Istri Pemalas, Suami Selingkuh

Istri Pemalas, Suami Selingkuh
35. Sudah Kecanduan


__ADS_3

Pagi itu Janes sudah mandi dan bersiap-siap untuk pergi. Kini ia duduk menunggu Lin yang belum bangun juga pada hal sudah siang. Ia ingin pinjam uang buat sewa angkot ke desa Harapan.


Rian duduk di depan TV sambil memperhatikan gerak-gerik Janes yang gelisah. Tentu saja ia gelisah karena tak lama lagi mobil yang arahnya ke desa tujuannya sudah berangkat sementara tak ada tanda-tanda bahwa Lin akan segera bangun. Ia juga segan untuk membangunkan kakaknya


Akhirnya ia masuk ke kamarnya kembali karena keberangkatannya pagi ini sudah batal. Rian tersenyum sinis karena tahu bahwa Janes tak punya uang.


Setelah yakin bahwa Janes tak jadi pergi, Rian pun berbaring di depan TV dan tertidur dengan pulas karena rasa kantuk membuat matanya berat. Kebetulan hari ini tidak ada lagi yang menawarinya untuk bekerja.


Rupanya Janes juga tertidur karena semalam ia tidak bisa tidur karena kata-kata yang diucapkan oleh kakak iparnya itu. Kini ia merasa bahwa selama ini hanya dimanfaatkan oleh Rian karena kondisi istrinya yang malas dan dekil.


Ia terjaga setelah mendengar suara Rizha yang berteriak-teriak di pintu kamar memanggil namanya.


"Iya Dek, ada apa?" tanya Janes kepada Rizha setelah membuka pintu.


"Mama memanggilmu!" sahut Rizha sambil memonyongkan mulutnya.


Janes keluar dan melewati ruang tengah di mana Rian masih menikmati tidurnya yang nyenyak. Ia sekilas melirik ke arahnya dengan tatapan kebencian kemudian berlalu untuk menghampiri kakaknya di dapur yang sudah siap-siap bepergian. Tumben ia sudah mandi, begitu pikir Janes karena heran.


"Iya Kak, apa benar kakak memanggil saya?"


"Oh, iya, tolong jaga adik kamu soalnya saya ada undangan ke rumah pak dusun mau bantu-bantu masak, katanya anaknya sedang berulang tahun!"


"Siap, Kak!"


Sebenarnya Lin malas menghadiri acara seperti itu tapi ini sudah menjadi kebiasaan.warga desa untuk saling membantu apalagi ini khusus dalam lingkup dusun. Kemarin ia sudah janjian dengan ibu Lilis, tetangganya untuk sama-sama ke rumah pak dudun.


"Mungkin malam baru saya pulang," ucap Lin sambil menyisir rambutnya lalu mengikatnya dengan rapi.


"Iya, Kak," sahut Janes lalu mengajak Rizha masuk ke kamarnya kembali karena ia masih ingin baring-baring. Lagian ia sangat kesal mau bertemu dengan Rian.


Janes memberikan kertas dan pensil kepada Rizha untuk menggambar sementara ia sendiri baring-baring sambil main HP.


Berharap ada kabar dari Bryan namun sudah seminggu sejak pertemuan mereka yang terakhir, Bryan belum pernah mengirim kabar untuknya. "Mungkinkah ia marah setelah melihat video pada ponselnya?" pikir Janes dalam hati.


Lama-kelamaan Rizha mengantuk dan Janes pun menidurkan ia di ranjang kemudian ia keluar menuju dapur untuk mencari makanan karena perutnya sudah keroncongan apalagi tadi pagi tidak sarapan gara-gara Rian duduk terus di dekat meja makan.


Saat itu pula Rian terjaga karena ia juga sudah lapar. Ia ke dapur dan mengambil sendiri makanan karena ia tahu bahwa Janes masih ngambek. Keduanya duduk menghadap meja dan makan tanpa suara.


Usai makan, Rian mengedarkan pandangannya mencari-cari keberadaan istri dan anaknya namun tak menemukan, akhirnya ia menghampiri Janes yang sedang cuci piring dan memberanikan diri untuk bertanya.


"Kakak kamu dan Riza ke mana?"


"Kak Lia ke rumah pak dusun dan Rizha sedang tidur di kamarku!"


Suara Janes terdengar datar dan ketus tapi hati Rian lega karena setidaknya ia sudah menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


Rian mulai berpikir bagaimana keadaannya nanti jika Janes sudah benar-benar nekat untuk pergi sehingga hatinya luluh juga dari kemarahan setelah membaca berulang-ulang pesan dari Janes semalam. "Saya tidak boleh egois," katanya untuk menenangkan pikiran.


"Jan, tolong maafin Kakak yah! Semalam itu saya khilaf dan cemburu, dan kamu harus tahu bahwa Kakak cemburu karena sayang dan cinta sama kamu!" kata Rian yang mulai membujuk Janes dengan rayuan maut.


Janes terdiam tapi air matanya kembali mengalir seperti semalam dan terisak-isak hingga bahunya terguncang.


Saat seperti inilah yang ditunggu oleh Rian. Ia memeluknya dari belakang dan mencium belakang lehernya dengan lembut.


"Sudahlah Sayang, lupakan kejadian semalam!"


Rian pun langsung mengangkat tubuh Janes dan membawa ke kamarnya.


Dengan lincah ia melucuti pakaian yang melekat pada tubuh Janes dan mulai memanjakan matanya dengan pemandangan indah. Mulutnya menyatu dengan bibir yang ranum dan tangannya meremas benda kenyal dengan penuh gairah.


Janes yang sudah pernah merasakan kenikmatan yang luar biasa saat bersama dengan Bryan kini malah mengikuti permainan tersebut dan menikmatinya. Rasa benci yang sempat mengisi rongga dadanya sudah hilang dan kini ia membalas setiap sentuhan untuk mengimbangi pergerakan Rian.


Kalau dulu saat bersama Bryan, ia yang mengambil alih permainan karena lawannya sedang setengah sadar namun saat ini ia benar-benar mabuk dengan serangan Rian. Kini ia tidak merasakan lagi rasa sakit pada bagian sensitifnya seperti saat pertama kali melakukan tapi *******-******* halus keluar dari mulutnya hingga terhempas tak berdaya.


Mengingat waktu, Rian mengakhiri permainannya karena ia khawatir jika kedua adik Janes, Iwan dan Hans akan segera pulang dari sekolah dan takut jangan sampai mereka memergoki dirinya sedang bergulat dengan saudaranya.


Keduanya pun buru-buru memasang pakaiannya lalu membersihkan dan merapikan kembali seprey yang sudah tercabut dari kasur.


"Mulai sekarang kamu nggak boleh lagi tidur dengan lelaki mana pun karena tidak mungkin mereka mau memperistri seorang perempuan yang sudah tidak perawan lagi. Hanya saya yang mengerti dirimu sekarang. Pria yang sudah menikmati keperawananmu itu belum tentu mau jadi suamimu kelak apalagi kalau ia tahu bahwa kamu juga sudah bersetubuh dengan kakak iparmu ini!" kata Rian dengan datar. Tergambar di wajahnya masih ada rasa kecewa tapi untuk menghalangi Janes agar tidak pergi dari rumahnya ia berusaha melawan rasa kecewanya.


"Kak Janes, Kakak Janes!" suara Rizha membuat Janes terhenyak dari lamunannya. Ia berlari ke kamar untuk menemui adiknya yang sudah bangun. Sementara itu Rian masih duduk termenung di depan TV yang menyala tapi pandangannya bukan tertuju ke TV namun pikirannya sedang jauh melayang.


Tak lama kemudian Hans dan Iwan juga sudah tiba dari sekolah. Seperti biasa setelah makan dan istirahat sejenak, keduanya punya tugas di kebun untuk membersihkan kebun sayur dari rumput liar dan menyiram tanaman sayur yang baru selesai ditanam.


Rian masih melanjutkan tidurnya karena belum puas. Ia bahkan tertidur hingga magrib dan bangun setelah Janes memanggilnya untuk makan malam. Namun sebelum makan, tak lupa ia mandi dulu untuk menyegarkan tubuhnya yang seharian hanya berbaring.


Hingga selesai makan, Lin belum pulang juga dari rumah pak dusun tapi Rian tidak pernah mempermasalahkan jika istrinya sedang keluar karena ada Janes di rumah yang mengurus segala sesuatunya bahkan ia akan merasa lebih bebas karena tak ada yang menjadi penghalang untuk bisa mendekati adik iparnya.


"Sebentar malam lagi yah?" bisik Rian kepada Janes ketika Kedua adik iparnya yang laki-laki sudah pergi ke ruang tengah.


"Mau apa lagi sebentar malam, Kak?" tanya Janes pura-pura nggak ngerti.


"Biasa... tadi siang Kakak belum puas,"


"Ahh, Kakak...,"


Keduanya pun tertawa dan saat itu pula Lin muncul di pintu dapur. Rian dan Janes langsung pura-pura sibuk memindahkan perabotan bekas makan.


"Aduh, kalian udah makan yah, padahal saya bawa lauk, nih!" kata Lin sambil meletakkan sebuah rantang yang berisi daging ayam di meja makan.


"Iya, baru aja, simpan aja buat sarapan besok pagi!" ujar Rian lalu meninggalkan mereka. Ia ingin duduk-duduk di teras rumah sambil mengisap sebatang rokok.

__ADS_1


***


Malam itu Rian benar-benar tidak bisa tidur karena selalu teringat dengan tubuh adik ipar yang sudah menjadi candunya.


Ia sangat senang karena istrinya cepat sekali tidur malam ini. Mungkin tadi tidak pernah istirahat di rumah pak dusun sehingga jam baru menunjukkan pukul 20.30 ia sudah terlelap.


Tapi rasa senangnya itu kemudian berganti lagi dengan kegelisahan karena kedua adik iparnya masih terjaga. Keduanya sedang menonton pertandingan sepak bola yang disiarkan secara langsung di salah satu siaran TV.


Rian memutar otaknya mencari cara agar ia bisa menyelinap ke kamar Janes tanpa sepengetahuan Hans dan Iwan.


Beberapa saat kemudian, Rian menyunggingkan senyum. Ia baru ingat bahwa kamar Janes mempunyai jendela di samping. Ia pun langsung mengetik pesan agar Janes membuka jendela kamarnya lalu mengirim pesan tersebut. Setelah mendapat balasan, ia langsung bersiap-siap dengan gaya seperti mau keluar rumah untuk menghadiri sebuah pertemuan.


"Tolong pintunya jangan dikunci nanti yah soalnya saya mau keluar sebentar!" katanya kepada Iwan dan Hans.


"Iya, Kak,"


Dengan langkah pelan ia berjingkrat-jingkrat menuju samping rumah dan masuk ke kamar adik iparnya lewat jendela. Janes menyambutnya dengan senyum yang lebar karena dari tadi ia juga sudah gelisah ingin mengulang permainan tadi siang yang terbilang sangat singkat waktunya.


"Kakak benar mau nikahin saya 'kan?" ucap Janes saat tangan Rian sudah membuka kancing bajunya.


"Iya Sayang, kita tinggal tunggu waktu saja," sahutnya meyakinkan.


"Takutnya kalau saya hamil dan Kakak nggak.mau tanggung jawab!" kata Janes lagi karena masih ragu.


"Kalau perlu kita akan kawin lari," ucap Rian dengan pandangan tak lepas dari tubuh yang sudah polos di depannya.


Jika selama ini keduanya hanya saling elus dan raba-meraba untuk saling memuaskan, sekarang sudah berbeda. Tak ada lagi yang tersisa dan semuanya berjalan dengan begitu sempurna.


Demikianlah terjadi setiap kali ada kesempatan bagi mereka, tak kenal mau siang atau malam hari. Janes pun tak pernah lagi punya niat untuk pergi mencari pekerjaan. Pesan dari kedua orang tuanya pun agar ia pulang ke desa Harapan tak diindahkan karena ia sudah merasa nyaman hidup bersama dengan Rian yang selalu memberinya kehangatan.


Sudah beberapa bulan ini Janes selesai mengikuti Ujian Nasional tapi ia tetap tinggal di rumah kakaknya mengundang tanya juga bagi tetangga-tetangga. Mereka heran dan mulai curiga bahwa ada sesuatu yang tidak beres karena salah satu dari mereka pernah melihat Janes memeluk kakak iparnya dengan mesra saat berkendara di jalananan.


***


Suatu malam, Lin meminta haknya sebagai istri dengan tidak malu-malu karena sudah beberapa bulan terakhir ini ia sama sekali tidak pernah disentuh oleh suaminya.


"Maafin saya Lin, mungkin ada penyakit dalam tubuhku membuatku tak pernah mengingat kewajibanku kepadamu sebagai seorang suami! Barang saya ini sepertinya tidak bisa berfungsi lagi sebagaimana mestinya," kata Rian dengan akting yang sangat bagus membuat Lin jadi iba.


"Ya, nggak apa-apa Mas kalau memang tidak bisa, masakan mau dipaksa. Nanti kita cari orang pintar yang bisa mengobati penyakitmu," ujar Lin dengan serius.


"Sekali lagi, maafin saya yah!" katanya lagi dengan wajah sendu.


"Iya, Mas," sahut Lin lalu berbaring di samping suaminya dengan pikiran yang kacau.


Rian tertawa dalam hati melihat istrinya yang percaya dengan bualannya. Ia pun pura-pura tidur menunggu suara ngorok istrinya karena sudah ada beberapa pesan Janes yang masuk di ponselnya. Janes sudah menunggunya di kamar karena sudah kecanduan.

__ADS_1


__ADS_2