Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
22. Api Cemburu


__ADS_3

Suasana di rumah Rian tampaknya semua sedang sibuk berkemas-kemas karena besok mereka akan berangkat ke desa Harapan untuk menghadiri pesta pernikahan Raka dengan Sita. Janes begitu semangat menyusun pakaian yang akan dibawahnya. Tak lupa ia juga memasukkan dres yang baru dibeli seminggu yang lalu. Ia tersenyum membayangkan dirinya yang akan tampil cantik nanti ketika memakai baju tersebut melebihi kecantikan kakaknya.


Setelah selesai mengemas pakaiannya, ia ikut membantu kak Lin untuk mengemas pakaiannya ke dalam tas yang berukuran besar. Lin sengaja menggunakan tas besar agar dapat memuat barang-barangnya.


"Bagaimana kalau kamu sama Rizha naik angkot besok soalnya kita akan kerepotan di motor dengan tas besar ini, lagian juga kasihan jika Rizha kena angin dan panas matahari?" tanya Rian yang datang menghampiri mereka sekaligus memberi usul.


Lin berpikir sejenak memikirkan usul dari suaminya. Sekilas ia melirik tas besar yang sudah terisi dengan pakaian dan tidak mungkin tas itu bisa di taruh di boncengan motor. Usul Rian sangat masuk akal.


"Iya Mas, biar saya dan Rizha naik angkot saja dan Janes bisa kamu bonceng," ujar Lin membuat Rian dan Janes saling bertatapan dan melempar senyum.


Rian segera menghubungi pak supir dan mendaftarkan istrinya untuk dijemput besok pagi.


Keesokan harinya, Rian membangunkan istrinya. Berat rasanya bagi Lin untuk bangun sepagi ini tapi biasanya mobil yang arahnya ke desa Harapan selalu berangkat sebelum pukul 07.00 pagi. Mau tidak mau, Lin terpaksa bangun dan bersiap-siap. Di dapur, Janes sudah menyiapkan sarapan untuknya.


Rian juga membangunkan Rizha dan membantu untuk menggantikan pakaiannya.


Tak lama kemudian mobil yang akan ditumpangi sudah datang menjemput. Rian mengangkat tas dan membawanya ke mobil tersebut, sementara itu Janes menuntun Rizha diikuti oleh kakaknya di belakang.


Setelah mobil itu hilang di tikungan jalan, Rian masuk ke rumah menyusul Janes yang sudah masuk lebih dulu. Ia mendapati Janes sedang mencuci perabotan bekas sarapan tadi. Rian menarik lengannya membuat Janes kaget karena pekerjaannya belum kelar.


"Sini dulu sayang, kakak sangat rindu, nih!" ajak Rian dengan tergesa-gesa. Ia menggendong tubuh Janes dan membaringkan di atas tempat tidur lalu ia pun ikut berbaring di sampingnya.


Rian merogoh sakunya dan mengambil ponsel lalu memutar sebuah video di depan Janes.


"Lakukan seperti ini nanti! Kamu harus membuat hatiku senang!"

__ADS_1


Keringat dingin mulai mengucur dari tubuh Janes melihat video yang diperlihatkan oleh Rian. Badannya seolah terkunci karena ada hasrat yang menggebu-gebu dan sedang berontak dalam jiwanya.


Rian meletakkan ponselnya di tepi tempat tidur lalu mengamati tubuh Janes yang terbungkus dengan baju tidur yang seksi. Dulu ia sengaja memilihkan baju tersebut karena membayangkan bahwa Janes akan tampak semakin cantik jika memakainya.


"Kakak harap kamu juga punya perasaan yang sama dengan perasaan kakak terhadap kamu. Saya tidak ingin kamu dimiliki oleh pria lain. Jadi hanya saya yang berhak atas tubuhmu," ucap Rian sambil mengelus-elus kulit yang mulus dan bersih itu.


"Ayo peluk Kakak, Sayang!"


Janes patuh. Ia memeluk tubuh Rian yang hanya mengenakanan celana pendek. Rian pun membalas pelukan itu dengan lebih erat sambil memejamkan mata.


"Ayo, lakukan seperti yang kamu lihat tadi di video! Nggak usah ragu Sayang, mumpung kita punya waktu dan hal itu tidak akan berbahaya. Kita akan sama-sama menikmati dan tidak akan terjadi hal yang kamu takutkan. Kakak juga akan bersabar menunggu hingga usiamu matang, lagian kamu juga masih sekolah. Kakak ngerti, Sayang. Jadi kita lakukan hal seperti dalam video itu saja. Aman, kok!" bujuk Rian sambil terus menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang sensitif.


Walau sedikit ragu, Janes mulai melakukan secara perlahan seperti yang ia lihat tadi dalam video. Sentuhan Rian juga sedah membuat nafas Janes sudah tidak beraturan.


"Auuuhhh... auuuhhh...!" desah Rian karena merasakan kenikmatan setelah Janes menuntaskan semua gerakan yang ia perintahkan.


"Terima kasih Sayang, kamu hebat. Lain kali Kakak akan mengajarimu gerakan yang lain!"


Janes tersipu malu karena menyadari dirinya yang sedang telanjang. Rian baru sadar kalau tadi ia belum membalas dengan sempurna pelayanan yang diberikan oleh Janes yang sudah membuatnya mendesah. Tangannya pun merayap ke mana-mana hingga kandas di sebuah tempat tersembunyi. Lama-kelamaan suara desah Janes pun keluar sambil mencengkran bahu Rian dengan keras.


"Bagaimana Sayang, udah puas belum?"


"Udah, Kak,"


Keduanya membersihkan diri dan bersiap-siap untuk berangkat menyusul Lin dan Rizha ke desa Harapan. Sepanjang perjalanan keduanya saling menggoda dengan wajah yang berbinar-biinar.

__ADS_1


Janes sangat senang karena ia merasa bahwa Rian sangat perhatian kepadanya dan sangat menyayanginya lebih dari kasih sayang yang ia tunjukkan kepada istri dan anaknya.


"Kenapa kalian baru tiba?" tanya ibu Erna ketika mereka sudah tiba di sana.


Dari tadi ibu Erna sangat gelisah menunggu mereka karena Lin bilang, tak lama lagi suaminya dan Janes akan tiba. Nyatanya hampir tiga jam selisihnya dengan kedatangan Lin.


"Eh, maaf, Ma, tadi kami terhalang oleh alat berat karena sedang perbaikan jalan. Kami hampir satu stenga jam berada di sana," sahut Rian memberi alasan yang langsung diterima baik oleh ibu mertuanya membuat hati Rian dan Janes lega.


Janes sangat gembira bisa bertemu dengan teman-teman lamanya yang bersekolah di desa itu, baik laki-laki maupun perempuan. Janes bangga mendengar pujian dari teman-temannya. Katanya Janes tambah cantik dan gayanya kekinian.


Menjelang malam, setelah diadakan ibadah persiapan, Janes kebali bergabung dengan teman-temannya. Janes tampak sangat bahagia, hingga sesekali terdengar suara canda tawa.


Tanpa disadari, ada sepasang mata yang sedang mengawasi dari jauh. Ada rasa cemburu menyelinap dalam hatinya melihat Janes yang sedang bersenang-senang bersama teman-temannya.


"Ada apa Mas, kok wajahnya kusut gitu?" tanya Lin mengagetkan suaminya.


"Sepertinya saya masuk angin, perutku melilit," sahut Rian beralasan sedang matanya sesekali melirik Janes yang duduk di sudut ruangan.


"Masuk aja duluan ke dalam rumah, saya masih mau menemani para tamu di sini!" ujar Lin.


Dengan langkah gontai Rian meninggalkan istrinya. Ia ingin mengajak Rizha tapi rupanya ia juga sedang asyik main dengan teman-teman sebayanya.


Hatinya sangat panas oleh api cemburu membuatnya tarik nafas dan menghembuskan dengan kasar.


Ia berbaring di kamar dengan perasaan galau. Muncul dalam benaknya untuk mengumpulkan uang agar bisa membeli sebuah ponsel yang akan diberikan kepada Janes agar bisa menghubunginya seperti saat-saat sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2