Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
29. Obat Perangsang


__ADS_3

Janes telah mengikuti Ujian Nasional dengan baik dan hari ini merupakan hari terakhir pelaksanaan ujian tersebut. Bryan mengajaknya jalan-jalan ke sebuah tempat untuk merayakan hari bahagia setelah kurang lebih satu minggu bergulat dengan berbagai macam bidang study yang membuat otak jadi panas.


"Ayolah, kamu nggak akan dicari orang di rumahmu soalanya ini masih pagi loh!" ajak Bryan dengan penuh harap. Hari ini mereka pulang lebih pagi lagi dibanding dengan hari-hari sebelumnya karena tadi tinggal menyelesaikan satu mata pelajaran.


Janes merogoh ponsel yang ada di saku roknya dan melirik jam yang ada pada layar ponsel tersebut. Betul juga, masih pagi karena jam baru menunjukkan pukul 09.00 WIB.


Bryan dan Janes menyusuri jalan raya sambil bercerita dengan riang. sesekali terdengar suara tawa yang riang hingga tak terasa keduanya tiba di rumah Bryan.


"Ayo, masuk dulu!" ajak Bryan. Ia beralasan singgah di rumahnya sebelum pergi ke suatu tempat untuk bersenang-senang.


Mata Janes terbelalak ketika kakinya melangkah masuk ke dalam rumah Bryan. Rumah itu sangat besar dan megah. Terdiri atas dua lantai, namun suasana di rumah tersebut sangat sepi. Tak tampak seorang pun membuat Janes bertanya-tanya dalam hati. Kemana gerangan semua penghuni rumah yang sebesar ini?


Janes memperhatikan sekeliling, ruangan sangat berantakan dan kotor. Sangat disayangkan, rumah sebagus ini tapi tidak terawat dengan baik.


Bryan mengajak Janes naik ke lantai dua.


"Hey, kenapa bengong?" seru Bryan mengagetkan Janes yang masih bingung.


"Kok, nggak ada siapa-siapa di sini? Janes balik bertanya.


"Yahhh... beginilah keadaannya, setiap hari orang tuaku sibuk dengan bisnisnya dan nanti ia tiba di rumah kalau sudah malam," sahut Bryan dengan mimik wajah sedih.


Pak Edi dan ibu Ranti, orang tua Bryan adalah pebisnis. mereka menjual di pasar setiap hari. Sebelum jam enam pagi keduanya sudah berangkat ke pasar untuk menjual dan pulang rata-rata di atas pukul 22. 00 WIB. Hal ini membuat Bryan selalu kesepian di rumah karena jarang berkomunikasi dengan orang tuanya. Ketika ia bangun pagi, kedua orang tuanya sudah pergi dan saat orang tuanya pulang dari pasar, ia sudah tertidur di kamarnya.


Masalah uang, Bryan tidak pernah berkekurangan karena semua sudah disiapkan oleh kedua orang tuanya tapi soal kasih sayang dan perhatian, ia sama sekali tidak pernah menikmatinya.


Bryan adalah anak tunggal. Pernah ibunya melahirkan seorang adik bagi Bryan tapi bayi itu meninggal pada usia tiga karena jantungnya lemah. Sejak saat itu ibu Ranti trauma untuk hamil lagi.


Kini Janes sudah mengerti, mengapa rumah megah itu tidak terawat. Ia pun berjalan mengikuti Bryan naik ke atas lantai dua. Di sana terdapat dua buah kamar yang berukuran besar. Sebelah kanan adalah kamar pribadi Bryan dan yang sebelah kiri masih kosong tak berpenghuni.


"Ayo masuk!" Bryan mengajak Janes masuk ke kamarnya.


"Nggak ah, saya di sini aja," sahut Janes sambil duduk di kursi yang ada di ruangan terbuka itu.


Bryan langsung mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian santai lalu keluar menghampiri Janes.


"Katanya mau pergi refresing tapi kok, pakai baju gituan?" sanggah Janes melihat Bryan yang tampak sangat santai.


"Sebentar aja kita jalan-jalan, lagian di luar cuaca panas bangat. Mending kita bersantai aja dulu di sini sambil makan-makan," ujar Bryan dengan santai lalu duduk di samping Janes.

__ADS_1


Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Bryan beranjak dari duduknya karena ia menemukan suatu ide yang cemerlang.


"Tunggu di sini sebentar yah, saya mau turun ambil minuman di lantai bawah!"


Janes mengngguk cepat karena kebetulan kerongkongannya sudah kering dan ia sangat haus.


Bryan menyiapkan dua buah gelas lalu mengisinya dengan minuman yang bersoda. Satu gelas ia bubuhi dengan obat perangsang yang sudah lama ia simpan dengan rapi di suatu tempat tersembunyi. Rupanya ia sudah tidak sabar untuk menunggu jawaban dari janes atas pertanyaannya beberapa bulan yang lalu dan sampai saat ini belum dijawab juga. Janes hanya selalu memberi harapan palsu kepadanya membuatnya nekat untuk berbuat sesuatu sebelum mereka benar-benar berpisah karena ia sudah dengar bahwa Janes tidak akan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi karena mentok di masalah biaya.


Setelah semuanya sudah siap, ia pun tersenyum lalu membuka lemari untuk mengambil aneka camilan yang selalu disiapkan oleh ibunya. Lemari ini tidak pernah kosong. Ibunya selalu menyiapkan camilan untuknya dan terkadang Bryan membagikan kepada anak-anak kompleks yang sering main bola di samping rumahnya.


"Kok lama bangat, sih?" tanya Janes yang sudah mulai bosan menunggu karena Bryan cukup lama mengambil minuman di lantai bawah.


"Hee, lama ya?" serunya dengan senyum tipis.


Janes pikir, Bryan perginya lama karena keluar untuk membeli aneka camilan yang dia bawah dan sudah diletakkan di meja.


"Ayo, di nikmati, jangan diliatin aja dong!" kata Bryan sambil meneguk minumannya.


Janes pun meraih gelas di depannya dan menghabiskan hampir setengah dari gelas tersebut karena ia sangat haus lalu mulai memilih camilan yang ia sukai.


"Kamu udah pernah pacaran, nggak?" tanya Brian dengan serius sambil mengunya kerupuk kentang kesukaannya.


"Kalau belum, bagaimana kalau kita pacaran aja?" Saya juga mau merasakan bagaimana rasanya punya pacar, bagaimana rasanya ketika berpelukan dan bagaimana rasanya ketika berciuman soalnya sering liat di sinetron-sinetron,"


"Ihhh, kamu...!"


"Wajar dong, umur kita udah matang loh, buat pacaran! Nggak ada yang salah kalau kita coba!"


Keduanya terus bercengkrama hingga terlihat Janes sudah mulai gelisah membuat Bryan tersenyum dalam hati. Obat perangsanganya sudah mulai bereaksi.


"Panas bangat yah, saya gerah bangat nih," ucap Janes sambil membuka dua buah kancing baju di depannya.


Mata Bryan terbelalak melihat sesuatu yang menyembul dengan ukuran besar di balik seragam sekolah yang terbuka sedikit. Selama ini ia belum pernah melihat secara langsung benda seperti itu. Ia hanya melihatnya di You Tube. Kini dadanya berdebar dengan kencang. "Sangat berbeda ketika melihat sacara langsung dibanding dengan hanya nonton video." lirihnya dalam hati.


"Kita pacaran ,yuk!" ajak Janes dengan lirikan mata yang sangat menggoda. Gairah dalam tubuhnya sudah meletup-letup. Ia pun kembali meneguk sisa minumannya hingga tandas


"Yang benar? Kamu mau jadi pacarku? Kamu menerima cintaku?" tanya Bryan secara beruntun.


"Ayo peluk dan cium saya! Bukankah kamu mau ngerasain semuanya?" pinta Janes dengan suara yang dibuat terdengar manja.

__ADS_1


Bryan menghampirinya dengan tubuh yang gemetar. Ia hanya bermodalkan apa yang pernah dilihatnya di video. Wajahnya sampai memerah ketika semakin dekat dengan wajah Janes yang sudah pasrah.


Melihat Bryan yang sangat kaku itu membuat Janes meraih lehernya karena sudah tidak sabar. Ia mencium bibir Bryan dan ********** dengan nikmat hingga Bryan kesulitan bernafas.


Setelah itu Bryan mulai mengingat-ingat adegan pacaran yang sering ia tonton di Yo Tube lalu mempraktekkan ke tubuh Janes yang sudah menunggu dengan pasrah.


"Bagaimana Sayang, enak 'kan?" serunya dengan senang.


"Iya, Sayang, ayo pegang yang lain lagi!" ucap Janes membuat Bryan semakin merasa tertantang.


Bryan menggendong tubuh Janes yang sudah setengah telanjang dan membawanya ke kamar lalu mendudukkan dia di tepi ranjang.


Awalnya Janes masih menahan diri karena malu dan takut jika ketahuan sama Bryan bahwa ia sudah jauh lebih berpengalaman dalam soal saling sentuh dan raba-meraba kecuali satu hal yang masih menjadi rahasia dan tanda tanya baginya. Selama ini kakak iparnya belum berani melakukan walaupun waktu dan kesempatan sangat mendukung karena takut dengan risiko besar.


Gerakan Janes yang semakin lincah penuh gairah membuat Bryan hampir kewalahan untuk mengimbanginya. "Sepertinya gadis ini lebih berpengalaman dari pada diriku. Apa mungkin ia sudah pernah melakukannya dengan laki-laki lain?" kata Bryan dalam hatinya. Namun ia kembali menghibur dirinya bahwa mungkin Janes seagresif begini karena pengaruh obat perangsang yang ia taruh di minumannya tadi.


"Kamu hebat Sayang, seperti perempuan yang pernah saya lihat di video! Apakah kamu juga pernah nonton yang video gituan?" tanya Bryan sambil menikmati sensasi yang luar biasa karena elusan jari-jari lentik Janes yang terus bergerak halus di bagian tubuhnya yang sensitif.


Janes tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Bryan tapi ia malah meraih tangannya dan menuntunnya ke lembah yang dalam seperti yang sering dilakukan oleh kakak iparnya yang akan membuatnya kejang-kejang karena merasa nikmat.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB, artinya mereka sudah hampir satu jam bermain tanpa kenal lelah.


"Bryan! Bryan!" teriak anak-anak kompleks membuat keduanya berhenti dari kegiatan saling mengelus.


"Brengsek tuh bocah-bocah, ganggu aja! Pasti mereka mau minta camilan lagi. Kebiasaan... ," Bryan menggerutu sambil memasang pakaiannya lalu bergegas turun untuk menemui anak-anak itu. Ia khawatir jangan sampai mereka masuk ke rumah dan naik ke lantai dua untuk mencari keberadaannya seperti yang sudah sering mereka lakukan selama ini. Anak-anak itu memang sangat dekat dengannya.


"Iya... ada apa sih, teriak-teriak? Ganggu orang tidur aja!" kata Bryan setelah membuka pintu rumah.


"Mau pinjam bola, Kak!" seru Valen.


"Skalian Kak, biasa... ," sambung Rein sambil tertawa.


Teman-temannya yang lain ikut tertawa.


Bryan masuk ke dalam dan kembali dengan botol minuman segar di tangannya sebanyak dengan jumlah bocah-bocah yang sedang menunggunya.


"Kok, hanya minuman? Camilannya mana?" seru yang lain.


"Jangan cerewet, syukur-syukur diberi minuman. Camilannya besok aja!" ucap Bryan lalu menutup pintu dan takn upa ia menguncinya

__ADS_1


__ADS_2