
Menjelang sore hari Bryan bangun dan dan ke dapur untuk mengambil segelas air putih karena merasa haus.
Ia mendapati Lin yang sedang sibuk menggoreng pisang di dapur dan tidak menyadari kehadiran Bryan.
"Tumben semangat bangat!" suara Bryan membuat Lin bungkam dari senandung yang sedang dilantunkan dan berhenti berjoget-joget karena malu.
"Bapak udah bangun?" tanyanya dengan gugup.
Bryan mendekati dan mengambil alih pekerjaan Lin lalu menyuruh Lin untuk mengerjakan yang lain.
Lin menyeduh kopi buat Bryan lalu keduanya duduk di teras samping rumah untuk menikmati pisang goreng. Sesekali Lin melirik ke arah Bryan yang berada di depannya.
"Bagaimana dengan pertanyaan saya tadi, apakah kamu sudah siap menjawabnya sekarang? Jangan buat saya penasaran dong!"
"Apakah Bapak tidak akan menyesal nantinya jika punya seorang kekasih yang sudah janda dan punya anak?"
"Saya ini mencintaimu dengan tulus dan akan menerima kamu apa adanya. Sikapmu yang mau berubah membuatku sangat terkesan,"
"Terima kasih Pak, atas perhatiannya!"
Sejak saat itu Bryan dan Lin menjalin hubungan erat. Lin tampak semakin segar dan bersemangat karena merasa hidupnya berarti kembali. Demikian juga dengan Bryan, ia begitu semangat melaksanakan tugas sebagai abdi negara.
Ia juga sudah pindah ke rumah kontrakan karena menghindari berbagai hal yang bisa saja terjadi jika tinggal serumah dengan sang kekasih.
Hari ini Lin datang ke rumah kontrakan Bryan untuk membawa makanan atas perintah majikannya. Ia datang dengan mengendarai motor matic milik ibu Yanti. Saat tiba, Bryan sedang duduk santai menikmati acara TV. Ia sangat senang atas kedatangan Lin, penyemangat hidupnya.
Tanpa kata ia menyambut kekasihnya dengan pelukan mesra dan mendaratkan ciuman di kening dengan lembut.
"Saya sangat merindukanmu, Sayang!" ucap Bryan lalu menggendong Lin dan mendudukkan di sofa. Ia mulai mengelus dan mencium pipi yang mulus hingga bibir yang tipis tidak lepas juga dari incarannya.
"Ihh Bapak... saya nggak bisa bernafas, nih!"
"Tenanglah Sayang dan nikmati saja alurnya! Saya udah nggak sabar nih dan minggu depan keluargaku akan segera datang ke rumah orang tuamu untuk melamarmu,"
__ADS_1
"Apakah orang tuamu sudah tahu kalau saya ini seorang janda?"
"Nggak usah dipersoalkan, Sayang... semuanya akan baik-baik saja!"
Hampir satu jam keduanya bercumbuh dengan mesra karena saling merindukan, sudah dua minggu tidak pernah bertemu.
***
Sementata itu di rumah kost yang sangat sempit sedang terjadi pertengkaran hebat antar Rian dan Janes. Janes sangat marah karena Rian hanya berbaring sambil main game dan tidak peduli dengan apa yang hendak dimakan. Janes sudah tidak kuat lagi bekerja di warung karena perutnya sudah semakin besar.
Hal inilah yang membuat ia bingung karena mau melahirkan tapi tak punya biaya.
"Mas, kalau kamu nggak mau kerja, lebih baik saya pulang ke desa aja!" kata Janes dengan wajah masam.
"Kenapa kamu cerewet amat, sih? Ganggu orang aja!" bentak Rian membuat Janes semakin sedih.
Masih banyak kata-kata kasar yang keluar dan keduanya bersilat lidah hingga sebuah tamparan keras mendarat di pipi Janes yang meninggalkan bekas jari berwarna merah.
Benar saja, ketika tiba di rumah orang tuanya, ia dicaci-maki oleh kedua orang tuanya disaksikan oleh banyak warga yang tahu permasalahan yang terjadi dalam keluarga tersebut.
Janes berlutut dan meminta maaf di hadapan kedua orang tuanya atas segala kesalahan yang sudah diperbuatnya.
"Tidak ada gunanya permintaan maaf itu, kamu sudah mencoreng nama baik keluarga kita!" seru pak Ali dengan wajah merah padam.
"Kamu itu tidak punya malu, berani-beraninya datang ke rumah ini dalam keadaan bunting lagi, pasti anak itu adalah anak Rian yang kamu telah rebut dari kakakmu sendiri!" teriak ibu Erna pula dengan emosi yang meledak-ledak.
Mendengar suara ribut-ribut di luar rumah, Rizha muncul di pintu dengan wajahnya yang polos. Ia langsung memeluk Janes dan membantunya untuk berdiri dan menuntunnya untuk dududk di bangku yang ada di situ.
Pak Ali dan ibu Erna masih mengeluarkan ucapan-ucapan yang kasar dan menumpahkan segala kemarahannya di hadapan Janes yang menunduk dengan wajah bersimbah air mata.
"Oma dan Opa! Sudah dong, Tante Janes lagi capek nih, dia butuh istirahat!" ujar Rizha dengan tulus membuat oma dan opanya saling berpandangan.
"Ayo Tante, kita ke dalam untuk istirahat!" ajak Rizha sambil menarik tangan Janes.
__ADS_1
Walaupun Janes tahu bahwa orang tuanya sangat marah tapi ia sudah menyiapkan hati dan mentalnya untuk menerima perlakuan apa pun dari mereka yang terpenting adalah ia sudah bisa berada di rumah untuk menanti kelahiran bayinya.
***
Sementara itu Rian baru menyadari bahwa Janes sudah benar-benar pergi meninggalkan dirinya ketika ia bangun dan hendak makan tapi tak ada sesuatu yang tersedia.
Ia pun keluar dan melajukan motornya dengan kencang hingga menabrak pohon besar di tikungan jalan. Ia pingsan dan warga yang melihatnya langsung membawa ke rumah sakit terdekat.
Setelah sadar, ia membuka mata dan melihat dinding yang serba putih. Ia berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya.
Ia memeriksa keadaan tubuhnya setelah tahu bahwa telah terjadi kecelakaan dan alangkah kagetnya ketika ia berusaha menggerakkan kedua kakinya dan kaki sebelah kanan sama sekali tidak bisa digerakkan. Pelan-pelan ia meraba kakinya dan hatinya lega karena kaki itu masih ada tapi tidak punya rasa.
"Kaki saya kenapa, Sus?" tanyanya kepada suster yang baru masuk ke ruangannya.
"Maaf, kami sudah berusaha melakukan yang terbaik tapi sudah itulah kemampuan kami. Kaki anda patah dan butuh proses yang lama untuk bisa sembuh!" sahut suster membuat Rian berteriak histeris.
***
Pak Asep dan ibu Nani mendatangi rumah sakit tempat anaknya dirawat untuk menjemputnya. Mereka sangat sedih melihat kondisi anaknya yang tak berdaya karena harus berjalan dengan bantuan tongkat.
Tiba di desa ia banyak mendapat cibiran dari warga karena tahu apa yang telah terjadi dalam rumah tangganya.
"Mudah-mudahan dia insaf setelah mengalami kecelakaan!" ujar salah seorang warga.
"Karma itu tetap berlaku Bu!" seru yang lain.
Mereka pasrah mendengar ucapan-ucapan yang menyindir karena itu adalah kenyataan. Sekarang Rian hanya bisa gigit jari apalagi setelah ia mendapat kabar bahwa Janes sudah tidak sudi lagi untuk kembali kepadanya.
Biaya operasi yang dibutuhkan oleh Rian sangat banyak sehingga kedua orang tuanya terpaksa menjual rumah serta pekarangan milik Rian kepada pak Edi dengan harga dua ratus juta rupiah bayar dua kali selama setahun.
Pak Edi dan ibu Ranti senang membeli lokasi tersebut karena selain murah, lokasi itu sangat strategis untuk membangun sebuah usaha bisnis.
Sebulan kemudian kedua orang tua Rian mengantar anaknya untuk dioperasi dan memang ada perubahan tapi tetap saja harus dibantu dengan tongkat untuk bisa berjalan.
__ADS_1