Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
27. Nasihat Ibu Guru


__ADS_3

Janes mampir ke rumah ibu Irene setelah pulang sekolah. Tadi ibu Irene menyampaikan pesan kepada Janes melalui ketua kelasnya bahwa ponselnya nanti diambil di rumah ibu guru.


Dengan jantung yang berdebar, Janes mengetuk pintu rumah ibu Irene.


Seorang anak laki-laki yang masih mengenakan seragam putih merah membukakan pintu dan mempersilahkan masuk.


Janes duduk di kursi sofa yang empuk dengan cemas menunggu ibu Irene yang menurut anaknya, sedang berada di toilet.


Sekitar lima belas menit Janes menunggu di ruang tamu tapi baginya serasa sudah satu jam ia duduk di situ.


Tak lama kemudian ibu Irene datang menghampiri setelah mengganti seragam dinasnya.


"Ada hubungan apa di antara kamu dengan pria yang bernama Rian?" tanya ibu Irene tanpa basa-basi terlebih dahulu.


"Dia itu kakak iparku, Bu," jawab Janes dengan kepala tertunduk. Ia tidak berani menatap wajah ibu Irene.


"Ibu curiga ada hubungan yang lebih dari hanya sekedar sebagai kakak ipar setelah membaca beberapa pesan di Massenger yang ada di ponselmu ini. Jadi Ibu harap kamu mau berterus terang karena saya berhak tahu tentang kehidupan pribadi anak waliku di sekolah. Kamu tidak usah malu atau takut karena semua ini demi kebaikanmu, demi masa depanmu nanti di kemudian hari!" ujar ibu Irene sambil menatap lekat wajah Janes yang sudah memerah dan berkeringat.


Cukup lama ia tak bersuara karena berbagai hal mengganggu pikirannya. Apakah ia mau berterus terang?


"Apakah kamu menyukai kakak iparmu?"


Janes menggeleng dengan pelan membuat ibu Irene berkesimpulan bahwa jangan sampai anak walinya ini tertekan karena tidak bisa menolak kemauan kakak iparnya. Ibu Irene pun menawarkan agar Janes tinggal di ruamahnya saja karena ujian juga semakin dekat tapi Janes tetap diam sehingga ibu Irene sulit untuk menggali informasi yang lebih banyak lagi.


Akhirnya ia menyodorkan ponsel yang disita tadi di sekolah dan membiarkan Janes pulang ke rumahnya.


Pada malam hari ibu Irene tidak bisa tidur karena pikirannya selalu dihantui dengan bayangan anak walinya yang punya hubungan khusus dengan kakak iparnya sendiri dan yang lebih parahnya lagi karena mereka tinggal dalam satu atap.


Keesokan harinya ketika tiba di sekolah ia mencari kesempatan untuk bercerita lagi dengan ibu Ida.


"Bolehkah Ibu yang bicara nanti kepada Janes siapa tahu ia mau terbuka soalnya kemarin ia lebih banyak diam sehingga saya sulit untuk memikirkan solusi apa yang tepat untuk menyelesaikan masalah tesebut?"


"Iya, Bu, sebentar saya akan panggil ke rumah!"


Sebelum jam pelajaran usai, ibu Ida memanggil Janes untuk menemuinya di ruangan guru.


"Nanti sore saya tunggu kamu di rumah!" kata ibu Ida ketika Janes sudah menghadap.


"Iya, Bu," sahut Janes dengan patuh.


"Kamu tahu alamat saya 'kan?"


"Iya, Bu, saya pernah ke sana membawa tugas matematika waktu masih duduk di kelas sepuluh,"


Janes pulang ke rumah dengan sejuta pertanyaan di kepalanya. "Apa ada hubungannya dengan pesan di Massenger sehingga ibu Ida mengundangku ke rumahnya?" bathinnya dalam hati.


Tiba di rumah ia malas untuk menyentuh makanan karena yang ada di meja hanya semangkuk nasi tanpa lauk dan sayur. Nasi itu masih harus dibagi tiga dengan kedua adiknya, Iwan dan Hans yang belum pulang dari sekolah.


Janes masuk ke kamarnya dan langsung berbaring di tempat tidur tanpa mengganti seragam sekolahnya. Ia menatap langit-langit kamar dan mencari jawaban apabila nantinya ibu Ida akan bertanya soal pesan di Massenger pada ponselnya.


Mungkin karena lelah berpikir akhirnya ia ketiduran. Dalam tidurnya ia bermimpi sedang dipukuli oleh kakaknya karena kepergok sedang berciuman dengan Rian.


"Ampun, Kak... Ampun, Kak!" teriaknya dengan suara keras hingga Lin yang sedang tidur siang pun terbangun mendengar suara Janes. Ia pun terpaksa bangun walaupun matanya masih sangat berat.


"Jan.. Janes, ada apa? Tolong buka pintunya!" seru Lin sambil menggedor-gedor pintu kamar.


Janes langsung bangun dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling namun tidak ada siapa-siapa. Kini ia sadar bahwa ia baru saja bermimpi.


"Hoy... buka pintunya! Apa kamu mendengar suaraku?" teriak Lin lagi.


Janes beranjak dari duduknya lalu membuka pintu dan tampak di depan pintu Lin sedang panik.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Lin dengan heran karena melihat adiknya baik-baik saja. Lalu tadi kenapa ia berteriak-teriak minta ampun? Lin jadi bingung.


"Saya baru bangun, Kak," ucapnya dengan suara lemah.


"Oh, jadi tadi kamu bermimpi?"


Janes mengangguk.


"Oh, ya,.Kak, saya izin sebentar mau ke rumahnya ibu Ida!" kata Janes sebelum kakaknya menghilang dari pintu kamarnya.


"Siapa tuh, ibu Ida?" tanya Lin sambil membalikkan tubuh.


"Guru matematika di sekolah kami, Kak," sahut Janes.


"Ok, tapi pulangnya jangan sampai larut malam!"


"Iya, Kak,"


Janes segera bersiap-siap namun saat mau berangkat, perutnya melilit karena lapar. Ia masuk ke dapur dan membuka tudung saji, masih ada nasi tapi sangat sedikit. Terpaksa ia makan nasi itu, setidaknya bisa mengganjal perut untuk beberapa saat.


Sudah beberapa hari ini mereka makan apa adanya karena penghasilan Rian juga sudah tidak sama yang dulu lagi. Pekerjaan sekarang sudah sulit bahkan minggu lalu Rian hanya bekerja selama tiga hari, selebihnya ia nganggur di rumah.


Sebenarnya ia masih mengantongi uang sebanyak Rp 300.000 tapi tidak diserahkan kepada istrinya karena ia sudah berjanji kepada Janes untuk membayar biaya rebonding rambutnya nanti.


Rizha sering menangis minta lauk pada saat mau makan membuat Rian terpaksa pergi memancing ke sungai.


Tak jarang pula terdengar pertengkaran antara Rian dan istrinya karena persoalan makanan. Rian sangat kesal karena Iwan dan Hans hanya tidur kalau pulang dari sekolah, padahal mereka sudah bisa menggarap lahn yang ada di sekitar rumah untuk ditanami sayur.


Janes juga sangat merasakan imbasnya. Kini ia sudah jarang mendapatkan uang jajan dari Rian membuatnya harus menahan rasa lapar di sekolah.


"Kenapa kamu baru datang?"


Di rumah ibu Ida tak ada siapa-siapa. Baru saja suami dan dan kedua anaknya keluar untuk membeli sesuatu karena mereka dapat pambagian THR. Ibu Ida membagikan THRnya kepada suami dan anak-anaknya. Sebenarnya ia mau ikut bersama dengan mereka untuk bersenang-senang tapi sudah telanjur ada janji untuk bertemu dengan Janes. Pikirnya, masih ada waktu besok atau lusa karena urusan saat ini tak kala pentingnya juga sebagai seorang pendidik di sekolah.


Ibu Ida dan Janes bisa berkomunikasi tanpa ragu karena tidak ada orang lain yang akan dengar percakapan mereka.


"Apa kamu sudah pernah ditiduri oleh kakak iparmu?"


"Nggak pernah, Bu,"


"Ibu nggak percaya deh, soalnya kalian ini tinggal serumah dan pesan yang saya baca di ponselmu sangat romantis,"


"Dia hanya pernah memeluk dan menciumku,"


"Tapi kamu juga suka sama dia 'kan? Terbukti dengan pesan-pesan yang kamu kirim kepadanya. Kamu nggak boleh bohong karena semua pesan di ponselmu sudah saya baca!"


"Iya, Bu, kami saling mencintai,"


Ibu Ida terkejut mendengar pengakuan dari Janes bahwa ternyata ia juga mencintai kakak iparnya. Jadi, pemikirannya kemarin rupanya salah karena sangkahnya Rian memaksa adik iparnya lantaran istrinya sudah tidak becus.


"Apa kamu nggak kasihan sama kakakmu?"


Janes diam. Rasa cinta dalam dirinya yang tumbuh seiring dengam waktu telah membutakan mata hatinya sehingga ia tidak pernah punya lagi rasa kasihan kepada kakak kandungnya sendiri.


"Sekarang kamu masih muda dan punya impian yang indah untuk masa depan. Ada banyak pria yang bisa mencintaimu dengan tulus tanpa ada yang harus dikorbankan. Jadi menurut Ibu, sebelum terlambat, tolong lepaskan dirimu dari hubungan yang terlarang itu. Karena kalau tidak, ada banyak risiko yang akan kamu tanggung!"


"Jadi saya harus bagaimana, Bu?"


"Kamu harus keluar dari rumah kakakmu dan cari tempat yang aman!"


Hampir dua jam ibu Ida memberi nasihat kepada Janes dan berharap agar Janes mau mendengarnya karena semua yang dilakukannya adalah untuk kebaikan siswanya.

__ADS_1


Cukup lama keadaan hening. Ibu Ida dan Janes merenung dengan pikiran masing-masing. Hingga keduanya dikejutkan oleh suara klakson mobil yang sudah memasuki pekarangam rumah. Pak Gayus, suami ibu Ida dan kedua anaknya sudah pulang.


"Ibu, Ibu... lihat nih kami beli banyak makanan!" seru Miriam, anak bungsu dengan riang. Di tangannya ada beberapa kantong kresek berisi aneka makanan.


"Oh, ya, bagi dong!" kata ibu Ida menyambut anaknya dengan gembira.


Tak lama kemudian pak Gayus pun masuk ke rumah dan menenteng makanan khusus buat istrinya.


Janes menelan air liurnya mencium aroma makanan yang di letakkan di meja pas di depannya oleh pak Gayus. Perutnya memang sudah keroncongan karena tadi ia hanya mengisinya dengan nasi dua sendok makan saja. Ia sangat berharap agar ditawari oleh tuan rumah untuk ikut menikmati makanan tersebut.


Ibu Ida melangkah ke dapur untuk mengambil piring. Sementara itu, mata Janes tidak lepas dari isi kantong kresek yang ada di hadapannya.


"Ayo kita makan dulu, Jan!" ajak ibu Ida sambil meyodorkan sebuah piring ke hadapan Janes.


"Teriima kasih, Bu!" sahut Janes dengn senang.


Ia sangat menikmati gado-gado itu hingga tak tersisa di piringnya. Seketika itu juga rasa laparnya hilang. Ia menutup mulut dengan telapak tangannya karena bersendawa tanda bahwa ia sudah kenyang.


Ada rasa iba yang menyusup ke dalam kalbu. Itulah yang dirasakan oleh ibu Ida melihat gadis yang ada di depannya yang masih sangat muda tapi sudah terjebak dengan cinta yang terlarang.


Mengingat waktu terus berputar dan sudah hampir magrib, ibu Ida memperbolahkan Janes untuk pulang ke rumahnya dengan pesan agar selalu waspada dan berhati-hati.


***


Seminggu telah berlalu. Ibu Irene dan ibu Ida selalu memantau Janes di sekolah dan hari ini mereka sangat terkejut dengan penampilannya yang semakin berbeda. Rambut ikalnya sudah lurus karena ia telah ke salon untuk merebonding setelah mendapat uang dari Rian.


Ibu Ida secara tersembunyi mamanggil teman dekatnya dan menanyakan apakah Janes sudah pindah rumah atau bagaimana tapi jawaban Lisa, teman sebangku Janes di kelas membuat ibu Ida kecewa. Rupanya Janes masih tetap tinggal bersama dengan kakak iparnya. Itu artinya, ia tidak mengindahkan nasihat-nasihat yang ia berikan beberapa hari yang lalu.


"Yahh, terserah dia, yang penting kita sudah mengingatka, lagi pula tinggal beberapa minggu lagi ia sudah meninggalkan sekolah ini!" kata ibu Irene dengan kesal ketika mendengar cerita ibu Ida.


"Iya, sepertinya anak itu memang keras kepala," timpal ibu Ida.


"Sulit juga kita mau menyampaikan hal ini kepada kakaknya sebagai orang tua wali karena kita tidak punya bukti yang kuat," ujar ibu Irene yang sudah pasrah karena bingung mau berbuat apa lagi untuk melepaskan anak itu dari ikatan cinta terlarang.


Pada jam istirahat, secara tak sengaja ibu Ida melihat Janes berjalan bersama dengan Bryan, teman kelasnya. Rupanya mereka hendak ke kantin. Ibu Ida membuntuti dari belakang dan pura-pura tidak melihat mereka.


"Kamu tambah cantik aja, Jan!" ucap Bryan sambil tersenyum.


"Ahhh, kamu bisa aja," sahut Janes dengan senyum pula.


"Iya, hari ini saya mau traktir kamu tapi pulang sekolah nanti kita bareng," rayu Bryan lagi yang memang dari dulu sudah punya perasaan kepada Janes tapi tidak pernah diungkapkan karena malu.


"Oke," kata Janes. Ia senang karena mau ditraktir soalnya ia tidak punya uang.


Ibu Ida melewati keduanya. Tadi ia sudah mendengar percakapannya dan berharap Bryan akan tertarik kepada Janes agar Janes bisa terlepas dari cinta kakak iparnya.


Sejak hari itu Janes dan Bryan tampak akrab. Keduanya selalu bersama pada jam istirahat.


Suatu hari ketika pulang dari sekolah, Janes dan Bryan pulang bareng. Bryan pun memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya namun Janes menyuruhnya untuk bersabar menunggu jawaban darinya karena memang ia sama sekali tak punya perasaan apa-apa kepada Bryan, hanya sebatas teman akrab.


Janes merasa bebas jalan bareng dengan Bryan karena kakak iparnya sudah tidak pernah mengantar dan menjemputnya. Motor yang biasa digunakan sudah mogok karena rusak dan tidak ada biaya yang akan digunakan untuk memperbaikinya di bengkel.


Siang itu Janes tiba di rumah dan langsung ke kamar. Rian yang sedang duduk menonton tampak gelisah. Sebentar-sebentar matanya menoleh ke arah pintu kamar Janes namun hingga beberapa menit penghuni kamar tersebut tidak nongol juga.


Sudah beberapa hari ini Rian tidak kerja karena borongan mereka telah selesai. Tadi pagi ia memaksa Lin untuk membantunya membuat kebun sayur dan saat ini mereka istirahat karena matahari sangat menyengat dan rencananya nanti sebentar sore baru dilanjutkan.


"Jan, Janes... !" Kamu nggak makan?" seru Rian.


"Sebentar, Kak, saya mau istirahat dulu," sahut Janes dari kamar.


Janes ingin langsung tidur siang kaarena perutnya sudah kenyang. Tadi ia sudah makan bakso bersama dengan Bryan yang selalu mentraktirnya. Orang tua Bryan adalah pengusaha kaya di desanya sehingga tak heran jika Bryan selalu membawa uang jajan yang banyak ke sekolah. Janes merasa beruntung bisa menjadi teman Bryan karena setiap hari bisa makan enak.

__ADS_1


__ADS_2