
Lin mulai memperhatikan setiap gerak-gerik suaminya dan adiknya, tapi tak ada kejanggalan yang ia temui. Keduanya bersikap biasa saja. Mungkinkah ini adalah bagian dari skenario perselingkuhan mereka dengan bersikap seolah-olah biasa saja ketika berada di rumah?
Ketika malam tiba, Lin berpura-pura tidur walau hatinya gelisah karena baru pukul 09. 00 malam, belum waktunya untuk tidur tapi ia ingin membuktikan kata-kata Rizha yang selalu terngiang-ngiang di telinganya.
Setelah berbaring hampir setengah jam, ia mendengar derap langkah yang masuk ke kamar. Itu adalah langkah suaminya yang datang ke kamar, tadi ia duduk di teras mengisap rokok dan tiba di kamar ia langsung berbaring di samping istrinya.
Lin membalikkan tubuhnya menghadap ke pintu agar bisa leluasa mengintai sekiranya Rian benar-benar menghianati dirinya. Ia pun pura-pura mendengkur sehingga suara dengkurannya memecah kesunyian malam karena suara TV juga baru-baru sudah dimatikan oleh adiknya. Tak lama kemudian ia merasakan suaminya perlahan-lahan bangun lalu pergi.
Lin membuka matanya sedikit dan melihat suaminya melangkah dengan sangat hati-hati lalu menghilang di balik pintu kamar. Gelagatnya sangat mencurigakan membuat jantung Lin berpacu dengan cepat. Ia berusaha menenangkan hati lalu perlahan bangkit dan mengikuti suaminya.
Di balik tirai yang tergantung sebagai pembatas ruang dapur dengan ruang tengah ia melihat Rian berjalan berjingkrat-jingkrat lalu menyelinap ke kamar Janes.
Lin mengurut-urut dadanya dan menghembuskan nafas secara perlahan. Ia tidak mau gegabah agar bisa mendapatkan bukti yang akurat.
Dengan kaki gemetar ia melangkah kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya. Tak lupa ia matikan nada deringnya lalu duduk sebentar di tepi ranjang dan memikirkan langkah yang akan ditempuh.
Ia sempat bingung karena rencana mau merekam kegiatan suami daan adiknya di kamar tapi tak ada sedikit pun celah untuk bisa mengintip. Akhirnya ia punya ide untuk mendobrak pintu kamar tersebut tetapi harus minta bantuan kepada kedua adiknya agar ada yang bisa merekam peristiwa tersebut.
Pelahan ia membangunkan Iwan dan Hans sambil memberi isyarat dengan jari telunjuk di bibir lalu menunjuk ke pintu kamar Janes agar kedua adiknya tersebut tidak berisik.
Lin memberikan ponselnya kepada Hans dengan menggunakan bahasa isyarat supaya mengaktifkan aplikasi video untuk merekam lalu menarik tangan Iwan dan berbisik kepadanya.
Setelah memperkirakan bahwa kedua insan di dalam kamar tersebut sudah terlena dengan kenikmatan maka secara bersamaan Lin dan Iwan menendang pintu kamar yang hanya terbuat dari tripleks yang tipis dan tampaklah sebuah pemandangan yang sangat menjijikkan bagi Lin, Iwan, dan Hans.
Tubuh Rian dan Janes yang sedang menyatu sontak melepaskan diri masing-masing dan berusaha menggapai apa saja yang ada di dekatnya untuk menutupi bagian tubuh yang paling sensitif tapi semua sudah terlambat karena kamera sudah merekam dengan sempurna.
"Apa yang Kak Janes sedang lakukan? Kurang ajar sekali!" bentak Iwan dengan wajah memerah karena emosi dan juga sangat malu. Ia ingin menampar wajah kakaknya itu tapi niatnya diurungkan karena menyadari bahwa ada kamera yang sedang merekam dan bisa menambah persoalan semakin besar.
Iwan dan Hans sangat gugup melihat kakaknya dalam keadaan telanjang bersama kakak iparnya sehingga keduanya buang muka karena tidak tahu apa yang mau dilakukan, namun Hans tetap melakukan apa yang sudah diperintahkan oleh Lin.
__ADS_1
"Waoohh, hebat sekali kalian bermain di belakangku! Katanya sedang sakit dan barangnya tak dapat berfungsi, eh... ternyata sehat walafiat, buktinya...!" kata Lin dengan senyum sinis.
"Maaf, Lin, saya... saya... !" Rian berucap dengan terbata-bata.
"Maaf, Kak, saya khilaf, ampun Kak!" kata Janes dengan ketakutan.
"Maaf, ampun, sori yah! Perkara ini akan saya adukan kepada pihak yang berwajib dan juga kepada pihak keluarga. Saya sudah tidak sudi lagi menjadi istrimu dan tidak mau tinggal di rumah ini lagi. Mungkin ucapanku ini membuat kalian bertepuk tangan karena tidak ada lagi yang jadi penghalang buat hubungan yang sudah lama terjalin di antara kalian. Saya memang bodoh karena terlalu percaya kepada kalian yang ternyata sudah lama hidup layaknya suami-istri. Dan kamu, Janes, mulai sekarang kami saudara-saudaramu tidak akan menganggapmu lagi sebagai adik atau kakak!" ujar Lin dengan linangan air mata.
"Ayo kita keluar dan berkemas, sekarang juga kita pulang kepada orang tua kita mumpung belum terlalu larut malam. Saya akan menghubungi sopir yang bisa mengantar kita sekarang juga. Urusan pindah sekolah kalian, nanti kita pikirkan lagi!" Lin mengajak kedua adiknya untuk berkemas-kemas.
Rian memungut pakaiannya di lantai lalu memakainya dengan perasaan yang tak menentu. Ada niat untuk merampas ponsel milik Lin yang ada di tangan Hans tapi ia tak berani karena pasti akan terjadi perkelahian sementara Hans dan Iwan juga bertubuh kekar. Akhirnya ia beranjak dari tempatnya lalu menghampiri istrinya di kamar yang sedang mengemas barang-barangnya.
"Lin, tolong jangan pergi ,beri saya kesempatan dan saya janji tak akan mengulanginya lagi!" bujuk Rian dengan suara memelas sambil meraih tangan istrinya.
Lin menghentakkan tangannya dengan keras lalu menatap suaminya dengan tajam.
"Jangan sentuh saya, walaupun saya ini sudah jelek tapi saya juga tidak sudi disentuh oleh laki-laki penghianat seperti kamu. Hati ini sakit, sakit sekali karena selingkuhanmu adalah adikku sendiri dan kamu melakukannya di rumah kita ini!" teriak Lin dengan emosi.
"Cepat atau lambat mereka juga akan tahu!" ujar Lin lebih keras lagi.
Tak lama kemudian mobil yang akan mereka tumpangi sudah berada di depan rumah sambil membunyikan klakson.
Lin menggendong Rizha yang sudah tertidur lalu menyuruh Iwan dan Hans membawa tasnya ke mobil.
"Lin , jangan pergi!" kata Rian mencoba menghalangi istrinya dengan mau merebut Rizha dari gendongannya.
"Jangan coba-coba halangi saya, atau saya berteriak sekarang biar semua warga tahu bahwa kamu itu bajingan dan kelakuanmu sangat tidak bermoral!" ancaman Lin membuat Rian mati kutu, ditambah lagi dengan tatapan kebencian dari kedua adik iparnya membuat ia semakin galau dan tidak berdaya.
Rian menghempaskan tubuhnya di kursi plastik setelah mobil bergerak meninggalkan halaman rumahnya. Apa yang harus kulakukan sekarang?
__ADS_1
"Kring, kring, kring!" suara ponselnya berdering.
Ia pun masuk ke kamar Janes karena ponselnya tertinggal di dalam. Ia mendapati Janes sedang menagis sesenggukan.
"Kring, kring, kring!" kembali ponselnya berdering.
Tampak di layar ponsel nama Raka yang memanggil.
"Ya, halo, Kak! Apa kabar?"
"Tidak usah berakting, kamu itu kurang ajar! Seandainya saya di situ, kalian berdua sudah kucincang-cincang!" suara Raka dari seberang sana. Terdengar begitu kecewa dan marah.
Tadi, Iwan langsung mengirim video yang sempat direkam kepada kakaknya yang tinggal di Morowali sehingga kabar tersebut membuat kakaknya sangat marah.
"Dan kau Janes, awas saja kalau Kakak sampai ke situ, kau takkan kuberi ampun! Dasar perempuan gatal, suami kakaknya diembat juga! Tidak tahu malu!" umpatnya dengan emosi yang meledak-ledak. Ia memastikan bahwa Rian dan Janes saat ini sedang berdua di rumah karena Hans telah mengabarkan kepulangan mereka ke rumah orang tuanya yang ada di desa Harapan.
Rian tak dapat berkata-kata. Tubuhnya gemetar mendengar kemarahan dan ancaman kakak iparnya. Demikian juga dengan Janes, ia masih meratapi nasib dirinya. Kini perbuatannya sudah sampai ke telinga Raka, kakak sulungnya. Belum lagi jika kabar ini sudah sampai kepada kedua orang tuanya. Janes tak dapat membayangkan bagaimana murkanya kedua orang tuanya jika tahu bahwa selingkuhan suami Lin adalah dirinya.
Keduanya tidak akan bisa mengelak karena video sudah sampai di tangan Raka dan pastinya itu akan beredar dan menjadi berita viral di mana-mana.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Rian memecah kesunyian malam.
"Terserah Kakak aja, saya udah pasrah karena memang saya bersalah," sahut Janes dengan lemah.
"Berkemaslah, besok subuh kita pergi dari desa ini!"
"Kita mau ke mana?"
"Ke mana aja, yang penting keluar dulu dari desa ini karena pasti besok warga akan heboh dengan berita tentang kita,"
__ADS_1
"Iya, Kak,"
Keduanya pun berkemas-kemas dengan perasaan was-was, jangan-jangan warga sudah mengintai rumah mereka dan ada kemungkinan akan melempari rumah dan mengusirnya malam itu juga sehingga malam itu keduanya tidak bisa tidur membayangkan hal-hal tersebut.