Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
11. Pekerjaan Baru


__ADS_3

Raka membawa sita ke pinggir pantai. Ia ingin mengukir sebuah kenangan sebelum berpisah untuk waktu yang tidak menentu.


Suasana pantai lumayan ramai oleh pengunjung, baik anak-anak, muda-mudi, dan ada pula pasangan suami-istri yang sedang menikmati kebersamaannya di pantai tersebut.


Raka memilih tempat yang agak sunyi lalu duduk di dekat taman. Tak lupa ia membeli makanan ringan dan minuman botol untuk dinikmati bersama sang kekasih sambil mengobrol.


"Besok pagi saya akan berangkat ke Morowali," ucap Raka dengan sedih. Rasanya ia tidak mau lagi berpisah dengan gadis yang baru kurang lebih dua minggu menjadi kekasihnya.


"Semangat, Sayang... saya akan setia menunggumu!" kata Sita sambil merebahkan kepalanya di bahu Raka.


"Apakah kamu sanggup menungguku sampai setahun atau dua tahun?"


Sita mengangguk dengan yakin.


Raka punya rencana untuk mengumpulkan modal terlebih dahulu untuk menyekolahkan adik-adiknya dan juga mempersiapkan biaya masa depan. Setidaknya butuh waktu kurang lebih dua tahun kerja baru bisa mengumpulkan uang sebanyak itu.


"Sekarang ada ponsel yang bisa menghubungkan kita setiap saat,"


"iya, Kak,"


Angin pantai menerpa wajah mereka. Raka memeluk tubuh kekasihnya yang sudah mulai kedinginan karena angin malam untuk memberikan kehangatan.


Cinta yang bersemi dalam hati sedang dirasakan oleh kedua insan yang sudah dewasa ini. Raka membelai rambut kekasihnya dengan lembut dan seterusnya oleh dorongan rasa yang berkobar dalam hati membuat keduanya saling tatap penuh arti.


Raka mencium pipi yang sudah merona karena gugup itu dan ciuman itu mampu mengalirkan getaran indah ke seluruh tubuh. Selanjutnya bibir Raka berpindah ke bibir yang berwarna merah alami dan memberi kecupan hangat lalu perlahan mengulum dengan lembut. Sita memenjamkan mata untuk menikmati sensasi luar biasa yang ditimbulkan dari setiap sentuhan sang kekasih hati.


"Ahhhhh," desah Sita yang tidak dapat membendung rasa nikmat atas sentuhan Raka. Ia baru pertama kali mendapat ciuman seperti ini membuat tubuhnya bergetar hebat.


Raka semakin bergairah mendengar ******* Sita. Ia semakin memperdalam ciumannya hingga nafas keduanya tersengal-sengal. Raka terpaksa melepaskan bibir yang mungil itu.


Cukup lama keduanya berada di pantai. Tempat mereka duduk, aman dari gangguan karena hanya diterangi oleh cahaya remang-remang.


"Kalau nanti kita sudah menikah, kita bikin rumah di kampung dan tinggal di sana," kata Raka dengan pandangan yang menerawang jauh.

__ADS_1


"Iya, Kak, kita bisa dirikan usaha di desa kalau sudah ada modal," ucap Sita menanggapi rencana kekasihnya.


"Doakan saja semoga kita selalu sehat dan bisa kerja dengan baik untuk mengumpulkan uang soalnya saya udah nggak sabar lagi ingin segera menikahimu," kata Raka lagi.


Sita kembali menyandarkan kepalanya di bahu Raka. Ia merasa sangat bahagia bisa berkencan di malam perpisahan itu.


Raka melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Ia pun mengajak Sita pulang.


"Tok, tok, tok!" Sita mengetuk pintu kamar tapi tidak ada suara di dalam kamar.


Sita mengulangi dua, tiga kali untuk mengetuk pintu tapi Lin tidak mendengarnya.


Raka punya ide, ia merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel di dalamnya dan mencari kontak adiknya.


Suara ponsel milik Lin berdering terdengar hingga ke luar kamar tapi tidak diangkat.


Raka mengulang sekali lagi dan ponsel itu kembali berdering. Tak lama kemudian Lin terjaga.


"Iya, halo! Ada apa?" sahutnya dengan suara lemah.


Ia segera melompat dari tempat tidur lalu membuka pintu dengan senyum yang masam melihat Sita dan Raka sudah berdiri di depan pintu.


"Udah lama yah?" tanyanya sambil nyengir.


"Kamu tuh yah, dari tadi di panggil-panggil, ehh... ngak dengar-dengar juga!" seru Raka.


"Yah, maaf, namanya juga orang ketiduran, lagian kalian perginya lama bangat," sahut Lin membela diri.


"Nih, pesanan kamu!" kata Sita. Ia memberikaan kantong kresek berisi makanan kepada calon adik iparnya itu.


"Makasih Kak, kebetulan saya udah lapar bangat!" sahutnya. Ia segera meraih kantong kresek tersebut dan membuka lalu menikmatinya dengan lahap.


Sebelum tidur, Raka masih memberi banyak nasihat kepada adiknya, terutama mengingatkan agar berhati-hati menjalani masa muda karena Raka sudah tahu dan lihat bagaimana kedekatan adiknya dengan Rian.

__ADS_1


"Kamu itu masih terlalu muda, jadi jangan abaikan nasihat-nasihat yang saya berikan karena sebagai seorang perempuan, sekali jatuh saja akan membawa penyesalan seumur hidup!"


Tak lupa juga Raka juga menitip Lin kepada Sita agar jangan pernah bosan untuk selalu memberinya peringatan atau nasihat.


Malam semakin larut, mereka pun segera berbaring menuju alam mimpi.


***


Satu minggu kemudian, Lin sudah memperoleh pekerjaan di sebuah toko kue. Pekerjaannya bukan lagi sebagai tukang cuci tetapi mengemas kue kedalam dos. Lin sangat senang bisa mendapatkan pekerjaan itu.


Tempat kerja Lin berjarak sekitar dua kilo dari tempat kerja Sita sehingga keduanya masih bisa saling mengunjungi di waktu istirahat.


Rian juga sudah keluar dari tempat kerjanya setelah ia gajian. Berat rasanya meninggalkan pak Mamang sendirian tapi rasa sakit hatinya kepada Nyonya si empunya rumah makan dan juga Mira yang sudah menfitnah Lin membuat ia tidak bisa bertahan di tempat tersebut.


Beberapa hari yang lalu perbuatan Mira yang sengaja menyenggol keranjang tempat piring dan gelas yang baru selesai dicuci oleh Lin sudah ketahuan.


Rupanya di tempat kejadian perkara ada CCTV terpasang. Entah mengapa Nyonya tiba-tiba ingin melihat kegiatan-kegiatan yang sempat terekam.


Nyonya menutup mulut dengan kedua telapak tangan saat melihat kelakuan Mira yang kurang ajar. Sangat jelas dalam rekaman tersebut apa yang ia lakukan.


Hari itu juga Nyonya mengumpulkan semua karyawan di sebuah ruangan, termasuk Rian dan juga pak Mamang. Mereka sangat heran karena baru kali ini dilakukan oleh Nyonya, bahkan ada yang mengira bahwa mereka akan diberikan THR, mengingat hari raya lebaran sudah semakin dekat.


Nyonya masuk ke ruangan tersebut setelah semua karyawan sudah berkumpul di sana sambil membawa laptop lalu menaruhnya di atas meja.


Semua pasang mata tertuju kepada laptop yang sudah menyala. Mereka saling berpandangan tanda tak mengerti apa maksud dari semua itu.


Mereka menonton rekaman itu secara saksama. Ketika melihat Lin sedang mencuci perabotan, Wajah Mira sudah panas dingin dan memerah. Ia sudah bisa menebak apa yang akan muncul dalam rekaman tersebut untuk selanjutnya.


"Ya, ampun... itu kan... ? Maya tak melanjutkan perkataannya karena teman yang lain juga sedang mengomentari apa yang terpampang dalam rekaman tersebut.


"Tidak!!!" teriak Mira dengan keras karena beberapa karyawan sudah menjambak rambutnya. Mereka sangat kecewa kepada Mira yang yang sudah menfitnah Lin. Masih terbayang di mata mereka, bagaimana Lin harus menanggung hukuman dengan memungut pecahan kaca yang berserakan dan cukup banyak pada hal sebenarnya ia tidak bersalah. Bukan hanya itu saja, ia bahkan harus kehilangan pekerjaan.


Rian juga ikut berkacak pinggang di depan Mira dan mengumpatnya habis-habisan.

__ADS_1


Hari itu juga, Mira dipecat oleh Nyonya.


__ADS_2