
Pagi hari Rian bangun seperti biasanya setelah mendengar suara perabotan yang saling beradu di dapur. Dengan semangat ia memeluk Janes dari belakang tapi ia sangat kaget karena kekasihnya menarik diri dengan kasar. Wajahnya cemberut membuat Rian semakin bingung.
"Kamu kenapa Sayang?" bisik Rian.
Janes diam seribu bahasa. Ia menyibukkan diri di dapur tanpa menghiraukan kehadiran Rian. Setelah menyiapkan sarapan di meja ia buru-buru masuk ke kamar mandi karena tidak mau memberi kesempatan kepada Rian untuk menggodanya. Bersamaan dengan itu, Lin juga bangun membuat Janes merasa tertolong dari incaran kekasihnya.
"Tumben bangun pagi?" tanya Rian kepada istrinya. Ia sangat heran karena biasanya Lin selalu bangun kesiangan.
"Biasa... pagi ini saya semangat karena semalam Mas membuatku terbang ke angkasa," ucapnya sambil tersenyum renyah.
Rian jadi gugup mendengar pengakuan istrinya. Ia baru sadar jika semalam ia bertarung sengit dengan Lin tapi dalam khayalannya adalah Janes. Rian seolah baru sadar dari mimpinya.
"Bagaimana Mas kalau nanti malam kita main lagi?" tanya Lin dengan senyum menggoda.
Rian tak bisa menjawab karena Janes sudah berada di ambang pintu dengan handuk mandinya masih melekat pada tubuhnya.
"Janji ya, Mas! Kalau perlu sebentar sore saya akan mandi kembang tujuh rupa biar tubuhku wangi," ujar Lin lagi dengan suara pelan karena khawatir jika kedengaran sama Janes.
"Ihh, kamu lebay bangat ah," kata Rian.
Ia pun buru-buru menghabiskan nasi di piringnya karena melihat Janes sudah keluar dari rumah. Ia penasaran dengan sikapnya yang jutek pagi ini sehingga ia ingin mengantarnya ke sekolah agar bisa menanyakan secara langsung apa pokok masalahnya.
"Ayo naik!" seru Rian ketika motornya sudah berhasil menyusul Janes yang berjalan kaki.
"Nggak, biar saya jalan aja," sahut Janes ketus.
"Kok, ngambek sih? Apa salahku?" tanya Rian
"Dasar laki-laki pembohong!" umpat Janes. Ia kemudian mempercepat langkahnya dan bergabung dengan beberapa temannya yang juga jalan kaki.
Rian sangat kesal dengan sikap Janes tapi ia tidak mau memperpanjang lagi persoalan karena sadar bahwa ini adalah jalanan umum, bisa jadi orang-orang malah curiga jika ribut dan terus beradu mulut dengan Janes di tengah jalan.
Rian memutar balik motornya dan kembali ke rumah untuk mengambil peralatannya. Tadi ia terburu-buru untuk menyusul Janes sehingga lua membawa peralatan kerja padahal tadi sudah disiapkan di depan pintu.
"Papa, Papa... saya mau ikut," rengek Rizha dengan manja.
"Nggak boleh Sayang, Papa mau kerja dulu, cari uang buat beli mainan. Rizha tunggu di rumah yah, sebentar sore kita jalan-jalan!" bujuk Rian sambil mengelus kepala anaknya dengan penuh kasih sayang. Ia pun membunyikan kendaraannya dan segera berangakat ke tempat kerja.
"Hore... hore....!" teriak Rizha dengan riangnya. Ia berlari ke sana ke mari.
Lin yang sedang menikmati sarapan pagi merasa terusik dengan teriakan anaknya. Ia keluar menemuinya.
"Ada apa sih, teriak-teriak?" tany uba vbLin kepada Rizha.
"Kata papa, sebentar sore mau ajak Rizha jalan-jalan," sahut Rizha dengan bangga.
"Jalan-jalan ke mana?" tanya Lin penasaran.
"Nggak tau, Ma," jawab Rizha dengan polosnya.
Lin kembali ke dapur untuk menyelesaikan sarapannya yang sempat tertunda. Rencananya hari ini ia ingin menanam sayur di bedengan yang sudah dibuat oleh suaminya dua hari yang lalu.
Setelah menghabiskan sarapannya, Lin duduk di depan TV dengan maksud untuk isrirahat sejenak sebelum mengerjakan apa yang sudah direncanakan. Namun hingga pulul 10.00 WIB, ia tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya.
"Ma, saya lapar," kata Rizha yang datang menghampirinya setelah lelah bermain masak-memasak di samping rumah.
__ADS_1
Mata Lin yang sudah hampir tertutup kembali terbuka dengan malas. Ia bergegas ke dapur mengambil nasi dan menyuruh Rizha untuk makan sendiri karena matanya sangat berat oleh rasa kantuk.
***
Cuaca hari ini sangat panas. Rian pulang lebih awal dari tempat kerjanya karena material bangunan belum masuk. Ia mengarahkan kedaraannya ke sekolah Janes dan berniat untuk menjemput tapi ia harus kecewa ketika dari jauh ia melihat Janes berjalan bersama dengan seorang teman prianya. Dengan hati panas ia mendekati mereka.
"Janes, ayo kita pulang!" serunya dengan suara keras.
Bryan kaget bukan kepalang karena suara itu muncul dari arah belakang.
"Duluan aja, Kak, saya mau jalan sama Bryan!" sahut Janes dengan datar.
Dengan emosi Rian tancap gas meninggalkan Janes dan Bryan.
"Siapa dia?" tanya Bryan setelah motor yang dikendarai oleh Rian hilang di tikunagan jalan.
"Dia bukan siapa-siapa, kok," jawab Janes.
"Tapi sepertinya dia sangat marah padahal kita nggak ada hubungan apa-apa," kata Bryan merasa bersalah. Hari ini ia hanya kebetulan pulang sekolah dan jalan bareng dengan Janes yang rumahnya searah dengan rumah Janes juga.
"Kamu nggak apa-apa 'kan?" sambung Bryan lagi karena ia khawatir dengan keadaan Janes yang sudah dibentak dengan keras.
"Santai aja, semua akan baik-baik aja," sahut Janes dengan mengulas senyum.
Keduanya pun berpisah setelah Bryan tiba di rumahnya. Kini Janes meneruskan perjalanannya seorang diri. Ia berjalan dengan menunduk karena pikirannya sedang galau.
Namun sebelum tiba di rumah, tiba-tiba tangannya dicekal oleh Rian yang ternyata menunggunya di pinggir jalan.
"Ohh, rupanya kamu mulai main di belakangku, ya!" ujar Rian dengan wajah merah padam menahan amarah.
"Kalau memang nggak ada hubungan apa-apa di antara kalian, lalu kenapa tadi kamu nggak mau pulang bareng denganku?" gertak Rian masih dengan nada yang belum berubah.
"Kenapa sih Kakak marah-marah terus, bukannya Kakak juga semalam sudah ingkar janji?" balas Janes dengan sengit.
"Apa maksudmu, saya ingkat janji?"
"Semalam saya lihat denan mata kepalaku sendiri, bagaimana Kakak dan kak Lin bercumbuh hingga mengeluarkan suara-suara yang aneh,"
Rian merenung sejenak, mencoba mengingat kejadian semalam ketika Lin meminta haknya sebagai istri. "Jadi ini yang membumb8m9tjmkib ,yat Janes ngambek sejak pagi tadi." bathinnya dalam hati. Namun di satu sisi ia senang karena sekarang ia tahu bahwa Janes cemburu karena cinta.
"Kamu harus mengerti sayang, Lin itu 'kan istri Kakak, jadi wajar dong kalau sekali-kali ia dapat haknya dari saya. Lagian kita belum jadi suami-istri. Kakak ini laki-laki normal loh, tapi kamu harus tahu, semalam itu saya membayangkan bahwa kamulah yang sedang bersamaku!"
"Tapi waktu itu Kakak pernah ngomong bahwa Kakak nggak akan pernah lagi menyentuh kak Lin,"
"Maaf Sayang, sekali lagi saya harap kamu mau mengerti posisi Kakak saat ini!" ujar Rian dengan suara memelas dan merayu.
"Ayo senyum dong, nanti cantiknya hilang... sebentar malam Kakak akan beli sesuatu buat kamu!" bujuk Rian lagi.
Janes akhirnya mengalah. Ia mengangguk lalu tersenyum.
"Nah, begitu dong! Ayo kita pulang sekarang!" ajaknya dengan semangat.
Keduanya lalu pulang ke rumah.
Tiba di rumah ia mendapati suasana rumah yang lengang dan sepi. Lin dan Rizha sedang tidur sianh dengan nyenyak. sedangkan piring bekas makan Rizha terletak begitu saja dii lantai. Begitu juga dengan perabotan di meja makan, semuanya berantakan.
__ADS_1
Rian hanya geleng-geleng kepala meeyaksikan rumah yang berantakan sedangkan Janes langsung mengganti serangam sekolahnya dan menyiapkan makan siang untuk dirinya dan untuk Rian.
Keduanya makan dengan lahap sambil sesekali saling tatap-tatapan dengan mesra.
Tak lama kemudian Rizha terbangun. Ia datang menghampiri papanya yang masih sementara makan.
"Papa tidak lupa 'kan? Hari ini mau ajak Rizha jalan-jalan?" ucapnya dengan suara yang menggemaskan.
"Nggak Nak, Papa tetap ingat, tapi jalan-jalannya nanti sore biar kita nggak kepanasan,"
"Hore... hore...!" seru Rizha sambil melompat-lompat.
***
Sore hari, Rian bersiap untuk menemani anaknya jalan-jalan sesuai dengan janjinya. Tampak Rizha sangat bahagia. Ia melompat ke sana ke mari sehingga Janes kewalahan untuk menggantikan pakaiannya.
"Kamu juga, bersiaplah, nanti tidak ada mengawasi Rizha!" kata Lin kepada Janes.
"Iya, Kak," sahut Janes senang karena dari tadi ia sibuk mencari alasan untuk disampaikan kepada kakaknya agar ia diizinkan untuk ikut serta namun alasan itu belum juga ditemukan tiba-tiba saja Lin sendiri yang menyuruhnya agar ia ikut.
Mereka berangkat dengan berboncengan. Pertama Rian membawa mereka ke toko penjual HP. Ia ingin membelikan sebuah ponsel buat Janes agar bisa lebih mudah untuk berkomunikasi.
Janes heran ketika Rian berhenti tepat di depan toko yamg menjual ponsel. Ia pun ikut turum sambil menggandeng tangan Rizha dan mengikuti Rian dari belakang.
"Kamu suka yang ini?" tanya Rian sambil memperlihatkan sebuah ponsel dengan merk Oppo kepada Janes.
"Kakak mau beli buat saya?" tanya Janes dengan mata terbelalak.
"Iya Dek, ini buat kamu!" sahut Rian sambil tersenyum.
Janes sangat senang karena mereka juga dihimbau di sekolah untuk memiliki ponsel sebagai salah satu sarana dalam mengakses materi pembelajaran.
Rian membayar harga ponsel tersebut sebanyak Rp 2.000.000. Kemarin ia baru saja menerima upah kerjanya sebesar Rp. 6.000.000 dan ia sudah menyerahkan sebagian kepada istrinya.
Setelah itu mereka berpindah ke toko yang menjual permainan anak-anak. Rizha sangat senang melihat berbagai macam permainan hingga ia jadi bingung ketika disuruh olah ayahnya untuk memilih mana yang akan dibeli.
Janes ikut membantu untuk memilih permainan yang akan dibeli. Setelah sekian lama memilih akhirnya Rizha memilih boneka bebie, boneka panda ukuran besar, dan satu paket permainan masak-memasak.
***
"Kamu dapat dari mana uang untuk membeli ponsel?" tanya Lin dengan heran melihat Janes sedang mempelajari aplikasi yang ada pada ponsel tersebut.
Rian yang sedang duduk santai sambil menonton sebuah video lucu di ponselnya keringat dingin mendengar pertanyaan istrinya. Tadi ia lupa memberi tahu kepada Janes jangan sampai keceplosan sama kakaknya bahwa ponsel itu adalah pemberiannya.
"Selama ini saya menyisihkan sebagian uang kiriman kakak Raka dan tadi saya hitung, ternyata sudah cukup buat beli HP soalnya di sekolah kami diharuskan memiliki benda ini," jawab Janes.
Rian sangat lega mendengar jawaban yang diucapkan oleh Janes. Seketika itu juga ia mengetik sebuah pesan di ponselnya dan mengirim ke nomor ponsel Janes.
(Jawaban yang tepat Sayang, kamu memang pintar!) chat dari Rian.
(Siapa dulu dong!) balasnya.
Sementara keduanya asyik saling berbagi pesan, Lin juga asyik menemani Rizha bermain menggunakan mainan baru.
Lin tidak pernah menyadari bahwa suaminya sedang asyik berchat ria dengan adiknya. Sesekali ia tampak senyum-senyum sambil menatap layar ponselnya.
__ADS_1