Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
9. Sakit Hati Terbalaskan


__ADS_3

Sambil menunggu makanan yang sudah dipesan, Raka dan Sita saling berbagi cerita. Tidak butuh waktu yang lama keduanya tampak sudah akrab.


"Ingat nggak waktu kita masih kecil? Kita sering main rumah-rumahan di kampung," tanya Raka yang tiba-tiba ingat masa kecilnya. Rumah mereka berdekatan, hanya sebidang sawah yang jadi batas sehingga setiap hari mereka selalu bermain bersama dengan teman-teman yang lain. Saling kejar-kejaran di pematang sawah, main lumpur, bahkan mandi-mandi di sungai. Semuanya tidak akan terulang lagi.


"Yah, pasti ingat!" sahut Sita sambil tertawa.


"Kita semua masih dekil dan hitam," sambung Raka lagi.


Keduanya pun tertawa renyah.


Rian memandangi wajah Sita yang sekarang sudah putih bersih karena ia sudah bisa merawat diri sejak kerja di kota.


"Kenapa, kak?" tanya Sita gugup karena Rian terus menatap wajahnya.


"Kamu cantik dan manis!" puji Raka dengan serius. Ia memberanikan diri menyentuh jemari Sita dengan tangannya.


Deg! Jantung Sita dag, dig, dug dengan debaran yang tak karuan. Ia menunduk dengan wajah merona.


"Kamu sudah punya pacar?"


Sita menggeleng. Ia menarik tangannya karena malu di lihat oleh Rian dan Lin yang duduk di meja sebelah.


Hati Raka lega setelah tahu bahwa Sita belum punya pacar. Ia ingin sekali menyatakan perasaannya tapi sepertinya sekarang bukanlah waktu yang tepat.


Selama bekerja di Morowali, Raka tidak pernah berpikir punya seorang kekasih karena ia terlalu fokus untuk mencari uang demi keluarganya di desa.


Adik-adiknya yang masih ada enam orang di luar Lin masih kecil-kecil dan butuh biaya makan. Sementara orang tuanya hanya punya sepetak kebun.


Pertemuannya dengan Sita kali ini telah membangkitkan sebuah rasa suka dan ingin memiliki. Raka berharap semoga apa yang dirasakan saat ini akan berbalas.


Cukup lama juga mereka menunggu makanan yang telah dipesan hingga akhirnya terdengar suara ribut-ribut di belakang.


Bebarapa karyawan saling berebutan untuk mengantar makanan yang dipesan oleh kakaknya Lin.


"Hey, nggak usah berebutan! Apa kalian nggak lihat, kakaknya Lin datang bersama pacarnya?" Seru Maya.

__ADS_1


"Siapa bilang bahwa perempuan itu adalah pacarnya? Bukankah perempuan itu adalah kerabatnya yang sering datang mengunjungi Lin sewaktu masih bekerja di sini?" timpal yang lain.


Tiba-tiba nyonya muncul dan semua karyawan terdiam. Mereka tidak berani lagi untuk beradu mulut lalu secara spontan ada mengantar makanan ke depan.


Nyonya berjalan meninggalkan mereka. Ia duduk di kursi dan memperhatikan pelanggan yang ada di situ dan matanya dipertanjam untuk mengamati Lin. Sangkahnya ia salah lihat tapi setelah memperhatikan kembali, ternyata benar bahwa salah satu pengunjung malam hari ini adalah Lin.


Ketika ia melihat Rian yang ikut menghadapi hidangan di depannya, ia jadi heran tapi tak mau menegur karena pak Mamang-lah yang sedang sibuk menggantikan tuganya.


"Satu lagi makanannya!" seru Rian kepada Maya.


Rian memanggil pak Mamang agar datang bergabung dengan mereka. Awalnya pak Mamang menolak tapi karena Rian mendesaknya akhirnya ia bergabung juga. Rian memperkenalkan pak Mamang kepada Raka dan Sita. Mereka pun menyapanya dengan ramah.


Pak Mamang merasa bahagia karena diajak makan oleh mereka. Senyum mengembang di bibirnya.


"Kerja apa di Morowali?" tanya pak Mamang kepada Raka setelah tahu bahwa Raka kerja di sana.


"Hanya sebagai buru bangunan, Pak," jawab Raka merendah. Sebenarnya ia sudah jadi pengawas di sana setelah dua tahun menjadi buruh bangunan.


"Apa benar di sana upah kerja sangat tinggi?" tanya pak Mamang yang penasaran dengan cerita orang-orang tentang Morowali.


"Iya, benar, tapi sebenarnya sama saja dengan penghasilan orang-orang yang kerja di sini karena biaya hidup di Morowali itu sangat tinggi." Raka menjelaskan membuat pak Mamang manggut-manggut.


"Sama-sama, pak," sahut Raka dengan ikhlas.


Pak Mamang pamit untuk membersihkan meja karena melihat Rian yang masih asyik bersama pacarnya. Ia sangat mengerti kepada Rian yang sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri.


Sementara itu, Mira masih memperhatikan Rian dan Lin yang sedang bercengkrama. Ia merasa tidak bisa lagi bersaing dengan Lin yang sudah berpenampilan seperti orang kaya.


Melihat wajah Mira yang tampak kesal membuat Rian merasa puas karena telah berhasil membangkitkan rasa cemburu di hati Mira.


Rian juga puas melihat wajah Nyonya tadi yang sempat memperhatikan Lin yang sudah ia pecat beberapa hari yang lalu. Sepertinya Nyonya sanagt penasaran. Kini hatinya lega dan berharap tak lama lagi ia juga akan keluar dari tempat ini. Tempat orang-orang yang sudah menghina dan menyakiti kekasihnya.


Raka, Sita, dan Lin akhirnya pamit kepada Rian dan pak Mamang lalu bersiap untuk pulang ke tempat Sita.


"Jangan lama-lama ke kampung yah, nanti saya kesepian di sini!" bisik Rian dengan pelan.

__ADS_1


"Ihh, ada pak Mamang kok, yang temani," sahut Lin sambil tersenyum.


"Tapi 'kan, beda," kata Rian lagi.


Raka dan Sita hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka. Aslinya anak baru gede.


Tiba di tempat Sita, Lin langsung masuk kamar dan ingin mencoba tas barunya sedangkan Raka dan Sita masih duduk di luar.


Raka memutar otak untuk mencari kata-kata yang tepat untuk menyatakan perasaannya kepada Sita. Ia takut jika menunda, nanti ada orang lain yang menyambar lebih dulu.


Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan.


"Sita, ap....apa... apakah kamu mau jadi kekasihku?"


Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutnya walau diucapkan dengan susah payah.


Sita yang sudah lama menunggu kalimat itu, bahkan ia berharap selama ini kalimat itu akan muncul di ponselnya setiap kali ia menerima chat dari Raka, langsung tersenyum manis. Akhirnya kalimat itu langsung berasal dari mulut sang pujaan.


"Iya, saya juga sudah lama jatuh hati kepada Kakak," jawab Sita dengan jujur.


"Benarkah? Sejak kapan?" tanya Raka dengan perasaan yang melayang-layang karena bahagia.


"Sejak kita masih di desa," sahut Sita malu-malu.


"Kenapa waktu itu kamu nggak pernah ngomong?"


"Soalnya kita masih kecil,"


Keduanya lalu tertawa. Raka memeluk Tubuh Sita dengan erat dan mendaratkan ciuman di keningnya.


"Cantik, ng...!" seru Lin yang muncul di pintu sambil menenteng tas baru tapi kalimatnya terjeda lantaran melihat adegan mesra di depannya.


"Cie... cie... ada yang lagi jatuh cinta nie," goda Lin sambil senyum-senyum.


"Hey anak kecil nggak usah ikut campur!" seru Raka yang merasa terganggu dengan kemunculan adiknya yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Saya ini bukan anak kecil lagi Kak, soalnya saya udah punya pacar," ujar Lin tak mau kalah oleh kakaknya lalu kembali masuk ke kamar dan menutupnya rapat-rapat. Ia ingin memberi kesempatan kepada kakaknya untuk berkencan bersama pacar baru.


Melihat pintu yang sudah tertutup, Raka dan Sita saling berpandangan lalu keduanya tertawa.


__ADS_2