Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
23. Tidak Rela


__ADS_3

Pesta pernikahan Raka dan Sita berlangsung dengan meriah. Pengantinnya sangat serasi sedang duduk di atas pelaminan bagaikan raja dan ratu. Tak henti-hentinya pengantin tersebut menyunggingkan senyum manis kepada para tamu undangan.


Raka berencana untuk memboyong istrinya ke Morowali dan akan menetap di sana karena ia sudah membeli sebidang tanah tempat untuk membangun sebuah rumah.


Satu per satu acara berlangsung dengan baik. Tampak Janes sedang sibuk ke sana ke mari melayani para tamu. Dres warna merah maron yang melekat pas di tubuhnya menambah kecantikannya membuat beberapa tamu terkesima melihatnya. Bahkan Rian sendiri sempat ternganga saat bertemu dengan Janes di pintu depan. Namun Rian segera buang muka karena ia masih kesal dengan persoalan semalam. Ia merasa disepelekan oleh Janes setelah bertemu dengan teman-temannya.


Senyum manis di bibir merah tak ia hiraukan membuat Janes heran dengan sikap Rian.


Setelah para tamu bubar, Janes mencari kesempatan untuk bisa bicara empat mata dengan Rian tapi sepertinya sulit karena Rian selalu menghindar. Janes jadi gelisah dengan sikap kekasih gelapnya itu.


Malam itu mereka masih nginap di rumah orang tuanya karena pak Ali belum mengizinkan untuk pulang.


Janes tahu bahwa Rian sedang marah kepadanya karena terlihat dari mimik wajahnya yang tidak bersahabat tapi yang membuatnya heran adalah kesalahan apa yang telah ia perbuat?


Setelah selesai makan malam, mereka masih duduk bersama untuk bercengkrama karena besok mereka akan berpisah satu sama lain.


"Kalau Janes sudah tamat SMA, saya akan membawanya ke Morowali dan menyekolahkan dia di sana," ucap Raka dengan santai.


Ucapan tersebut membuat Rian dan Janes kaget. Keduanya saling berpandangan.


"Kalau Bapak sih, nggak masalah, yang penting Janes tetap bersekolah," ujar pak Ali.


"Bagaimana pendapatmu Jan?" tanya ibu Erna.

__ADS_1


"Nanti saya pikirkan Ma, lagian juga waktunya masih setahun lagi," sahut Janes membuat hati Rian jadi lega.


Rian sangat tidak rela jika Janes akan pergi meninggalkannya, apalagi mau ke Morowal, kota yang sangat jauh. Ia sudah tidak bisa jauh-jauh dari adik iparnya itu yang telah membangkitkan kembali semangat dalam hidupnya setelah beberapa tahun seolah mati rasa dengan kehidupan rumah tangganya yang hambar.


Berbeda dengan istrinya, yang penting baginya ia tetap bisa makan, tak peduli lagi dengan penampilan dirinya. Ia tidak pernah menyadari bahwa suaminya tidak lagi tertarik kepadanya.


Sita sangat kaget saat melihat wajah Lin yang sudah dibersihkan dari make up yang membuat dirinya tampil cantik tadi siang saat pesta berlangsung. Tadi wajahnya mulus karena tertempel dengan bedak tebal.


"Kenapa dengan wajahmu, Lin?" tanya Sita dengan heran. Wajah Lin dipenuhi dengan plek hitam di beberapa bagian bahkan sudah hampir merata pada seluruh permukaan wajahnya. Sangat berbeda ketika ia masih kerja di kota Beringin. Wajahnya dulu putih dan bersih dengan postur tubuh yang tinggi semampai. Sekarang perutnya sudah berlipat-lipat dengan timbunan lemak. Penampilannya tidak menarik lagi menurut penilaian Sita yang sudah resmi menjadi kakak iparnya.


"Saya udah malas perawatan Kak soalnya tiap hari di rumah aja, lagian juga udah punya suami dan anak, jadi buat apa lagi repot-repot untuk perawatan? Yang ada malah buang-buang waktu dan uang," sahutnya dengan santai sambil tertawa.


"Seharusnya nggak boleh gitu Dek, perawatan itu penting loh, biar kita udah jadi mak-mak tapi tetap harus tampil cantik biar suami nggak bosan!" ujar Sita dengan serius.


Sita tidak segan-segan menceramahi Lin karena dari dulu ia sudah dekat dengannya dan sekarang sudah menjadi adik ipar. Sita banyak pengalaman karena rajin baca buku dan juga ia sering mendengar cerita dari majikannya saat masih bekerja sebagai ART di kota Beringin.


Suami majikannya pernah berselingkuh dengan perempuan , salah satu karyawannya di kantor karena istrinya tidak pernah mengurusnya ketika tiba di rumah. Ia hanya bersantai di depan TV dan malas untuk merawat tubuhnya.


Lama-kelamaan suaminya mulai tertarik dengan perempuan lain yang selalu memberikan perhatian kepadanya saat berada di kantor. Perempuan itu kasihan melihat Bosnya yang sering tampak kelaparan sehingga ia menawarkan bekal yang dibawah dari rumah kepadanya. Seiring berjalannya waktu, setiap hari perempun itu akhirnya selalu membawa dua bungkus bekal sarapan ke kantor sehingga Bosnya tidak pernah lagi sarapan di rumah sebelum ke kantor.


Suami majikannya itu pun sering memberikan uang kepada perempuan tersebut dan akhirnya keduanya semakin dekat dan saling suka.


Suatu hari majikannya itu curhat kepada seseorang bahwa ia sudah tidak pernah ditiduri oleh suaminya dan orang itu pun mengatakan kepadanya bahwa kesalahan ada pada sang majikan itu sendiri setelah mendengarkan semua ceritanya.

__ADS_1


Sang majikan mulai introfeksi diri dan menyadari segala kelemahannya sehingga dengan tulus memaafkan suaminya dan berjanji bahwa ia akan berubah.


Sejak saat itu majikannya mulai merawat diri dengan baik, ia menjaga makanannya sehingga tubuhnya bisa langsing seperti sedia kala, tak lupa ia juga merawat wajahnya sehingga tampak lebih cantik bila dibanding dengan sebelum ia mengenal suaminya.


"Iya, Kak, terima kasih masukannya!" sahut Lin membuat Sita terhenyak dari lamunannya.


Lin teringat ketika waktu itu ia sangat menginginkan belaian dari suaminya tapi ditolak dengan alasan sedang capek. Apa itu adalah salah satu tanda bahwa Rian sudah berpaling darinya? Lin membuang jauh pikiran tersebut karena selama ini suaminya tidak pernah bertingkah yang aneh-aneh dan sangat masuk akal bahwa ia tidak melayaninya di malam hari karena sepanjang hari ia bekerja membuat tubuhnya lelah.


Perasaan Lin sudah terkalahkan oleh kemalasannya. Sepanjang hari ia lebih banyak tidur sehingga tubuhnya gemuk membuat gerakannya semakin lamban. Ia tidak pernah lagi pusing dengan pekerjaan di rumah karena ada Janes yang sangat rajin. Itulah sebabnya ia juga kurang setuju jika adiknya itu akan disekolahkan di Morowali oleh kakaknya. Ia sudah terlena dengan layanan adiknya yang tidak pilih-pilih pekerjaan di rumah hingga mengurus Rizha yang masih kecil.


Tak terasa malam semakin larut. Mereka pun beristirahat di kamar dan sebagian besar tidur di ruang tengah bahkan sampai ke ruang tamu karena kamar hanya ada dua buah sementara jumlah mereka sangat banyak.


Kamar tamu sudah dipersiapkan untuk pengantin baru. Kamar tersebut sudah dihiasi dengan dekorasi yang indah dengan harapan Raka dan Sita akan merasa nyaman berada di dalamnya.


Janes dan adik-adiknya tidur di ruang tengah. Sebelum ia tidur ia sempat melirik ke arah Rian yang sudah berbaring di ruang tamu bersama istrinya. Janes tersenyum ke arahnya dan dibalas dengan kedipan mata sebelah membuat hati Janes lega. Ia senang karena Rian mau merespon senyumnya dan wajahnya tidak sejutek sebelumnya.


Suasana hening karena semuanya sudah tertidur kecuali pengantin baru yang masih berbagi rasa di kamarnya. Raka dan Sita sama-sama belum pernah melakukan hubungan sebelumnya menjadikan peristiwa malam ini sebagai peristiwa yang bersejarah yang akan dikenang sepanjang masa.


Sita hampir berteriak ketika pusaka milik Raka telah menembus mahkota yang selama ini memang ia pertahankan untuk dipersembahkan kepada pria yang kini sudah resmi menjadi suaminya.


Dengan sigap Raka menutup mulut Sita menggunakan telapak tangannya sehingga suaranya tidak keluar. Ia takut jika orang-orang yang sudah tidur dengan lelap akan terbangun mendengar suara dari kamar mereka.


"Maaf Sayang, nanti kalau kita sudah sampai ke rumah kontrakan yang ada di Morowali baru kamu bisa mendesah sepuasnya!" bisik Raka tepat si telinga sang istri membuat wajahnya memerah karena malu.

__ADS_1


Keduanya masih tetus menyatu walau tak bergerak lagi. Masing-masing terbawa dalam perasaan yang sulit untuk dijelaskan dan mensyukuri anugerah Tuhan yang luar biasa.


__ADS_2