Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
13. Pura-pura Sakit


__ADS_3

Malam itu Lin tidak bisa tertidur lagi dengam nyenyak karena mimpinya seolah nyata dan terbayang terus dalam ingatannya. Apa arti semua ini?


Pagi-pagi buta, Rian meneleponnya tapi Lin enggan untuk menjawab.


Karena panggilannya tidak diangkat, Rian hanya menuliskan ucapan selamat pagi dan mengirimnya melalui pesan WhatsApp. Ia heran karena baru kali ini Lin tidak menjawab panggilannya.


Kemarin-kemarin ia selalu membangunkan Lin dengan cara meneleponnya. Rian khawatir jangan sampai kebiasaan Lin terjadi lagi yaitu bangun kesiangan.


***


Sejak Lin mimpi buruk di malam itu, ia selalu menghindari untuk bertemu dengan Rian membuat kekasihnya itu heran. Lin selalu berusaha mencari alasan yang tepat setiap kali diajak Rian untuk berkencan.


Sikap Lin yang demikian akhirnya menimbulkan rasa curiga di hati sang kekasih. Rian pikir bahwa Lin sudah punya pacar baru akhirnya timbul niat jahat dalam hatinya.


Rian berpura-pura sakit. Ia menelepon, menghubungi Lin agar mencarikan obat dan mengantarkan obat tersebut ke kamar kostnya.


Karena begitu besar rasa cintanya, Lin bergegas pergi ke apotek untuk membeli obat setelah minta tolong kepada temannya yang kebetulan shif pagi untuk menggantikan tugasnya malam ini.


Dengan pakaian kerja yang masih melekat di tubuhnya ia segera berangkat untuk mencari apotek terdekat.


Sementara itu Rian mengenakan switer dan membungkus tubuhnya dengan selimut lalu memasang wajah yang kesakitan setelah mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Ia yakin, Lin yang datang.


Tadi ia sengaja tidak mengunci pintu kamar agar Lin bisa langsung masuk karena alasannya tidak kuat bangun untuk membuka pintu.


Lin mendorong pintu karena tak ada tanda-tanda ada yang membukakan untuknya. Ia masuk dan menghampiri kekasihnya yang sedang terbaring.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Lin dengan khawatir. Ia menempelkan telapak tangannya pada kening Rian.


"Kamu demam Sayang, apa kamu sudah makan?"


Rian mengangguk lemah. Dalam hati ia tertawa melihat kecemasan Lin yang sangat jelas pada wajahnya.


Lin membuka tasnya untuk mengambil obat lalu menuangkan segelas air putih.


Rian duduk di pinggir tempat tidur dan menerima obat yang diberikan oleh Lin lalu meminumnya. Berselang beberapa saat ia kembali berbaring dengan wajah lesu.

__ADS_1


Lin kembali meraba kening Rian, rasanya memang hangat karena tadi ditutup pakai selimut tebal. Lin mengambil air dan mengompresnya membuat Rian kembali tertawa dalam hati.


Tak lama kemudian Rian menutup mata dan seolah-olah tertidur. Hampir satu jam ia berpura-pura tidur dan bertahan di bawah balutan selimut tebal yang bikin gerah namun rencananya baru mau dimulai.


"Gimana, Kak, apa sudah agak mendingan?" tanya Lin karena malam semakin larut dan ia ingin pulang.


"Sepertinya demam saya sudah turun tapi kepalaku terasa mau pecah," sahut Rian dengan suara lemah dan hampir-hampir tak terdengar.


"Saya mau pamit dulu, besok saya ke sini lagi!" ucap Lin.


"Tolong jangan tinggalkan saya, Lin! Kalau saya kenapa-napa, siapa yang akan menolongku?" pintanya dengan suara memelas dan manja.


Lin jadi bingung diperhadapkan pada dua pilihan yang sulit karena di satu sisi ia selalu ingat nasihat kakaknya dan di sisi lain ia tidak tega juga meninggalkan kekasihnya yang sedang sakit.


"Aduhhh... kakiku sangat ngilu, nih!" keluhnya dengan raut wajah berkerut seperti menahan rasa sakit.


Lin yang sudah bersiap untuk pulang kembali ke tempat kerjanya duduk kembali dan memijit kaki Rian.


"Bagaimana Sayang, apa sudah agak mendingan?"


Lin pindah posisi lagi dan mulai memijit lengan Rian secara bergantian.


Rian memenjamkan mata dan menikmati pijitan tersebut.


"Terima kasih Sayang, mau melakukan untuk saya!" ucapnya pelan dengan mata masih tertutup.


"Sepertinya Kakak udah baikan deh, saya pamit dulu yah?" kata Lin yang sudah mulai gelisah karena malam semakin larut.


"Apa kamu nggak cinta lagi sama saya? Masakan saya sakit begini mau ditinggalkan sendirian!" ucap Rian dengan wajah sedih.


"Bukannya nggak sayang, tapi ini udah larut malam loh!" sahut Lin dengan serius.


Rian menarik lengan Lin hingga tubuh Lin hanpir terjembab. Ia meremas jari-jari yang lentik itu dan menciumnya.


"Tidur di sinilah, Sayang!" bisiknya dengan mesra di telinga Lin membuat bulu kuduknya merinding.

__ADS_1


"Nggak bisa, Kak!" bantah Lin.


"Atau kamu udah punya kekasih baru sampai-sampai selama beberapa hari terakhir ini kamu nggak pernah menjawab panggilanku dan tidak pernah juga membalas chat yang kukirim kepadamu?" ucap Rian dengan rasa curiga.


"Jangan salah paham, sedikit pun di hatiku tak pernah berpikir untuk menghianatimu!" sahut Lin dengan serius.


"Kalau memang kamu cinta sama saya, di sinilah menemaniku malam ini!" pinta Rian sambil terus meras jari-jari Lin dengan lembut.


Lin melirik lagi jam di layar ponselnya dan ternyata sudah larut malam. Ia tidak mungkin pulang ke tempat kerjanya karena takut jika ada orang yang iseng mengganggunya di jalanan nanti.


Akhirnya ia mengangguk membuat Rian segera duduk. Lin heran dibuatnya karena tiba-tiba saja wajah kekasihnya cerah dan tidak ada tanda-tanda bahwa ia sedang sakit.


"Kakak udah sembuh?" tanya Lin membuat Rian salah tingkah.


"Saya terlalu gembira Sayang karena kamu mau menemaniku di sini malam ini," ucap Rian yang segera merubah kembali mimik wajahnya.


Lin membentangkan tikar di lantai dan berbaring di sana karena rasa kantuk membuat matanya berat.


Rian membiarkan Lin tidur di lantai agar ia tidak curiga dengan kepura-puraanya. Menjelang subuh, Rian bangun dan menghampiri Lin yang masih ngorok. Ia memandangi wajah polos itu dengan rasa kagum. "Maafkan diriku yang telah membohongimu!" lirihnya. Ia pun menggendong tubuh Lin yang lumayan berat dan membaringkan di atas tempat tidurnya. Saat itu juga Lin terjaga dan membuka matanya.


"Kakak mau apa?" tanya Lin kaget setengah mati.


"Tenang Sayang, Kakak hanya kasihan melihatmu tidur di lantai semantara saya tidur di ranjang!"


"Tapi Kakak sedang sakit,"


"Saya udah sembuh kok, buktinya saya kuat gendong kamu,"


Lin percaya akan omongan Rian. Ia kembali menutup mata dan ingin melanjutkan tidurnya yang terganggu.


Namun ia merasa terganggu karena merasakan kecupan di bibirnya. Ia pun berpura-pura tertidur pulas dan berharap Rian akan berhenti mengganggunya tapi apa yang terjadi, tangan Rian malah semakin nakal dan mulai merayap ke mana-mana membuat Lin merasa geli.


Rian tak mau menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang ada, apalagi melihat kekasihnya yang mulai merespon setiap sentuhan mautnya.


Lin menggelinjang bak cacing kepanasan membuat Rian merasa senang. Tanpa disadari oleh Lin kalau kini bajunya sudah setengah terbuka karena ia sangat menikmati elusan-elusan halus tangan kekar yang begitu menggairahkan.

__ADS_1


__ADS_2