
Seiring berjalannya waktu, Rian semakin tertarik kepada adik iparnya. Ia merasa senang karena segala kebutuhannya di rumah selalu disiapkan oleh Janes. Seiring dengan itu pula, perasaan Rian terhadap istrinya perlahan-lahan mulai hilang.
Malam itu Lin sangat menginginkan belaian dari suaminya karena sudah lama keduanya tidak pernah lagi saling berbagi kasih.
"Mas, hhhmmm...," colek Lin dengan manja.
"Saya lagi capek," ujar Rian yang tidur memunggungi istrinya karena tidak tahan dengan bau badannya.
"Apa Mas nggak cinta lagi yah sama saya?" tanya Lin dengan kecewa, wajahnya ditekuk.
"Bukannya nggak cinta tapi Mas benar-benar lagi capek. Sepanjang hari ini kerjaan kami sangat berat," Rian memberi alasan.
Ia pun memejamkan mata dan berusaha agar lekas tertidur karena ia malas meladeni keinginan istrinya.
Kamar tidur mereka selalu rapi karena Janes yang selalu merapikan setiap hari bahkan ia juga yang menyimpan pakaian ke lemari sehingga tak jarang Rian memanggilnya jika ada pakaian yang diingini untuk dikenakan tapi ia tidak menemukannya.
Malam itu mereka tidur saling memunggungi seperti malam-malam sebelumnya. Gairah Rian sebagai seorang suami sudah lenyap dengan sikap istrinya yang malas dan juga tubuhnya bau karena malas mandi.
"Kring, kring, kring!" ponsel Lin berdering namun karena lagi kesal ia enggan untuk mengankat ponsel tersebut.
Akhirnya Rian bangun karena merasa terganggu dengan bunyi ponsel yang terus berdering ditambah lagi dengan volume yang pul.
"Iya, halo Kak, selamat malam!" sapa Rian dengan ramah.
"Selama malam, maaf mengganggu! Kenapa Lin tidak angkat telepon dari saya?" tanya Raka dari seberang sana.
"Lin udah tidur, Kak, ada apa yah?"
"Kakak mengundang kalian untuk datang ke desa Harapan soalnya kami sudah mau melangsungkan pernikahan, mumpung saya punya cuti!"
"Kapan acaranya, Kak?"
"Hari sabtu depan, kalian datang yah? Jangan lupa ajak juga Janes!"
"Siap, Kak!"
Sambungan telepon terputus. Rian kembali membaringkan tubuhnya lalu tidur.
__ADS_1
Keesokan harinya saat sedang sarapan bersama Janes, ia menyampaikan rencana Raka yang akan melangsungkan pernikahannya minggu depan.
"Kamu juga harus ikut ke sana, Dek!" ucap Rian sambil mengunya nasi goreng buatan Janes pagi ini.
"Kita mau naik kendaraan apa ke sana, Kak?" tanya Janes sambil tersenyum manis. Ia sudah tidak malu-malu bercakap dengan kakak iparnya.
"Kita boncengan ke sana," sahut Rian membuat mata Janes terbelalak.
"Bagaimana dengan kakak Lin?"
"Kakak akan mengantarnya duluan, setelah itu saya akan pulang menjemputmu,"
"Emangnya Kakak nggak capek bolak-balik?"
"Kalau buat Adek, saya nggak akan pernah capek,"
Janes tersipu mendengar ucapan Rian. Keduanya bebas bercengkrama di pagi hari karena Lin masih tertidur pulas, nanti ia akan bangun jika jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi, kecuali Rizha bangun lebih awal maka ia terpaksa ikut bangun juga. Namun selama ini Rizha paling cepat bangun pada pukul 07.30 dan saat itu Rian dan Janes sudah pergi.
Lin tidak pernah tahu bahwa sudah satu bulan terakhir ini suaminya selalu mengantar Janes ke sekolah sebelum ia pergi ke tempat kerjanya.
"Nanti malam kita jalan-jalan, yuk!" ajak Rian ketika keduanya dalam perjalanan ke sekolah.
"Kita pergi bersenang-senang soalnya kakak udah gajian kemarin," ucap Rian dengan bangga.
"Apa kak Lin sama Rizha akan ikut juga?" tanya Janes dengan polosnya.
"Kita berdua aja, mau nggak?"
Janes berpikir sejenak karena ia bingung.
"Nanti kamu minta izin sama kakakmu dengan alasan mau keluar sebentar ke rumah teman soalnya ada tugas dari sekolah yang akan diperiksa oleh guru besok!" kata Rian.
"Kita jalan-jalan ke toko pakaian dan toko kosmetik, pokoknya kakak akan membelikan apa saja yang kamu mau!" bujuk Rian lagi karena Janes hanya diam saja.
Tak lama kemudian motor yang dikendarai oleh Rian sudah tiba di gerbang sekolah. Janes langsung melompat turun dan pamit kepada Rian.
"Gimana tadi dengan usul kakak, mau nggak?"
__ADS_1
Janes mengangguk sambil tersenyum lalu berlari meninggalkan Rian dan masuk ke kelasnya.
Rian memutar kendaraannya menuju ke tempat kerjanya. Kali ini ia dan teman-temannya sedang mengerjakan bangunan sekolah di desa tersebut. Dalam perjalanan ia bersenandung dan membayangkan apa yang akan ia lakukan sebentar malam bersama adik ipar yang sudah mencuri hatinya.
Adik ipar yang rajin dan selalu tampak segar dan bersih. Sudah beberapa kali ia memergokinya di bak mandi dengan keadaan telanjang karena tempat mandi di luar rumah menggunakan dinding dari karung bekas. Rian kagum dengan pemandangan tersebut sehingga kadang membuatnya berkhayal yang tidak-tidak.
Uang yang diterima Rian kemarin sebanyak Rp 5.000.000, telah diserahkan kepada istrinya sebanyak Rp. 2.000.000 untuk belanja keperluan dapur. Ia tidak mau menyerahkan semuanya kepada istrinya karena sudah punya rencana untuk membeli pakaian untuk adik iparnya.
...Saat Rian pulang kerja, Janes sudah membereskan pekerjaan di dapur karena ia sudah setuju dengan ajakan Rian tadi pagi....
..."Kakak kamu ke mana?" tanya Rian setelah masuk ke rumah dan tidak melihat keberadaan istrinya. Jam-jam begini biasanya Lin tidur-tiduran di depan TV. Tapi kali ini tempat itu kosong dan TV-nya juga mati....
"Tadi kakak bilang mau ke pasar beli ikan," jawab Janes.
"Trus, adik kamu mana?" tanyanya lagi.
"Lagi tidur, Kak,"
"Apa kamu udah minta izin sama kakakmu?"
"Udah, Kak. Nih, saya mau mandi dan siap-siap,"
"Bagus, kamu memang pintar!"
Sebelum mandi, Janes menyempatkan diri membuat kopi untuk kakak iparnya. Hal ini sudah menjadi kebiasaannya setiap kali Rian pulang kerja.
Saat meletakkan gelas di meja, Rian meraih jemarinya dan meremas dengan lembut. Seketika itu juga Janes merasa kesetrum, dadanya berdebar dan jantungnya bertalu-talu. Ia tak sanggup menatap wajah Rian yang selalu membuat perasaannya jadi nyaman.
"Maaf, Kakak terbawa perasaan karena kamu sangat baik sama saya. Kamu selalu melayaniku dengan tulus. Seharusnya semua yang kamu lakukan adalah tugasnya kakakmu tapi kamu tahu sendiri bagaimana sikapnya. Lin sangat malas dan tidak pernah mengerti seperti apa kebutuhan kakak. Saya butuh perhatian dan kasih sayang Dek dan hal itu sudah dan sedang saya dapatkan dari kamu. Sekali lagi, terima kasih!" ucap Rian dengan serius.
Janes juga ikut sedih mendengar pengakuan dari Rian dan ia membenarkan apa yang baru saja diucapkan oleh kakak iparnya ini. Semua adalah kenyataan. Janes menarik tangannya karena takut jika kakaknya keburu datang dari pasar.
"Saya mau mandi dulu, Kak!" pamit Janes dengan wajah yang masih gugup.
"Silahkan, Dek, sekali lagi maaf yah, karena kakak sudah lancang sama kamu!"
"Nggak apa-apa, Kak, saya ngerti kok,"
__ADS_1
Jawaban Janes membuat Rian tersenyum. Ia semakin gemas melihat adik iparnya itu.