Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
19. Debaran Jantung


__ADS_3

Lin sangat kesal karena Rizha bangun lebih pagi dari biasanya, padahal sekarang sudah pukul 08.00 pagi. Ia terus mengomel dan sesekali menguap karena masih mengantuk. Sambil mengomel ia memasak juga karena Rizha sudah lapar dan ingin makan bubur.


Sudah dua hari ini Rian benar-benar lepas tangan untuk pekerjaan di rumah karena mereka harus mempercepat pekerjaanya di rumah pak Heru agar bisa menerima lagi tawaran pekerjaan lainnya seperti yang dijanjikan oleh temannya.


"Tttrrrr... ttrrr... ttrrr...!" ponsel Lin berdering.


"Iya, halo!" sapa Lin menjawab panggilan suara dari Raka.


"Kata mama, Janes mau melanjutkan sekolahnya di situ soalnya nggak ada sekolah SMA yang dekat dari rumah kita di desa. Boleh nggak dia nginap di rumah kalian? Masalah biaya sekolahnya nanti saya yang tanggung," tanya Raka dari seberang.


"Iya, Kak, nanti saya komunikasikan sama Rian kalau sudah pulang kerja," sahut Lin.


"Tolong kabari nanti kalau kamu sudah bicara sama suamimu!'


"Siap, Kak!"


Sambungan telepon terputus. Bagi Lin tidak ada masalah jika adiknya mau tinggal di rumah mereka karena tenaganya bisa ia manfaatkan.


Malam hari setelah Rian tampak bersantai, Lin mengutarakan pesan yang disampaikan oleh kakaknya.


"Kalau saya tidak masalah, tapi kamar kita hanya satu, trus adik kamu itu mau tidur di mana?"


"Nggak masalah Mas, dia bisa tidur di ruang tengah,"


"Terserah kamu aja, bagaimana baiknya!"


Malam itu juga Lin langsung menghubungi kakaknya dan menyampaikan bahwa Janes boleh tinggal di rumah mereka.


***


Hari ini adalah hari pertama bagi Janes masuk ke sekolah barunya. Jarak sekolahnya dari rumah Lin kurang lebih satu setengah kilo meter yang harus ditempuh dengan jalan kaki.


Sejak Janes tinggal di rumah Lin, keadaan rumah mulai berubah. Janes sangat rajin membersihkan bahkan ia sering mencuci pakaian kotor milik kakaknya. Ia sangat tidak suka jika ruangan berantakan. Sangat berbeda dengan sifat kakaknya yang pemalas.


"Hhmmm... rumah kita sekarang sudah bersih dan rapi, harusnya kamu contoh sifat adikmu itu yang masih kecil tapi rajin!" ucap Rian. Ia sangat terkesan mendapati rumahnya sudah rapi.


Lin hanya tersenyum kecut mendengar omongan suaminya. Sejak kedatangan Janes ia pun semakin santai karena semua pekerjaan diambil alih oleh adiknya itu hingga menjaga Rizha yang sudah berusia dua tahun.


***


Tidak terasa Janes sudah satu setengah tahun tinggal bersama dengan kakaknya. Kini ia sudah duduk di kelas XI? semester dua. Ia tumbuh menjadi seorang remaja yang cantik. Kulitnya putih bersih dengan rambut yang selalu diikat rapi.


Ia selalu bangun ketika hari masih gelap dan mengerjakan semua pekerjaan rumah mulai dari memasak hingga membersihkan rumah dan sekitarnya.


Ia juga sudah terbiasa menyiapkan sarapan dan segelas kopi untuk Rian di pagi hari sehingga ketika kakak iparnya itu bangun, semua sudah tersedia di meja sedangkan Lin masih tertidur dengan nyenyak. Pada saat ia bangun, suaminya sudah pergi ke tempat kerja dan Janes pun sudah pergi ke sekolah.


Lin semakin santai saja karena ketika ia bangun makanan sudah siap dan pakaian kotor juga sudah dicuci oleh adiknya.


Setelah sarapan, ia lalu berbaring di depan televisi sambil main HP, sementara anaknya sibuk bermain sendiri. Demikianlah aktifitas Lin sepanjang hari. Bangun, makan, dan tidur. Ia sudah tidak pernah peduli dengan penampilannya sehingga suaminya juga sudah enggan untuk menjamahnya.

__ADS_1


Suatu hari Rian bangun pagi-pagi sekali karena tuntutan pekerjaan. Ia segera mencari sesuatu di dapur yang bisa dimakan sebelum berangkat kerja.


"Kok, Kakak bangunnya pagi-pagi amat?" tanya Janes membuat Rian kaget.


Janes terbangun karena mendengar suara perabotan di dapur saling beradu padahal jam baru menunjukkan pukul 05.30 dini hari.


"Iya, nih... hari ini kami mau kerja sebelum matahari terbit. Kami mau mengecor lantai dan itu butuh tenaga yang kuat," sahut Rian membuat Janes manggut-mangut.


"Sini saya yang siapkan sarapan, Kakak tunggu aja, nanti saya panggil kalau sarapannya sudah siap!" kata Janes dengan suara lembut dan langsung mengambil alih pekerjaan tersebut. Rian mundur dan duduk di kursi sambil memperhatikan adik iparnya yang lincah menyiapkan sarapan.


Diam-diam ia mengagumi penampilan Janes. Walau masih pagi tapi ia tampak segar. "Seandainya Lin juga bisa seperti itu pasti saya akan lebih semangat," gumannya dalam hati sambil terus memperhatikan gerak-gerik tubuh Janes yang lincah.


Tak lama kemudian makanan sudah tertata dengan rapi di meja.


"Silahkan makan, Kak!" ucap Janes dengan lembut.


"Terima kasih, Dek," sahut Rian dengan senang.


Usai sarapan pagi, Rian meraih segelas kopi yang sudah di siapkan Janes lalu minum dengan nikmat.


Pagi itu Rian berangkat dengan semangat yang menggebu-gebu. Begitu pula saat bekerja, ia sangat bersemangat sehingga tidak merasa capek.


"Sepertinya ada yang semangat sekali," goda salah seorang temannya.


"Biasa aja, kok," sahutnya dengan senyum lebar.


Rian juga heran dengan perasaannya, kali ini ia ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Beda dengan yang lalu-lalu, kadang-kadang ia enggan pulang ke rumah karena malas menyaksikan keadaan rumah yang berantakan dan juga enggan melihat wajah istrinya yang kusut.


Ada keinginan untuk melihat kegiatan kedua anak itu tapi ia sadar jangan sampai Janes juga sedang mandi, akhirnya ia melangkah ke dalam rumah dan menjumpai istrinya yang sedang berbaring menyaksikan film korea yang sedang tayang di TV.


Daster lusuh melekat di tubuhnya yang entah sudah berapa hari tidak pernah diganti. Rambutnya juga berantakan karena tidak pernah disisir.


"Nonton terus, sana mandi!" ujar Rian yang sudah jijik melihat penampilan istrinya.


"Sebentar, Mas, soalnya filmnya lagi seru," sahut Lin tanpa menoleh ke arah suaminya.


Rian hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang keras kepala.


"Papa... Papa udah pulang!" seru Rizha dengan riang. Tubuhnya masih terbungkus dengan handuk dalam dekapan Janes.


"Iya Sayang. Nih, papa udah pulang," sahut Rian dengan senyum.


Rizha merengek ingin digendong oleh ayahnya tapi Janes melarangnya.


"Ehhh, nggak boleh... papa masih capek loh, lagian papa belum mandi!" kata Janes. Suara Janes terdengar bagaikan nyanyian merdu di telinga Rian.


"Benar kata Kakak Janes, papa belum mandi, jadi nggak boleh bersentuhan dengan anak cantik yang sudah bersih dan harum," ucap Rian dengan hati yang berbunga-bunga. Ia pun berlalu dan meraih handuk yang tergantung di dinding lalu masuk ke kamar mandi sambil bersiul-siul.


Janes memakaikan baju kepada adiknya. Setelah itu ia ke dapur dan mengambil nasi lalu menyuapinya dengan sabar. Walaupun Rizha berlari ke sana ke mari tapi Janes tetap semangat untuk mengurusnya.

__ADS_1


"Ayo, Dek, tinggal satu kali suap, kakak mau bikin kopi dulu buat papa!" bujuk Janes.


Lin sama sekali tidak peka dengan keadaan sekitar. Matanya terus tertuju ke layar televisi, bahkan anaknya yang selalu berlari-lari di depannya tidak ia dihiraukan.


"Kakak mau minum kopi?" tanya Janes ketika Rian keluar dari kamar setelah mengenakan baju santai. Ia tampak gagah dan segar.


"Boleh, tolong bawa ke teras nanti!" sahut Rian. Ia menggendong Rizha dan duduk di teras menunggu kopi buatan Janes. Mungkin inilah yang selalu dirindukan, pelayanan Janes yang sangat baik.


Janes datang menghampiri Rian di teras dengan segelas kopi di tangannya. Ia meletakkan gelas tersebut di meja lalu pamit karena mau mengerjakan tugas dari sekolah.


Rian mengangguk sambil tersenyum manis membuat jantung Janes berdebar. Ia buru-buru meninggalkan tempat itu lalu pergi ke ruang tengah. Di situ terdapat tas sekolahnya, juga semua peralatannya disimpan di sana dan tempat itu juga sekaligus menjadi tempat berstirahat di malam hari.


Janes tidak pernah istirahat atau tidur di siang hari karena setelah pulang dari sekolah ia disibukkan dengan pekerjaan di rumah dan juga menjaga Rizha. Janes masih mendengar suara Rian yang melarang anaknya masuk ke rumah. Alasannya, nanti mengganggu kakak Janes yang sedang belajar.


Menjelang malam Rian masuk ke rumah. Ia kesal melihat istrinya yang tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya, bahkan ia sampai lupa mandi karena film kesukaannya masih tayang.


"Kamu nggak mandi?" tanya Rian.


"Dingin Mas, besok aja," sahutnya dengan santai.


Rian berjalan ke dapur karena sudah lapar. Ia yakin bahwa Janes sudah menyiapkan semuanya.


"Janes,tolong siapkan makanan dulu untuk kakakmu! Filmnya masih nanggung, nih!" pintanya kepada Janes yang masih sibuk belajar.


"Iya, Kak," jawab Janes patuh.


Janes beranjak dari tempatnya lalu menuju ke dapur yang hanya dibatasi oleh dinding papan dengan ruang tengah.


"Makan aja duluan Mas, sebentar saya menyusul!" seru Lin dengan suara keras.


Rian tidak menanggapi ucapan istrinya karena dari dulu sudah terbiasa makan sendiri. Sudah mendingan sekarang karena ada yang masak dan menyiapkan makanan untuknya.


Setelah semua makanan sudah siap di meja, Janes buru-buru hendak berlalu karena tugasnya dari sekolah belum selesai tetapi Rian mencekal lengannya.


"Ada apa , Kak!" tanyanya dengan heran. Jantungnya mau copot saat matanya beradu tatap dengan tatapan Rian.


"Jangan pergi dulu, tolong temani saya di sini!" sahut Rian dengan tatapan penuh harap.


Janes duduk di kursi yang berhadapan dengan tempat duduk Rian sambil menunduk karena ia tahu tatapan Rian tak lepas dari wajahnya yang sudah bersemu merah.


"Ayo, kita makan!" ajak Rian.


"Tapi, Kak...," sahut Janes dengan ragu-ragu. Ia menoleh ke ruang tengah di mana kakaknya masih asyik menonton.


"Nggak usah ragu, kakak kamu itu belum lapar!" kata Rian lalu mengambil piring dan menyodorkan kepada Janes.


Keduanya lalu makan. Sesekali pandangan mereka beradu dan saling melempar senyum. Rian tampak sangat bahagia karena ada yang menemaninya makan malam.


Lin baru muncul ke dapur saat Rian dan Janes baru saja selesai makan. Rian langsung berdiri dan meninggalkan meja makan sedangkan Janes masih membersihkan meja.

__ADS_1


Dengan langkah gontai Lin mengambil piring dan menaruh nasi serta lauk lalu kembali ke ruang tengah untuk menonton.


Tampak Rizha sedang digendong oleh ayahnya karena matanya sudah mulai berat.


__ADS_2