama pria lain.

__ADS_1


__ADS_2