
Raka tiba di kota Beringin pada pukul 17.00 WIB. Lin sudah memberikan alamat rumah tempat Sita bekerja.
Penampilan Raka sudah beda jauh ketika ia berangkat dulu meninggalkan kampung sekitar tiga tahun yang lalu dengan tubuh yang kurus kerempeng. Sekarang ia kelihatan gagah dan tubuhnya juga sudah berisi.
Lin memeluk kakaknya untuk melepaskan rasa rindu.
"Lin, kamu sudah dewasa dan cantik!" puji Raka setelah melepaskan pelukannya. Ia bangga punya adik yang cantik. Dulu ketika ia meninggalkan kampung, Lin masih kecil, kurus, dan dekil tapi sekarang sudah jauh berubah setelah mengenal dunia luar dan pandai bersolek.
Raka juga menyapa Sita yang dari tadi duduk diam. Sita sedang mengagumi penampilan Raka yang sudah berbeda. Sita menerima uluran tangan Raka dengan jantung berdebar-debar. Sejak dulu di kampung, Sita sudah diam-diam tertarik kepada pria ini yang sebenarnya masih ada hubungan kekerabatan di antara keduanya tapi sudah jauh. Rasa itu kian menyiksa setelah Raka sering mengirim pesan untuk Lin melalui ponsel miliknya sebelum Lin punya ponsel tapi Raka tidak pernah menyinggung hal lain selain urusan dengan adiknya.
Raka menjabat tangan Sita dengan hangat, sehangat tatapannya yang penuh arti.
"Terima kasih sudah menjadi kakak yang baik bagi adik saya, Lin!" ucap Raka sambil tersenyum. Lin selalu bercerita kepada kakaknya tentang kebaikan Sita yang selalu menolongnya di saat ia sedang kesulitan.
"Ahhh, biasa aja, Kak. Sudah sewajarnya kita saling menolong, apalagi kita sama-sama berasal dari kampung," sahut Sita.
Mereka duduk di bangku panjang yang ada di depan kamar Sita.
Tampaknya Raka sangat lelah setelah melakukan perjalanan yang jauh. Satu hari satu malam berada dalam bus yang sesak penuh penumpang.
Melihat hal itu, Sita membentangkan tikar di bawa lantai kamarnya agar Raka bisa istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke kampung.
"Kita langsung berangkat sebentar malam, Kak?" tanya Lin.
"Iya, tapi saya mau istirahat dulu," jawab Raka yang langsung membaringkan tubuhnya di tikar yang sudah disiapkan oleh Sita setelah meneguk segelas air putih hangat.
Karena lelah dan kurang tidur selama perjalanan membuat Raka tidur sampai jam delapan malam. Ia bangun dan kaget karena mobil yang tujuannya ke kampung sudah berangkat satu jam yang lalu.
Raka akhirnya mengajak Lin dan Sita untuk jalan-jalan. Tak lupa Lin mengajak Rian untuk ikut serta bersama mereka.
Mereka sangat senang bisa menikmati kebersamaan malam itu. Raka memilih rumah makan terkenal yang ada di kota itu. Ia mengajak mereka masuk tapi Lin langsung menarik lengan kakaknya.
__ADS_1
"Kak, di sini makanannya mahal. Kita di tempat lain aja!" kata Lin yang sempat membaca daftar menu yang dipajang di luar. Semuanya super mahal.
"Nggak apa-apa, Dek. Sekali-sekali," ucap Rama.
"Gimana kalau kita makan di tempat kerja saya aja?" usul Rian.
"Boleh, boleh," kata Rama.
"Tapi, Kak... ," ucap Lin agak ragu
"Tenang aja, Lin, biar teman-teman di sana tahu kalau kamu punya kakak yang berduit!" bisik Rian yang punya rencana dalam hati.
Akhirnya mereka keliling-keliling untuk mencuci mata. Mereka tiba di sebuah toko penjual tas dan dompet.
"Silahkan dipilih, nanti saya yang bayar!" kata Raka sambil tersenyum.
Lin bersorak kegirangan. Ia menarik lengan Sita dan masuk ke toko tersebut. Sita mengikut saja.
"Ayolah, pilih aja, jangan malu-malu!" kata Lin yang melihat Sita hanya terpaku di tempat.
Setelah itu keduanya menghampiri Raka dan Rian yang masih memilih dompet yang akan dibeli.
Lin dan Sita membawa semua barang belanjaannya ke kasir.
"Totalnya Rp. 850.000," kata kasir.
Rama mengeluarkan uang dari dompetnya dan menyodorkan kepada kasir lalu mereka langsung menuju ke rumah makan, tempat Rian bekerja.
Selama perjalanan menuju rumah makan, Raka sering-sering mencuri pandang ke arah wajah Sita. Ia sangat terkesan dengan kebaikan yang ditunjukkan oleh gadis itu.
Tak lama kemudian mereka tiba di rumah makan. Beberapa pasang mata karyawan terpana melihat kedatangan mereka. Ia tak menyangkah bahwa Lin bisa datang ke tempat itu bersama dengan seorang laki-laki yang tampan dan berkantong tebal.
__ADS_1
"Kamu dari mana aja sih?" tanya Dewi, teman Rian yang bertugas sebagai pelayan di rumah makan tersebut.
"Biasa, diajak oleh calon kakak ipar untuk jalan-jalan," sahut Rian dengan bangga. Ia mengeraskan suaranya agar semua temannya mendengar dan tahu kalau gadis yang dihina selama ini punya kakak yang bisa mengangkat derajatnya.
Para karyawan yang lain sedang ribut di belakang membahas kedatangan Lin bersama kakaknya.
"Ehh, ternyata Lin punya kakak yang tampan, berduit lagi,"
"Seandainya saya bisa jadi pacarnya,"
"Kok, Lin nggak pernah ngomong ya, kalau ia punya kakak yang tampan? Coba saya tahu, dari dulu saya akan menjadi teman dekatnya biar bisa berkenalan dengan kakaknya,"
"Lin itu orangnya baik loh, nggak pernah pamer, makanya saya merasa kehilangan sejak dia pergi dari sini,"
Wajah Mira memerah mendengar komentar-komentar yang disampaikan oleh teman-temanya.Ia jadi penasaran dan ingin melihat langsung apa yang sedang diomongin oleh teman-temanya.
Hati Mira tambah kesal ketika melihat Rian yang sedang duduk satu meja dan saling berhadapan dengan Lin sambil bercanda ria.
Ia mengalihkan pandangannya ke meja sebelahnya, seorang pria tampan dengan kulit kuning langsat sedang ngobrol dengan perempuan yang biasa datang menemui Lin waktu masih bekerja di tempat itu.
Rian menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedang mengawasi pergerakannya membuat ia sengaja bermesraan dengan Lin sehingga hati Mira semakin panas.
Kemarin dulu, Mira datang menemui Rian di kamar karena tahu bahwa pak Maman sedang keluar. Rain sangat kaget ketika Mira tiba-tiba menyelinap masuk ke kamar karena pintu tidak terkunci.
Mira langsung berterus terang kepada Rian bahwa ia sangat menyukainya dan mulai merayu dengan segala cara. Mira sengaja mengenakan baju yang lehernya lebar dan sedikit terbuka sehingga benda kenyal setengah menyembul keluar, dan rok pendek di atas lutut untuk memamerkan paha mulusnya tapi ternyata Rian sama sekali tidak tertarik.
Wajah Mira juga cantik dengan body yang aduhay tapi sayang, ia sangat sombong. Rian mengusir Mira keluar lalu mengunci pintu. Mungkin sikap angkuh Mira yang telah menimbulkan kesan yang tidak baik sehingga muncul rasa benci.
"Kenapa mengkhayal, Kak?" tanya Lin mengagetkan Rian.
"Lagi khayalin kamu, Sayang," gombal Rian sambil terkekeh.
__ADS_1
Sekarang Rian bisa bersantai karena tugasnya diserahkan kepada pak Mamang tadi sebelum berangkat. Hal ini sudah sering di lakukan karena Rian juga sering menggantikan tugas pak Maman.
Raka segera memesan makanan paling mewah yang tersedia di rumah makan tersebut.