
Untuk saat ini, Lin lupa nasihat kakaknya. Ia terlena dengan kenikmatan yang disuguhkan oleh sang pujaan hati.
Rian semakin bergairah melihat Lin yang hanya pasrah hingga malam itu menjadi malam yang penuh keindahan dan kenikmatan yang luar biasa.
"Bagaimana Kak kalau saya hamil?" tanya Lin dengan cemas.
"Nggak usah cemas sayang, saya akan bertanggung jawab!" sahut Rian tenang. Ia mengelus wajah Lin dengan lembut.
Perasaan Lin lega mendengar ucapan itu dan ia langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Rian. Tak lama kemudian ia tertidur dalam belaian dan terbuai dengan mimpi. Pertempuran yang baru saja dilalui telah menguras tenaga membuat keduanya kelelahan dan ketiduran hingga pukul 10.00 siang.
Lin mengucek-ngucek matanya saat terjaga dari tidurnya lalu mengingat-ingat apa yang telah terjadi pada dirinya.
Di sampingnya, Rian masih tertidur pulas dengan suara dengkuran yang halus. Wajahnya sangat teduh dan tenang tanpa beban. Sedangkan hati Lin sangat gelisah mengingat dirinya yang sudah tidak suci lagi karena semalam Rian sudah merenggut keperawanannya. Tak terasa air matanya mengalir di kedua belah pipinya. Ia terisak-isak hingga bahunya terguncang membuat tidur Rian jadi terganggu.
"Kenapa kamu menangis sayang?" tanya Rian.
Lin tidak menjawab tapi malah air matanya semakin deras.
"Apa kamu menyesal dengan peristiwa semalam? Ingat yah, saya tidak pernah memaksamu! Kita melakukan hal itu dengan dasar suka sama suka dan mau sama mau," ucap Rian karena kesal melihat kekasihnya yang terus menangis dengan sedih.
Lin membenarkan ucapan Rian. Mereka melakukan atas dasar suka sama suka, tidak ada paksaan dan tekanan. Namun satu hal yang Lin sesali, mengapa ia tidak segera pulang semalam ketika malam sudah semakin merangkak? Ia ingin beranjak dari tempat tidur tetapi pinggulnya tidak bisa digerakkan karena terasa begitu sakit dan nyeri.
"Kamu kenapa?" tanya Rian panik melihat Lin yang kesakitan.
"Saya harus pulang karena mau masuk kerja tapi pinggul saya sangat sakit," sahutnya sambil terisak.
"Sebaiknya kamu istirahat saja dulu di sini soalnya kalau mau masuk kerja, sudah terlambat juga, lihat sekarang sudah hampir pukul 11.00 siang. Nanti saya hubungi salah satu temanmu di sana untuk menyampaikan bahwa hari ini kamu nggak masuk kerja karena lagi kurang sehat," kata Rian untuk menenangkan hati Lin yang sedang gelisah.
Lin pasrah dengan keputusan Rian namun hatinya tetap cemas karena takut jika dipecat dari tempat kerjanya.
"Ttrrrrtt.... ttrrrt...!" ponselnya bergetar.
Lin segera meraih ponselnya yang ada di meja. Rupanya Sita yang menelepon.
"Halo Kak!" sapa Lin dengan suara pelan. Ia takut jika suaranya terdengar parau dan ketahuan bahwa ia baru saja menangis.
"Kamu di mana?" tanya Sita.
"Biasa Kak, di tempat kerja," jawab Lin berbohong.
__ADS_1
"Oh, iya, nanti sore saya mau ke situ," kata Sita.
"Oke Kak,"
Lin memutuskan sambungan teleponnya dan bersamaan itu pula, Rian sudah kembali dari warung untuk membeli makanan. Keduanya pun segera menikmati makanan tersebut karena perut sudah keroncongan.
Usai makan, Lin melawan rasa sakitnya dan bersiap-siap mau pulang tapi Rian menghalanginya lagi.
"Istirahatlah dulu! Bukankah kamu masih sakit?"
"Saya mau pulang Kak soalnya tadi Sita meneleponku, katanya dia mau menemuiku,"
"Sebentar aja pulangnya, nanti saya antar!"
Rian memang sangat ahli untuk membujuk sehingga Lin kembali termakan oleh bujuk rayuannya.
Hari ini Rian juga tidak masuk kerja karena ia sudah mengatur jadwal kerja secara bergantian bersama temannya.
Menjelang sore sebelum mengantar Lin ke tempat kerja Rian kembali ingin mengulang lagi permainan yang sepertinya membuat ia ketagihan.
Lin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya saat keluar dari kamar mandi melihat Rian sedang berbaring di ranjang tanpa busana dengan mata tertutup.
"Ayo pasang pakaianmu dulu!" ucap Lin dengan kedua telapak tangan masih menutupi wajahnya.
"Bukalah matamu sayang dan kemarilah, kita bersenang-senang dulu!"
"Tapi Kak... saya masih sakit, nih!"
"Kemarilah, sakitnya akan hilang dan kamu akan merakan kenikmatan yang luar biasa!"
Lin merasa takut karena rasa perih yang masih terasa apalagi tadi waktu buang air kecil ia sampai meringis kesakitan dan sekarang Rian mengajaknya lagi untuk main.
Dalam kegalauannya tiba-tiba Rian datang mendekat dan mengangkat tubuhnya lalu membaringkan di tempat tidur.
Wajah lin memerah dan tubuhnya menggigil ketakutan.
"Tenanglah sayang, saya akan main halus dan percayalah saya tidak akan menyakitimu!"
Rian yang sudah berpengalaman memulai aksinya. Dengan lembut ia ******* bibir yang berwarna merah alami itu hingga Lin membalasnya penuh gairah.
__ADS_1
Rasa takut hilang seketika dan tergantikan dengan gairah yang sudah meletup-letup saat Rian menyentuh dua gunung kembar miliknya secara bergantian.
Puas meremas benda itu, tangannya berpindah ke lorong yang dalam sementara mulutnya menjilat dan mengisap benda kenyal yang padat dan menantang.
"Aauuuhh... akkhhhh...," desah Lin sambil menggelinjang menikmati sensasi yang luar biasa nikmatnya.
Perlahan-lahan Rian menyelesaikan pertarunngannya tanpa membuat Lin merasa kesakitan hingga keduanya tumbang dengan erangan panjang.
"Terima kasih sayang!" ucap Rian sambil mencium pipi Lin dengan lembut.
Lin menyambutnya dengan senyum lalu bangkit dari tempat tidur untuk membersihkan tubuhnya di kamar mandi.
Pukul 16.00 WIB Rian mengantarnya ke tempat kerja.
"Tolong hubungi saya kalau mau dijemput, biar kita bisa bersenang-senang lagi!" kata Rian saat pamit untuk pulang karena malam nanti adalah jadwal kerjanya.
"Iya sayang," ujar Lin sambil tersenyum senang.
***
Sejak peristiwa malam itu, Rian dan Lin merasa ketagihan untuk selalu bertemu setiap ada kesempatan bahkan Lian sudah mendapat teguran pertama dari bosnya karena sudah beberapa kali tidak masuk kerja dan kali ini ia sudah diberi peringatan terakhir, kalau masih dilanggar maka dia harus rela meninggalkan pekerjaan tersebut.
Ketika hal itu disampaikan kepada Rian, keduanya sepakat untuk mengurangi jadwal pertemuannya dan hal itu hanya bertahan sekitar dua bulan.
Suatu hari Lin merasa sangat tersiksa dengan rasa rindunya kepada Rian.
(Tolong jemput saya sekarang!) Lin mengirim chat kepada Rian.
(Siap sayang) balasan dari Rian.
Setelah membaca chat dari Rian, ia segera berdandan secantik mungkin dan mengenakan dres pendek berwarna merah maron.
"Mau kemana? Ada kondangan?" tanya teman sekamarnya melihat Lin yang tampak seperti mau menghadiri sebuah pesta.
"Mau jalan-jalan dulu," sahutnya sambil memoles bibirnya dengan lipstik yang senada dengan warna bajunya.
"Jangan lagi terlambat pulang, nanti bos marah dan memecatmu!" saran dari temannya yang mencoba mengingatkan karena melihat gelagat Lin yang sudah semakin liar.
"Terima kasih kawan, saya pergi dulu!" ucap Lin sambil tersenyum dan berlalu dari kamar tersebut.
__ADS_1
Di luar, Rian sudah menunggunya dan sempat terpukau saat Lin muncul di pintu utama.