Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
32. Gundah-gulana


__ADS_3

Kini Bryan bisa bernafas dengan lega setelah ibunya kembali ke pasar. Ia menutup dan mengunci pintu dan segera berlari ke lantai dua. Dengan nafas tersengal-sengal ia membuka pintu kamar. Matanya langsung tertuju ke arah lemari tempat Janes bersembunyi. Tampak pintu lemari itu sedikit terbuka. Rupanya Janes sudah tidak tahan dengan rasa panas berada dalam ruangan sempit dan pengap sehingga ia membuka sedikit pintu lemari itu agar ia bisa menghirup udara.


"Hey, ayo keluar, udah aman Sayang!" seru Bryan membuat Janes bisa bernafas dengan lega.


Butir-butir keringat menetes dari tubuh janes yang polos tanpa pakaian. Dapat dibayangkan seandainya tadi ia berpakain lalu bersembunyi di lemari, mungkin saat ini pakaiannya sudah basah kuyup oleh keringat.


"Aduhhh, gerah bangat!" katanya sambil menegakkan badannya karena capek duduk tertelungkup selama kurang lebih tiga puluh menit.


"Maaf Sayang, ibuku tadi yang datang!" ucap Bryan karena merasa bersalah. Ia tidak pernah menduga sebelumnya bahwa akan ada gangguan.


"Nggak apa-apa Sayang," kata Janes lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Ia mengguyur tubuhnya karena tidak tahan dengan rasa panas dan otaknya pun selalu berpikir yang aneh-aneh. Ia berharap pikiran ini akan hilang setelah mengguyur tubuhnya dengan air yang segar


Seketika itu juga ia merasa segar. Ia pun keluar dan mencari pakaiannya lalu mengenakan kembali.


"Saya mau pulang sekarang!"


Bryan yang sedang baring-baring dengan santai di tempat tidur sangat heran mendengar ucapan Janes yang sudah mau pulang padahal jam baru menunjukkan pukul 11.00 WIB.


"Kenapa buru-buru amat?"


"Saya takut jangan sampai orang tuamu memergoki kita di sini,"


"Nggak usah takut, mereka tidak akan pulang sebelum malam hari!"


Bryan bangkit dan memegang tangan Janes dengan erat. Ia masih mau bersenang-senang dengan perempuan yang sangat memikat hatinya ini.


"Kamu udah segar kembali Sayang," rayu Bryan sambil menghadapkan wajah Janes ke arahnya dengan jarak yang sangat dekat.


Janes membuka mulutnya dan Bryan tidak mau membuang-buang waktu dan kesempatan lagi. Segera ia mungulum bibir yang ranum itu dengan lahap sementara tangannya bergerilya ke mana-mana hingga nafas keduanya saling memburu.


"Kalau sudah lulus nanti masuk di kepolisian, saya akan langsung melamarmu!" kata Bryan.


"Yang benar?" tanya Janes dengan wajah berbinar.


"Iya Sayang, saya udah nggak sabar ingin menikmati semua ini tanpa ada rasa takut," sahut Bryan dengan pandangan mata yang tidak lepas dari tubuh Janes yang menggiurkan.


"Saya khawatir kalau terus menunda-nunda, nanti ada orang lain yang menyambarnya," katanya lagi dengan serius.

__ADS_1


Janes yang semula merasa senang termenung untuk mencerna setiap kalimat yang disampaikan oleh Bryan, namun bayangan Rian mengganggu pikirannya. Apa yang harus dilakukan terhadap kakak iparnya?


Akhirnya Bryan melepaskan Janes untuk pulang ke rumahnya karena sudah tengah hari. Takutnya jika kakaknya curiga dan datang ke sekolah untuk mencari keberadaan adiknya.


Janes pergi dengan perasaan gundah-gulana. Ia juga sedikit kecewa karena Bryan tidak mau melakukan apa yang sebenarnya ia inginkan.


***


Pak Edi dan ibu Ranti tiba di rumah sebelum magrib. Hal ini membuat Bryan heran tapi ia tidak mau bertanya lebih jauh lagi. Bukankah hal ini yang sangat ia harapkan?


Kedua orang tuanya pulang lebih awal karena selain tadi siang ibunya sudah berjanji kepada anaknya mereka juga sudah yakin bahwa biaya yang akan digunakan oleh anaknya nanti untuk mendaftar sebagai polisi sudah lebih dari cukup.


"Bagaimana Nak, malam ini kita mau makan di rumah atau kita makan di luar?" tanya ibu Ranti ketika duduk di ruang tengah melepas lelah.


"Kita makan di rumah aja, lagian makanan yang Ibu bawa tadi masih tersimpan di lemari, nanti mubazir kalau nggak di makan," sahut Bryan membuat ibunya tersenyum.


Ibu Ranti senang mendengar jawaban dari anaknya yang tahu untuk hidup tidak boros.


"Bagaimana ujiannya kemarin Nak, apa bisa dijawab dengan baik?" tanya pak Edi yang datang bergabung. Ia baru selesai mandi.


"Iya, Ayah, siapa dulu dong!" sahut Bryan dengan bangga.


"Ternyata enak juga yah bisa bersantai seperti ini!" ujar pak Edi sambil menyeruput kopinya.


"Ya, iya-lah, Ayah dan Ibu selalunya sibuk melulu bahkan boleh dikata nggak pernah ada waktu buat Bryan. Tahu nggak, saya itu selalu kesepian di rumah loh!" seru Bryan mengeluarkan unek-unek yang selama ini menganjal perasannya.


"Maafkan kami Nak, semua yang kami lakukan untuk masa depanmu dan mulai sekarang kami akan mengatur waktu dengan baik sehingga rumah kita ini pernah kosong. Biaya yang kamu akan gunakan juga sudah cukup dan saatnya kami sudah bisa bersantai. Mungkin kami akan tetap menjual di pasar tapi tidak seperti dulu lagi yang menjual dari pagi sampai malam," tutur ibu Ranti membuat mata Bryan berkaca-kaca.


Selama ini ia selalu menyalahkan kedua orang tuanya yang seolah tidak pernah peduli dengannya. Sekarang ia tahu bahwa sebenarnya kedua orang tuanya itu sangat menyayanginya.


"Maafin saya!" ucap Bryan dengan sedih.


"Yah udah, Ayah dan Ibu paham kok, dengan perasaanmu,"


Mereka pun berpelukan. Kebahagiaan yang dialami oleh Bryan tak terkatakan. Ia bersenandung riang sambil membantu ibunya menyiapkan makan malam.


Setelah semuanya sudah siap, pak Edi membaca doa lalu mereka makan dengan lahap.

__ADS_1


"Ayah harap kamu tetap belajar dan mempersiapkan diri untuk mengikuti tes sehingga bisa dinyatakan lulus dengan nilai yang bagus!" kata pak Edi ketika mereka sudah duduk di ruang tengah sambil nonton TV.


"Iya Nak, jangan dulu pacaran biar kamu hanya fokus dulu untuk belajar!" sambung ibunya pula.


"Iya Pak, Bu, tapi bagaimana kalau Bryan sudah terlanjur punya pacar?" tanya Bryan membuat kedua orang tuanya saling berpandangan. Saking sibuknya selama ini sehingga keduanya tidak pernah tahu bahwa anak tunggalnya sudah kenal cinta bahkan saat ini sudah punya pacar.


"Oh, ya, sejak kapan anak gantengnya Ibu ini punya pacar? Kenalin dong sama Ibu!" seru ibu Ranti sambil tersenyum.


"Nggak ada yang salah Nak, pacaran boleh-boleh aja tapi harus tahu batasnya jangan sampai menyesal di kemudian hari!" ujar pak Edi pula.


Bryan mencerna kata-kata ayah dan ibunya. Tadi siang ia hampir saja terlanjur melakukan hal buruk karena ingin membuktikan rasa penasarannya. Ia berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh ayahnya itu benar dan syukurlah karena semuanya masih baik-baik saja.


"Siapa nama pacar kamu, Nak?" tanya ibunya yang masih penasaran.


"Rahasia dong Bu, nanti-lah kalau ada waktu baru saya kenalin sama Ayah dan Ibu. Bukannya Ayah dan Ibu tadi bilang, saya harus fokus dulu untuk belajar?"


"Iya benar sekali, kamu harus fokus belajar agar kelak bisa menjadi pelindung bagi kami!"


"Siap, Ayah!"


Malam itu Bryan tertidur dengan nyenyak karena ia merasa sangat berharga di hadapan kedua orang tuanya. Tak lupa ia minta pengampunan kepada Tuhan atas kekeliruan yang ia lakukan selama ini dan juga ia bersyukur atas kebahagiaan yang dialami saat ini.


Kini ia berjanji untuk melakukan apa yang diharapkan oleh kedua orang tuanya dan mulai membuang pikiran-pikiran negatif yang sudah sempat menguasai dirinya dan hampir saja menghancurkan hidup dan masa depannya.


Pagi hari ia terbangun seperti biasanya. Ia menuruni tangga dengan heran mendengar suara sapu yang lidi yang beradu dengan dinding. Biasanya ia bangun, suasana rumah sunyi sepi tapi kali ini suasananya berbeda. Tampak ibunya sedang membersihkan, peluh sudah membasahi keningnya.


"Selamat pagi, Bu, tumben, Ibu nggak ke pasar,"


"Selamat pagi juga, Nak, hari ini Ibu istirahat, ayah sudah berangkat tadi subuh,"


Tanpa diperintah, Bryan segera membantu ibunya untuk menyapu ruangan yang debunya sudah tebal.


Setelah beberapa waktu bekerja, perut ibu Ranti sudah minta diisi karena tadi ia belum sempat sarapan lantaran masih menunggu Bryan yang belum bangun.


"Ayo kita sarapan dulu, Nak!" ajak ibunya.


Baru sejam mereka membersihkan tapi hasilnya sudah lumayan. Sudah ada perubahan dibanding sebelumnya.

__ADS_1


Bryan meletakkan sapu di sudut ruangan lalu mengikuti ibunya ke dapur. Makanan sudah tersaji di meja dengan lengkap. Ibu Ranti sudah terbiasa bangun ketika hari masih malam dan ia langsung menyiapkan makanan untuk seisi keluarganya. Ia adalah perempuan pekerja keras dan itu adalah salah satu teladan yang sangat baik bagi anak semata wayangnya.


__ADS_2