
Menjelang sore hari, Bryan baru terjaga dari tidurnya. Kepalanya masih pening dan terasa berat. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi namun otaknya tak mampu berpikir. Yang muncul dalam ingatannya hanya Janes yang singgah tadi di rumahnya lalu memberinya segelas air putih. Selebihnya ia tak ingat lagi.
Walau masih oleng ia tetap memaksa diri untuk bangun karena mendengar suara teriakan ibunya yang memanggil-manggil namanya.
Ia terlebih dahulu masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya lalu turun menemui ibunya.
"Capek yah, hingga tidur sampai sore hari?" tanya ibu Ranti ketika Bryan datang menghampirinya.
"Iya Bu, mungkin terlalu capek tadi hingga kepalaku pening," jawab Bryan sambil memegangi kepalanya yang masih nyut-nyut.
"Kalau begitu, makanlah dulu baru istirahat. Kata ayahmu besok pagi kamu sudah harus berangkat ke luar kota untuk mengikuti tes yang akan dilaksanakan lusa, jadi kamu butuh istirahat yang banyak!"
Bryan menuruti perintah ibunya. Di meja sudah tersedia makanan yang segar-segar dan masih panas. Ibu Ranti sengaja membeli bahan mentah di pasar karena ia ingin memasaknya di rumah. Ikan bandeng bakar lengkap dengan saosnya serta sayur bening membuat Bryan makan dengan lahap.
"Ayah mana,.Bu?"
"Masih di pasar tadi saat Ibu ke sini. Mungkin saat ini ia sudah dalam perjalanan juga menuju rumah,"
Ibu Ranti ikut makan tanpa menunggu suaminya lagi karena ia ngiler melihat anaknya yang makan dengan lahap dan sangat menikmati masakannya.
Usai makan Bryan langsung menuju ke kamarnya untuk mempersiapkan peralatan yang akan dibawa besok. Tak lupa ia mengeluarkan kartu dari ponsel iPhone miliknya dan memasang di ponsel merk Oppo, ponsel lamanya tapi masih bagus. Ia menyimpan ke dalam lemari ponsel iPhone karena tadi ibunya sudah mengingatkan.
Keesokan harinya ia berangkat bersama dengan seorang kenalan ayahnya yang kebetulan punya anak seumuran Bryan dan ia juga akan mengikuti tes di luar kota.
***
Sementara itu Janes sangat gelisah karena mau pulang ke desa Harapan untuk bertemu dengan kedua orang tua dan adik-adiknya sebelum berangkat ke Makassar untuk mencari pekerjaan namun ia tak punya uang sesen pun untuk membayar sewa angkot. Kata Rian, saat ini ia sama sekali tak punya uang padahal itu hanya alasannya karena ia tidak mau jika Janes pergi meninggalkan dirinya.
Malam ini Rian sudah punya sebuah rencana untuk menyelinap lagi ke kamar Janes karena sudah hampir dua minggu ini keduanya tidak pernah lagi menikmati kebersamaan. Rian tidak mau mengganggunya ketika sedang belajar saat menghadapi Ujian Nasional dan ketika ujian selesai, Janes beralasan bahwa dirinya tidak boleh diganggu karena sedang datang bulan, padahal itu juga hanyalah alasan belaka karena mahkotanya masih sakit.
(pintunya jangan dikunci yah, Kakak udah kangen bangat nih!) Rian mengirim pesan kepada Janes.
(Oke, Kak) balas Janes.
__ADS_1
Menjelang tengah malam, Rian turun dari tempat tidurnya dengan sangat hati-hati. Ia melirik ke arah istrinya yang tertidur pulas hingga mulutnya ternganga dan mengeluarkan suara dengkuran. Perlahan ia membuka pintu dan mengendap-endap melewati ruang tengah di mana Iwan dan Hans sudah tertidur pula.
Ia bernafas lega setelah tiba di kamar adik ipar yang sudah dari tadi menunggunya. Rian mengunci pintu dan ikut berbaring di samping Janes yang menutup tubuhnya dengan selimut karena cuaca dingin. Dari sore hingga tengah malam ini hujan tidak pernah berhenti mengguyur desa tempat mereka berada.
"Udah lama menunggu yah?" bisik Rian di telinga Janes membuatnya merasa geli.
"Iya nih, saya udah ngantuk bangat. Kenapa Kakak datangnya lama amat sih?" ucap Janes dan balik bertanya dengan wajah cemberut lalu menyelipkan kepalanya ke dada bidang milik Rian.
"Maaf Sayang, Kakak terlambat datang soalnya Lin lama amat baru tidur, ia main game terus!" kata Rian sambil mengelus kepala Janes dengan mesra lalu memeluk tubuh yang indah itu dengan penuh gairah.
Janes langsung merasa hangat ketika Rian memeluknya dengan erat dan memberikan ciuman secara bertubi-tubi di pipinya.
"Saya sangat rindu, Sayang... Ayo peluk Kakak juga!" pinta Rian dengan suara pelan. Suara hujan yang semakin deras membuat suara mereka tidak kedengaran sampai ke luar.
Angin malam yang berhembus seolah menusuk tulang namun bagi Rian dan Janes suasana demikian justru menambah kehangatan di malam yang sudah semakin larut.
Rian tersenyum ketika tangannya menyingkap selimut yang menutup tubuh kekasihnya. Rupanya Janes sudah mempersiapkan diri sebelumnya. Ia hanya mengenakan dalaman yang sangat tipis sehingga semua lekuk-lekuk tubuhnya tampak sempurna.
Bagaikan singa yang kelaparan, Rian membabi-buta dengan gerakan mulut dan kedua tangan yang tak tentu arah.
"Pelan-pelan dong, Kak!" ucap Janes dengan nafas yang tak beraturan.
"Maaf Sayang, Kakak sangat rindu nih, tolong puaskan saya malam ini!"
Janes merasa ada yang aneh dengan dirinya. Ia tidak merasakan debaran jantungnya seperti yang lalu-lalu ketika Rian mencumbuhinya. Apakah mungkin hal ini terjadi karena ia sudah merasasakan sentuhan pria lain?
Ia mencoba menikmati permainan Rian namun bayangan Bryan-lah yang menari-nari di pelupuk wajahnya sehingga dalam permainannya kali ini ia merasakan sedang bersama-sama dengan Bryan.
Tak satu inci pun dari tubuh janes yang lolos dari incaran Rian hingga satu hal yang selama ini masih dipelihara dengan baik pun menjadi incarannya juga. Ia sudah berani karena tahu bahwa usia adik iparnya ini sudah matang.
Namun baru saja ia memejamkan mata dan ingin merasakan sebuah sensasi yang harapannya akan luar biasa, tiba-tiba ia menarik diri dan mendorong tubuh Janes kasar. Matanya memerah dan berkilat-kilat menahan amarah. Jiwa raga yang penuh gairah kini berubah dan tergantikan dengan tatapan kebencian membuat tubuh Janes gemetar karena takut.
"Katakan sekarang, siapa yang telah merenggut kesucianmu? Dasar ****** kamu! Dengan susah payah saya menjaganya selama ini bahkan menahan diri untuk menunggu waktu yang tepat tapi sekarang kamu malah menipuku!" bentak Rian dengan keras sekeras suara air hujan yang jatuh di atas atap seng.
__ADS_1
Janes menangis sesenggukan karena dibentak oleh Rian. Selama ini ia mengenal Rian sebagai laki-laki penyayang yang perhatian namun malam ini sifat aslinya keluar dan membuatnya ketakutan.
"Ayo ngaku sekarang... kurang ajar!" katanya lagi sambil mengenakan pakaiannya dengan sangat kecewa.
Melihat Janes yang diam saja dan hanya air matanya yang mengalir deras membuat Rian semakin muak. Ia pun keluar dari kamar tersebut dengan sangat gusar.
"Kamu dari mana, Mas?" tanya istrinya yang baru saja keluar dari toilet untuk buang air kecil membuat Rian gugup.
"Oh, eh... saya dari luar. Tadi terbangun oleh suara anjing yang menggonggong," jawabnya dengan jantung berdebar kencang. "Jangan-jangan Lin tahu kalau dirinya dari kamar Janes." katanya dalam hati.
Namun melihat wajah istrinya yang tampak biasa saja bahkan ia telah kembali ke tempat tidur membuat hatinya lega. Awalnya ia ingin menyelesaikan sesuatu yang tertunda dan masih membuat kepalanya sakit namun saat ia mendekati istrinya, hidungnya langsung tersengat dengan bau keringat yang tak sedap. Ia pun mundur dan masuk ke kamar mandi untuk menuntaskan apa yang masih tertahan dengan caranya sendiri. Tak kupa ia memutar kran sehingga air mengalir dengan deras yang menimbulkan suara berisik dan menyamarkan suara desahannya.
Perasaannya sedikit lega setelah melakukan ritual di kamar mandi. Ia keluar lalu berbaring sambil memunggungi istrinya karena tak tahan dengan bau yang berasal dari tubuh gendut itu.
Sebelum tidur ia membuka ponselnya.
(Kenapa Kakak sangat murka kepadaku? Harusnya Kakak sadar bahwa Kakak itu sudah dua kali beristri dan saya ini hanyalah hiburan buat kamu. Buktinya kamu selalu punya alasan ketika saya minta untuk dinikahi. Mengapa kamu terlalu mempermasalahkan keadaan saya? Itu adalah hak saya karena kita belum punya hubungan yang mengikatku. Saya merasa sangat tidak adil jika kamu marah dan membentakku hanya karena saya sudah tidak perawan lagi dan kamu harus ingat, sudah beberapa kali saya menyerahkan mahkota ini kepadamu tapi kamu yang selalu menolak. Salah saya di mana?) chat dari Janes melalui aplikasi WhatsApp.
Rian menghela nafas sebelum membalas chat tersebut. Ia tak habis pikir dengan adik iparnya ini yang disangkahnya masih sangat polos namun ia berani menentang bahkan ia juga sudah berhasil menyelingkuhinya.
Setelah merenung beberapa saat ia kembali membaca pesan dari Janes lalu mulai mengetik.
(Saya sangat kecewa dengan kamu. Tak kusangkah sikapmu yang polos itu kau lakukan hanya untuk mengelabuiku.) Rian mengirim pesan tersebut sebagai balasan.
Tak lama kemudian ponselnya kembali bergetar. Ia segera mengusap layarnya dan membaca pesan yang masuk.
(Terus terang saya sangat tersinggung dan sakit hati dengan bentakan serta kata-kata kasarmu. Besok saya akan angkat kaki dari rumah ini dan tolong jangan halang-halangi saya!)
Kalimat tersebut membuat Rian jadi pusing. Ia lalu mematikan ponselnya karena tidak mau lagi membalas pasan tersebut.
Malam sudah hampir subuh namun Rian belum bisa memenjamkan matanya. Ia sangat penasaran dengan pria yang telah merenggut mahkota adik iparnya. "Seandainya saya tahu siapa laki-laki itu, akan kuhajar dia habis-habisan!" gerutunya dalam hati.
Suara azan subuh berkumandang memaksa dirinya untuk bangkit dari pembaringan meski kepalanya sangat berat karena semalam tak sedetik pun ia tertidur. Rian ingin menggunakan kesempatan saat ini untuk berbicara dengan Janes jangan sampai ia nekat untuk meninggalkan rumah seperti yang ia katakan dalam pesannya semalam.
__ADS_1
Ketika Rian keluar dari kamar, ia melihat Janes sedang sibuk di dapur seperti biasanya. Ia menghampirinya lalu menyapa tapi Janes tidak mau menyahut. Sepertinya ia sangat marah, terlihat dari wajahnya yang cemberut dan tak bersahabat.
Setelah makanan siap di meja, Janes buru-buru pergi meninggalkan Rian sendirian.