Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
7. Pergi


__ADS_3

Mira berjalan mondar-mandir dalam kamarnya dengan pikiran yang kacau. Ia sedang memikirkan cara untuk bisa menyingkirkan Lin.


Tiba-tiba ia tertawa karena sudah menemukan ide yang menurutnya sangat tepat. Mira pun berbaring dan berharap malam itu segera berlalu karena ia ingin segera menjalankan rencananya.


Keesokan harinya, Lin bangun seperti biasa. Ia mandi lalu memoles wajahnya dengan make up yang tipis. Walaupun kerja hanya sebagai tukang cuci tapi menjaga penampilan itu sangat perlu. Kallimat ini selalu terngiang di telinganya yang disampaikan oleh Sila dan juga pernah disampaikan oleh Rian kepadanya.


Ia ikut menikmati sarapan pagi bersama karyawan yang lain sebelum mengerjakan tugasnya. Tatapan tidak bersahabat dari beberapa karyawan terutama Mira yang juga sering menghinanya tak pernah ia ambil pusing. Namun tidak semua juga bersikap seperti itu kepadanya.


Usai sarapan, ia mulai mencuci piring yang sudah bertumpuk dan menyusun dengan rapi di bawa keranjang yang berukuran besar untuk meniriskan airnya agar perabot tersebut cepat kering. Keranjang itu penuh dengan piring dan gelas kaca.


Setelah itu Lin membasuh tangannya ia mengeringkan dengan menggunakan tisyu yang sudah di siapkan di dalam sebuah ruangan yang berdekatan dengan tempat ia mencuci perabot.


"prang!!!"


Suara barang pecah mengundang perhatian semua orang yang berada di sekitar situ kerena kaget dan berlari ke arah sumber suara, termasuk Lin yang baru saja meninggalkan tempat asal sumber suara tersebut.


Rupanya keranjang tempat perabotan yang baru saja dicuci oleh Lin tersenggol oleh seseorang sehingga keranjang itu jatuh dan semua isinya pecah dan hancur berantakan.


Para karyawan datang mengerumuni dan semua mata tertuju kepada Lin yang tampak bingung. Sudah sejak dulu ia menyimpan perabot di tempat itu dan tidak pernah terjadi hal seperti ini, kenapa tiba-tiba saja keranjang itu jatuh.


"Kamu apakan perabotan itu?" bentak Nyonya dengan suara keras. Wajahnya yang angker sangat menakutkan.


Lin yang jadi sasaran kemarahan Nyonya menunduk dan tidak berani mengangkat wajahnya.


"Ss... sa... saya juga tidak tahu Nyonya karena tadi setelah mencuci perabotan itu semuanya baik-baik saja, pas saya tinggalkan tempat ini untuk mengeringkan tangan saya, tiba-tiba keranjangnya jatuh," Lin mencoba membela diri dengan berkata yang jujur.


"Kamu tahu berapa kerugian yang saya harus tanggung? Piring dan gelas itu bukan barang biasa, semuanya saya beli dengan harga mahal, jadi gaji kamu bulan ini saya potong dan mulai sekarang kemasi pakainmu karena saya tidak mau mempekerjakan orang yang membuatku rugi karena tidak hati-hati dalam bekerja! Satu hal lagi, bersihkan semua pecahan ini baru kamu bisa pergi!" seru Nyonya kemudian pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Lin sangat sedih mendengar keputusan Nyonya. Dadanya sesak dan ingin menangis rasanya tapi ia berusaha menahan agar air mata itu tidak keluar disaksikan oleh karyawan yang masih tidak mau membubarkan diri.


"Makanya jangan belagu, tukang cuci kok, pakai lipstik segala!" ejek Mira.


"Emang enak dipecat... cari kerjaan sekarang itu susah lho," timpal karyawan yang lain.


"Makanya jangan pacaran melulu, begini jadinya kalau nggak fokus lagi sama pekerjaan!" ujar yang lain.


Rian datang menghampiri kerumunan tersebut. Ia kaget mendengar kabar buruk yang disampaikan oleh salah seorang pelayan yang sudah membubarkan dari dari kerumunan itu.


Tadi kebetulan pelayan itu bertemu dengan Rian dan pak Maman yang baru pulang dari pasar untuk berbelanja.


Rian termangu melihat pecahan kaca yang berserakan di lantai dan Lin sedang memungut satu per satu untuk dimasukkan ke dalam karung.


Tanpa banyak bicara, Rian langsung turun tangan untuk membantu kekasihnya mengumpulkan pecahan tersebut.


Mira sangat jengkel melihat Rian yang datang membantu Lin. Ia pergi meninggalkan tempat itu mengikuti teman-teman yang sudah bubar dan menunggu waktu yang tepat untuk merayu Rian.


"Saya juga nggak tahu, Kak," sahutnya lemah.


"Yah, udah, kamu hati-hati nanti tanganmu teriris!" kata Rian membuat hati Lin sedikit tenang.


Rian yakin ini semua ini bukanlah kesalahan Lin tapi namanya juga orang kecil, mau bagaimana pun berkoar-koar, tetap tidak akan berpengaruh. Harus menerima dengan pasrah dan lapang dada.


Hampir satu jam Rian dan Lin mengumpulkan kaca-kaca tersebut baru semuanya dapat selesai.


Setelah Lin membersihkan tangan ia masuk ke kamarnya lalu menangis sejadi-jadinya. Ia baru bisa menghubungi Sita setelah tangisnya sudah reda dan menceritakan musibah yang sedang menimpahnya.

__ADS_1


Sita ikut sedih dan minta izin kepada bosnya untuk menampung Lin di kamarnya selama belum mendapatkan pekerjaan baru. Sila sangat berterima kasih kepada bosnya yang baik hati dan berdoa dalam hati agar Tuhan membalas kebaikan sang majikannya itu.


Lin mengemas pakaiannya dibantu oleh Rian. Ada dua tas berukuran sedang yang sudah terisi dengan pakaian.


"Kamu yang sabar, Sayang... nanti kalau kamu sudah dapat pekerjaan baru saya juga keluar dari sini, masalahnya tinggal seminggu lebih habis bulan. Bisa jadi Nyonya juga tidak membayar gajiku kalau saya langsung keluar!" kata Rian setelah mengemas semua barang-barang ke dalam tas.


"Iya, Kak, terima kasih!" ucap Lin dengan tulus.


"Jangan lupa kabari saya jika kamu butuh sesuatu!"


"Iya, Kak,"


Tak lama kemudian, Sita datang menjemput Lin. Satu tas dipanggul oleh Rian dan yang satu lagi digotong oleh Sila dan Lin.


Beberapa karyawan yang sudah menjadi teman baik bagi Lin selama kurang lebih dua tahun meneteskan air mata melihat kepergian Lin tetapi ada juga karyawan tertentu yang hanya tersenyum sinis.


Baru dua hari Lin berada di rumah tempat Sila bekerja ketika Rama, kakaknya menelepon untuk mengajaknya ke kampung. Lin sangat senang karena ia juga sudah sangat merindukan kedua orang tuanya beserta adik-adiknya.


Sehari sebelum kedatangan Rama dari Morowali, Lin berbelanja ke pusat kota dengan diantar oleh Sita dan Rian. Ia membeli beberapa potong pakaian untuk mama dan papanya serta adik-adiknya.


Masih banyak barang-barang lain yang ia beli. Setelah berbelanja ia masih punya uang untuk dibawa pulang ke kampung. Selama kerja kurang lebih dua tahun ia baru sekali kirim uang ke kampung karena Rama yang sarankan agar uangnya disimpan saja dulu.


Sita juga membeli ole-ole yang akan ia kirim kepada orang tuanya. Sebenarnya ia juga rindu mau pulang ke kampung tapi bosnya belum memberi izin dengan alasan mau lebaran.


"Kita makan bakso, yuk!" ajak Rian sebelum pulang ke rumah.


Sita dan Lin saling berpandangan mendengar tawaran dari Rian.

__ADS_1


"Kalian tenang aja, nanti saya yang traktir!" ujar Rian lagi sambil tersenyum.


Mereka pun mencari warung bakso terdekat. Sita dan Rian juga sudah akrab. Mereka bertiga menikmati bakso sambil bercanda ria.


__ADS_2