Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
18. Kenapa Masih Dipertahankan?


__ADS_3

Ketika umur Rizha sudah mencapai satu tahun, Rian sudah berhasil mendirikan sebuah rumah sederhana dengan hanya satu kamar tidir di dalamnya. Orang tuanya memberikan lokasi yang cukup luas untuk membangun rumah di sana dan pekarangannya bisa dimanfaatkan untuk tanam sayur.


Seperti biasa pagi ini Rian bangun dan membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Ia memeriksa belanga dan masih ada nasi sisa semalam. Dengan lincah ia menggoreng nasi tersebut lalu segera sarapan daan berangkat kerja.


Terkadang pula jika tidak sempat membuat sarapan, ia hanya menyeduh segelas kopi. Soal cuci pakaian, Rian tidak mau mengerjakannya lagi sesuai saran dari ibunya. Ia hanya mencuci pakaiannya sendiri sehingga tumpukan pakaian kotor selalu menjadi pandangan pertama saat ada orang yang bertamu ke rumah.


Penampilan Lin sekarang sangat menjijikkan karena ia sangat malas sehingga kadang kala mengenakan pakaian kotor bahkan jarang sekali mandi.


Rian biasa memandikan anaknya ketika tiba di rumah dan mendapati anak tersebut sangat kumal.


Sudah berulang kali ia menegur istrinya yang sangat malas tapi tidak pernah didengar dan hal ini selalu berakhir dengan sebuah pertengkaran hebat.


Di kamar, Lin masih ngorok dan ia akan bangun jika anaknya sudah mencolok matanya atau kadang Rizha menangis karena mau *******.


Rizha sudah bisa jalan walau masih tertatih-tatih. Sore ini saat Rian pulang kerja ia mendengar suara tangis anaknya.


"Kamu kenapa, Nak?" tanyanya dengan panik melihat anaknya yang tertelungkup di depan pintu. Rupanya Rizha terjatuh karena ia memaksakan dirinya untuk keluar dari pintu. Hidungnya berdarah karena tergores batu.


Rian menggendong anaknya dengan wajah memerah menahan emosi.


"Hey pemalas, lihat ini anakmu!" teriak Rian saat masuk ke kamar dan mendapati istrinya sedang tidur padahal hari sudah sore.


Lin bangun dengan gelagapan karena kaget mendengar suara suaminya yang berteriak.


"Ada apa?" tanyanya dengan suara lemas karena baru bangun.


"Kamu itu istri tidak berguna, jaga anak saja tidak becus!" kata Rian penuh emosi.


"Ma... ma, Ma... ma!" rengek Rizha.


Rian keluar rumah sambil terus menggendong anaknya lalu membanting pintu dengan kasar. Ia menyalahkan motornya dan pergi ke rumah orang tuanya. Ia tahu ibunya pasti akan memberi ceramah lagi panjang lebar tapi dalam situasi seperti ini, mau ke mana lagi kalau bukan ke rumah orang tuanya.


Perutnya juga sudah melilit menahan lapar. Tadi ia bersemangat pulang dengan harapan ada makanan yang bisa ia santap ketika tiba di rumah tapi malah disuguhi dengan situasi yang membuat tensinya naik.

__ADS_1


"Ehh, cucuku datang, sini sama Oma sayang!" kata ibu Nani dengan senang. Ia sangat rindu sama cucunya karena jarang sekali bertemu.


"Sama Oma dulu, Nak, papa mau cari makanan!" ucap Rian sambil menyerahkan Rizha kepada ibunya.


"Aduh, kenapa hidungmu sayang?" tanya ibu Nani melihat hidung cucunya yang tergores dan masih ada bekas darah di sana.


Rian tidak menjawab karena ia sudah pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya.


Ibu Nani hampir muntah mencium bau tak sedap dari tubuh cucunya. Ia masuk ke kamar mandi dan memandikannya hingga bersih lalu membuka lemari untuk mencari baju yang pernah ia beli dulu tapi belum sempat diberikan kepada cucunya ini.


Rizha tampak segar dan cantik, baunya harum setelah oma mengoles tubuhnya dengan minyak telon.


"Apa sih yang dikerja istrimu sampai-sampai anakmu ini berbau busuk?" tanya ibu Nani setelah tiba di dapur. Rian masih menikmati makanannya di sana.


"Yahh, seperti biasa Ma, makanya saya ke sini karena saya kesal kepada Lin yang hanya tiduran melulu tanpa memperhatikan anaknya sehingga tadi Rizha terjatuh," sahutnya dengan kesal.


"Kenapa istri malas seperti itu masih dipertahankan. Tinggalin aja dan cari yang lain! Nanti saya yang urus Rizha,"


"Ini loh Pak, Rian dan anaknya datang ke sini dengan wajah kumal dan tak terurus," ungkap ibu Nani dengan kesal.


"Kalau ada masalah, tolong di rembukkan baik-baik sehingga solusi yang kita ambil di kemudian hari tidak akan membawa penyesalan!" saran Asep.


Ia mendekati cucunya setelah mencuci tangan karena sangat merindukannya. Sambil bersenandung ia menimang-nimang cucunya dengan penuh kasih sayang.


Ibu Nani menyiapkan pakaian ganti buat Rian karena kasihan melihat anaknya yang masih berbalutkan pakaian kerja dan bau keringat lalu menyuruhnya mandi terlebih dahulu.


Kini Rian tampak segar setelah mandi dan berganti pakaian. Setelah itu mereka duduk-duduk di ruang tengah dan di luar sudah gelap.


"Malam ini kalian nginap aja di sini!" kata ibu Nani.


"Tapi, Ma, gimana kalau Rizha lapar dan mau *******?" ujar Rian.


"Iya, juga yah, ibu lupa kalau cucuku masih minum ASI,"

__ADS_1


"Tolong beri tahu istrimu, kalau dia sudah tidak sanggup menjaga cucuku, biar ibu aja yang jaga! Kasihan cucuku yang cantik ini tapi bau karena tidak terurus,"


"Iya, Ma,"


Pukul 19.00 WIB Rian pamit kepada orang tuanya karena tampaya Rizha sudah mengantuk.


Tiba di rumah, Lin tampak sedang memasak di dapur sedangkan perabotan masih berantakan penuh di lantai.


Lin sempat terpaku melihat kedatangan suami dan anaknya yang tampak segar. Ia sudah menduga pasti mereka pulang dari rumah opa dan oma.


Rizha merengek melihat ibunya karena ia sudah sangat mengantuk dan biasanya ia akan segera tertidur kalau sudah *******.


"Ehhh, harum bangat," kata Lin sambil mencium pipi Rizha dengan gemas.


"Ya, jelas harum karena sudah di mandikan, tidak seperti ibunya yang bau karena malas mandi," ucap Rian dengan ketus.


Lin hanya diam mendengar ucapan suaminya.


"Satu lagi, tolong dengar baik-baik. Tadi mama berpesan, dia siap untuk merawat Rizha jika kamu sudah tidak mampu menjaganya!" kata Rian sambil berlalu.


Ia ingin keluar karena malas dan pusing melihat keadaan rumah yang seperti kapal pecah. Mau tidur juga pasti mata nggak bisa tertutup karena waktunya belum tiba sehingga ia memilih mencari udara segar di luar. Di perempatan jalan ia sering nongkrong bersama anak muda hingga rasa kantuk datang.


"Hey, gimana dengan pekerjaan kalian di rumah pak Heru? Apa sudah selesai soalnya ada pekerjaan baru nih dan upahnya lumayan besar," tanya Deni saat melihat Rian datang menghampiri.


Deni belum berkeluarga tapi ia tidak gengsi bekerja menjadi kuli bangunan dari pada nganggur tidak jelas lebih baik kerja untuk mencari pembeli rokok. Demikianlah prinsip anak-anak muda yang ada di desa tersebut.


"Mungkin tinggal dua hari lagi," sahut Rian sambil tersenyum.


"Baguslah kalau begitu, jadi kita bisa terima tawaran dari pak desa yang saya maksudkan tadi," kata Deni penuh semangat.


"Siap!"


Mereka mengobrol membahas pekerjaan hingga malam makin larut lalu membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2