Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
31. Bersembunyi di Lemari


__ADS_3

Keesokan harinya, Janes berangkat ke sekolah seperti biasa. Kali ini ia mengenakan seragam olahraga dengan tas sekolah melekat di punggungnya. Tak lupa ia mengenakan jaket untuk menutupi baju olahraga yang ia kenakan supaya tidak menimbulkan pertanyaan bagi siapa saja yang melihatnya.


Tadi subuh ia sudah dapat chat dari Bryan agar langsung saja datang ke rumahnya. Hari ini mereka sudah diliburkan dan diharapkan untuk beristirahat di rumah sambil menunggu waktu pelaksanaan perpisahan.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih lima belas menit, ia telah sampai di depan rumah Bryan. Ia pun menengok ke sana ke mari jangan sampai ada orang yang melihatnya masuk ke rumah tersebut. Setelah dirasanya bahwa keadaan sudah aman, ia mempercepat langkahnya dan masuk ke dalam karena Bryan sudah menunggunya di pintu.


Bryan menyambutnya dengan gembira. Ia langsung menggandeng tangannya dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar yang terletak di lantai dua.


"Kamu tahu, nggak... semalam saya nggak bisa tidur loh, selalu ingat kamu," ujar Bryan setelah tiba di lantai dua.


"Oh, yah," sahut Janes dengan senyum manisnya.


Keduanya duduk di ruang tengah. Bryan sudah mempersiapkan segala sesuatunya, di meja sudah tertata rapi makanan yang enak-enak.


"Kamu pasti belum sarapan 'kan? Ayo kita sarapan dulu dan kita nikmati hari ini sebagai hari kedua menyatunya dua hati yang saling mencintai!" ucap Bryan dengan gayanya yang khas membuat Janes tertawa.


"Atau mau, saya yang suapin? Biar mirip dengan gaya pacaran anak-anak muda yang ada di sinetron!" sambung Bryan lagi sambil mengambil nasi dan lauk.


Janes tidak menolak ketika Bryan menyendok nasi dan mengarahkan ke mulutnya. Janes pun menikmati makan tersebut. Pagi tadi Bryan keluar untuk membeli makanan di warung yang tidak jauh dari rumahnya setelah ayah dan ibunya pergi ke pasar. Sebenarnya ibunya sudah menyiapkan makanan untuknya tapi ia sengaja membeli makanan yang berbeda agar kekasihnya jadi terkesan.


Mereka makan sambil bergurau. Janes sudah mulai merasa nyaman berada di dekat Bryan yang suka humor dan perhatian. Selama ini ia juga merasakan perhatian kakaak iparnya kepadanya tapi tidak sama dengan yang ia dapatkan dari Bryan saat ini.


Setelah makan, Bryan mengambil minuman yang ia sudah sediakan di bawah meja. Dua gelas sudah terisi dan seperti kemarin ia sudah membubuhi obat perngsang pada gelas minuman yang akan ia berikan kepada Janes.


Rasa penasaran masih membuat dirinya ingin melakukan lebih dari yang sudah ia lakukan kemarin.


"Ayo diminum, Sayang!" kata Bryan sambil menyodorkan gelas kepada Janes.


"Iya, terima kasih!" sahut Janes lalu meraih gelas tersebut dan meneguknya.


Selama kurang lebih satu jam keduanya bercanda ria lalu akhirnya Janes merasa capek karena dari tadi duduk terus. Ia ingin meluruskan badanya dengan rebahan di sofa.


Janes mengagumi kehidupan Bryan yang sangat beruntung, punya segalanya. Kedua orang tuanya sudah mendaftarkan dia untuk menjadi seorang polisi karena postur tubuhnya sangat mendukung dan otaknya juga cerdas. Satu hal yang menjadi pergumulannya yang orang lain tidak pernah tahu termasuk kedua orang tuanya adalah ia selalu merasa kesepian karena orang tuanya tidak pernah punya waktu untuk tinggal di rumah. Bryan sangat rindu untuk duduk menghadap meja dan makan bersama sambil bersenda-gurau, namun hingga sampai sekarang mungkin bisa dihitung pakai jari, sudah berapa kali ia makan bersama dengan kedua orang tuanya pada saat tiba hari raya keagamaan.


"Kamu adalah laki-laki yang sangat beruntung Sayang, Bisa sebebas ini membawa seorang perempuan ke rumahmu," kata Janes.

__ADS_1


Bryan tersenyum mendengar ucapan kekasihnya.


"Pasti kamu udah sering bawa perempuan ke sini!" kata Janes lagi.


"Kali ini baru yang ke dua. Kemarin pertama kali dan hari ini kedua kalinya," ucap Bryan dengan serius.


"Yang benar?"


"Sumpah, saya baru pertama kali jatuh cinta kepada seorang perempuan dan perempuan itu adalah kamu. Percaya dong sama saya karena saya ini serius loh, dua rius malah!" ujar Bryan sambil tertawa renyah.


Janes percaya pada omongan Bryan karena tampak jelas di wajahnya bahwa ia sedang tidak berbohong.


"Terima kasih Sayang, saya percaya kepadamu, kok!"


Bryan senang mendengar jawaban Janes. Ia menghampiri lalu mendaratkan ciuman di kening dengan hangat lalu menggendongnya ke kamar. Tak lupa ia menutup dan mengunci pintu tersebut.


Obat perangsang mulai bereaksi pada tubuh Janes. Itu tampak dari gayanya yang menantang. Dengan hati senang Janes mengikuti permainan romantis yang disuguhkan oleh Bryan. Tidak jauh beda dengan yang sering ia dapatkan dari kakak iparnya. Bedanya, Bryan melakukan dengan cara yang lebih halus dan sangat hati-hati sedangkan Rian melakukan dengan kesan selalu terburu-buru dan kasar.


Tangan Bryan menyusup ke leher baju yang dikenakan oleh Janes sementara bibirnya tak lepas dari bibir tipis yang membuat hasratnya semakin bergelora. Teringat dengan video yang sempat ditontonnya semalam akibat ia sulit memejamkan mata, saat ini ia akan mempraktekkan karena mangsa sudah ada di depan mata.


Janes sudah mabuk membuat dirinya beraksi tanpa ada rasa sungkan. Ia membuka semua pakaian yang melekat pada tubuhnya karena merasa gerah membuat Bryan ternganga melihat pemandangan yang sangat menggoda dan menggairahkan.


"Apa kau tidak akan menyesal nanti?"


Janes mengangguk. Ia sudah pasrah dari pada kesuciannya nanti direnggut oleh kakak iparnya, lebih baik ia serahkan kepada Bryan yang masih pejaka.


Bryan tidak ingin terburu-buru karena ini adalah pengalaman pertamanya dan tentunya akan menjadi kenangan sepanjang masa. Saat merenung tiba-tiba hati kecilnya berkata lain seolah mengatakan, jangan kau rusak dia! Bukankah kamu mencintanya? Bryan tersadar lalu duduk sambil menghembuskan nafasnya dengan berat.


"Ayolah Sayang! Bukankah kamu sangat mencintaiku?" bujuk Janes.


"Justru karena mencintaimu, maka saya tidak ingin merusak apa yang paling berharga dalam hidupmu!"


"Tapi... ,"


Janes tidak melanjutkan perkataannya. Sejak kemarin ia merasa mulai takut jika nanti Rian akan menikmati tubuhnya sementara laki-laki itu tidak bisa lepas dari kak Lin. Benar ia sayang sama kakak iparnya tapi setelah mengenal Bryan, sepertinya ia lebih rela untuk menyerahkan kehormatannya kepada pria tersebut sebelum Bryan menikmatinya. Ia sudah bisa memastikan bahwa suatu hal yang tidak mungkin ia tolak ketika Bryan memintanya karena ia sudah tahu karakter kakak iparnya itu seperti apa.

__ADS_1


"Tok, tok, tok!" suara ketukan di pintu membuat kedua insan yang berada di kamar itu kalang kabut. Keringat dingin mulai mengucur di tubuhnya. Siapa gerangan yang datang dan bisa masuk ke rumah padahal pintu utama terkunci?


Bryan segera membuka lemari dan menyuruh Janes masuk lalu menutupnya. Tak lupa ia menyimpan semua barang-barang milik Janes, termasuk pakaiannya yang berserakan di lantai lalu ia sendiri merapikan pakainnya. Setelah memastikan semua sudah aman ia membuka pintu dan tampaklah ibunya berdiri di situ sambil tersenyum. Bryan sengaja merentangkan kedua tangannya sebagai penghalang agar ibunya tidak masuk ke kamar.


"Kok pintunya lama baru dibuka, Nak?"


"Maaf Bu, tadi saya sedang berada di toilet soalnya perutku mules-mules sejak dari tadi pagi!"


"Ohh, ayo kita turun, biar Ibu beri obat supaya lekas sembuh!"


Bryan menutup pintu kamarnya dan mengikuti ibunya turun ke lantai bawah dengan perasaan was-was. Ia khawatir jangan sampai ibunya tadi sudah merekam pembicaraan mereka tapi pura-pura tidak tahu.


"Tumben Ibu pulang cepat!"


"Iya, Nak, Ibu datang membawa makanan kesukaanmu. Ayo kita makan dulu, sebentar baru minum obat!"


Ibu Ranti sengaja pulang untuk menjenguk anaknya karena sudah beberapa hari ini tidak pernah berkomunikasi secara langsung dan semalam ia mimpi buruk tentang Bryan sehingga ketika ia sedang menjual di pasar, hatinya selalu gelisah karena dihantui oleh mimpi tersebut.


Sejak dari kecil Bryan sangat suka makan nasi dengan lauk ayam krispy dan hari ini ibunya datang membawa makanan tersebut. Ibu Ranti mengatur makanan untuk anaknya dan ia tidak mau juga jika setiap hari Bryan makan dengan menu yang itu-itu terus karena bisa berbahaya bagi kesehatannya sehingga ia hanya sekali-kali membeli ayam krispy untuknya.


Selerah makan Bryan hilang walau makanan kesukaannya ada di hadapannya. Ia teringat akan Janes yang sedang sembunyi di lemari. Bagaimana kalau ia sesak dan tidak bisa bernafas?


"Perut saya masih mules Bu, Ibu makan aja duluan, nanti saya nyusul!" kata Bryan beralasan.


"Tapi Ibu mau balik lagi ke pasar Nak, mumpung pembeli lagi ramai soalnya lebaran sudah semakin dekat. Ayah dan ibu mati-matian cari uang Nak biar kamu bisa jadi polisi karena biaya untuk bisa mencapai itu semua tidaklah sedikit. Jadi Ibu harap kamu bisa mengerti kesibukan kami dan tolong jaga diri baik-baik Nak karena sebentar lagi kamu sudah harus mengikuti tes!" ucap ibu Ranti panjang lebar.


"Iya Bu, tapi Ibu janji dong, pulangnya nanti nggak sampai larut malam biar kita bisa makan bersama!" kata Bryan dengan senang.


"Iya Nak, Ibu janji, tapi tolong minum ini obat nanti yah! Kamu nggak apa-apa ditinggal Ibu sekarang?


"Nggak Bu, lagian perutku sepertinya sudah sembuh, nih!"


"Oke kalau begitu, Ibu berangkat dulu!"


"Hati-hati, bu!"

__ADS_1


Ibu Ranti mencium kening anaknya lalu pergi. Kini hatinya sudah lega karena Bryan baik-baik saja. Sekarang ia sudah bisa bekerja kembali dengan hati yang tenang.


__ADS_2