
Hari ini Lin berangkat ke desa Harapan karena semalam ia mendapat kabar dari tetangga di kampung bahwa mamanya sedang sakit.
Ia berangkat sendirian dengan naik angkot karena rencananya akan cepat pulang jika mamanya bisa sudah bisa ditinggal.
Rian senang karena punya kesempatan lagi untuk bisa berduaan dengan Janes setelah pulang dari sekolah nanti. Janes selalu pulang lebih awal dibanding dengan Hans dan Iwan.
"Sini Nak, Papa gendong biar cepat bobo!" Rian membujuk Rizha agar mau tidur siang supaya tidak ada yang mengganggu kebersamaanya nanti dengan sang kekasih.
Rizha menghampiri papanya dan minta untuk dinyanyikan biar lekas tidur karena sudah waktunya untuk tidur siang.
Baru dua buah lagu anak-anak yang disenandungkan oleh Rian sudah mampu membuat anaknya tertidur dengan lelap. Perlahan ia menidurkan di atas kasur di kamarnya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya . Ia mau tampak gagah di hadapan Janes yang sebentar lagi akan pulang dari sekolah.
"Selamat siang, Kak!" sapa Janes dengan suara lembut. Ia sengaja membuat suaranya terdengar manja karena tahu bahwa Lin, kakaknya sedang tidak berada di rumah.
"Selamat siang, Sayangku!" sahut Rian dengan senyum lebar sambil merentangkan kedua tangannya untuk menyambut tubuh Janes yang jatuh ke dalam pelukannya.
"Rizha di mana, Kak?"
"Lagi tidur siang, Sayang. Sepertinya anak itu mengerti kalau papa dan tantenya mau bersenang-senang,"
Janes tertawa riang mendengar ucapan Rian. Ia segera menuju ke kamarnya lalu ź-diikuti oleh Rian dari belakang.
Janes mencium bau wangi dari tubuh Rian, bau khas yang ia sudah hafal dan selalu dirindukan. Tanpa malu ia membuka seragam sekolahnya di hadapan kakak ipar yang juga sepertinya sudah tidak sabar untuk memberikan sentuhan yang menggairahkan.
"Tinggal seminggu lagi saya akan ujian, Kak," kata Janes sambil mengelus dada bidang Riang dengan lembut.
"Itu artinya usia kamu sudah matang, jadi Kakak udah bisa nikahin kamu," ucap Rian sambil menatap wajah cantik di depannya.
"Bagaimana dengan kak Lin? Apakah Kakak akan menceraikan dia?" tanya Janes membuat gerakan tangannya berhenti. Bingung juga untuk menjawab pertanyaan dari Janes. Kalau ia sampai menceraikan istrinya, apa kata mertuanya nanti apalagi kalau alasannya karena ingin menikahi Janes. Semuanya sangat berisiko.
"Setelah ujian nanti, saya mau ke kota cari pekerjaan soalnya kak Raka juga tidak akan sanggup lagi untuk menyekolahkanku," kata Janes membuat Rian sedih. Sedih karena akan ditinggalkan oleh kekasihnya.
__ADS_1
"Tolong jangan tinggalkan saya, Sayang! Tinggallah di sini dulu untuk beberapa waktu sambil kita pikirkan bagaimana agar hubungan kita ini bisa berakhir dengan sebuah pernikahan!" bujuk Rian dengan senyum penuh arti.
"Terserah Kakak aja deh," kata Janes dengan manja.
Keduanya pun saling bercumbuh, mengelus dan meremas bagian tubuh yang sensitif dan menimbulkan gairah hingga keluar ******* dari mulut.
"Gunungmu sudah semakin besar Sayang, Kakak sangat puas bisa mendakinya,"
"Ahh, Kakak... pelan-pelan dong! Ahhh... ahhhh.... !"
Rian semakin bergairah mendengar suara Janes yang sedang menikmati remasan halus pada gunung kembarnya yang kenyal.
Saking asyiknya mereka lupa menutup pintu kamar. Keduanya tidak sadar sepasang mata bocah sedang mengamat-amati apa yang mereka sedang lakukan.
Rizha sudah berumur kurang lebih lima tahun itu ternganga melihat papanya seperti anak kecil yang sedang menyusu pada buah dada kak Janes yang kini sedang memejamkan mata dan mulutnya terus mengeluarkan suara *******
"Papa, Papa dan Kak Janes lagi ngapain?" tanya Rizha dengan polos. Ia sudah berdiri di ambang pintu kamar.
"Kamu udah bangun Sayang? Kok cepat bangat? tanya Rian dengan wajah yang berkeringatan karena gugup. Walaupun Rizha masih kecil tapi bisa jadi ia akan menceritakan apa yang dilihatnya saat ini kepada orang lain membuat papanya khawatir dan crmas.
"Iya Pa, Papa tadi sedang ngapain? Kenapa kayak anak kecil? tanya Rizha membuat Rian dan Janes saling berpandangan.
"Ohhh, itu... tadi ada serangga yang menggigit perutnya kak Janes dan papa datang menolongnya lalu membantu untuk mengusir serangga itu," jawab Rian untuk meyakinkan anaknya.
"Tapi... tapi kenapa Papa nggak pakai baju?"
"Tadi Papa keringatan karena baru selesai tanam sayur di kebun,"
Rizha tampak manggut-manggut mendengar penjelasan dari papanya, namun tampaknya ia belum puas.
"Mana serangganya, Pa?" tanyanya lagi membuat Rian bingung.
__ADS_1
"Tadi udah Papa bunuh dan saya udah buang di luar," jawab Rian. Ia berharap anaknya tidak bertanya lagi yang macam-macam.
"Ayo kita keluar, Nak soalnya kakak Janes mau istirahat dulu!" ajak Rian sambil menggandeng lengan anaknya dan berlalu dari kamar tersebut.
Baik Rian maupun Janes merasa sangat kecewa karena permainan mereka belum tuntas tapi harus diakhiri karena ada gangguan yang tak pernah diduga sebelumnya.
Janes bangun dan menutup pintu kamarnya. Ia segera memakai baju lalu kembali berbaring sambil menonton video untuk melampiaskan kekecewaannya. Tadi Bryan berbagi pulsa dengannya sehingga saat ini ia bisa nonton video dengan sepuasnya.
Sementara itu Rian masuk ke kamar mandi setelah ia menyeduh teh hangat untuk Rizha. Terdengar air yang mengalir deras dari kran dan Rian pun melakukan ritual untuk memuaskan dirinya tanpa bantuan orang lain. Suara desahannya tidak kedengaran sampai ke luar karena terkalahkan oleh suara air dari kran yang sengaja di buka dengan pul. Hal demikian sudah sering ia lakukan ketika tidak punya kesempatan untuk bermain bersama adik iparnya.
Sebenarnya istrinya selalu siap melayaninya tapi ia sudah terlanjur jijik membuat rasa yang ada padanya hilang ketika berhadapan dengan Lin. Pernah satu kali ia mencoba karena sudah tidak tahan tapi permainan itu berhenti di tengah jalan karena Rian sudah tidak mampu untuk meneruskan membuat Lin sangat kecewa sehingga mogok bicara kepada suaminya selama beberapa hari.
Tak lama kemudian Hans dan Iwan juga tiba di rumah. Keduanya berganti pakaian lalu makan. Kemarin Rian sudah mengatur jadwal buat mereka untuk berkebun setelah isrirahat sejenak. Sejak mengolah lahan di pekarangan rumah, mereka sudah mulai menikmati hasilnya. Mungkin mereka sudah merasakan bagaimana menderitanya jika hanya makan nasi tanpa lauk dan sayur sehingga hatinya tergugah untuk bangkit dari kemalasan.
Janes datang ke samping rumah untuk menghampiri mereka yang sedang menyiram tanaman sayur bayam dan sawi yang sudah mulai tumbuh. Tampak juga Rian sedang menggemburkan tanah dibedengan sebelah.
"Seandainya kita sudah jadi suami-istri, saya akan sangat bahagia bisa berkebun bersamamu," ujar Janes dengan suara pelan.
"Sabar Sayang, tak lama lagi impianmu itu akan segera terwujud!" sahut Rian setengah berbisik.
Mereka masih berada di kebun saat Lin tiba dari desa Harapan. Ia tampak lelah turun dari angkot tapi Rizha tetap saja berlari untuk menemuinya.
"Bagaimana keadaan mama, Kak?" tanya Janes setelah Lin duduk di teras rumah.
"Sudah agak baikan, makanya saya langsung pulang dan mereka berpesan agar kamu cepat pulang ke sana setelah selesai mengikuti ujian," sahut Lin.
Janes berlalu ke dapur mengambil air minum untuk kakaknya. Setelah itu ia membereskan pekerjaan di dapur seperti biasanya namun kali ini pikirannya terganggu, bukan karena ucapan kakaknya yang menyampaigan pesan dari orang tuanya tapi cemas atas kejadian tadi siang. Ia khawatir jangan sampai Rizha akan membeberkan kepada mamanya apa yang ia sudah lihat tadi siang.
"Rizha, Rizha... sini Dek, bantu kakak!" seru Janes memanggil-manggil Rizha yang masih menggendong di pangkuan mamanya.
Rizha pun datang menghampiri Janes yang sedang membersihkan sayur. Janes sengaja memanggil dia untuk mengalihkan perhatiannya agar tidak keceplosan tentang apa yang sudah ia saksikan tadi.
__ADS_1
Hingga malam hari Janes selalu menemani Rizha bermain bahkan mengajak ke kamarnya sebelum tidur. Rian mengerti apa yang dilakukan oleh Janes sehingga ia memberinya kode dengan jari jempol ketika tidak ada yang melihatnya.