
Sejak tinggal di pondok, Lin merasa bahagia karena ia sudah lepas dari tekanan sang mertua dan kini sudah tiba saatnya bagi Lin untuk melahirkan. Rian yang melihat istrinya kesakitan langsung mengantarnya ke puskesmas.
Tidak cukup satu jam berada di puskesmas, tangis bayi sudah terdengar membuat hati Rian sangat lega karena dari tadi ia sangat gelisah dan berjalan mondar-mandir ketika istrinya berada dalam ruang bersalin. Ia sangat takut mendengar suara Lin yang berteriak kesakitan tapi kini perasaan itu hilang seketika saat suara tangis bayi terdengar.
Lin telah melahirkan seorang bayi perempuan mungil yang cantik setelah melewati perjuangan yang begitu berat.
"Terima kasih sayang, sekarang kita sudah jadi orang tua!" ucap Rian yang datang menemui istrinya ke ruangan bersalin sambil mengecup keningnya dengan mesra.
Lin mengangguk lemah tapi ia tetap tersenyum.
"Istirahatlah dulu sayang!"
Rian sendirian mengurus segala keperluan istrinya selama berada di puskesmas karena ibunya todaknpernah nongol ke sana. Ia sangat kecewa dengan sikap ibunya yang sudah berkali-kali ia hubungi tapi alasannya tidak bisa datang kerena sedang sibuk.
Setelah dua hari menginap di puskesmas, mereka diperbolehkan pulang ke rumah tapi dengan syarat akan tetap datang ke puskesmas untuk kontrol kesehatan baik Lin juga anak yang baru dilahirkan.
***
Beberapa bulan kemudian Rian merasa kewalahan karena semua pekerjaan di pondoknya harus dikerjakan sebelum berangkat ke tempat kerja, seperti memasak dan mencuci.
Lin selalu beralasan bahwa ia tidak sempat untuk melakukan semua itu karena harus menjaga si Kecil.
Hal ini benar-benar membuat Rian kewalahan namun ia masih tetap menjalaninya dengan sabar demi keluarga kecilnya.
Suatu hari Rian berkunjung ke rumah orang tuanya setelah pulang dari tempat kerja dan ibu Nani sangat kaget melihatnya karena tubuhnya kurus dan penampilannya sudah tidak terurus lagi.
"Apa kamu sedang sakit?" tanya ibu Nani sambil menyentuh kening anaknya dengan punggung tangannya.
"Nggak kok Ma, hanya sedikit lelah saja," sahut Rian dengan jujur.
__ADS_1
Ibunya pun menyiapkan makanan dan menyuruh Rian untuk makan sebelum melanjutkan perjalanan ke rumahnya.
Setelah menikmati makanan yang disajikan oleh ibunya ia pun buru-baru pamit untuk pulang.
"Kenapa buru-buru sekali, Nak?"
"Nanti Lin kelaparan kalau saya lambat pulang,"
"Memangnya istri kamu tidak bisa makan tanpamu?"
"Bukan begitu Ma, saya harus memasak kalau sudah tiba di sana soalnya Lin tidak sempat karena ia harus menjaga Rizha,"
"Istri kamu itu memang pemalas, mama ini sudah pengalaman karena pernah punya anak kecil. Tidak punya kesempatan untuk memasak itu hanya alasan. Kamunya aja yang mau dibodoh-bodohi istrimu. Biarin aja dia nggak makan kalau kamu yang harus masak buat dia. Ingat kamu sudah capek kerja cari uang, tiba di rumah masih harus bergelut dengan pekerjaan yang harusnya menjadi tanggung jawab istrimu!" seru ibu Nani dengan emosi.
"Tidak selamanya anakmu itu rewel, jadi saya kira istrimu punya banyak waktu untuk mengerjakan pekerjaan di rumah. Terus terang saya sebagai ibumu tidak terima kalau kamu dijajah seperti itu. Mungkin selama ini kamu menyalahkan ibu karena seolah-olah tidak peduli dengan kehidupan kalian tapi itu saya lakukan karena jengkel dengan sikap istrimu yang pemalas. Bangun kesiangan dan taunya hanya baring main HP. Kamu itu tidak pernah tahu karena selalu sibuk kerja. Waktu kalian masih tinggal di sini, Lin sudah seperti itu makanya ibu sering cuek," sambung ibu Nani lagi panjang lebar. Ia merasa hatinya plong karena bisa mengeluarkan unek-unek yang selama ini mengganjal dan menjadi beban hidupnya.
Rian meresapi kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh ibunya. Ia teringat dengan teman kerjanya, Jona yang juga bekerja sebagai buruh bangunan, ia juga punya anak bayi yang selisih dua bulan dengan Rizha anaknya tapi setiap hari ia tampak santai aja karena katanya ia tidak pernah mengerjakan pekerjaan di rumah bahkan ketika pulang kerja, makanan sudah disiapkan oleh istrinya di meja.
"Punya istri itu jangan dimanja!" kata ibu Nani lagi dengan tegas.
"Iya, Ma, saya pamit dulu!" ucapnya dengan lesu.
Tiba di pondok, ia mendapati istrinya sedang main game dan Rizha tertidur pulas di sampingnya. Tanpa menegurnya, Rian langsung mandi dan baring-baring karena tubuhnya sangat lelah. Pikirannya juga terganggu dengan perkataan ibunya tadi. Mungkin tubuhnya kelelahan, ia pun tertidur karena perutnya juga sudah kenyang.
Menjelang malam perut Lin sudah melilit karena lapar. Ia bangkit dan membuka panci tapi tidak ada isinya.
"Mas, Mas, kok nggak masak?" serunya dengan suara keras tapi Rian tidak menyahut karena sudah tidur.
Ia pun mengguncang-guncang tubuh suminya dengan kasar hingga Rian terbangun.
__ADS_1
"Mas, saya lapar, kenapa kamu nggak masak?" katanya dengan manja.
"Saya capek Lin, silahkan masak sendiri kalau mau makan!" ucap Rian dengan kesal karena tidurnya sudah terganggu.
"Saya juga capek Mas, seharian jaga Rizha," katanya Lin beralasan.
"Seharusnya kamu bisa atur waktu dengan baik, tadi waktu saya tiba, kamu hanya main game padahal Rizha tidur pulang, harusnya kamu menggunakan kesempatan itu untuk memasak!" ujar Rian yang berusaha setenang mungkin padahal dalam hatinya rasa kesal sudah memuncak, apalagi melihat cucian kemarin masih bertumpuk di sudut ruangan masih berantakan karena belum dilipat. Sifat asli Lin kini sudah ketahuan bahwa ia memang seorang istri yang malas.
Lin terpaksa mencuci belanga dan rencana mau memasak tapi baru saja ia menyalahkan api, Rizha sudah merengek.
Ia berharap Rian akan bangun untuk menggendong anaknya tapi setelah menoleh ke tempat Rian berbaring tadi ternyata tempat itu sudah kosong. Rian kemana?
Rupanya tadi Rian keluar karena kepalanya pusing. Ia ingin mencari angin di luar untuk menyegarkan pikiran yang sedang kalut.
Sementara itu di pondok Lin sedang mengomel karena perutnya sudah melilit dan Rizha juga sudah bangun. Akhirnya ia melampiaskan kemarahannya kepada Rizha yang belum tahu apa-apa. Bentakan kerasnya membuat Rizha menangis karena takut.
Satu jam kemudian, Rizha sudah tidur kembali setelah disusui oleh ibunya.
Lin segera memasak nasi dan menggoreng ikan lalu makan.
Sebelum tidur ia melirik jam pada layar ponselnya sudah menunjukkan pukul 24.00 WIB tapi Rian belum pulang juga membuat Lin jadi cemas karena baru kali ini suaminya keluar tanpa pamit dan tadi ia pergi dalam keadaan sedang kesal.
Mata Lin tidak bisa tertutup sebelum suaminya kembali. Tidak lama kemudian Rian pulang dan langsung berbaring di samping istrinya yang pura-pura tidur pulas.
Pagi hari Lin bangun kesiangan lagi seperti biasanya. Ia heran karena suaminya juga masih tidur. Biasanya jam segini, Rian sudah berangkat kerja setelah menyiapkan makanan dan juga selesai mencuci pakaian.
"Mas, kamu nggak pergi kerja?" tanya Lin sambil mengguncang tubuh suaminya dengan pelan.
Rian enggan menjawab walau sebenarnya sudah terjaga. Ia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya hingga bagian kepala.
__ADS_1
Lin merasa repot mau kerja karena Rizha juga sudah bangun jadi kesal melihat tingkah suaminya.