Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
40. Mengungkapkan perasaan


__ADS_3

Mata Bryan membulat dan mulutnya ternganga karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Jan... Janes? Mm... ma... maaf saya salah orang!" ucap Bryan terbata-bata karena gugup.


Rian sadar bahwa perempuan itu bukan Janes karena di dagu sebelah kiri ada tahi lalat sedangkan Janes tidak punya tanda seperti itu. Sangat mirip bila dilihat secara sepintas.


"Maaf, apakah Tuan kenal dengan Janes, adik saya yang pernah bersekolah di SMA MENTARI?"


"Saya adalah teman kelasnya makanya kenal bangat. Wajahnya sangat mirip dengan Anda!"


"Yah, wajarlah mirip soalnya kami adalah adik-kakak,"


Lin kembali ke dapur untuk mengambil lauk, sementara Bryan masih tercengang karena bisa bertemu dengan saudaranya Janes.


Pak Geral dan ibu Yanti saling berpandangan melihat kegelisahan Bryan.


"Ada apa dengan adiknya Lin?" tanya pak Geral.


"Nggak ada apa-apa Pak, hanya teman sekelas dulu sewaktu masih duduk di bangku SMA, tadi saya hanya kaget soalnya wajah Janes mirip bangat dengan wajah kakaknya," sahut Bryan lalu kembali fokus menikmati sarapan pagi yang sudah tersedia.


Sekarang Lin sudah ingat dengan teman Janes itu. Waktu menghadiri acara perpisahan adiknya di sekokah ia sempat melihat Bryan yang naik ke panggung untuk menerima hadiah karena ia adalah siswa terbaik ke-dua.


***


Sudah satu bulan Bryan menginap di rumah pak Geral dan setiap kali melihat Lin, ia selalu teringat kepada Janes.


Suatu hari ia dan pak Geral berangkat ke sebuah daerah untuk suatu urusan kantor dan ibu Yanti juga ikut karena sekaligus akan mengadakan pertemuan dengan para istri-istri polisi. Dalam perjalanan, ibu Yanti menceritakan apa yang ia ketahui tentang Lin dan Bryan mendengarkan dengan saksama. Cerita ibu Yanti persis dengan cerita ibu Lilis, tetangga Rian di desa yang sempat bertemu dengannya waktu itu.


"Kasihan benar yah, si Lin itu, adiknya sendiri yang telah menghancurkan rumah tangganya!" kata pak Geral.


"Sebenarnya Lin juga punya salah karena menurut pengakuannya, ia terlalu malas dan itu juga alasan suaminya sehingga berselingkuh," ujar ibu Yanti.

__ADS_1


"Tapi sekarang ia sudah mulai berubah bahkan penampilannya sudah berubah 180 derajat," sambung ibu Yanti lagi.


Sepanjang perjalanan mereka membahas kehidupan Lin hingga tak terasa mobil sudah memasuki halaman gedung yang dituju untuk melakukan kegiatan.


***


Bryan merasa kurang enak karena sudah beberapa bulan menumpang di rumah pak Geral dan hari ini ia menyampaikan meksudnya untuk pindah ke rumah kontrakan yang ada di dekat kantor tempat ia bekerja tapi pak Geral menahannya karena ia merasa senang punya teman di rumah.


"Pindahnya ditunda aja dulu!" kata pak Geral penuh harap.


"Tapi Pak, saya hanya merepotkan keluarga Bapak di sini," sahut Bryan.


"Itu hanya perasaanmu saja, malahan kami senang karena punya teman!' ucap pak Geral.


Semakin hari Rian semakin punya rasa suka kepada Lin. Walaupun ia tahu bahwa perempuan itu sudah janda dan beranak satu tapi ia tidak bisa membohongi perasaannya. Entahlah, apakah perasaan ini tumbuh karena Lin mirip dengan Janes yang merupakan cinta pertamanya ataukah perasaan ini muncul karena sering bertemu.


Suatu hari pak Geral dan ibu Yanti pergi mengunjungi orang tuanya yang tinggal di luar kota, Lin tidak diikutkan karena tinggal untuk jaga rumah sedangkan Bryan ngantor hingga sore bahkan terkadang pulang di malam hari.


"Selamat siang!" sapa Bryan membuat Lin melompat karena kaget. Ia sedang asyik nonton film kartun kesukaan Rehan, anak majikannya yang juga sudah menjadi tontonan pavoritnya. Ia tak menyangkah Bryan akan pulang dari kantor secepat itu.


"Saya rindu sama kamu," sahut Bryan membuat kedua bola mata Lin membulat.


"Ahh, Bapak ada-ada aja," kata Lin dengan wajah memerah. Ia sangat tersanjung dengan ucapan Bryan namun ia sadar bahwa pasti Bryan hanya berkelakar.


Lin kemudian kembali memusatkan perhatian ke layar TV dan berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja. Tanpa disadari bahwa Bryan juga ikut duduk di belakangnya dan ikut menyaksikan film kartun yang lagi seru-serunya.


"Apakah saya boleh minta tolong untuk dibuatin kopi?" tanya Bryan membuat bulu kuduk Lin berdiri karena suara itu sangat dekat ke telinganya bahkan ia bisa merasakan hembusan nafas yang mengenai lehernya bagian belakang.


"Kenapa tidak Pak, dengan senang hati saya akan membuatnya," sahut Lin sambil tersenyum.


Deg! Senyum itu sangat mirip dengan senyuman Janes dan mampu menggetarkan kalbunya.

__ADS_1


"Tolong jangan selalu sebut saya dengan kata 'Pak'!"


Lin bingung dengan permintaan Bryan karena tidak mungkin ia akan memanggilnya dengan sebuatan lain sementara ia mengenakan pakaian polisi yang lengkap.


"Nggak apa-apa Pak, sudah seharusnya memang begitu!"


"Aduh, pak lagi, pak lagi,"


Lin berlalu sambil tertawa nyengir.


Saat ia kembali dari dapur Bryan sudah tidak ada di tempatnya. Rupanya ia ke kamar untuk mengganti seragamnya dan mengenakan pakaian santai dengan maksud agar Lin tidak menyapanya terus-menerus dengan sebutan 'pak'.


Lin terkesima saat Bryan muncul ke ruang tengah dengan hanya mengenakan baju kaos warna putih dan celana boxer tapi ia berusaha untuk bersikap yang sewajarnya.


"Kamu tahu di mana suamimu sekarang?" tanya Bryan saat ia sudah duduk di sofa.


"Nggak, saya udah nggak peduli lagi, lagian juga ia sudah bahagia bersama dengan Janes. Namanya sudah saya kubur dalam-dalam," sahut Lin dengan wajah cemberut. Ia tidak suka mendengar nama suaminya disebut-sebut.


"Maaf yah kalau pertanyaanku menyinggung perasaanmu!" ucap Bryan merasa bersalah.


Keduanya terdiam selama beberapa saat. Ada sesuatu yang ingin ia utarakan oleh Bryan kepada Lin tapi mulutnya sangat susah untuk berkata-kata.


"Kalau misalnya ada seseorang yang ingin mengisi hari-harinya dan membangun sebuah ikatan cinta yang baru dengamu, apakah kamu bersedia?" tanya Bryan setelah beberapa menghela nafasnya.


"Hanya orang yang kelirulah yang bisa melakukan hal itu soalnya saya ini sudah janda loh dan punya anak," tutur Lin merendah.


"Cinta itu tak memandang status seseorang tapi lahir dengan sendirinya. Kamu itu berhak dicintai dan rasa itu ada dalam hati ini!" ucap Bryan membuat Lin kager sekaligus terharu.


"Bukannya saya menolak Pak, tapi saya ini tahu diri, selain kita berbeda usia, saya juga tidak pantas buat Bapak. Lupakanlah, masih banyak gadis cantik yang pantas buat Bapak!" ujar Lin.


"Apakah karena kamu sudah punya yang lain sehingga berkata seperti itu dan membuatku kecewa?"

__ADS_1


Lin menggeleng. Ia juga iba meiihat kekecewaan dan kesedihan yang terpancar di wajahnya. Rupanya Bryan sangat serius dan ingin menjalin hubungan yang serius dengannya.


"Tolong pikirkan sekali lagi tentang maksudku ini dan saya tunggu jawaban dari kamu kapan saja kamu bersedia untuk menanggapinya!" kata Bryan sekali lagi. Ia segera bangkit dan berlalu. Ia masuk ke kamar dan bergumul dengan perasaannya.


__ADS_2