
Raka dan Sita berada di luar hingga larut malam. Hati yang sedang berbunga-bunga dan cinta yang bersemi membuat keduanya lupa waktu.
Saat masuk ke kamar, keduanya mendapati Lin sudah tertidur pulas. Terdapat dua kardus yang sudah terikat rapi di samping tempat tidur. Rupanya tadi Lin sudah mengemas barang-barang yang akan di bawa besok ke kampung.
Rasa kantuk juga sudah membuat mata Sita terasa berat. Ia ikut berbaring di samping Lin sedangkan Raka tidur di bawah lantai beralaskan tikar. Tidak masalah, pikir Raka, yang penting bisa tidur sekamar dengan kekasih hati.
Mimpi indah mewarnai tidur mereka hingga pagi tiba.
Walaupun semalam Sita terlambat tidur tapi ia tetap bangun tepat waktu seperti biasanya lalu mengerjakan tugasnya dengan baik. Setelah itu ia pergi membeli nasi kuning untuk sarapan pagi bagi Raka dan Lin yang akan berangkat ke kampung pagi ini.
Tidak lama setelah mereka sarapan pagi, mobil yang akan ditumpangi ke kampung sudah datang menjemput.
***
Raka senang karena jalanan ke desanya sudah bisa dilewati kendaraan roda empat dengan lancar meskipun belum dibeton secara keseluruhan. Luar biasa perkembangan setelah tiga tahun terakhir ini.
Warga juga sudah menikmati air bersih tanpa ada pungutan setiap bulannya. Hal ini dirasakan oleh warga desa sejak pak Darwis menjabat sebagai kepala desa.
Warga desa heboh melihat kedatangan Raka dan Sita. Mereka terpaku melihat penampilan kedua kakak-beradik itu yang sudah sangat berubah.
Pak Ali dan ibu Erna sangat gembira menyambut kedatangan kedua anaknya. Raka dan Lin memeluk kedua orang tuanya secara bergantian, setelah itu beralih ke adik-adiknya. Raka sangat iba melihat keadaan adik-adiknya yang kurus dan dekil serta pakaiannya kumal. Ia berjanji dalam hati untuk merubah dan menyekolahkan mereka, setidaknya tamat SMA (Sekolah Menengah Atas) . Tidak seperti dirinya dan Lin yang hanya tamat Sekolah Dasar.
Setelah melepas rindu selama beberapa saat dengan kedua orang tua dan adik-adiknya, Rama segera keluar mengurus barang-barang yang masih ada di mobil.
Barang bawaannya sangat banyak sehingga tidak muat di dalam ruangan rumah orang tuanya yang berukuran kecil dan berantakan.
Tak berselang lama, muncul juga mobil truk membawa bahan bangunan. Raka sudah menyiapkan semua dengan matang mengingat cutinya hanya dua minggu. Ia ingin merenovasi rumah orang tuanya sebelum kembali lagi ke Morowali.
Para tetangga berdatangan untuk membantu menurunkan barang belanjaan dari mobil, seperti besi, semen, atap, dan batu bata.
Hidup gotong-royong masih berlaku di desa tersebut. Pekerjaan yang berat terasa ringan.
__ADS_1
Dalam hitungan menit, semua isi mobil sudah berpindah tempat. Warga yang datang membantu mendapat ole-ole beras dan gula masing-masing sekilo. Mereka pulang ke rumah dengan hati senang.
Pak Samir, ayah Sita datang juga membantu dan ia tak kalah bahagianya ketika Raka memberinya sebuah dos, kiriman dari Sita.
"Hebat ya, si Raka dan Lin, hanya beberapa tahun pergi merantau dan sudah bisa pulang bawa hasil," tutur salah seorang warga.
"Coba anak saya sudah besar, saya akan minta kepada Raka untuk dicarikan pekerjaan di tempat kerjanya," timpal yang lain.
"Kerja di Morowali katanya upah sangat tinggi. Mudah-mudahan anak saya mau juga ke sana," ucap pak Hardi.
"Tapi rata-rata anak kita hanya punya ijazah SD, apakah bisa diterima untuk kerja?"
"Setau saya, Raka juga hanya punya ijazah SD tapi katanya sekarang ia sudah jadi pengawas di sana setelah dua tahun jadi buruh."
"Yah, masing-masing punya rejeki,"
Demikianlah percakapan warga yang dihebohkan dengan kedatangan kedua anak pak Ali.
Seminggu kemudian, rangka rumah pak Ali sudah berdiri dengan ukuran sedang karena menurut Raka, nanti kalau ada rejeki lagi baru ditambah.
Saking sibuknya, tak terasa cutinya akan segera berakhir sementara pekerjaan tukang baru mencapai lima puluh persen. Rama memberikan kepercayaan kepada kepala tukang untuk mengurus kelanjutan pembangunan rumah tersebut dengan memberikan bayaran yang lebih.
Berat rasanya untuk meninggalkan kampung halaman tapi mengingat kebutuhan dan tanggung jawab sebagai anak sulung, ia harus tetap bersemangat.
Uang milik Lin tidak dikorek oleh Raka untuk pembangunan rumah sehingga uang itu digunakan untuk membeli beras dan kebutuhan dapur lainnya selama dua bulan ke depan. Sisanya diserahkan kepada ibunya untuk dibelikan keperluan lainnya.
Raka dan Lin berangkat diiringi doa kedua orang tuanya.
Raka masih ragu untuk mengajak anak-anak warga di desa itu karena belum ada kepastian adanya lowongan kerja yang tersedia di sana. Ia memberikan penjelasan kepada bapak-bapak yang sempat datang menawarkan anaknya agar diikursertakan dan berjanji bahwa kalau sudah ada pekerjaan, pasti ia akan datang menjemput mereka.
Menjelang malam keduanya tiba di kota Beringin. Sita menyambut mereka dengan gembira. Ia sudah sangat merindukan kekasihnya karena selama berada di kampung mereka tidak bisa berkomunikasi lewat ponsel.
__ADS_1
Setelah mandi untuk membersihkan tubuh yang lepek, Raka mengajak Sita untuk jalan-jalan karena rasa capek sudah hilang.
Sita masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya karena tadi setelah mandi ia hanya mengenakan daster.
Baju kaos warna putih ia padukan dengan celana levis warna biru. Sangat serasi dengan warna kulitnya. Setelah itu ia poles wajahnya dengan make up yang tipis.
"Mau ikut?" tanya Raka kepada Lin yang terlihat sangat lelah karena perjalanan.
"Nggak ah, capek, mau istirahat," sahutnya.
"Oke, kalau gitu, kami jalan dulu!"
"Jangan lupa beliin makanan kalau pulang!"
"Siap!"
Setelah Raka dan Sita berangkat, Lin langsung menghubungi Rian lewat video call.
"Halo sayang!" sapa Lin dengan manja setelah wajah Rian muncul di layar ponsel.
"Heyyy, sayangku sudah pulang, saya rindu beb," seru Rian dengan wajah riang.
"Saya juga sangat rindu beb," Lin memoncongkan bibirnya membuat Rian gemas.
"Kapan kita ketemuan, Sayang?"
"Besok aja yah, saya capek sekali, mau istirahat dulu sayang,"
"Oke, bebebku, sampai besok, da... da... da... umma!"
"Cup, cup, cup!"
__ADS_1
Sambungan terputus. Lega rasanya sudah mendengar suara kekasih walau hanya lewat ponsel. Lin menutup matanya lalu tertidur nyenyak. Tadi sebelum berangkat dari kampung, ia minum antimo karena takut mabuk dalam perjalanan. Antimo membuatnya mengantuk dan masih dirasakan hingga saat ini.
Pengalaman saat baru pertama kali datang ke kota Beringin ini, Lin mabuk sepanjang jalan karena baru pertama kali ia naik mobil dengan jarak jauh dan tidak makan obat sebelum berangkat.