Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
21. Sentuhan Pertama


__ADS_3

Janes sudah selesai mandi. Bersamaan dengan itu, Rian pun telah selesai. Ia mandi di kamar mandi yang ada di kamar tidurnya sedangkan Janes mandi di luar rumah.


Janes menengok ke sana ke mari dan buru-buru hendak berpakaian, tiba-tiba Rian muncul dan matanya terbelalak melihat tubuh mulus yang hanya berlilitkan handuk pada bagian bawah tubuh sedang setengahnya ke atas terpampang nyata tanpa sehelai kain. Dua buah bukit kembar yang menantang sangat indah dan menggiurkan sudah di depan mata.


"Jangan ke sini, Kak!" seru Janes karena malu.


"Ehh... iya, maaf," Rian mundur secara teratur, padahal dalam hatinya ia masih ingin memanjakan matanya dengan pemandangan yang indah itu.


Janes memasang bajunya dengan lincah lalu menyiapkan tas sekolah yang akan dibawah sebentar karena ia sudah minta izin kepada kakaknya. Dengan membawa tas sekolah, tentu kakaknya tidak akan menaruh curiga kepadanya.


Di kamar, Rian sangat gelisah. Gejolak dalam tubuhnya sedang merontah-rontah karena telah melihat sesuatu yang indah. Sesuatu dalam dirinya pun merasa terusik karena sudah lama tidak pernah merasakan belaian.


Tak lama kemudian Lin pulang dari pasar. Ia terlihat lelah karena menjinjing dua kantong besar berisi bahan belanjaan.


"Kenapa tadi kamu nggak meneleponku biar saya jemput kamu di pasar?" tanya Rian basa-basi.


"Saya lupa bawa ponsel," jawab Lin tanpa curiga.


Janes langsung mengambil segelas air putih dan memberikan kepada kakaknya tanpa diperintah. Ia tahu kakaknya capek karena peluh menetes dari keningnya.


"Kak, saya pamit dulu, mau ke rumah teman!" kata Janes. Di punggungnya sudah bertengger tas sekolah sehingga Lin mempercayainya.


"Ok, tapi pulangnya jangan terlalu larut malam! Nanti kalau ada apa-apa pasti saya yang kena marah oleh Kak Raka juga mama dan papa!" ujar Lin.


"Iya, Kak," sahut Janes.


Lin agak ragu memandangi kepergian adiknya karena hari telah gelap. Ia memegang keningnya seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Jan, Jan... tunggu dulu, biar Rian mengantarmu!" teriak Lin karena Janes sudah berjalan beberapa meter meninggalkan rumah.


Mendengar ucapan Lin, hati Rian bersorak kegirangan namun ia tetap duduk tenang di tempatnya dan seolah-olah sedang serius menikmati acara di TV.


"Iya, Kak, ada apa?" tanya Janes yang berbalik pulang setelah mendengar teriakan kakaknya.

__ADS_1


"Tunggu dulu di situ!" sahutnya.


Ia tergesa masuk ke rumah dan mencari suaminya.


"Mas, Mas...!" panggilnya dengan suara keras.


"Ada apa sih, teriak-teriak segala?" ucap Rian dengan berpura-pura tidak tahu maksud istrinya.


"Tolong antar Janes dulu ke rumah temannya, takutnya ada yang ganggu di jalan, ini sudah malam loh!" pinta Lin penuh harap.


"Aduhh... sebenarnya saya lagi capek tapi..., " kata Rian dengan akting yang sempurna.


"Tolonglah Mas! masakan kamu mau membiarkan Janes keluar malam-malam begini sendirian?" bujuk Lin dengan memohon-mohon di depan suaminya.


Janes yang menunggu di luar hampir kelepasan tertawa karena merasa lucu mendengar percakapan antara kak Lin dengan kakak iparnya.


"Baiklah kalau itu maumu," ujar Rian pelan padahal dalam hati ia ingin berteriak karena girangnya bak mendapat durian runtuh.


"Terima kasih sayang atas bantuannya!" ucap Lin dengan senang.


Keduanya lalu berangkat dengan naik motor kesayangan. Setelah beberapa meter meninggalkan rumah, keduanya tertawa lepas.


Malam ini Rian ingin menemani Janes belanja ke desa tetangga. Di sana sudah ada beberapa toko besar yang menjual berbagai jenis pakaian dan alat-alat kosmetik.


Di tengah perjalanan, Rian meraih tangan Janes dan dilingkarkan di pinggangnya. Awalnya Janes ragu tapi dorongan dari hati yang paling dalam membuat ia memeluk kakak iparnya dari belakang dan tanpa sadar ia juga menyandarkan kepalanya di bahu yang kokoh itu.


Rian merasakan kehangatan yang luar biasa. Sesekali ia meremas jemari Janes dengan sebelah tangannya karena tangan yang sebelah harus memegang setir motor.


Janes pun merasakan hal yang sama. Ia bahkan mempererat pelukannya.


Tidak terasa, kendaraan mereka sudah tiba di desa tetangga. Tanpa membuang waktu Rian langsung membawa Janes ke toko pakaian dan disuruh untuk memilih pakaian yang disukai tapi Janes hanya kebingungan melihat banyaknya jenis dan model pakaian yang ada di toko tersebut.


Melihat Janes yang bingung, Rian terpaksa turun tangan untuk memilih pakaian yang cocok buat adik iparnya itu. Tiga pasang baju tidur, dua dres yang panjangnya selutut, dan beberapa pakaian dalam. Rian juga tak lupa memilih beberapa lembar daster untuk istrinya dan pakaian santai buat Rizha.

__ADS_1


Setelah membayar harga pakaian itu mereka berpindah ke toko kosmetik. Janes membeli Parfum dan alat Make up yang harganya murah karena ia tidak mau terlalu membebani Rian. Janes sadar bahwa kakak iparnya ini banting tulang cari uang jadi nggak boleh beli sembarang.


"Kalau nanti kakak kamu bertanya tentang barang belanjaanmu, bilang aja kalau kamu dapat kiriman uang dari Raka supaya ia tidak curiga!" kata Rian di tengah perjalanan.


"Tapi saya takut Kak, jangan sampai kak Lin bertanya kepada kak Raka," sahut Janes dengan cemas.


"Kalau begitu, jangan kasih liat, simpan aja dulu dalam tas!" usul Rian.


"Iya, Kak."


Di tengah perjalanan pulang, Rian menepikan kendaraannya di pinggir jalan yang sepi. Di situ ada gardu kosong tempat orang menjual di siang hari.


"Kenapa kita berhenti, Kak?" tanya Janes dengan heran.


"Kakak kebelet, mau buang air kecil dulu," jawab Rian beralasan.


Janes duduk di gardu sambil menunggu Rian yang pergi ke belakang untuk buang air kecil.


Berselang beberapa saat ia sudah kembali namun tidak langsung menuju ke motornya. Rian duduk di samping Janes dan memeluknya dengan erat.


"Kita istirahat dulu Dek, ini belum apa-apa, baru pukul 08.30 WIB," bisik Rian sambil mengelus pipi mulus yang masih perawan itu dengan penuh gairah. Nafas Janes naik-turun dibuatnya. Bagaimana tidak, ia sama sekali belum pernah mengenal yang namanya berpacaran apalagi bercumbuh seperti halnya yang dulakukan oleh kakak iparnya saat ini. Umur Janes saat ini baru menginjak usia lima belas tahun. Dulu ia agak terlambat satu tahun masuk Sekolah Dasar.


"Kamu nggak usah takut sayang, kakak kamu nggak akan pernah tahu. Saya sayang dan cinta sama kamu. Rasa ini tumbuh dengan sendirinya setelah melihat kamu mulai tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan rajin, baik pula," ucap Rian sambil membelai rambut ikal yang selalu diikat rapi itu.


Jantung Janes berdebar kencang. Sesungguhnya ia juga mempunyai perasaan yang sama tapi ia tidak bisa menyimpulkan bahwa apa yang dirasakan adalah rasa cinta, yang jelas ia selalu ingin berada dekat dengan Rian.


"Kamu nggak keberatan 'kan? Mulai saat ini kita jadi pasangan kekasih tapi kita harus bermain cantik dan rapi jika berada di rumah agar kakak kamu nggak curiga. Kamu mengerti 'kan maksusd saya?" tanya Rian lagi.


"Nanti kalau kakak punya uang banyak, kamu boleh pakai untuk beli ponsel sehingga kita bisa berkomunikasi dengan lancar," katanya lagi untuk merayu gadis remaja beliah yang sangat menggiurkan dan membuatnya mabuk kepayang.


Janes tidak bisa berkata-kata. Ia malah memejamkan mata dan menikmati setiap sentuhan dari kakak iparnya sehingga Rian dengan penuh percaya diri mendaratkan ciumannya di bibir yang juga baru pertama kali disentuh yang tentunya akan menimbulkan sensasi yang luar biasa nikmatnya.


"Ahhh... ahhh... !" Janes mendesah dan Rian kembali ******* bibir ranum itu dengan penuh gairah membuat Janes sulit untuk bernafas.

__ADS_1


Sudah hampir satu jam keduanya berada di tempat itu. Janes lalu mengajak Rian untuk pulang karena takut jika kakaknya curiga kalau mereka sampai larut malam baru tiba di rumah.


__ADS_2