
Raka sangat heran karena akhir-akhir ini, Lin selalu menjawab dengan gugup saat dihubungi lewat telepon seluler sehingga ia minta bantuan kepada Sita agar selalu memantau keadaan adiknya.
Malam itu Sita sengaja datang ke tempat kerja Lin untuk menemuinya tanpa memberitahukan sebelumnya.
"Cari siapa Kak?" tanya Zhara yang datang menemui Sita di luar.
"Apa ada Lin di dalam?"
"Baru aja dia keluar Kak,"
"Mau ke mana katanya?"
"Dia sudah sering keluar Kak. Tadi dijemput lagi sama pacarnya,"
Zhara mempersilahkan Sita masuk ke dalam dan kesempatan tersebut digunakan oleh Sita untuk menggali lebih jauh informasi sehubungan dengan aktifitas Lin.
Zhara menceritakan semua apa yang ia lihat dan ketahui tentang Lin tanpa menambah dan mengurangi sedikit pun.
Kini Sita punya jawaban jika Raka menghubunginya lagi dan menanyakan perihal adiknya.
"Terima kasih Dek atas informasinya!" ucap Zhara lalu pamit. Tak lupa ia membeli kue untuk teman-temannya yang ada di rumah.
"Sama-sama, Kak," sahut Zhara sambil tersenyum ramah.
Sebulan kemudian Lin merasakan tubuhnya sangat aneh dan rasanya selalu mual-mual. Sudah tiga hari ia tidak masuk kerja karena tubuhnya sangat lemah dan selalu mengantuk. Siang itu, ia pergi ke rumah tempat Sita bekerja dan menceritakan apa yang ia alami.
"Sekarang kita ke puskesmas!" kata Sita dengan serius. Ia curiga dengan penampilan Lin yang kusut, loyo, dan wajahnya sangat pucat. Sita langsung ingat apa yang diceritakan oleh Zhara beberapa hari yang lalu. "Ini pasti ada hubungannya dengan cerita Zhara." gumannya dalam hati.
Tiba di puskesmas, Lin langsung dibawa ke ruang periksa dan Sita menunggu di luar dengan perasaan was-was.
"Adik kamu sedang hamil," ucap seorang bidan yang tiba-tiba muncul membuat Sita kaget. Apa yang diduganya ternyata benar.
"Terima kasih informasinya, Bu bidan!" kata Sita dengan suara gemetar.
Setelah mendapat arahan dari bidan, Lin keluar dan menghampiri Sita yang sedang duduk termenung di kursi tunggu. Ia bingung mau ngomong apa dan bagaimana untuk menyampaikan hal ini kepada Raka.
__ADS_1
Sita semakin bingung karena melihat Lin yang tampak biasa saja.
"Apa kata bidan tadi?" tanya Sita saat Lin sudah duduk di sampingnya.
"Ibu bidan bilang, saya harus banyak istirahat agar janin yang ada dalam rahimku ini dapat bertumbuh sehat," sahut Lin tanpa beban.
"Apa kamu tidak takut kepada kakakmu?" tanya Sita dengan cemas.
"Kenapa harus takut? Rian akan bertanggung jawab kok!" sahut Lin sambil tersenyum. Rupanya ia senang karena Rian akan segera menikahinya. Sita sampai geleng-geleng kepala dibuatnya.
"Ayo, kita pulang, Kak! Hari ini juga saya harus ketemu Rian untuk menyampaikan kabar kehamilanku kepadanya!" ucapnya dengan semangat.
Dalam perjalan pulang, Sita banyak diam. Ia sedang memikirkan nasib Lin yang hamil di usia yang masih muda. Apakah benar Rian mau bertanggung jawab? pertanyaan ini masih berputar-putar di kepala Sita.
"Tolong segera hubungi saya kalau kamu sudah bicara dengan Rian!" kata Sita saat mereka berpisah.
"Siap, Kak!" sahut Lin. Ia segera berlalu karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kekasih hatinya.
Lin memilih naik ojek ke tempat kerja Rian. Tiba di sana, tampak Rian masih sibuk kerja karena ada banyak pengunjung yang datang ke minimarket tempatnya bekerja.
"Tumben kamu datang ke sini tanpa menghubungiku terlebih dahulu!" kata Rian setelah menemui Lin.
"Kabar apa sih, kok kamub serius bangat? tanya Rian penasaran.
"Saya hamil sayang dan kita akan segera menikah," sahut Lin dengan senyum tanpa beban.
Mendengar ucapan Lin, wajah Rian pucat dan tubuhnya berkeringat dingin.
"Kamu kenapa, Kak? Ada masalah?"
"Siapa yang bilang kalau kamu sedang hamil?"
"Tadi kak Sita membawaku ke puskesmas untuk periksa, soalnya saya selalu mual-mual,"
Rian tambah panik mendengar nama Sita disebut oleh Lin. Itu artinya bahwa Sita juga sudah tahu kabar kehamilan Lin dan bisa jadi kabar ini sudah sampai ke telinga Raka bahkan juga sampai kepada keluarga yang ada di kampung. Apa yang harus saya lakukan?
__ADS_1
Satu-satunya yang harus dilakukan oleh Rian adalah berhenti kerja dan pulang ke kampung untuk mengurus pernikahannya dengan Lin.
"Gimana Kak, kapan kita pulang ke kampung?" tanya Lin mengagetkan Rian.
"Pulanglah sekarang ke tempat kerjamu! Sebentar malam saya hubungi kamu lagi!" kata Rian dengan suara pelan karena malu jika didengar oleh orang banyak.
"Oke, Kak, saya pulang dulu!"
"Hati-hati di jalan sayang!"
Setelah kepergian Lin, Rian menghempaskan tubuhnya di kursi. Pikirannya sangat kalut karena uang simpannya belum cukup untuk membiayai pernikahan nantinya.
Malam itu ia tidak bisa tidur. Panggilan dan pesan lewat chat dari Lin tidak digubrisnya kerena kepalanya terasa mau pecah.
Baru saja matanya mau terpejam tiba-tiba ponselnya kembali berdering.
Sekilas ia melirik dengan kesal karena sangkahnya bahwa itu panggilan dari Lin tapi dugaannya ternyata salah. Mata yang tadinya sudah berat oleh rasa kantuk kini terbuka dengan lebar setelah melihat nama yang terpampang di layar ponsel.
Rupanya Raka yang melelepon. Dengan tangan gemetar ia mengusap layar ponsel tersebut.
"Iya, halo Kak!" sapanya seramah mungkin.
"Kamu harus bertanggung jawab atas kehamilan adik saya!" ucap Raka tanpa basa-basi. Suaranya kedengaran sangat tegas.
"Iya, Kak, rencana besok saya sudah mau balik ke kampung untuk segera mengurus pernikahan kami," ujar Rian yang berusaha menjawab dengan tenang walau jantungnya berdebar-debar.
"Baguslah kalau begitu. Saya sudah perintahkan Lin untuk pulang ke kampung besok pagi, jadi kamu harus pegang kata-katamu. Orang tua saya sudah menunggu lamaranmu kepada Lin!"
"Iya, Kak,"
"Awas yah, jangan sampai kamu lari dari tanggung jawabmu!" ancam Raka dengan serius. Tadi ia sempat emosi mendengar kabar kehamilan adiknya dari Sita dan emosinya semakin memuncak ketika Sita melaporkan lagi apa yang disampaikan oleh Lin bahwa Rian tidak mau menjawab telepon darinya padahal siang tadi Rian sudah berjanji akan menghubungi Lin untuk menyampaikan rencana selanjutnya.
Malam itu juga Lin berkemas dan sekalian pamit kepada Bos dan juga teman-temannya. Ia tidak memberitahu kepada mereka tentang alasan kenapa ia berhenti bekerja. Tapi Zhara curiga, apalagi melihat Lin yang akhir-akhir ini selalu lemas dan muntah-muntah.
Keesokan harinya ia berangkat ke kampung. Sita yang telah mengurus keberangkatannya atas perintah dari Raka. Lin hanya tahu bahwa mobil sudah datang menjemputnya dan Sita masih mengurusnya sampai mobil tersebut meninggalkan tempat kerjanya.
__ADS_1
Lin juga tidak mengabari Rian karena menurut Sita, hal itu tidak perlu lagi.
Lin hanya membeli ole-ole seadanya saat mobil yang ditumpanginya berhenti untuk istirahat. Keberangkatannya kali ini sangat mendadak sehingga tidak sempat lagi pergi berbelanja ke pusat kota, lagian Raka telah meneleponnya dan berpesan agar jangan boros karena biaya pernikahan itu tidak sedikit.