Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
16. Tinggal di Pondok


__ADS_3

Pernikahan antara Rian dan Lin berlangsung dengan baik walaupun acaranya sangat sederhana. Raka tidak bisa hadir karena masalah pekerjaan tapi ia tetap turut bertanggung jawab soal dana yang digunakan untuk acara tersebut.


Raka mengirim uang dari Morowali sehingga kedua orang tuanya tidak kewalahan untuk membiayai pernikahan Lin.


Setelah cukup tiga hari acara pernikahan tersebut, Rian segera memboyong istrinya ke rumah orang tuanya karena ia sangat tetsiksa jika harus menginap berlama-lama di rumah sang mertua yang punya banyak anak.


Kamar tidur hanya dua buah dan mereka sangat gaduh. Selama tiga hari berada di sana, Rian tidak pernah tidur dengan nyenyak karena mau tidak mau, ia harus mengalah untuk tidur di ruang tamu karena kamar yang satu oleh adik perempuan Lin yang bernama Janes dan dua adiknya yang lain.


Lin menurut saja dengan apa kemauan Rian yang sudah berstatus sebagai suaminya. Ia juga kurang nyaman tinggal di desanya karena para warga sering mempergunjingkan dirinya yang menikah dengan seorang duda.


Tiba di rumah kediaman orang tuanya, Lin masih malu-malu tapi Rian selalu menguatkan hatinya.


Ibu Nani dan pak Asep menyambut kedatangan mereka dengan senang. Rian punya dua adik perempuan tapi keduanya sudah berangkat kembali ke tempat kerja usai menghadiri pesta pernikahan kakaknya sehingga kedua orang tuanya merasa kesepian karena hanya berdua saja di rumah.


Rian merasa sangat lega dan senang karena kamarnya sudah ditata dengan rapi. Rupanya kedua adiknya sudah mempersiapkan semua itu sebelum pulang ke tempat kerja.


Usai menikmati teh hangat dan pisang goreng yang disuguhkan oleh mertuanya, Lin diajak oleh Rian untuk beristirahat di kamar.


"Malam nanti kita sudah bisa tertidur dengan nyenyak di kamar ini," serunya dengan bangga.


"Maafkan kami Kak... eh... Mas nggak bisa tidur nyenyak di rumah, maklumlah keadaan kami sudah seperti itu!" ucap Lin karena merasa tersindir dengan ucapan suaminya barusan.

__ADS_1


..."Nggak apa-apa sayang, Mas sangat paham dan mulai saat ini kita akan tinggal di rumah ini untuk menanti bayi kita lahir sambil memikirkan bagaimana rencana kita selanjutnya karena tidak mungkin kita akan terus-terusan numpang sama orang tua," kata Rian sambil berbaring di tempat tidur. Walau hanya beralaskan kasur tipis tapi ia sangat senang bisa berada di kamarnya saat ini....


...Lin ikut berbaring dengan segala macam pikiran yang sedang menghantuinya. Cerita-cerita dari orang-orang yang pernah ia dengar tentang bagaimana sulitnya hidup numpang di rumah mertua kembali terngiang-ngiang. Ingin tinggal sendiri, tidak mungkin secepat ini ia mendesak suaminya karena ia tahu bahwa saat ini Rian tidak punya lagi uang. Semua sudah digunakan untuk membiayai pesta pernikahan yang baru saja digelar....


Hari demi hari, bulan demi bulan telah berlalu dan perut Lin juga sudah semakin besar namun ia sering manangis di kamar karena perlakuan ibu mertuanya.


Lin selalu bangun kesiangan karena suaminya berangkat kerja pagi-pagi sekali sehingga tidak ada yang membangunkan dia. Makanan sudah siap di meja ketika ia bangun tetapi ia tidak pernah merasa malu untuk itu.


Suatu hari ketika Rian sudah berangkat kerja, Lin ketiduran hingga pukul 09. 00 pagi. Sementara pagi itu ibu mertuanya hanya membuat sarapan lalu berangkat ke sawah. Tengah hari ia baru kembali ke rumah karena ia mencabuti rumput liar yang tumbuh di sela-sela tanaman padi. Tiba di rumah, tidak ada makanan yang bisa di makan sementara perutnya sudah keroncongan. Saat itu ibu Nani sangat marah.


Awalnya ibu Nani sangat menyayanginya tapi seiring dengan berjalannya waktu kasih sayang itu mulai luntur dan tergantikan dengan rasa benci. Semuanya berawal dari sikap Lin yang juga berubah menjadi pemalas membuat ibu mertuanya tidak menyukainya.


Lin tidak pernah mengaduhkan perihal sikap ibu mertua kepada suaminya karena takut jangan sampai masalah semakin besar.


Waktunya untuk melahirkan bagi Lin sudah semakin dekat. Ia memberanikan diri untuk berbicara kepada suaminya.


"Mas, bagimana kalau kita tinggal di pondok saja?" ucapnya dengan hati yang tak karuan. Takut mendapat respon yang tidak baik dari suaminya.


"Maksud kamu?" Rian balik bertanya"


"Begini Mas, tidak lama lagi saya mau bersalin dan saya khawatir jika keberadaan kita di sini malah semakin merepotkan mama dan papa," sahut Lin dengan hati-hati.

__ADS_1


Rian merenungi ucapan istrinya tapi pondok yang dimaksud oleh Lin itu berukuran sangat kecil, tidak layak dan terletak di dekat sawah milik orang tuanya. Pondok itu sering digunakan untuk berteduh pada saat musim kerja sawah.


"Bagaimana Mas? Sambil kita berusaha untuk membangun rumah," kata Lin lagi karena melihat Rian termenung.


"Boleh sayang, yang penting kamu senang," sahut Rian membuat Lin melonjak kegirangan. Ia memeluk erat suaminya.


"Terima kasih sayang atas pengertiannya!" Lin mencium pipi suaminya dan tanpa terasa air matanya mengalir karena rasa haru.


Beberapa hari kemudian Rian pergi ke sawah untuk melihat keadaan pondok yang akan mereka tinggali. Ia mulai membersihkan dan memperbaiki atapnya yang sudah bocor. Saat melakukan pembenahan, ia memikirkan sikap istrinya yang bersemangat sejak keinginannya untuk tinggal sendiri diiyakan.


Selama ini Lin tidak pernah mengeluh dan tampaknya ia baik-baik saja membuat Rian bertanya-tanya, apa kira-kira yang membuat istrinya nekat untuk pindah?


Besoknya mereka pamit kepada orang tuanya. Pak Asep merasa keberatan sedangkan ibu Nani tampak biasa saja.


"Pondok itu tidak layak untuk menjadi tempat tinggal kalian dan juga bagaimana tanggapan warga desa nantinya ketika tahu bahwa kalian tinggal di pondok sementara rumah kita ini kosong," kata pak Asep dengan sedih.


"Nggak apa-apa Pak, kami hanya mau belajar mandiri," sahut Rian meyakinkan.


"Biarin aja Pak, supaya mereka tahu bagaimana sulitnya kehidupan saat ini, kita tidak bisa hidup kalau hanya bermalas-malasan," ucap ibu Nani dengan ketus. Ia sengaja menyinggung Lin yang dianggap terlalu malas.


Akhirnya pak Asep mengalah. Hari itu juga Rian dan Lin mengangkut barang seadanya saja ke pondok. Karena merasa iba, pak Asep ikut membantu anaknya sedangkan ibu Nani sengaja menyibukkan diri dengan membersihkan tanaman bunganya. Ibu Nani sangat rajin merawat bunga-bunganya karena ia bisa mendapatkan uang dari hasil penjualan bunga.

__ADS_1


Itulah sebabnya ia tidak menyukai Lin yang hanya berbaring sepanjang hari pada suaminya sedang tidak berada di rumah. Awalnya ibu Nani mengerti bahwa mungkin aja Lin jadi malas karena bawaan kehamilannya tapi lama-kelamaan sikap malasnya makin menjadi-jadi. Ia bahkan tidak pernah lagi melakukan pekerjaan di dapur membuat ibu Nani semakin membencinya.


__ADS_2