Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
38. Bangkit dari Keterpurukan


__ADS_3

Pak Ali dan ibu Erna sangat murka setelah mendengar penjelasan dari Lin. Mereka langsung menghubungi nomor ponsel Rian dan Janes secara bergantian tetapi dua-duanya sudah tidak aktif.


Ibu Erna mencari nomor ponsel ibu Nani lalu menghubunginya.


"Iya, halo! Ada apa?" suara ibu Nani terdengar santai dari sambungan telepon.


"Apakah anakmu yang kurang ajar itu ada di situ sekarang?" teriak ibu Erna dengan emosi.


"Hey, apa maksud kamu?" tanya ibu Nani dengan keras pula karena heran dengan ucapan ibu Erna yang kasar.


"Jangan pura-pura tidak tahu Bu, anak kamu itu telah menyelingkuhi anakku dan yang paling parahnya lagi karena selingkuhannya itu adalah Janes, adik istrinya sendiri. Anak kamu itu benar-benar kurang ajar dan sudah gila!"


"Enak saja Anda ngomong begitu, kalau pun betul anakku selingkuh, itu karena Lin, anak kamu yang kurang beres. Suami mana yang tahan hidup dengan istri yang pemalas, bangunnya selalu kesiangan dan jarang mandi pula, bau, tahu nggak?"


"Satu lagi perlu kalian tahu bahwa anak saya itu bukan robot yang bisa menanggung makanan anak-anak kamu yang menumpang di rumahnya. Jangan kira bahwa Lin pernah membantu Rian untuk mencari nafkah, mau bantu, mengurus makanan dan pakaian suaminya saja nggak pernah. Jadi wajar dong jika anak saya lebih tertarik kepada perempuan lain yang selama ini lebih mengerti dan perhatian kepadanya meskipun perempuan itu adalah adik iparnya.


Suara dari ponsel yang dispiker terdengar dengan jelas bagi semua yang ada di situ. Mereka pun menoleh ke arah Lin yang menundukkan kepala setelah mendengar ucapan ibu mertuanya yang benar-benar membuatnya terpojok dan tak bisa berkutik.


Ibu Erna memutuskan sambungan teleponnya dan menatap anaknya dengan tatapan menyelidik.


"Apa benar yang dikatakan oleh ibu mertuamu?"

__ADS_1


Lin diam dan tak berani menatap wajah mamanya yang sedang emosi. Air matanya mulai mengalir membasahi pipinya. Melihat hal itu ibu Erna meninggalkan mereka di ruang tamu. Ia masuk ke kamar untuk menenangkan perasaannya yang sangat kacau. Ia tak tahu harus berpihak ke mana, sementara dirinya juga masuk ke dalam lingkaran tersebut. Ke tiga anaknya menumpang di rumah anak mantunya tanpa pernah tahu apa yang mereka makan dan minum. Hanya yang mereka tahu bahwa uang sekolahnya ditanggung oleh Raka, anak sulungnya. Selebihnya, mereka tidak pernah tahu.


***


Sebelum adzan subuh Rian bersama Janes sudah berangkat meninggalkan rumahnya dengan mengendarai sepeda motor. Motor tersebut melaju dengan kencang dan belum tahu arahnya hendak ke mana yang penting bisa menjauh dulu dari desanya.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga setengah jam, keduanya mampir di sebuah warung untuk mengisi jawa tengah yang sudah keroncongan lalu kembali melanjutkan perjalanan yang entah tujuannya ke mana.


Menjelang malam mereka tiba di kota Makassar. Rian memeriksa uang di dompetnya, apakah masih cukup untuk menyewa penginapan dan buat beli makanan.


Uang yang ada di dompetnya masih ada dan setidaknya masih bisa digunakan sampai besok. Untuk hari esok nanti dipikirkan lagi. Begitulah prinsipnya, yang penting malam ini bisa makan dan ada tempat untuk beristirahat.


Keesokan harinya keduanya pun langsung mencari pekerjaan. Ada warung yang menerima Janes untuk mencuci piring, sedangkan Rian bekerja di pasar untuk menurunkan barang dari truk. Mau tak mau pekerjaan itu haris dilakukan untuk menyambung hidup.


***


Akhirnya Lin menitipkan anaknya kepada orang tuanya dan ia pun pergi ke kota Makassar untuk mencari pekerjaan.


"Ingat Lin, kalau kamu tidak pernah merubah sikap malasmu itu, jangan harap akan ada orang yang bisa mempekerjakanmu!" kata pak Ali ketika Lin sudah siap-siap untuk berangkat.


"Iya Pa, Lin janji akan berubah!" sahut Lin menyakinkan papanya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Lin selalu teringat nasihat-nasihat dari kedua orang tuanya dan juga ucapan ibu mertuanya tempo hari. Semua ini menjadikan tekad Lin untuk berubah.


Tiba di kota ia menemui salah seorang kenalannya dari desa dan meminta bantuan untuk dicarikan pekerjaan. Nasib baik kali ini berpihak kepadanya, ada sebuah keluarga yang butuh baby sister untuk anaknya yang sudah berumur dua tahun dan tanpa pikir panjang Lin langsung setuju walau gaji yang ditawarkan hanya Rp 1.500.000 per bulan. Yang terpenting baginya sekarang adalah bisa bekerja dan punya tempat tinggal.


Pak Geral bekerja sebagai polisi dan istrinya bernama ibu Yanti. Istrinya ini selalu kesepian di rumah ketika suaminya ditugaskan lagi ke luar kota karena itulah ia ingin agar ada orang yang bisa ditemani di rumah sekalian membantu untuk menjaga buah hati mereka.


Sebenarnya ibu Yanti punya perusahaan tapi ia hanya sekali-kali ke kantor untuk memantau pekerjaan karyawannya karena mereka sudah punya orang kepercayaan.


Ibu Yanti adalah seorang wanita yang cantik dan rajin bekerja, tutur katanya lembut dan murah senyum. Sebenarnya ia lebih muda dari pada Lin tapi justru ia banyak mengajarkan hal-hal yang positif kepada Lin karena ia kelihatan lebih dewasa. Apalagi setelah mendengar kisah hidup Lin yang sangat dramatis dan menyedihkan.


Seiring berjalannya waktu, ibu Yanti dan Lin menjadi sahabat. Keduanya selalu kerja sama untuk mengerjakan pekerjaan di rumah dan mengurus si kecil, walaupun kesepakatan pertama waktu Lin akan bekerja adalah sebagai baby sister tapi lama-kelamaan keakraban terjalin di antara keduanya sehingga selalu kompak dalam berbagai pekerjaan di rumah.


Baru tiga bulan Lin bekerja di rumah ibu Yanti tapi kini Lin benar-benar ingin berubah dan bangkit dari keterpurukan. Gaji yang diberikan oleh tuan rumah juga lebih besar dari yang sudah disepakati pada awal masuk kerja dan Lin sudah dua kali mengirim uang kepada orang tuanya untuk membeli kebutuhan Rizha dan juga Lin berharap, dengan uang kirimannya itu bisa digunakan oleh Iwan dan Hans untuk secepatnya mengurus surat pindah sekolahnya.


Ia juga sudah membiasakan diri bangun lebih cepat di pagi hari karena merasa risih ketika ia bangun dan majikannya sudah duduk menghadapi makanan di meja. Ibu Yanti sudah banyak memberikan contoh dan teladan kepadanya.


Penampilan Lin banyak berubah, sekarang berat badannya sudah turun empat kilo karena selalu rajin melakukan senam bersama majikannya dan juga makanannya sudah teratur.


Dua kali sebulan ia diajak oleh ibu Yanti ke salon untuk melakukan perawatan selain yang mereka juga lakukan secara rutin di rumah. Awalnya Lin menolak untuk ke salon karena ia tahu biaya ke salon itu tidak sedikit tapi ibu Yanti malah memaksanya dengan alasan malas ke salon kalau nggak ada teman.


"Ternyata kamu sangat cantik Lin, pasti mantan suamimu akan gigit jari kalau kalian sempat ketemu atau bisa jadi dia tidak akan mengenalimu lagi," puji ibu Yanti setelah melihat penampilan Lin yang sangat berubah drastis setelah rambutnya direbonding dan dimodel dengan potongan pendek.

__ADS_1


"Ahh, Ibu bisa aja, semua ini karena bantuan Ibu, terima kasih Bu!" ucap Lin dengan tulus.


Sambil menggendong Rehan, anak majikannya itu, mereka menuju mobil yang di parkir di depan. Ibu Yanti sendiri yang menyetir mobilnya. Mereka pulang ke rumah karena hari sudah malam.


__ADS_2